NovelToon NovelToon
Residu Ingatan

Residu Ingatan

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Teen / Time Travel / Tamat
Popularitas:486
Nilai: 5
Nama Author: yopoyoi

Layaknya residu yang menggumpal dan sudah mendangkal, sulit sekali untuk dibersihkan. Ingatan yang sangat membekas itu juga sulit sekali disingkirkan-tentang dia yang ternyata tereliminasi oleh waktu.

Arinta masih tak menyangka kejadian ini benar-benar menimpanya. Kejadian yang melemparnya kembali ke dua puluh tahun silam. Tahun dimana bibit-bibit kehancuran dari rasa damai dikeluarganya dimulai.

Kejadian yang entah bisa dibilang membawa berkah atau justru membawa bencana?


Mulai: 6 Juni 2026
Selesai:

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yopoyoi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

33. Sekolah Baru

Arinta sedikit lebih tenang, pintu dibiarkan terbuka saat Mala keluar. Tak ada satupun dari ketiga laki-laki itu yang berani melangkah masuk.

"Pak Zaid. Maksud bapa apa nyuruh Arin ngga lanjut sekolah? Itu anaknya ngambek sampe sesenggukan gara-gara itu loh," tanya Mala to the point.

Percakapan terus berlanjut di teras rumah. Sedangkan didalam pun ada percakapan lain.

"Ta? U oke?" tanya Aguil berdiri didepan pintu.

Arinta mengangguk. Ia sedikit terpukau dengan ketampanan temannya itu. Sudah berpakaian rapi, malah tak jadi ikut acaranya. Ia jadi merasa bersalah.

Ghifari menarik tangan adiknya untuk keluar, "Ngga baik laki-laki masuk kamar perempuan, ngga baik juga kalo ngobrol kayak orang musuhan gitu. Sini duduk didepan," ia menggiring dua bocah itu ke ruangtamu.

"Maaf."

Aguil menatap tak percaya pada Arinta. Setelah sekian abad akhirnya Arinta mau bersuara, walaupun hanya satu kata.

"Maaf atas?" tanya Aguil memancing suaranya lagi.

Arinta pikir Aguil akan terkejut seperti melihat kucing sirkus karena bisa mendengar suaranya, tapi ternyata tidak. Ia jadi lebih antusias untuk menjawab.

"Maaf atas hari ini dan satu tahun terakhir."

"Loh? Emangnya hari ini kenapa? Satu tahun terakhir kenapa? Selagi gua masih bisa ngeliat lu, itu bukan masalah," jawab Aguil santai.

Arinta malah tersipu.

"Gitu dong, baru kali ini gua ngeliat lu senyum," Aguil mengabaikan pipi Arinta yang mulai terlihat memerah, ia takut kalau dikomentari nanti bocahnya ngambek lagi.

"Emang iya?" tanya Arinta salah tingkah.

Obrolan itu terus berlanjut. Diam-diam Ghifari mengintip, ia ikut tersenyum melihat adik satu-satunya mulai berubah perlahan.

"Jadi ya lanjut di negeri bareng?"

Senyum itu otomatis luntur dari bibir pucat Arinta.

"Jadi dong, anak gadis mama pasti tembus negeri," sahut Mala tiba-tiba nimbrung.

Zaid ikut masuk dan berbaur, "Iya. Bagus itu kalo bisa masuk negeri."

Arinta jadi ikut senyum lagi mendengarnya. Entah apaa yang Mala ucapkan pada Zaid, yang penting sekarang senyum Arinta terbit kembali.

***

"Ta.. Ngga apa-apa kali ya kita minta sekelas?" bisik Aguil.

Hari ini mereka sudah resmi menduduki bangku Sekolah Menengah Pertama. Kini lapangan penuh dengan anak-anak baru, mereka menunggu nama mereka disebut untuk pembagian kelas. Guru itu bilang kalau setiap tahun akan ada sistem acak kelas, tujuannya supaya satu angkatan bisa saling kenal dan berbaur.

Tak lama setelah nama Arinta disebut, nama Aguil juga disebut, mereka sekelas.

"Tos-tosan dulu ngga sih?" ajak Aguil pada Arinta.

Arinta malah cengengesan, "Kalem, Il. Gua kalo ngga sekelas sama lu juga tetep pinter."

"Oh udah mulai tengil ya sekarang?" sahut Aguil tak mau kalah.

Berbeda dengan waktu masa SD, kini teman-teman Arinta di SMP jauh lebih ramah. Walaupun awalnya Arinta malu-malu, tapi karena temannya itu terus mengajak ini itu, jadilah mereka akrab.

Tahun pertama di SMP, Arinta dan Aguil sering sekali bertemu bahkan satu kelompok. Namun ditahun kedua ini alias saat kelas 8, mereka tidak sekelas. Interaksi mereka jadi minim.

Ditengah-tengah orang asing, Arinta melihat sosok yang mirip dengan dirinya, suka menyendiri. Ia duduk disebelahnya.

"Nama kamu siapa?" tanya Arinta.

"Gua Aru. Salam kenal ya?" tak disangka, responnya begitu antusias saat diajak berkenalan.

"Oh, Aru? Salam kenal, aku Arinta."

