Rindu Prameswari memiliki segalanya rekor nasional, popularitas, dan masa depan yang cerah. Setidaknya begitulah yang dilihat orang lain. Tidak ada yang tahu bahwa setiap kali berdiri di atas balok start, Rindu merasa seperti boneka yang hidup untuk memenuhi harapan keluarganya.
Saat konflik dengan ayah dan ibu tirinya semakin memburuk, performa Rindu mulai menurun. Demi menyelamatkan kariernya, ia dikirim ke program pelatihan khusus yang dipimpin oleh seorang pelatih muda bernama Kenzo Adhyaksa.
Kenzo berbeda dari semua orang yang pernah ditemui Rindu. Ia tidak peduli dengan medali, rekor, atau nama besar keluarga Prameswari.
"Kalau tidak ada lomba, tidak ada rekor, dan tidak ada tuntutan keluarga... apa yang sebenarnya Rindu inginkan?"
Pertanyaan sederhana itu justru menjadi awal perubahan terbesar dalam hidup Rindu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
"Lo mau apa ke sini? Bukannya lo sendiri yang kemarin nyari gara-gara minta putus, hah?!" bentak Kenzo, suaranya menggelegar memenuhi area kolam renang yang tadinya sunyi.
Kenzo melangkah maju, langsung berhadapan satu lawan satu dengan Tria. Tubuh jangkungnya yang basah kuyup tampak begitu mengintimidasi. Napasnya memburu, bukan karena lelah berenang, melainkan karena amarahnya yang sudah berada di ubun-ubun.
Tria agak tersentak mundur melihat tatapan Kenzo yang begitu tajam menghunus, tidak ada lagi sisa-sisa cowok penyabar yang bisa ia setir seperti dulu. Namun, rasa gengsi membuat Tria cepat-cepat menguasai dirinya kembali. Ia mendengus sinis.
"Gue ke sini cuma mau mastiin, seberapa cepat seorang Kenzo Adhyaksa dapet gandengan baru!" cibir Tria, matanya melirik tajam ke arah Rindu yang masih berada di dalam kolam. "Dan ternyata bener kan? Lo sengaja bikin gue kelihatan salah kemarin, padahal lo sendiri yang udah gatel pengen meluk cewek kaya ini!"
"Jaga mulut lo, Tria!" potong Kenzo, suaranya merendah namun sarat akan ancaman yang berbahaya. Rahangnya mengetat keras. "Gue di sini kerja profesional. Dan urusan kita udah SELESAI sejak kemarin sore. Jadi gak usah sok jadi korban dan berlagak punya hak buat ngatur hidup gue!"
Kenzo maju satu langkah lagi, membuat Tria terpaksa memundurkan kakinya karena merasa tertekan oleh aura dingin Kenzo.
"Sekarang mending lo pergi dari sini sebelum gue panggil keamanan kampus buat nyeret lo keluar!" tegas Kenzo tanpa ampun, benar-benar memutus segala urat sabarnya untuk menghadapi drama sang mantan.
Tubuh Tria bergetar hebat menerima bentakan dan ancaman dari Kenzo. Pria yang selama satu tahun ini ia kenal selalu lembut, penyabar, dan selalu mengalah setiap kali ia merajuk, mendadak berubah menjadi sosok asing yang begitu dingin dan mengerikan.
Rasa malu, syok, dan gengsi yang terluka bercampur aduk di dada Tria. Ditambah lagi, ada sepasang mata milik Rindu yang menyaksikannya dari dalam kolam dengan tatapan yang seolah menganggapnya tak lebih dari sekadar pengganggu murahan.
Tria mengepalkan kedua tangannya erat-erat, mencoba menutupi kegugupannya.
"Fine!" teriak Tria dengan suara bergetar, mencoba mengumpulkan sisa-sisa harga dirinya yang sudah jatuh ke lantai. Ia menatap Kenzo dengan pandangan benci yang dipaksakan. "Gue pergi! Dan gue bakal liat, seberapa lama cewek kaya itu bakal bertahan sama cowok mokondo kayak lo!"
Tria kemudian mengalihkan pandangan tajamnya langsung ke arah Rindu yang masih bersandar di besi tangga kolam. Dengan senyum sinis yang dipaksakan, ia berteriak setengah mencibir,
"Seleramu rendah banget ya? Mau-maunya sama pelatih miskin yang cuma bisa morotin duit lo!"
