NovelToon NovelToon
My Boss, My Mistake

My Boss, My Mistake

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Office Romance
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Kurniasih Paturahman

Shana percaya bahwa diam saat melihat ketidakadilan adalah sebuah kesalahan.

Itulah yang membuat Shana berani menegur pria asing yang sedang memarahi seorang nenek.

Namun, ia terlalu cepat mengambil kesimpulan. Ia salah paham dengan pria itu.

Beberapa hari kemudian pria itu muncul kembali di kehidupan Shana, sebagai CEO baru di kantornya.

Perlahan kehidupan Shana yang penuh dengan ketenangan, berubah menjadi rumit, panik, rasa malu, dan penuh dengan kejutan yang tak terduga.

Ditengah hubungan bos dan karyawan yang rumit. Keduanya mulai menyadari bahwa terkadang cinta datang dari sebuah kesalahpahaman.

Selamat membaca❤

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kurniasih Paturahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Detak Yang Tidak Biasa

Shana terbangun dengan senyum yang masih tersisa di wajahnya. Butuh beberapa detik sebelum ia menyadari alasannya. Telepon semalam, dan suara Evan yang terus terngiang di kepalanya.

"Selamat malam, Shana."

Astaga. Kenapa ia masih mengingatnya. Shana langsung menutup wajahnya dengan bantal.

"Sudah, jangan dipikirkan." Protesnya sendiri.

Sayangnya, semakin ia berusaha untuk melupakannya. Semakin jelas suara itu terdengar di kepalanya.

***

Pagi itu, Shana datang sedikit lebih awal dari biasanya. Ditangannya ada segelas kopi kesukaannya yang sengaja ia beli sebelum berangkat kerja. Ia berjalan menuju lift sambil sesekali menyeruput kopinya itu.

Saat pintu lift terbuka, langkahnya langsung terhenti. Evan sudah berada di dalam. Jantungnya mendadak berdebar.

"Pagi, Pak."

"Pagi."

Shana masuk ke dalam lift. Untung masih ada beberapa karyawan lain di sana. Sehingga suasana tidak terlalu canggung.

Setidaknya sampai mereka tiba di lantai kantor. Satu persatu karyawan ke luar menuju ruangannya masing-masing. Menyisahkan dirinya dan Evan. Shana buru-buru menyesap kopinya lagi untuk mengalihkan rasa gugup.

"Kamu terlihat lebih segar kali ini."

Shana hampir tersedak.

"Oh, benarkah?"

"Hm."

Evan melirik gelas kopi di tangan Shana.

"Kopi?"

"Ya."

"Enak?"

"Enak."

Evan mengangguk pelan. Lalu tiba-tiba mengulurkan tangannya.

"Boleh saya coba?"

Shana membeku. Otaknya langsung kosong.

Hah?

Coba?

Kopi itu?

Kopi yang sudah ia minum sejak tadi?

"E.. eh..."

Evan menatapnya.

"Kenapa?"

Shana mulai panik.

"Itu..."

"Hm?"

"Itu kopi saya."

"Saya tahu."

"Bukan maksud saya..."

Wajah Shana mulai memerah.

"Itu sudah saya minum."

Hening beberapa detik. Evan masih menatapnya. Shana berharap pria ini langsung menarik permintaannya. Atau setidaknya merasa canggung. Namun yang terjadi justru sebaliknya.

"Jadi?"

Ke dua mata Shana membulat.

"Jadi?"

"Ya, Jadi?"

"Itu sudah saya minum, Pak."

"Iya."

"Sudah saya sentuh."

"Iya."

"Sudah saya cicipi."

"Iya, saya dengar."

Wajah Shana semakin panas. Lalu tanpa peringatan Evan mengambil gelas kopi itu dari tangan Shana.

"Pak!"

Terlambat, pria itu sudah menyesap kopi itu dengan santai, sangat santai. Seolah tidak ada yang aneh.

"Hm..."

Evan menatap gelas itu, dan Shana menatap Evan tak percaya.

"Lumayan."

Shana tidak bisa berkata-kata. Ia hanya berdiri mematung. Menyaksikan bosnya meminum kopi yang beberapa menit lalu berada di bibirnya.

"Terima kasih."

Lalu berjalan menuju ruangannya. Begitu saja.

Meninggalkan Shana yang masih membeku di tempat.

Via yang kebetulan melihatnya langsung mendekat.

"Tadi..."

Shana masih mematung.

"Tadi aku tidak salah lihat kan?"

Shana menutup wajahnya.

"Aku mau pulang."

"Kalian baru datang."

"Aku tetap mau pulang."

Via menahan tawa.

"Itu kan kopimu."

"AKU TAHU!"

"Dan dia tahu itu kopimu."

"DIA TAHU!"

"Dan dia tetap meminumnya."

"Ya, itu yang sudah terjadi."

Perlahan Shana melangkah menuju ruang kerjanya, lalu menjatuhkan kepalanya ke meja.

Sedangkan Evan tampak tenang duduk di kursinya. Matanya tanpa sadar melirik ke segelas kopi yang rasanya masih tertinggal di lidahnya.

Lalu tanpa sadar tersenyum sendiri. Hari itu baru saja dimulai. Namun suasana hatinya sudah jauh lebih baik daripada biasanya. Dan semua itu karena Shana.

***

Shana menarik napas panjang sebelum mengetuk pintu ruang CEO.

"Masuk."

Suara Evan terdengar dari dalam. Dengan map berisi dokumen di tangan, Shana melangkah masuk. Berusaha terlihat biasa saja meski kejadian kopi beberapa menit lalu masih berputar- putar.

