Hana Yasmin adalah lambang dari ketegaran wanita yang luar biasa. Enam tahun yang lalu terpaksa diusir dari rumah orang tuanya sendiri karena telah mengandung benih pria yang tidak dia kenal. Sebuah tragedi kelam merenggut paksa kesucianya. Trauma mendalam itu sempat meruntuhkan dunia Yasmin. Namun, takdir berkata lain. Bayi yang dititipkan dalam tahimnya lahir sepasang malaikat kecil laki-laki dan perempuan yang ia beri nama Fatir dan Fathia.
Yasmin berjuang sendiri membesarkan anak kembarnya itu hingga tumbuh menjadi anak yang cerdas, padahal masih usia 5 tahun dan sekolah TK. Yasmin yang bekerja di restoran bertemu Marco Bellini. Pria itu jatuh cinta kepadanya bahkan mengajak menikah dan berjanji untuk membesarkan si kembar, tapi rasa trauma membuat Yasmin tidak mudah untuk menerima.
"Yasmin, menikahlah denganku demi kamu dan anak-anak."
Apakah Yasmin akhirnya menerima Marco? Bagaimana kisah selanjutnya? Kita ikuti kelanjutannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Jam dua pagi, Yasmin baru saja selesai menunaikan solat tahajud, terdengar suara lagkah sepatu dari luar memecah keheningan malam. Yasmin menyibak gorden sedikit. Betapa terkejutnya ketika tatapannya tertuju kepada dua orang pria asing yang disorot lampu teras tampak jelas tengah memperhatikan kontrakkan yang ia tempati. Wajah seram dan memegang pistol membuat tubuh Yasmin seketika berkeringat.
"Mau apa mereka?" Batin Yasmin, seketika menutup gorden ketakutan, tapi ia segera mendekati si kembar yang tengah tidur pulas. Rasa takut jika orang tersebut masuk dan berbuat macam-macam mencengkeram pikiranya. Padahal kamar yang berada di tengah-tengah antara ruang tamu dan dapur itu tanpa pintu.
Sebelum ada orang asing pun ia sudah khawatir ketika anak-anak di rumah sendiri, dan sekarang nyata-nyata tempatnya berteduh disatroni orang. Pikiran Yasmin semakin kacau dan tidak karuan, karena merasa tempat ini sudah tidak aman.
Dalam ketakutan, dia terus terjaga hingga satu jam kemudian, tepatnya pukul tiga pagi. Yasmin kembali mengintip dari tirai jendela yang ia buka sedikit. Sepi di luar sana, tidak ada siapapun lagi. Namun, bukan lantas merasa lega, sambil merebahkan tubuhnya di tengah anak-anak, kepalanya terus berpikir. Haruskah ia mencari tempat tinggal yang lain? Tapi sewa rumah ini pun belum ia bayar, lagi pula lokasi dekat dengan sekolah. Pindah kontrakkan berarti harus pindah sekolah, dan pokok permasalahan ada pada biaya, mengeluarkan uang masuk sekolah dua kali dan tidak sedikit.
Yasmin semakin pusing, masalah satu belum selesai datang lagi masalah lain, menahan sakit hati setiap mendengar kata-kata bu Retno yang merendahkan pun sudah membuatnya stres, tapi entah mengapa tiba-tiba ada orang yang tidak ia kenal menyambangi.
"Apa mungkin Bu Retno mencari preman untuk menakut-nakuti..."
Yasmin berpikir begitu bukan tanpa alasan, mungkin bu Retno sudah malas nagih sendiri dan menggunakan cara ini.
Yasmin pun akhirnya memejamkan mata, memanfaatkan waktu satu jam untuk tidur daripada di restoran nanti mengantuk.
Jam empat pagi sebelum adzan subuh menggema dari mushola yang tidak jauh dari rumah kontrakkan, Yasmin bangkit dari pembaringan. Ia berjalan menuju dapur yang sempit, langkahnya terasa berat disertai rasa kantuk yang belum hilang. Tetapi ia harus memasak untuk Fatir dan Fathia, seperti hari-hari sebelumnya.
Yasmin ke kamar mandi yang menyatu dengan dapur terlebih dahulu untuk bersih-bersih. Begitu selesai ia segera ke dapur menyalakan kompor untuk membuat teh agar rasa kantuknya hilang.
Namun, begitu membuka lemari kayu tua tempat penyimpanan stok makanan, tidak ada apapun di tempat itu. Matanya menatap kosong ke tempat penyimpanan lain pun nyaris gundul. Beras tinggal segenggam di dasar toples, minyak goreng tinggal sedikit, telur menu andalan tidak ia temukan, bahkan tidak ada selembar sayuran pun, selain garam yang masih cukup untuk beberapa hari.
"Astagfirullah..." ucap Yasmin. Rasa sedih seketika menyergap dadanya, bukan dia yang ia pikirkan, tapi anak-anak. Yasmin bersandar di dinding, menggigit bibir bawah agar isak tangisnya tak terdengar oleh Fatir dan Fathia dan mereka akhirnya tahu kondisinya saat ini.
