Selama dua tahun pernikahan, Adrian hidup layaknya sampah di keluarga besar istrinya, keluarga Wijaya. Diinjak-injak, dihina, dan dipaksa merangkak bagai anjing hanya demi sekeping uang untuk pengobatan ibunya yang sekarat, Adrian mencapai batas kesabarannya. Namun, tepat di titik terendah hidupnya, sebuah suara mekanis menggema di kepalanya: 'Sistem Penguasa Dewa Berhasil Diaktifkan.'
Bermodalkan dana instan sebesar 10 miliar rupiah di hari pertama dan misi-misi ajaib dari sistem, Adrian bangkit dari statusnya sebagai menantu sampah. Dalam waktu singkat, dia membalikkan keadaan, menguasai roda ekonomi kota, dan membuat orang-orang yang dulu menghinanya berlutut memohon ampun.
Dunia mengiranya hanya seorang menantu miskin yang tidak berdaya, tanpa tahu bahwa di balik layar, Adrian adalah "Dewa" yang mengendalikan segalanya dari kegelapan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andrean Matabuh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Amarah Sang Dewa Asura
Krak!
Suara gemertak tulang yang retak terdengar begitu renyah di dalam keheningan ruang kerja Direktur Utama. Pengawal raksasa yang pergelangan tangannya berada di dalam cengkeramanku mendadak memekik histeris. Wajah sangar penuh tato miliknya kini melintir, memerah menahan rasa sakit yang teramat sangat. Tubuh kekarnya perlahan berlutut di atas lantai, tidak berdaya menahan tekanan dari tangan kiriku yang sekeras baja.
"Bajingan! Lepaskan dia!" teriak pengawal kedua yang berada di sebelah kiri Nicholas.
Melihat rekannya dilumpuhkan dalam satu detik, dia langsung menarik sebilah pisau lipat taktis dari balik jas mewahnya. Dengan gerakan menusuk yang cepat dan mematikan, dia mengarahkan bilah tajam itu tepat ke arah leherku.
"Adrian, awas!" Kirana menjerit panik dari balik meja kerjanya. Tubuhnya gemetar melihat kilatan bilah pisau yang mengarah pada suaminya.
Namun, di mataku yang telah diperkuat oleh Seni Bela Diri Dewa Asura, gerakan menusuk yang bagi orang awam sangat cepat itu tampak lambat seperti siput berjalan. Aku melepaskan cengkeramanku dari pengawal pertama, lalu menggeser tubuhku ke samping sejauh beberapa sentimeter saja. Pisau itu menebas angin kosong, tepat di samping telingaku.
Sebelum pengawal kedua sempat menarik kembali senjatanya, aku melayangkan sebuah tendangan lurus yang sangat cepat dan bertenaga tepat ke arah dadanya.
Brak!
Tubuh raksasa pengawal kedua terlempar ke belakang sejauh tiga meter, menghantam pintu jati tebal ruangan hingga retak, sebelum akhirnya tersungkur ke lantai dengan mulut memuntahkan darah segar. Dia langsung pingsan di tempat, tidak mampu menahan hantaman fisik yang setara dengan tabrakan mobil tersebut.
Aku tidak memberi kesempatan bagi pengawal pertama untuk bangkit. Langkah kakiku bergeser cepat, lalu dengan satu pukulan tangan kanan yang telak, aku menghantam rahang bawahnya.
Duak!
Pengawal pertama terangkat beberapa sentimeter dari lantai sebelum akhirnya ambruk menimpa meja sofa kaca hingga hancur berkeping-keping. Dua pengawal elite tingkat tinggi yang dibawa dari ibu kota kini telah lumpuh total, tidak bergerak lagi di atas lantai marmer yang dipenuhi pecahan kaca.
Aku melirik arloji tua di pergelangan tanganku. Seluruh pertarungan ini hanya memakan waktu tepat tujuh detik.
[Ding! Misi Darurat: 'Berikan Pelajaran pada Putra Mahkota Ibu Kota' Berhasil Diselesaikan dengan Sukses Mutlak!]
[Waktu Penyelesaian: 7 Detik (Sangat Cepat!)]
[Hadiah Telah Dikirimkan: Kartu Informasi Rahasia Baskoro Group kini berada di dalam database ingatan Tuan Rumah!]
[Saldo Tambahan Rp 30 Miliar telah berhasil ditransfer ke rekening pribadi Anda!]
Mendengar suara digital Sistem yang membawakan kepuasan, aku mengembuskan napas perlahan, menatap Nicholas Baskoro yang kini berdiri mematung di tengah ruangan.
Wajah tampan Nicholas yang tadinya dipenuhi keangkuhan luar biasa, kini mendadak pucat pasi seperti mayat. Seluruh tubuhnya gemetar hebat hingga draf kontrak berlapis kulit buaya yang dipegangnya terlepas dan jatuh ke lantai. Kedua pengawal pribadi yang dia sewa dengan harga miliaran rupiah per tahun untuk melindunginya dari para pembunuh bayaran, sekarang dihancurkan seperti mainan plastik oleh menantu sampah yang selalu dia remehkan.
