Autumn Isabella, dua puluh dua tahun, memiliki profesi sebagai dokter hewan dan merupakan seorang ahli botani, dibunuh secara brutal oleh tunangannya yang berselingkuh.
Jasper Herasio, dua puluh enam tahun, seorang CEO yang tewas di tangan adik laki-lakinya karena masalah hak waris.
Keduanya, dalam takdir yang saling terikat, terlahir kembali di dalam sebuah novel yang berjudul "Enchanted Rose". Autumn, menjadi villainess utama dalam cerita: Amorette Ysandre Elowen. Jasper, menjadi villain utama dalam cerita: Algernon Leandor Remington.
Pertemuan dari takdir itu memaksa mereka untuk bertahan hidup bersama, sekaligus mengungkap kebusukan para tokoh utama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyacinthus Rainwood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
09: Prince Theodore's Rejection
Langit sore mulai berubah warna menjadi jingga kemerahan, memancarkan cahaya lembut yang masuk melalui celah-celah jendela tinggi di sepanjang lorong istana.
Amorette dan Algernon berjalan beriringan menjauhi ruang makan, langkah mereka terukur namun cukup cepat hingga suara hiruk-pikuk percakapan dan tawa di belakang sana perlahan mereda, berganti menjadi keheningan yang menenangkan. Begitu tikungan lorong memisahkan mereka sepenuhnya dari pandangan orang-orang, keduanya serentak menghela napas panjang seolah melepaskan beban berat yang dipikul bahu masing-masing.
"Sialan... rasanya hampir saja aku meledak di sana," gumam Algernon pelan, tangannya mengusap dada yang terasa sesak karena harus menahan diri sepanjang perbincangan tadi. Ia kembali menggunakan nada bicaranya yang santai dan tidak beretika, jauh berbeda dari sosok pangeran berwibawa yang baru saja ia perankan di depan meja makan. "Si Raja August itu benar-benar tajam matanya. Untung kau cepat berpikir membuat alasan tidak enak badan, kalau tidak, aku tak tahu lagi harus menjawab apa."
Amorette terkekeh pelan, menutup mulutnya dengan ujung lengan gaun. Ia menoleh ke arah temannya itu dengan sorot mata yang berbinar jenaka namun tetap waspada.
"Kau juga hebat, Jasper. Siapa sangka CEO yang dulu sibuk mengatur saham dan pasar saham itu ternyata pandai sekali berakting menjadi pangeran bijak yang tiba-tiba sadar akan tanggung jawabnya," ejeknya pelan. Ia mengeratkan pelukan pada tubuhnya sendiri, udara di lorong yang panjang itu terasa sedikit lebih dingin dibandingkan ruangan berpenghuni tadi. "Dan dengar apa yang Ayahmu katakan? Dia mulai berpikir untuk menjodohkan kita."
Algernon tertawa renyah, suara tawanya menggema pelan di dinding-dinding batu. Ia mengangguk-anggukkan kepalanya seolah hal itu adalah hal yang paling lucu sekaligus paling masuk akal yang pernah didengarnya.
"Lihat kan? Aku bilang apa? Di dunia bisnis maupun dunia kerajaan, kemitraan yang kuat selalu didasari oleh kesetaraan. Di mata mereka, kita sekarang sama. Sama-sama berubah, sama-sama cerdas, sama-sama berbeda dari orang lain. Jadi, apa yang lebih cocok selain menyatukan kita berdua? Itu rencana cerdas, harus kuakui. Kalau kita menikah, kita bisa menguasai dua kerajaan sekaligus tanpa perlu berperang atau menumpahkan darah." Algernon melirik Amorette dengan senyum miring. "Bagaimana? Kau keberatan menjadi istri sahabat barumu sendiri?"
Amorette mendengus kesal namun senyumnya tak luntur. Ia menepuk pelan lengan pria itu.
"Jangan mimpi. Aku masih ingin hidup tenang. Tapi... ini bisa kita jadikan keuntungan besar. Jika Raja August benar-benar mendorong rencana ini, maka posisiku aman dari Theodore, dan posisimu aman dari pandangan buruk publik. Elarise dan ibunya pasti sangat bahagia, tapi percayalah... kebahagiaan itu tidak akan bertahan lama."
Mereka berdua akhirnya sampai di depan pintu kamar Amorette. Namun, alih-alih masuk, Amorette justru menunjuk sedikit ke arah ujung lorong yang lebih gelap, di mana terdapat tangga kecil yang menuju ke lantai atas tempat ruang arsip dan perpustakaan rahasia berada.
"Ayo ke sana. Kita belum selesai bicara. Di bawah sana terlalu berisiko ada telinga-telinga liar," bisik Amorette.
Sementara itu, di ruang makan utama, suasana berubah menjadi sedikit kaku namun tetap terselubung dalam keramahan. Raja August masih terus membahas ide menjodohkan Amorette dan Algernon dengan penuh antusias, seolah-olah hal itu adalah penemuan terbesar dalam sejarah hubungan kedua kerajaan.
