Bagi semua orang, Ning Humaira adalah definisi kesempurnaan. Namun, perjodohan memaksanya berbagi ranjang dengan Gus Arsalan pria tampan berhati sedingin es yang menyisakan seluruh hatinya untuk wanita lain di London.
Tepat di malam pertama, sebuah kalimat kejam meluncur dari bibir sang Gus:
"Jangan pernah berharap saya akan mencintai kamu. Saya akan menafkahi lahirmu, tapi tidak dengan batinmu."
Satu minggu mereka terjebak dalam sandiwara; menjadi pasangan paling romantis di depan keluarga, namun menjadi dua orang asing di balik pintu kamar.
Lelah diabaikan dan hancur karena cinta suaminya yang tertinggal di luar negeri, Humaira akhirnya nekat mengambil langkah gila. Malam itu, selembar gaun tidur satin merah marun menjadi senjatanya untuk meruntuhkan keangkuhan sang suami.
Ketika harga diri seorang Ning bertabrakan dengan kewajiban, akankah taktik berani ini berhasil meruntuhkan tembok es Arsalan, atau justru membuatnya semakin menjauh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Surat di Batas Cakrawala
Waktu bergulir laksana roda pedati tua yang melintasi jalanan berbatu; lambat, berderit, namun tak pernah sekalipun berbalik arah. Dua bulan sejak ketukan palu Pengadilan Agama Jombang meresmikan perpisahan mereka, gerimis tipis kembali memeluk kota Kediri. Di dalam kamar utama *ndalem* Pesantren Al-Anwar, sunyi masih menjadi penguasa tunggal. Kamar yang dulunya terasa sempit oleh canggung dan dinginnya ego, kini terasa teramat luas hingga setiap embusan napas Gus Arsalan seolah memantul pada dinding-dinding jatinya.
Arsalan duduk bersila di depan meja belajar kecilnya, bukan di atas sofa mewah. Di bawah temaram lampu meja, ia menatap selembar kertas putih kosong dan sebuah pena hitam. Penampilannya jauh lebih rapi dibanding malam kelam di Jombang dua bulan lalu, namun guratan di wajah tegapnya tampak lebih dewasa, matanya memancarkan kedalaman rasa yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang kenyang berdamai dengan kehilangan.
Selama dua bulan ini, Arsalan murni menutup diri dari keduniawian yang tak perlu. Kamar ini menjadi saksi bagaimana ia merombak seluruh isi hatinya. Tidak ada lagi foto-foto masa lalu di London; tempat sampah di sudut ruangan telah lama mengosongkannya. Kini, yang tersisa di laci mejanya hanyalah sebuah tasbih kayu kokoh dan ingatan tentang aroma lavender tipis milik Humaira yang kian hari kian memudar dari kain-kain sprei, namun kian pekat tertanam di dalam ingatannya.
Arsalan menarik napas dalam, memantapkan jemarinya untuk mulai menggoreskan pena. Ini bukan surat tuntutan, bukan pula surat rujukan karena ia tahu talak tiga telah memutus jembatan itu secara syar'i. Ini adalah surat pembebasan jiwa.
'Assalamualaikum, Humaira.
Bagaimana kabarmu di bawah langit Jombang? Saya harap tulisan ini menemuimu dalam keadaan sehat walafiat, selalu dalam dekapan rahmat dan perlindungan Allah SWT. Salam takzim saya sampaikan pula untuk Abah Kiai Syamsuddin dan Ummi Fatimah.
Humaira, lembaran dari pengadilan sudah saya simpan dengan rapi. Bersamaan dengan itu, saya ingin menyampaikan satu hal yang belum sempat saya selesaikan dengan benar: saya melepaskanmu dengan rida seutuhnya. Maafkan atas segala kegagalan saya menjadi imam yang baik. Saya sadar, doa-doamu yang dulu luput saya syukuri kini menjadi payung yang menjaga saya untuk tetap tegak memimpin Al-Anwar.
Saya mendengar dari Ummi Khadijah bahwa kamu kembali aktif mengajar kitab di pondok putri. Demi Allah, saya ikut bahagia. Teruslah bersinar di sana, Humaira. Jika suatu saat nanti, ada laki-laki salih yang dikirimkan Allah untuk memuliakanmu—seseorang yang mampu menghargai setiap tetap air matamu lebih baik daripada suami bodohmu yang dulu maka terimalah ia dengan lapang dada. Jangan biarkan ketakutan masa lalu menghalangi kebahagiaanmu. Saya di sini, akan selalu mengunci pintu hati ini, menjaga namamu sebagai satu-satunya ratu dalam sejarah hidup saya.'