"K-kamu... monster macam apa kamu ini?!" suara Nicholas bergetar hebat, langkah kakinya refleks mundur beberapa tapak hingga menabrak ujung meja kerja Kirana. "Jangan mendekat! Aku adalah putra mahkota Baskoro Group! Jika kamu berani menyentuh seujung kuku pun dari tubuhku, ayahku akan meratakan seluruh kota ini untuk membunuhmu!"
Aku melangkah maju perlahan, melewati pecahan kaca sofa yang berserakan di lantai. Setiap langkah kakiku memancarkan aura membunuh yang sangat pekat, membuat suhu di dalam ruangan ber-AC itu terasa semakin membeku.
"Baskoro Group?" aku terkekeh pelan, sebuah tawa meremehkan yang membuat nyali Nicholas semakin menciut habis. "Nicholas, apakah kamu pikir aku takut dengan nama besar keluargamu di ibu kota?"
Aku menghentikan langkahku tepat setengah meter di depan wajahnya yang dipenuhi keringat dingin. Berkat Kartu Informasi Rahasia yang baru saja dikirimkan oleh Sistem ke dalam otakku, aku kini memegang seluruh kelemahan vital dari gurita bisnis keluarganya.
"Kembali ke ibu kota dan sampaikan pesan ini pada ayahmu, Teguh Baskoro," ujarku dengan nada suara yang sangat rendah namun terdengar seperti vonis kematian di telinga Nicholas. "Katakan padanya untuk segera menarik seluruh manipulasi pasar saham yang sedang dia lakukan pada proyek tol Trans-Sumatera dalam waktu dua puluh empat jam. Jika besok siang aku masih melihat nama Baskoro Group bermain di sana... aku akan mengirimkan seluruh rekaman transaksi suap senilai dua triliun rupiah yang dilakukan ayahmu kepada menteri keuangan langsung ke meja Komisi Pemberantasan Korupsi."
Deg!
Mendengar nama proyek rahasia dan nominal suap dua triliun disebut secara detail dan akurat dari mulutku, Nicholas merasa jantungnya seolah-olah berhenti berdetak. Rahasia korporasi tingkat tertinggi yang bahkan hanya diketahui oleh ayahnya dan beberapa petinggi inti Baskoro Group, bagaimana bisa diketahui oleh seorang menantu daerah terpencil sepertiku?
"K-kamu... bagaimana bisa kamu tahu tentang proyek itu?!" tanya Nicholas dengan tatapan mata yang dipenuhi kengerian yang teramat sangat. Di matanya saat ini, aku bukan lagi seorang pria miskin beruntung, melainkan sosok penguasa bayangan yang memegang tali kekang atas hidup dan mati keluarganya.
"Aku tahu segalanya tentang keluargamu, Nicholas," sahutku sambil menepuk pipinya dengan pelan namun sarat akan penghinaan. "Sekarang, ambil dua anjing lumpuhmu ini dan enyah dari pandangan mataku sebelum aku kehilangan kesabaran dan mematahkan lehermu di tempat ini."
Nicholas tidak berani membantah satu kata pun. Dengan tubuh yang masih gemetar, dia memapah kedua pengawalnya yang mulai sadarkan diri dengan susah payah, lalu berlari keluar dari ruang kerja Direktur Utama dengan tergesa-gesa tanpa pernah menoleh ke belakang lagi. Keangkuhan putra mahkota dari ibu kota itu telah runtuh total di bawah kakiku.
Setelah pintu ruangan kembali tertutup, aku membalikkan badan dan mendapati Kirana sedang menatapku dengan mulut sedikit terbuka. Dia berjalan mendekatiku, lalu memegang kedua lenganku dengan tatapan yang dipenuhi rasa kagum dan haru.
"Adrian... kamu benar-benar luar biasa," bisik Kirana, menyandarkan kepalanya di dadaku yang bidang. "Aku tidak pernah tahu kalau kamu bisa bertarung sehebat itu. Dan tentang rahasia Baskoro Group tadi... kamu benar-benar membuatku takjub."
Aku memeluk tubuh indahnya dengan erat, mencium puncak kepalanya dengan penuh kasih sayang. "Sudah kubilang, kan? Selama ada aku di sisimu, tidak akan ada satu pun orang di dunia ini yang bisa mengancam atau merebut kebahagiaanmu lagi, Kirana."
Di dalam pusat kesadaranku, layar semi-transparan dari Sistem Penguasa Dewa kembali berkedip pelan, memunculkan sebuah notifikasi baru yang menandakan bahwa peperangan yang sesungguhnya melawan raksasa ibu kota baru saja dimulai.
[Ding! Misi Utama Tahap Dua Diaktifkan:
Runtuhkan Dinasti Baskoro Group dalam waktu 3 Hari!]
Aku menyunggingkan senyum dingin menatap langit cerah di luar jendela kaca besar. Pertunjukan yang sebenarnya... baru saja dimulai.