"Pak, ini dokumen revisi dari divisi pemasaran. Lalu ini jadwal minggu depan yang sudah saya susun." Shana menyerahkan itu semua perlahan.

"Untuk hari Senin ada pertemuan dengan Pak Adit pukul sembilan, siangnya ada rapat internal pukul satu."

"Selasa?"

"Pertemuan dengan investor pukul sepuluh, dan setelah makan siang kosong."

"Rabu?"

"Masih kosong Pak."

Evan mengangguk pelan, sambil menelusuri jadwal yang ada di tangannya. Sementara itu, tanpa sadar Shana memperhatikan pria di hadapannya itu. Kemeja putih dengan lengan yang sedikit tergulung ke siku. Jam tangan hitam yang melingkar rapi di pergelangan tangannya. Dan ekspresi serius saat membaca jadwal.

"Kamu sedang melihat apa?"

"Hah...Apa?"

Shana tersentak, ia langsung kembali ke dunia nyata dan mendapati Evan kini tengah menatapnya. Pria itu mengangkat kepala dari dokumen yang sedang dibacanya.

"Ada sesuatu di wajah saya?" Tanya Evan, memperjelas maksudnya.

Wajah Shana seketika memanas.

"T-tidak ada, Pak."

Ia menggeleng cepat hingga membuat dirinya sendiri terlihat mencurigakan.

"Saya hanya..." Kalimatnya terputus.

Karena tanpa sengaja tangannya menyenggol tumpukan dokumen yang berada di tepi meja.

Bruk!

Beberapa lembar kertas berhamburan di lantai.

"Aduh... "

Shana buru-buru memunguti kertas-kertas itu. Di saat yang sama, Evan juga membungkuk untuk membantu. Kepala mereka bertabrakan pelan.

"Duh..." Shana spontan mengusap dahinya.

"Maaf..." Suara Evan terdengar begitu dekat. Ia mengulurkan tanganya. Dengan gerakan yang sangat alami, ia ikut menyentuh dahinya dan mengusapnya perlahan. Memastikan Shana baik-baik saja.

Shana membeku. Tubuhnya mendadak sulit digerakan.

"Masih sakit?" Tanya Evan pelan.

Jantung Shana langsung berdebar tidak karuan.

"Saya, tidak apa-apa kok pak."

"Yakin?"

Shana hanya mampu mengangguk, mata mereka bertemu kemudian. Untuk sesaat tidak ada yang bicara. Ruangan terasa begitu sunyi.

Hanya ada tatapan Evan yang penuh perhatian dan jantung Shana yang berdetak keras. Jika seperti ini terus, ia yakin Evan bisa mendengarnya.

Untungnya ponsel di atas meja berdering. Keduanya tersadar bersamaan. Evan menarik tanganya. Lalu melihat nama yang tertera pada layar ponselnya itu. Pria itu menghela napas kemudian.

"Nenek."

Shana langsung buru-buru merapikan kertas-kertas itu dan meletakkannya kembali ke atas meja.

"Kalau begitu saya permisi dulu, Pak."

Evan mengangguk.

"Ya."

Shana segera keluar dari ruangan sebelum jantungnya benar-benar tidak bisa diajak kerjasama lagi.

Begitu ke luar dari ruangan, ia langsung menempelkan punggungnya ke dinding koridor.

Tangannya tanpa sadar menyentuh dahinya yang tadi di elus Evan. Dan entah kenapa, bagian itu terasa jauh lebih hangat daripada sebelumnya.

"Ya Tuhan..." Gumamnya pelan.

Hari ini benar- benar tidak baik untuk kesehatan jantungnya.

-My Boss, My Mistake-

1
✰͜͡v᭄𝐀⃝🥀ⰼ⃞☪🍾
tinggal jwb aja saya juga suka sama km
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
sudah mampir ketempat tinggal Shana, semoga kedepannya bisa cepat go publik 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
Akhirnya jadian juga 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
Shana : saya juga suka sama kamu boss🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
jawab iya Shana 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
Nena ngapain sih datang segala, merusak suasana saja 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
nah kan ketahuan nenek 🤣
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
kenapa kalian lucu 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
kenapa gak duduk di balkon apa ruang tamu aja malah telfonan 🤣
dasar CEO kasmaran namun gengsi 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
sudah lah Evan, cepat sat set halalin aja 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
bener ya nenek cuma bilang apa yang terlihat 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
tidak merepotkan, malah senang ya Evan 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
nenek menceritakan masa kecil Evan
@M⃠ⁿꫝieʸᵃɴᵉᵉʰʜɪᴀᴛ𓆊🎯™☂⃝⃞⃟ᶜᶠ
Diterima ga ya🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒: terima aja kak 🤭
total 1 replies
✰͜͡v᭄𝐀⃝🥀ⰼ⃞☪🍾
ngapain sih Nena ada disnaa JD kan ke ganggu
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
nenek benar, Evan gak bisa berpaling darimu Shana 🤭
⃟ ⃟🐬🅿!💤©€$™_- 🐟
ehekkk... hayooo Shanaaa😂🤭
✰͜͡v᭄𝐀⃝🥀ⰼ⃞☪🍾
terus terang aja kalian tuh PD saling memikirkan
✰͜͡v᭄𝐀⃝🥀ⰼ⃞☪🍾
kalian sudah cocok kayaknya knp gak jadian aja
Maura Ayna
semangat terussss, halalkan hubungan mereka🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!