Wassalamualaikum.
~Arsalan Al-Anwar
Arsalan melipat kertas itu menjadi tiga bagian, memasukkannya ke dalam amplop putih polos, lalu menyegelnya dengan rapat. Ia mboten berniat mengirimkannya lewat pos; ia akan menitipkannya pada abdi ndalem sepuh yang kebetulan akan mengantar kitab ke Jombang esok hari. Ada kelegaan yang ganjil setelah pena itu diletakkan. Arsalan bangkit, melangkah menuju jendela, menatap ribuan lampu asrama santri yang mulai padam satu per satu. 'Bahagialah di sana, Humaira. Biar sunyi ini menjadi milik saya sendiri,' hatinnya berbisik jernih.
Keesokan harinya, di Pesantren Sepuh Jombang, matahari pagi bersinar cukup terik, membakar sisa-sisa embun di atas kelopak bunga melati di kebun belakang. Humaira sedang duduk di serambi madrasah putri, mengoreksi baris demi baris hafalan kitab Tashrifan milik para santriwati senior.
Seorang santriwati khidmah berjalan mendekat dengan langkah takzim, menundukkan kepala sebelum mengulurkan sebuah amplop putih polos. "Ning Humaira, niki wonten titipan surat dari abdi *ndalem* Al-Anwar Kediri yang tadi pagi sowan ke Abah."
Jantung Humaira berdegup agak kencang mendengar kata "Al-Anwar". Ia menerima amplop itu dengan tangan yang sedikit kaku. "Enggeh, maturnuwun nggih, Nduk."
Setelah santriwati itu pamit, Humaira membawa amplop tersebut ke dalam ruang perpustakaan yang sepi. Dengan hati-hati, ia merobek segelnya dan mengeluarkan secarik kertas di dalamnya. Tulisan tangan yang tegas, rapi, dan maskulin itu langsung ia kenali sebagai tulisan tangan Gus Arsalan.
Humaira membaca bait demi bait surat tersebut dengan saksama. Air matanya mboten tertahan, menetes pelan mengenai sudut kertas, membuat tinta hitam di sana sedikit melebar. Namun, tangisan Humaira kali ini bukan lagi tangisan histeris penuh luka seperti dua bulan lalu. Ini adalah tangis haru sekaligus rasa hormat yang mendalam atas keluhuran budi mantan suaminya yang kini telah benar-benar bertransformasi menjadi pribadi yang tawadu.
"Njenengan sampun berubah, Gus... Njenengan sampun mboten angkuh lagi," bisik Humaira lirih, memeluk surat itu di dadanya.
Kalimat Arsalan yang mengizinkannya untuk menerima laki-laki lain jika saatnya tiba terasa laksana embusan angin segar yang meluruhkan sisa-sisa sesak di dadanya. Ada rasa damai yang akhirnya tuntas merayap di dalam jiwa Ning Humaira. Ia tahu, mereka mboten akan pernah bisa bersama lagi di dunia ini sebagai pasangan, namun rasa saling rida di antara mereka kini telah melebihi segalanya.
Sore harinya, suasana di teras *ndalem* Jombang kembali diramaikan oleh kedatangan sebuah mobil yang sudah tidak asing lagi. Gus Reyhan kembali bertamu. Laki-laki itu datang murni untuk mengantarkan undangan acara haul akbar di pesantren ayahnya minggu depan.
Setelah berbincang cukup lama dengan Kiai Syamsuddin di ruang tamu dalam, Reyhan melangkah keluar menuju teras samping, tempat di mana Humaira sedang menata beberapa pot bunga krisan.
"Assalamualaikum, Ning Humaira," sapa Reyhan dengan senyuman hangatnya yang selalu konsisten.
"Waalaikumsalam, Gus Reyhan. Sampun selesai berbincang dengan Abah?" tanya Humaira, membalikkan tubuhnya dan membalas sapaan itu dengan adab yang sangat baik.
"Sampun, Ning. Alhamdulillah, Abah kersa rawuh (berkenan hadir) minggu depan," jawab Reyhan. Laki-laki itu menatap wajah Humaira dengan jeli. Ada yang berbeda dari aura wajah mantan istri Gus Arsalan itu sore ini. Guratan mendung dan sisa ketakutan yang sebulan lalu mendominasi kini telah lenyap, berganti dengan ketenangan batin yang jernih dan tulus.