Yasmin membayangkan isi dompet hanya tersisa untuk jajan si kembar di sekolah nanti, dan untuk naik angkutan, tidak bisa ia pangkas lagi walau sedikit.
"Maafkan Bunda, Nak..." gumamnya lirih, air matanya terus menetes. Yasmin merasa gagal, hanya memberi makan buah hatinya pun sesulit ini. Tekatnya untuk meminjam uang pemilik restoran setelah pulang kerja nanti semakin kuat. Namun, bagaimana untuk sarapan pagi ini? Di tengah kesunyian itu, muncul di benak Yasmin untuk melakukan sesuatu.
Dia keluar rumah melawan rasa takut kepada orang yang ia lihat sebelumnya. Demi keamanan si buah hati, ia mengunci pintu dari luar. Dengan langkah berat dan mengumpulkan keberanian, ia berjalan menuju warung sayur di ujung gang, tempat langganannya selama ini. Di tangannya tak ada uang sepeser pun, hanya keberanian yang dipaksakan. Terpaksa harus mencoba berhutang sana sini, sesuatu yang sangat jarang ia lakukan, karena harga dirinya sebagai wanita mandiri masih tersisa meski terasa sulit.
Sesampainya di warung yang sepi, Yasmin meneguk ludah susah payah memandangi ibu Parmi yang sedang menata dagangan karena baru pulang dari pasar. Haruskah ia tidak tahu diri untuk melanjutkan niatnya di saat penjual belum ada pembeli? Yasmin menarik napas dalam-dalam, jika langkahnya pagi ini salah semoga diampuni. Pikir Yasmin dan mengucap bismillah.
"Permisi Bu..." ucap Yasmin akhirnya menyapa pemilik warung dengan senyum yang dipaksakan.
"Eh, Yasmin, kamu kenapa?"
Bu Parmi kaget saat memandangi wajah Yasmin yang baru saja habis menangis.
"Bu... bolehkah saya minta tolong?" Tanyanya berat.
"Tolong apa Yas, kenapa dengan anak-anak kamu?" Tanya Parmi, mengira terjadi sesuatu dengan si kembar, maka Yasmin menangis.
"Saya boleh hutang beras sama sayuran untuk hari ini saja, Bu?" Tanyanya terdengar memelas.
Pemilik warung yang sudah dikenalnya cukup lama itu hanya diam. Antara kasihan dan mempertahankan keyakinannya. Pagi ini belum ada yang membeli satu orang pun, mana mungkin boleh ada yang hutang?
"Waduh, Yasmin... maaf ya. Ibu tidak bisa menolong kamu," jawabnya tanpa memberi alasan.
"Oh, ya sudah Bu, maaf. Pagi-pagi mengganggu," Yasmin menahan malu dan sedih. Ia mengerti betul kondisi pedagang kecil seperti ibu Parmi, tapi bayangan wajah Fatir dan Fathia yang akan bangun sebentar lagi dengan perut kosong tidak bisa menyembunyikan kesedihan. Yasmin akhirnya pamit pulang dengan tangan kosong.
"Eh, tunggu Yasmin," panggil bu Parmi.
Melihat raut wajah Yasmin yang tampak sedih, dan menanggung beban berat hingga tirus, mana mungkin tega? Lagi pula selama ini Yasmin tidak pernah hutang. Jika pagi-pagi seperti ini seberani itu pasti karena kepepet.
"Saya Bu..." Yasmin yang sudah tiba di latar pun kembali lagi, berharap bu Parmi berubah pikiran.
"Apa saja yang akan kamu ambil pagi ini, Yasmin?"
"Emmm... 1kg beras sama telur seperempat, Bu," wajah Yasmin sedikit cerah.
Ibu Parmi menarik plastik, lalu mengisi beras dari karung, empat butir telur dan juga seikat sayur kangkung.
"Yasmin, ini ambil saja, tidak usah kamu bayar," ujar bu Parmi tulus, ia jadikan beras tersebut untuk sedekah subuh, agar menjadi harta yang berkah, terbebas dari hak orang lain, dan dijauhkan dari kerugian.
"Alhamdulillah... terima kasih Bu... jika sudah punya uang, besok atau lusa pasti saya bayar," Wajah Yasmin seketika berbinar lega. Ia tahu ketulusan hati bu Parmi, tapi niatnya berhutang dan wajib bayar. Dengan rasa syukur, Yasmin berjalan pulang. Namun, ketika tiba di depan rumah petak-petak itu, melihat bayangan dua orang pria membuatnya takut.
...~Bersambung~...
sbar dong Marco dia itu GK mudah percaya ma orang tau yass itu orang nya hati2 percaya ma orang..
hadeh siapa tuh cewe jangan jangan yang nyari marco lagi😌
entah lah hanya emak yg tau