NovelToon NovelToon
Transmigrasi Putri Selir: Lima Kakak Mafia Terobsesi Padaku

Transmigrasi Putri Selir: Lima Kakak Mafia Terobsesi Padaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Transmigrasi / Mafia
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: cosmoursun

Alana, seorang gadis pekerja keras yang tewas karena kelelahan, terbangun di tubuh putri bungsu seorang selir di keluarga mafia Garrick yang kejam. Alih-alih hidup mewah, ia justru akan dijual oleh ibu tiri pertamanya kepada mafia tua bangka demi politik.

​Menolak pasrah pada takdir, Alana memutuskan untuk memikat kelima kakak tirinya yang terkenal kejam, dingin, dan saling bermusuhan demi takhta. Dari seorang pion yang terbuang, Alana mengubah dirinya menjadi ratu kecil yang diperebutkan oleh lima penguasa dunia bawah.

​"Siapa pun yang berani menyentuh Alana, artinya menantang maut dari seluruh keluarga Garrick!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cosmoursun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Pengepungan Faksi Pertama: Ultimatum di Ambang Fajar

Begitu Alana menyadari situasi yang terjadi, kelopak matanya kembali terpejam rapat. Kelelahan ekstrem setelah operasi dan sisa demam tinggi memaksa kesadarannya kembali tenggelam ke alam bawah sadar, meninggalkan Xavier dan Julian yang masih berdiri kaku di kedua sisi ranjang medis.

Julian mundur satu langkah, membetulkan letak kacamata peraknya sembari menatap arloji di pergelangan tangannya. Waktu menunjukkan pukul 04.30 dini hari.

"Dia sudah melewati masa kritisnya, Xavier," ucap Julian, suaranya kembali ke nada datar dan penuh kalkulasi taktis yang biasa. "Eleanor pasti sudah menyadari hilangnya Alana saat ini. Aku tidak bisa terus berada di Mansion Ketiga. Jika aku dan pasukanku terlihat di sini menjelang fajar, Eleanor akan langsung tahu bahwa Faksi Kedua dan Ketiga telah resmi bersatu. Aku akan kembali ke perimeter luar untuk menyiagakan jaringan mata-mata dan Adrian."

Xavier tidak menoleh, jemarinya masih mengusap sisa keringat dingin di dahi Alana dengan sangat protektif. "Pergilah, Julian. Urus informasimu. Mansion Ketiga adalah kerajaanku, dan aku punya cukup banyak tentara bayaran untuk mencabik siapa pun yang berani menginjakkan kaki di sini tanpa izin."

Julian mengangguk kecil, lalu melangkah keluar menembus pintu utilitas belakang secara senyap, kembali ke markas Faksi Kedua untuk memantau pergerakan militer Cedric dari balik layar bayangan.

Malam yang panjang itu akhirnya digantikan oleh semburat cahaya fajar yang kelabu. Sepanjang sisa malam, Xavier benar-benar menolak meninggalkan sisi ranjang Alana. Ketika jam dinding digital berkedip menunjukkan pukul 05.45 pagi, cairan antibiotik dosis tinggi dalam infus berhasil menurunkan suhu tubuh Alana ke angka normal. Saraf-saraf tubuh Alana perlahan terbangun. Rasa perih luar biasa yang mencengkeram seluruh jaringan kulit punggungnya membuat gadis itu membuka mata, mendudukkan tubuhnya secara perlahan dengan sisa tenaga yang ada.

Namun, ketenangan fajar itu langsung hancur berantakan lima belas menit kemudian.

Tepat pada pukul 06.00 pagi, kabut tebal yang menyelimuti perimeter luar Mansion Ketiga dipecah oleh raungan mesin V8 yang bergemuruh dahsyat dari arah gerbang utama. Belasan mobil SUV lapis baja berwarna hitam legam merangsek masuk tanpa izin, memotong jalur masuk dan langsung membentuk formasi barikade pengepungan setengah lingkaran di halaman depan.

Dua ratus pasukan militer bersenjata lengkap milik Faksi Pertama melompat turun dari kendaraan dengan gerakan taktis yang luar biasa presisi. Mereka mengenakan rompi antipeluru berat, mengacungkan senapan serbu otomatis, dan mengunci setiap sudut keluar-masuk Mansion Ketiga. Di garis paling depan, berdiri Cedric Garrick dengan wajah memerah padam dan urat-urat leher yang menegang saat menyambar sebuah pengeras suara militer.

"Xavier! Aku beri kamu waktu tepat sepuluh menit!" suara Cedric menggelegar membelah kesunyian fajar. "Serahkan anak haram itu sekarang juga! Jika dalam sepuluh menit gerbang tidak dibuka, aku akan memerintahkan pasukanku untuk meratakan seluruh Mansion Ketiga dengan tanah!"