Reyhan berdeham pelan, meremas kedua tangannya di balik saku kemeja takwanya. "Ning... jika kulo mboten lancang, wajah Njenengan hari niki kelihatan jauh lebih cerah dan lapang. Apakah... apakah batin Njenengan sampun mulai menemukan kedamaian?"
Humaira tersenyum, sebuah senyuman lepas yang teramat jarang ia perlihatkan selama ini. "Alhamdulillah, leres, Gus. Allah Maha Baik, seberat apa pun badai kemarin, hari niki kulo merasa batin kulo sampun sepenuhnya ikhlas dan rida dengan sedoyo ketetapan-Nya."
Mendengar jawaban Humaira, sepasang mata Gus Reyhan seketika berbinar cerah. Harapan besar yang ia tanam sebulan lalu mendadak terasa kian dekat dengan kenyataan. Ia menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan seluruh wibawa dan keberaniannya sebagai seorang pria yang taat adab.
"Ning Humaira..." panggil Reyhan, suaranya merendah penuh penekanan yang jantan. "Jika memang batin Njenengan sampun lapang... apakah ucapan kulo sebulan lalu tentang penantian niki taksih boleh kulo pegang? Kulo mboten badhe terburu-buru, Ning. Tapi kulo ingin menegaskan kembali, bahwa kulo taksih setia menunggu hari di mana kulo bisa datang ke mriki bersama orang tua kulo kagem mengkhitbah Njenengan secara resmi."
Humaira menatap lurus ke arah tanaman krisan di depannya, lalu mengalihkan pandangannya pada wajah tulus Gus Reyhan. Ada rasa hormat yang teramat besar di hati Humaira untuk kegigihan pria di hadapannya ini. Reyhan adalah laki-laki sempurna tanpa celah cacat moral dalam pandangan keluarga pesantren.
"Gus Reyhan..." ucap Humaira dengan nada yang teramat lembut namun terukur. "Kulo mboten badhe melarang Njenengan kagem berharap atau berdoa kepada Allah, karena hati manusia itu sepenuhnya milik-Nya. Kulo sangat menghargai ketulusan niat Njenengan selama niki."
Humaira menjeda kalimatnya, menarik napas dalam demi menyusun kata-kata yang adil. "Namun, kulo mohon... jangan buat hidup Njenengan berhenti hanya untuk menunggu kulo. Berjalanlah seperti biasa, Gus. Biarkan waktu dan takdir Allah yang bekerja di antara kita. Jika kelak di masa depan, saat hati kulo benar-benar sampun siap seutuhnya untuk menjalin ibadah panjang kembali, dan nama Njenengan yang tertulis di Lauhul Mahfudz kulo... maka kulo mboten badhe menolak ketetapan itu."
Mendengar jawaban yang diplomatis namun memberikan lampu hijau yang cukup terang tersebut, Gus Reyhan mboten bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Ia mengangguk takzim dengan senyuman lebar yang terukir di wajahnya.
"Enggeh, Ning. Jawaban niki sampun lebih dari cukup kagem kulo. Kulo badhe manut dawuh Njenengan, berjalan sewajarnya sambil terus memantaskan diri di hadapan Allah. Maturnuwun sanget atas kesempatannya, Ning," ucap Reyhan dengan penuh rasa syukur.
Malam harinya, di bawah langit Jombang yang bertabur bintang pasca-hujan, Ning Humaira kembali menggelar sajadah di sepertiga malam terakhirnya. Di dalam keheningan kamarnya, ia bersujud dengan air mata keikhlasan yang mengalir hangat.
Ia menceritakan segala isi hatinya kepada Sang Pemilik Jiwa. Ia mendoakan agar Gus Arsalan selalu dijaga keimanannya di Kediri, diberikan ketabahan, dan dijadikan ulama besar yang membawa berkah untuk umat. Dan untuk Gus Reyhan, ia meminta agar Allah menuntun niat baik laki-laki itu menuju jalan yang paling diridai-Nya.
Sementara itu, di waktu yang sama di kota Kediri, Gus Arsalan juga sedang berada di atas sajadahnya, menundukkan kepala sedalam-dalamnya dalam khusyuknya doa malam. Jarak puluhan kilometer di antara mereka kini mboten lagi diisi oleh jerit kesakitan atau dendam yang membara. Jarak itu kini telah dipenuhi oleh jalinan doa-doa gaib yang saling menguatkan, sebuah akhir yang matang dari sepasang insan yang sempat keliru melangkah, kini sama-sama melangkah maju di atas jalan takdir masing-masing demi menggapai rida-Nya yang abadi.