Mendengar kalimat terakhir Tria yang sudah sangat keterlaluan, Kenzo baru saja hendak membuka mulut untuk membalas dengan kalimat yang lebih kejam. Namun, sebelum suara Kenzo keluar, suara dingin dan tenang dari arah belakangnya lebih dulu memotong atmosfer tegang itu.
"Hubungan sama Lo apa kalau dia morotin gue?"
Rindu bersuara. Gadis itu perlahan menaiki anak tangga kolam, berdiri tegak dengan keanggunan seorang putri bangsawan meskipun tubuhnya basah kuyup. Tatapan matanya yang tajam bak elang langsung mengunci wajah Tria yang seketika mendadak pias.
Tria melongo, benar-benar mati kutu mendengar respons Rindu yang di luar dugaannya. Ia mengira Rindu bakal malu atau ilfil setelah ia sebut Kenzo "mokondo". Tapi yang terjadi justru sebaliknya, Ratu Lintasan ini malah melangkah maju, berdiri di samping Kenzo dengan dagu terangkat menantang.
"Emang kenapa kalau Coach Kenzo mokondo?" lanjut Rindu, nadanya santai tapi menusuk banget. "Gak ganggu jalan napas lo kan kalau Coach Kenzo sama gue?!"
Kenzo yang berdiri di sebelah Rindu refleks menoleh. Sepasang matanya melebar, sedetik kemudian sudut bibirnya berkedut menahan tawa yang hampir pecah. ‘Gila, nih cewek kalau nge-skakmat orang gak pakai rem’ batin Kenzo, mendadak rasa dongkolnya ke Tria menguap digantikan rasa takjub pada Rindu.
Wajah Tria langsung memerah padam, antara malu karena dicibir dan syok melihat pembelaan instan dari cewek yang baru dikenal Kenzo itu.
"Lo... lo bener-bener gak tahu malu ya!" tuding Tria dengan suara melengking yang mulai bergetar karena emosi. "Mau-maunya dibegoin sama cowok yang cuma butuh duit lo!"
"Iya dia butuh duit gue, tapi itu semua buat bayar profesionalitas dia ngelatih gue," sahut Rindu dingin, matanya menatap Tria dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan meremehkan. "Dan kalaupun dia butuh duit gue, well... gue punya lebih dari cukup buat menuhin itu. Masalah buat lo?"
Rindu melipat tangannya di dada, lalu melirik ke arah pintu keluar kolam. "Sekarang, mending lo angkat kaki dari sini. Lo ganggu waktu latihan gue. Dan jujur, muka lo bikin estetika kolam ini rusak."
Tria benar-benar kehabisan kata-kata. Dengan napas memburu dan air mata yang hampir tumpah karena menahan malu, ia menyentak kakinya kasar, berbalik, lalu berlari keluar dari area kolam sambil membanting pintu kaca dengan keras.
BRAAK!
Suasana kolam kembali sunyi, hanya menyisakan gema suara pintu yang berbenturan. Begitu Tria hilang dari pandangan, Kenzo langsung meledakkan tawanya yang sejak tadi ia tahan. Ia berbalik menghadap Rindu, bertepuk tangan pelan dengan gaya tengilnya yang sudah kembali 100%.
"Wah... wah... gue gak tahu harus terharu atau merenungi nasib nih," goda Kenzo, matanya berbinar jenaka menatap Rindu. "Ternyata Ratu Lintasan kita kaya banget ya, sampai siap menampung pelatih mokondo kayak gue?"
“Diam dan lanjut latihan, bukannya terima kasih dibantuin malah ngelunjak lo” ucap Rindu ketus.
Kenzo langsung mengatupkan mulutnya, pura-pura mengunci bibirnya rapat-rapat sambil membuat gestur minta ampun dengan kedua tangannya.
"Siap, Bos! Diam dan laksanakan," sahut Kenzo dengan sisa-sisa cengiran di wajahnya.
Ia langsung mengambil handuk kecil yang tergeletak di kursi pelatih, mengusap wajah dan rambutnya yang basah dengan cepat, lalu kembali memegang papan klip latihannya. Mode pelatihnya walau masih ada sisa tengilnya kembali aktif.
"Makasih ya, Rin. Serius, skakmat lo tadi keren banget. Defisit harga diri gue langsung ketutup," ucap Kenzo tulus sambil tersenyum tipis, menatap Rindu yang masih melipat tangan dengan wajah ketat.
Kenzo kemudian berjalan ke tepi lintasan, menunjuk ke arah air kolam yang sudah kembali tenang.