Begitulah awal persahabatan mereka terbentuk. Mereka berdua bagai lem dan perangko, kemana-mana selalu berdua. Aguil sedikit tersingkirkan karena keberadaan Aru.

Namun seiring berjalannya waktu, Aguil bisa masuk dalam lingkup pertemanan ciwi-ciwi itu. Teman-teman yang lain menyebut mereka trio A+, karena memang otak mereka bertiga diatas rata-rata.

"Paham kan kenapa mereka temenan?" guyon salahsatu teman mereka saat melihat tiga sekawan itu berjalan beriringan.

Bukan tanpa alasan anak tadi mengomentari mereka bertiga. Karena saat ini tertera jelas di majalah dinding nama mereka bertiga, "Juara 1 lomba Cerdas Cermat tingkat Kabupaten".

Mereka bertiga sudah seperti diatas awan. Tidak tahu saja kalau materi di SMA nanti siap membantai mereka.

"Maen lu pada ke rumah gua, berdua mulu sih dia mah maennya," oceh Aru sambil mengunyah permen karet.

"Rumah lu dimana? Gua aja ngga tau," sahut Arinta.

"Nah kan, ayo lah langsung ke rumah gua," ajak Aru.

"Balik rumah dulu lah, ntar ayah gua nyariin gimana?" ucap Arinta.

Arinta menarik earphone kabel yang menempel di telinga Aguil, "Gimana, Il?"

"Apanya gimana?" tanya Aguil polos.

"Langsung ke rumah Aru, maen," sahut Arinta.

"Ayo aja kalo lu ikut," ucap Aguil tak masalah.

"Ih tapi kan baru pulang sekolah!"

"Cepet diskusinya, arah rumah gua belok nih, mau ikut ngga?" serobot Aru.

"Ayo dah!" Aguil mendorong Aru untuk jalan lebih dahulu dan Arinta ia tarik untuk ikut kearah yang sama dengan Aru.

"Ayah gua nanti nyariin gimana, Il?!" Arinta ogah-ogahan.

"Eih.. Gampang, ntar gua telepon kabarin," ucap Aguil.

"Besok daring pada ke rumah gua aja sih, gua punya Wifi. Nanti lu pake hp gua aja, Ta, gua pake laptop," Aru menaik turunkan alisnya.

"Aru buka laptop bukannya belajar malah nonton drakor," cibir Aguil.

Aru dan Aguil sibuk berdebat, sedangkan Arinta sibuk dengan pikirannya sendiri. Ia belum memiliki ponsel disaat teman-temannya bahkan punya ponsel keluaran terbaru. Ada sih, tapi itu milik ayah, untuk berkomunikasi dengan langganannya itu. Kalo Arinta sedang belajar daring, ya paling pinjam ponsel ayah atau Ghifari—kakaknya.

Arinta jadi sedih lagi.

Melihat perubahan raut wajah kawannya, Aru dan Aguil berhenti bersuara.

Aguil secara materi pasti amat sangat tercukupi, apalagi om dan tantenya yang keduanya seorang Dokter itu selalu memberinya uang jajan diatas rata-rata.

Aru pun sama, walaupun ayahnya hanya seorang kurir dan ibunya ART, tapi kebutuhannya tak pernah kurang. Apalagi ditambah ia anak kedua yang memiliki abang yang sudah bekerja juga.

"Kenapa? Gara-gara lu nih," tuduh Aru.

"Ih! Jan asal nuduh. Bukan gua kan, Ta?" tanya Aguil memastikan.

"Ngga apa-apa."

Kalau ada orang dengan tingkat kepekaan yang tinggi, Aguil mungkin ada diperingkat nomor satu.

"Oh iya, Ta. Nanti ke rumah gua dulu ya pulangnya. Ada titipan dari mama sama papa."

"Bujug, baru pisan nyampe di rumah gua. Udah mikir mau pulang aja," cerca Aru yang baru selesai buka sepatu.

"Et.. Nanti kan gua bilang," sewot Aguil.

"Iya dah, iya. Masuk masuk!" titah Aru.

Mereka menghabiskan waktu dengan menonton film di laptop Aru. Aguil terlihat ogah-ogahan awalnya, tapi melihat Arinta begitu antusias begitu mendengar kata "Film", Aguil jadi ikut antusias. Apapun yang membuat Arinta senang, pasti Aguil juga suka.

"Pernah nonton ini ngga, Ta?" tunjuk Aru pada salahsatu poster di beranda aplikasi nonton film.

Arinta menggeleng, "Aku belom pernah nonton film. Paling nonton tv doang."

"Kenapa gitu?" tanya Aru tak tahu sikon.

"Kepo lu! Arin mah sibuk belajar, emang lu kerjaannya nonton doang hari-hari," Aguil yang menyahut, berusaha supaya Arinta tak menjawab.

Arinta malah tertawa canggung, "Ngga belajar mulu juga. Emang ngga ada aja yang bisa ditonton."

Aru menelan ludah kasar, oke dia salah atas pertanyaan tadi.

Hingga menjelang malam, Arinta sebenarnya masih enggan untuk pulang. Nyaman sekali rasanya disini. Nonton film sambil disuguhi cemilan, di rumah mana bisa? Yang ada sang ayah menyuguhinya dengan pendedel dan baju yang harus dibongkar.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!