"Pikirkanlah, Julius," ucap Raja August lagi sambil menyesap anggurnya, matanya berbinar penuh rencana besar. "Amorette memiliki kecerdasan dan ketenangan yang bisa menyeimbangkan sifat tegas dan kadang keras kepala Algernon. Sementara Algernon... dia sekarang menunjukkan kewibawaan seorang pewaris takhta sejati. Bersama-sama, mereka akan menjadi pasangan penguasa yang hebat. Kerajaan Elowen dan Remington akan bersatu lebih erat dari sebelumnya, lebih kuat dari apa pun yang pernah ada."
Raja Julius mengangguk perlahan, wajahnya berkerut dalam pemikiran mendalam. Ia menatap ke arah kursi kosong yang baru saja diduduki putri sulungnya. Selama ini, ia menganggap Amorette sebagai beban, gadis manja yang hanya membawa malu bagi keluarga. Namun sejak tiga hari terakhir... setiap kali Amorette bicara, setiap kali ia bertindak, semuanya selalu tepat, sopan, dan cerdas.
"Kau benar, August. Aku sendiri heran. Amorette... dia selalu mengejutkanku. Dulu aku mengira dia hanya akan menjadi beban yang harus aku jodohkan dengan bangsawan rendahan saja. Tapi sekarang... dia terlihat jauh lebih berharga daripada siapa pun di ruangan ini," akui Raja Julius dengan suara rendah yang hanya terdengar oleh Raja August dan Ratu Mirelle.
Ratu Mirelle tersenyum manis, meski di dalam hatinya ia merasa jijik mendengar pujian untuk anak tirinya. Namun, memikirkan konsekuensi dari rencana itu membuatnya hampir melompat kegirangan. Jika Amorette dijodohkan dengan Algernon, maka Theodore sepenuhnya menjadi milik Elarise. Elarise akan menjadi Putri Mahkota Kerajaan Remington, wanita paling berkuasa di utara. Dan Amorette... meski sekarang terlihat hebat, dia tetaplah akan menikah dengan 'pangeran sampah' yang tidak disukai rakyat. Itu kemenangan mutlak bagi mereka.
"Memang ide yang sangat bijak, Baginda," sahut Ratu Mirelle dengan nada merdu. Ia menepuk pelan tangan Elarise yang duduk di sampingnya. "Putri Amorette dan Pangeran Algernon memang serasi. Dan Elarise... dia gadis yang lembut, manis, dan sangat mencintai perdamaian. Dia akan sangat cocok mendampingi Pangeran Theodore yang gagah dan penuh semangat. Mereka berdua ibarat matahari dan bunga, saling melengkapi keindahan satu sama lain."
Elarise menundukkan wajahnya, berpura-pura malu-malu namun sudut bibirnya terangkat tak terbendung. Ia melirik ke arah Theodore dengan tatapan penuh harap dan cinta.
"Benar, Kak Theodore... kita pasti akan sangat bahagia bersama," bisiknya pelan, berusaha menarik perhatian pemuda itu.
Namun, Theodore sama sekali tidak mendengarkan. Ia duduk dengan punggung tegak kaku, tangannya menggenggam gelas anggur hingga kuku-kukunya memutih. Di dalam kepalanya, semua perkataan ayahnya berputar kacau bagaikan badai.
Batalkan pertunangan? Jodohkan Amorette dengan Kak Algernon? Cocok dengan Elarise?
Kalimat-kalimat itu terasa seperti penghinaan terbesar baginya. Theodore masih teringat jelas tatapan mata Amorette saat menari, senyumnya yang miring dan penuh percaya diri, cara gadis itu menjawab ayahnya dengan bijak, dan bagaimana ia memilih duduk di samping kakaknya, menjauhinya seolah ia adalah penyakit.
"Baginda Ayah," ucap Theodore tiba-tiba, suaranya berat dan dingin, memotong pembicaraan hangat di meja itu. Semua mata langsung tertuju padanya. "Menurutku, keputusan mengenai pertunangan itu tidak perlu diubah secara terburu-buru. Perasaan dan kehendak hati tidak bisa diatur hanya karena menurut pandangan orang lain 'cocok' atau 'tidak cocok'."
Raja August mengangkat alisnya, terkejut dengan nada bicaranya yang keras. "Theodore? Apa maksudmu? Bukankah kau sendiri yang selalu dekat dengan Putri Elarise? Bukankah kau yang selalu membelanya?"
"Ya, aku memang menghormati Putri Elarise sebagai teman dan sahabat," jawab Theodore tegas, matanya menatap tajam ke arah Elarise yang wajahnya langsung memucat. "Tapi hal itu berbeda dengan ikatan seumur hidup. Dan mengenai Putri Amorette... dia adalah tunanganku. Sudah tertulis sejak kami masih kecil. Aku rasa, terlalu dini menyimpulkan bahwa dia lebih cocok dengan orang lain hanya karena satu pesta ulang tahun."
Theodore bangkit berdiri, kursinya bergeser hingga berbunyi keras di lantai. Ia membungkuk hormat kepada kedua raja dan ratu.
"Aku juga merasa sedikit tidak enak badan. Aku permisi ingin mencari udara segar di luar," ucapnya singkat, lalu berjalan pergi dengan langkah panjang dan cepat, persis seperti yang dilakukan Amorette dan Algernon sebelumnya.