Di dalam lobi mewah, atmosfer berubah menjadi sangat mencekam. Xavier berdiri di balik pilar marmer besar, mengokang senjata api otomatis berlapis emas miliknya dengan napas yang memburu akibat amarah yang meluap-luap. Di belakangnya, puluhan tentara bayaran Faksi Ketiga sudah bersiap di posisi menembak.

Tepat pada saat kritis itu, sebuah mobil sedan hitam melesat masuk dari pintu belakang mansion melalui rute rahasia. Julian Garrick kembali, melangkah cepat masuk ke dalam lobi dengan wajah yang mengeras.

"Cedric membawa dua ratus pasukan inti, Xavier!" Julian menyela dengan nada mendesak, menahan lengan Xavier yang sudah bersiap memerintahkan penembakan. "Mata-mataku melaporkan Eleanor sengaja membiarkan Cedric menggila agar kita membalas tembakan. Jika kamu memulai pertumpahan darah bersenjata sekarang, ini akan menjadi perang saudara terbuka. Ayah dan Kak Dominic sedang berada di luar negeri. Siapa pun yang memulai perang bersenjata terlebih dahulu di mansion ini akan langsung dieksekusi mati oleh Ayah begitu beliau mendarat!"

"Lalu apa?! Kita membiarkan bajingan temperamental itu mendobrak masuk dan mengambil Alana?!" bentak Xavier geram.

"Tidak akan ada yang mengambil siapa pun."

Sebuah suara bariton yang teramat lirih, dingin, namun sarat akan otoritas mutlak mendadak memotong perdebatan kedua putra mahkota tersebut. Xavier dan Julian seketika menoleh ke arah pintu koridor klinik yang terhubung langsung dengan lobi.

Di ambang pintu koridor, Alana berdiri dengan bertumpu pada bingkai pintu. Tubuhnya masih teramat lemah, dan sehelai jubah sutra hitam tebal yang dikenakannya tampak mulai merembaskan noda darah segar di bagian punggung—tanda bahwa luka jahitannya sedikit terbuka akibat dipaksa bergerak tegak dari ranjang bangsalnya. Namun, sepasang mata jernih gadis itu memancarkan kilatan sedingin es yang sanggup membekukan atmosfer ruangan.

"Alana? Apa yang kamu lakukan?! Kembali ke bangsal!" perintah Xavier, sifat protektifnya seketika mencuat melihat rembesan darah di jubah hitam gadis itu.

Alana mengabaikan perintah itu. Dia menatap langsung ke arah kepala pengawal Faksi Ketiga yang berdiri di dekat pintu utama. "Buka gerbangnya," perintah Alana datar.

"Apa?!" Xavier membelalakkan matanya.

"Buka gerbangnya, dan biarkan Tuan Muda Cedric masuk ke dalam lobi ini... sendirian," ulang Alana, sebuah senyuman tipis yang teramat misterius terukir di bibirnya yang pucat. "Jangan biarkan emosi bodoh kalian menghancurkan papan catur yang sudah susah payah aku susun."

Dua menit kemudian, gerbang besi besar Mansion Ketiga terbuka perlahan. Cedric Garrick melangkah masuk ke dalam lobi megah dengan langkah angkuh yang menghentak. Dia menolak menurunkan senapan serbunya, membiarkan moncong senjata itu tetap terangkat. Begitu matanya menangkap sosok Alana yang berdiri di tengah lobi dikawal oleh Xavier dan Julian, Cedric langsung merangsek maju dan menempelkan moncong senapan serbu dingin itu tepat di dahi Alana.

"Tikus kecil," desis Cedric, seringai brutal terukir di wajahnya. "Kamu pikir kamu bisa kabur setelah mengacaukan kepalaku? Satu tarikan pelatuk, dan otak geniusmu itu akan berserakan di lantai marmer ini."

Xavier dan Julian secara serentak bergerak maju, tangan mereka sudah berada di balik mantel siap mencabut senjata, namun Alana mengangkat tangan kirinya perlahan—memberikan isyarat mutlak agar kedua pria itu tetap di tempat.

Alana sama sekali tidak berkedip menghadapi moncong senjata di dahinya. Dia justru mendongak, menatap langsung ke dalam mata Cedric dengan tatapan yang penuh dengan rasa iba yang menghina. Alana melangkah maju satu senti, membuat dahi pucatnya semakin menekan ujung senapan Cedric.

"Tembak saya, Tuan Muda Cedric. Silakan," bisik Alana, suaranya begitu tenang, namun bergaung mengerikan di dalam lobi yang sunyi. "Tetapi sebelum Anda menarik pelatuk itu, biarkan saya memberi tahu satu rahasia kecil yang sedang disembunyikan oleh Nyonya Eleanor dari Anda."

Cedric menyipitkan matanya, ego dan paranoianya seketika terusik. "Jangan mencoba memanipulasiku lagi!"