"Oke, drama emak-emak kompleknya udah beres. Sekarang kita lanjutin yang tertunda. Tadi lo panik di meter ke-70 karena ritme napas lo terlalu buru-buru sejak awal. Target kita sore ini gak usah muluk-muluk, lo gak usah maksain sampai 200 meter. Cukup 100 meter dulu, tapi gue mau lo fokus rasain airnya, bukan ngelawan airnya. Paham?"
Kenzo menepuk air kolam dengan ujung kakinya, menatap Rindu dengan pandangan menyemangati. "Ayo, balik ke posisi. Gue pantau dari sini. Kalau ada apa-apa, lo tahu kan harus ngapain?"
"Iya, bawel banget sih!" ketus Rindu, walau sebenarnya kalimat itu hanya tameng untuk menutupi detak jantungnya yang mendadak berantakan lagi kali ini murni karena tatapan menyemangati dari Kenzo.
Rindu memutar tubuhnya, membelakangi Kenzo agar cowok itu tidak melihat semburat merah yang samar-samar muncul di pipinya. Ia memosisikan diri di tepi kolam, membetulkan letak kacamata renangnya, lalu menarik napas dalam-dalam.
Anehnya, ketegangan dan rasa sesak yang menghimpit dadanya beberapa menit lalu kini terasa jauh lebih ringan. Kehadiran Kenzo yang berdiri siaga di tepi lintasan entah bagaimana memberikan rasa aman yang belum pernah ia rasakan dari pelatih-pelatih sebelumnya.
Byur!
Rindu meluncur kembali ke dalam air.
Kali ini, ia mencoba mengingat kata-kata Kenzo: ‘fokus rasain airnya, bukan ngelawan airnya’ Rindu memperlambat kayuhannya, membiarkan tubuhnya beradaptasi dengan ritme yang lebih santai. Begitu melewati meter ke-50 dan melakukan turn, dadanya sempat kembali berdesir kencang, namun begitu ia melihat bayangan Kenzo yang berjalan sejajar dengannya di tepi kolam, Rindu berhasil menguasai diri.
70 meter... 85 meter... Hingga akhirnya, kedua tangan Rindu menyentuh dinding finish di meter ke-100.
Rindu langsung muncul ke permukaan, melepas kacamata renangnya dengan napas yang memburu bukan karena panik, melainkan karena lelah yang normal. Ia mendongak, menatap Kenzo yang kini sudah jongkok di depannya dengan senyum lebar yang sangat puas.
"Nah, gitu dong! Apa gue bilang," seru Kenzo sambil mengacungkan jempolnya tepat di depan wajah Rindu. "Seratus meter bersih tanpa drama panik. Gimana? Udah siap melihara pelatih mokondo ini selamanya, Bos?"
"Cih, bisa gak sih serius sedikit, Coach?!" ketus Rindu sambil menyipitkan matanya sebal, lalu menyemprotkan sisa air kolam di tangannya ke arah Kenzo.
Kenzo langsung refleks memundurkan wajahnya sambil tertawa lepas, menghindari serangan air dari Rindu. Ia menyeka sisa cipratan di pipinya dengan punggung tangan, lalu berdeham kecil, mencoba memasang wajah super serius yang malah kelihatan makin kocak.
"Oke, oke, serius nih," ujar Kenzo, suaranya mendadak berubah berat dan dibuat-buat berwibawa. Ia kembali berjongkok di tepi kolam, menatap Rindu yang masih berada di dalam air.
"Evaluasi buat 100 meter tadi: body position lo udah jauh lebih stabil karena lo gak maksain buat buru-buru selesai. Streamline lo waktu meluncur juga dapet banget."
Kenzo mengetuk papan klipnya dengan pulpen. "Tapi yang paling penting, lo berhasil ngontrol pikiran lo sendiri pas lewat meter ke-70 tadi. Itu progres gede, Rin. Trauma itu gak bisa ilang instan dalam semalem, tapi hari ini lo udah ngebuktiin kalau lo bisa ngejinakin rasa takut lo sendiri."
Senyum tipis yang hangat terukir di wajah Kenzo, kali ini benar-benar tulus tanpa ada nada bercanda sedikit pun.
"Gue bangga sama lo. Buat hari ini, latihan kita cukup sampai di sini. Lo boleh naik, bersih-bersih, terus pulang biar otot lo gak tegang." Kenzo berdiri, lalu mengulurkan tangan kanannya ke arah Rindu untuk membantunya naik dari kolam. "Ayo, entar kemalaman dicariin bokap lo lagi."