Di belakangnya, keheningan kembali menyelimuti meja makan. Wajah Raja August berkerut bingung, sementara Ratu Mirelle dan Elarise kini tidak lagi tersenyum bahagia. Mereka berdua saling pandang, rasa cemas yang sempat hilang kini kembali menjalar di dada.
Ada apa dengan Theodore? batin Elarise gemetar. Kenapa dia membela Amorette? Kenapa dia menolak gagasan itu? Apa yang sebenarnya terjadi?
Di ruang perpustakaan kecil di lantai atas, jauh dari jangkauan telinga siapa pun, Amorette dan Algernon duduk bersila di atas karpet tebal di samping jendela besar yang menghadap ke taman belakang istana.
Di sana, di antara tumpukan buku-buku tua berdebu, Amorette baru saja menyelesaikan ceritanya. Ia sudah menceritakan semua inti cerita novel—awal mula konflik, perkembangan hubungan antar tokoh, hingga akhir yang tragis di mana mereka berdua mati di tiang gantungan.
Keheningan panjang menyelimuti ruangan itu setelah Amorette selesai berbicara. Algernon menundukkan wajahnya, jari-jarinya mengetuk-ngetuk pelan lantai kayu, matanya menatap kosong seolah sedang menghitung ribuan kemungkinan di dalam kepalanya.
"Jadi begitulah akhir cerita kita," ucap Algernon akhirnya, suaranya rendah namun tenang. Ia mengangkat wajahnya dan tersenyum sinis. "Kita dikhianati, dituduh, dijadikan kambing hitam, lalu mati sementara 'pasangan bahagia' itu hidup bahagia selamanya. Cerita yang sangat klasik dan menjemukan."
"Dan sekarang, kita harus mengubahnya," tegas Amorette, mencondongkan badannya ke depan. "Musuh utamaku bukan Elarise atau ibunya. Mereka hanya beracun tapi tidak punya kekuatan nyata. Musuh kita yang sebenarnya adalah Kerajaan Voldigard, kerajaan tetangga yang berniat menguasai benua ini. Di cerita asli, merekalah yang mengirim mata-mata, menanam bukti palsu, dan memanfaatkan kebencian Amorette serta keterasinganmu untuk menjatuhkan kedua kerajaan kita."
Algernon mengangguk, sorot matanya kembali berubah menjadi tajam dan penuh strategi.
"Aku mengerti. Jadi kuncinya adalah: jangan biarkan mereka memanfaatkan kita. Kalau di cerita asli kita dianggap lemah dan mudah dibentuk, sekarang kita harus menjadi kuat, berkuasa, dan sulit disentuh. Kita harus punya kekuatan sendiri, jaringan sendiri, dan pengaruh sendiri di luar kendali Raja Julius maupun Raja August."
"Benar. Dan langkah pertamamu sudah kau lakukan hari ini," tambah Amorette sambil tersenyum miring. "Kau sudah menunjukkan bahwa kau bukan lagi pangeran sampah. Kau mulai dihargai. Dan aku... aku mulai membangun reputasi sebagai wanita cerdas yang berharga. Semakin berharga kita di mata publik, semakin sulit musuh menjatuhkan kita tanpa bukti nyata."
Belum sempat mereka merencanakan langkah selanjutnya, suara langkah kaki berat dan terburu-buru terdengar mendekat di luar pintu kayu yang tebal itu. Diikuti dengan ketukan pelan namun tegas.
Tok... tok... tok...
Pintu itu sedikit terbuka, dan sosok Theodore muncul di celah pintu. Napasnya sedikit terengah-engah seolah baru saja berlari, wajahnya tampak kacau dan penuh emosi yang bergemuruh. Ia menatap tajam ke arah keduanya yang duduk bersebelahan di atas karpet, lalu matanya terkunci lekat-lekat pada Amorette.
"Jadi di sinilah kalian berada..." ucap Theodore pelan, suaranya bergetar campuran antara amarah, kecewa, dan rasa memiliki yang kuat. Ia mendorong pintu itu terbuka lebar dan masuk ke dalam ruangan tertutup mereka.
"Amorette... apa benar kau setuju dengan rencana Ayahku? Kau lebih memilih dia..." Theodore menunjuk ke arah Algernon dengan pandangan penuh kebencian, "...daripada diriku?"
Algernon bangkit berdiri perlahan, berdiri tegak di samping Amorette, seolah menjadi tameng sekaligus pernyataan posisi. Ia tersenyum mengejek ke arah adiknya sendiri.
"Adikku sayang... bukankah kau sendiri yang selalu berkata kau lebih memilih Elarise? Kenapa sekarang kau marah saat orang lain memberimu apa yang kau inginkan?"
Suasana di ruangan sempit itu seketika menjadi tegang, penuh persaingan, dan mulai membara. Di luar rencana awal mereka, Theodore kini menjadi variabel yang paling sulit diprediksi, sementara nasib dan hubungan antar mereka bertiga perlahan bergeser jauh dari jalan cerita yang pernah tertulis di buku itu.