Alana mendekatkan wajahnya ke telinga Cedric, membisikkan kata-kata yang menjadi skakmat psikologis paling mengerikan bagi sang ahli militer.

"Apakah Anda tahu mengapa Ibu Anda begitu bersikeras menyembunyikan penolakan dokumen Eropa Selatan dari Anda? Itu bukan karena masalah administrasi. Malam ini, secara rahasia, Nyonya Eleanor telah mengirimkan utusan baru ke Eropa Selatan untuk merevisi dokumen pernikahan itu... atas nama anak pertamanya, Dominic Garrick. Ibu Anda tahu bahwa posisi Anda sebagai ahli militer sangat mudah digantikan. Begitu Tuan Muda Dominic pulang mendampingi Ayah, seluruh sepuluh ribu pasukan militer baru dari Eropa Selatan itu akan diserahkan langsung kepada Tuan Muda Dominic sebagai hadiah takhta. Anda tidak lebih dari sekadar anjing penjaga yang ditugaskan mati di garis depan demi memuluskan jalan kakak kandung Anda sendiri. Jika Anda menembak saya sekarang, satu-satunya orang yang memegang bukti otentik pengkhianatan Ibu Anda terhadap Anda... akan lenyap."

Kata-kata Alana menghantam mental Cedric bagaikan gada besi yang menghancurkan seluruh kewarasannya. Paranoia terbesar Cedric selama hidupnya adalah selalu berada di bawah bayang-bayang Dominic—sang putra pertama yang selalu dibawa Ayah kemana-mana. Mengetahui bahwa ibunya sendiri bersekongkol untuk menyerahkan pasukan impiannya kepada Dominic membuat seluruh dunianya runtuh seketika.

Tangan Cedric yang memegang senapan serbu mendadak bergetar hebat. Seringai brutal di wajahnya lenyap, digantikan oleh ekspresi ketakutan dan amarah yang luar biasa pekat terhadap ibunya sendiri.

"Kamu... kamu bohong..." bisik Cedric dengan suara yang parau dan bergetar.

"Saya memiliki akses data keuangan yang mengalir ke utusan rahasia itu melalui kasino Xavier, dan saya tahu rute strateginya melalui Julian," sahut Alana, matanya berkilat tajam mematikan. "Turunkan senjata Anda, tarik mundur pasukan Anda, dan saya akan memberikan seluruh bukti itu agar Anda bisa mendepak Nyonya Eleanor dari kursi kekuasaan faksi pertama sebelum Tuan Muda Dominic pulang."

Selama beberapa detik yang menegangkan, Cedric berdiri kaku di tengah lobi. Ego, rasa haus akan takhta, dan rasa dikhianati oleh darah dagingnya sendiri membuat akal sehatnya lumpuh total.

Secara perlahan dan meyakinkan, Cedric menurunkan moncong senapannya. Dia berbalik memunggungi Alana, Xavier, dan Julian dengan tubuh yang gemetar menahan amarah yang kini bergeser arah.

"Mundur!" teriak Cedric melalui radio komunikasinya, suaranya terdengar hancur sekaligus berbahaya. "Seluruh unit... batalkan pengepungan! Kembali ke markas!"

Xavier dan Julian menatap punggung Cedric yang melangkah pergi dengan pandangan tidak percaya. Dua ratus pasukan militer faksi pertama ditarik mundur dalam hitungan menit tanpa ada satu pun peluru yang ditembakkan. Di tempat yang jauh, Eleanor Rossi yang memantau melalui satelit GPS pasukan hanya bisa menjatuhkan gelas tehnya hingga pecah, terkejut setengah mati melihat putra kesayangannya kembali membangkang secara radikal.

Alana mengembuskan napas perlahan, tubuhnya yang lemas hampir limbung jika Xavier tidak dengan cepat menangkap pinggangnya dan mendekapnya erat. Dari dalam dekapan Xavier, Alana melirik Julian yang menatapnya dengan tatapan penuh kengerian sekaligus kekaguman yang pekat.

Perang bersenjata memang batal hari ini, namun sumbu api perang saudara psikologis di dalam tubuh faksi pertama telah resmi dinyalakan oleh sang Dalang, dan korbannya adalah sang permaisuri itu sendiri.

1
Anne Soraya
lanjut
cosmoursun: Siapp! Ramaikan ya kak🔥
total 1 replies
Nindy bantar
makin seru
cosmoursun: wiii makin suka ga😬
total 1 replies
Nindy bantar
mampir thor ceritanya sprtnya menarik😍
cosmoursun: asikk, duduk sambil bawa popcorn kak🔥
total 1 replies
Rahman Hayati
baru ya
cosmoursun: iya niii, lesgoo dibacaaa🔥
total 1 replies
Lilis Lis
ceritanya bagus dan pemeran wanita yg cerdas dan pemberani..
cosmoursun: xixixi terimakasih kak! terus dukung Alana supaya jadi wanita beraniii🔥
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!