Rindu yang baru saja menerima uluran tangan Kenzo untuk naik ke tepi kolam, langsung menatap penampilan pelatihnya itu. Kemeja flanel dan kaos oblong hitam Kenzo melekat erat di tubuhnya, meneteskan air ke lantai porselen.
"Terus baju Coach basah gitu gimana pulangnya?" tanya Rindu, nadanya terdengar ketus tapi terselip rasa bersalah yang samar di matanya. Lagian, Kenzo basah kuyup begini kan murni karena langsung melompat demi menyelamatkannya tadi.
Kenzo yang menyadari arah pandangan Rindu langsung terkekeh geli. Ia menepuk-nepuk pundaknya yang basah dengan santai.
"Tenang, Rin. Kami pelatih mokondo ada loker kok di sini," sahut Kenzo dengan cengiran tengil andalannya yang sukses membuat Rindu kembali memutar mata. "Gue selalu bawa baju ganti di ransel, dan sebagai pelatih 'sewaan', pengelola kolam ini berbaik hati minjemin gue satu loker di ruang ganti cowok."
Kenzo berjalan mundur beberapa langkah sambil menggendong ransel besarnya dengan satu bahu.
"Udah, gak usah mikirin baju gue. Mending lo buruan mandi sana, entar masuk angin malah gue yang dipecat sama bokap lo," usir Kenzo jahil, sambil melambaikan tangannya sebelum berbalik menuju ruang ganti cowok. "Gue duluan ya, Ratu Lintasan. Sampai ketemu besok!"
Rindu menatap punggung tegap Kenzo yang menjauh sampai cowok itu menghilang di balik pintu ruang ganti. Sambil berjalan menuju ruang ganti cewek, Rindu menggeleng-gelengkan kepalanya dengan senyum tipis yang tak bisa disembunyikan.
‘Punya loker sendiri, tapi gayanya sok miskin’ batin Rindu, masih belum tahu saja kalau pelatih 'mokondo'-nya itu sebenarnya punya saham yang sanggup membeli seluruh fasilitas olahraga tempat mereka latihan sekarang.
Langkah kaki Rindu yang tadinya santai langsung terhenti seketika begitu ia melewati lorong dekat area lobi. Di sudut ruangan dekat mesin minuman otomatis, terdengar suara tawa genit yang sangat ia kenali.
Geng Tria sedang berkumpul di sana, tampak asyik merumpi dengan ponsel di tangan masing-masing. Rindu memutuskan untuk menahan diri di balik pilar besar, menajamkan pendengarannya.
"Tri, lo gak nyesel minta putus dari Kenzo? Biar gimana juga, dia kan lumayan ganteng tahu," celetuk salah satu teman Tria sambil menyenggol bahu cewek itu.
Tria mendengus kencang, melipat kedua tangannya di dada dengan wajah ketat. "Ngapain lagi sih dibahas? Gak level! Lagian, gue ke sini emang sengaja biar jadi korban."
Tria kemudian memamerkan layar ponselnya ke arah teman-temannya dengan senyum licik yang mengembang lebar.
"Bukti dia pelukan sama atletnya di tengah kolam udah siap di medsos ntar malam. Gue bakal bikin nama Kenzo hancur di kampus, biar semua orang tahu kalau dia itu pelatih mesum yang suka morotin atletnya sendiri!"
Deg.
Darah Rindu mendadak berdesir panas. Rasa aman dan ketenangan yang baru saja ia rasakan setelah latihan sukses seketika menguap, digantikan oleh kemarahan yang membakar dada. Tria ternyata tidak cuma sekadar numpang lewat untuk marah-marah; cewek itu sengaja menjebak mereka dan mengambil foto saat Kenzo sedang menyelamatkannya dari serangan panik tadi.
Rindu mengepalkan kedua tangannya erat-erat di sisi tubuh. Berani-beraninya nenek sihir itu memanfaatkan momen traumanya untuk menghancurkan reputasi Kenzo.
Tanpa pikir panjang lagi, Rindu keluar dari balik pilar. Dengan langkah tegap dan aura intimidasi yang pekat, ia berjalan lurus menghampiri kerumunan geng Tria. Suara ketukan sepatu Rindu yang tegas langsung membuat obrolan mereka terhenti mendadak.
—bersambung—