NovelToon NovelToon
Aku Menyelamatkan Seorang Mafia

Aku Menyelamatkan Seorang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Misteri
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Keysa Bom

Kael Valmont adalah pewaris sekaligus pemimpin muda Shadow Crown, organisasi mafia yang mengendalikan segalanya dari balik bayangan. Dikenal kejam dan tak terkalahkan, tidak ada yang berani mengkhianatinya.

Namun suatu malam, seseorang berhasil menyusup ke dalam organisasinya. Pengkhianatan itu membuat Kael terluka parah dan menghilang tanpa jejak.

Di sebuah desa terpencil bernama Desa Sekar, Hana, seorang dokter muda, menemukan pria misterius yang terdampar di pesisir pantai dalam keadaan sekarat. Tanpa mengetahui identitasnya, Hana berjuang menyelamatkan nyawa pria tersebut.

Saat semua orang mengira ia hanyalah korban biasa, sebuah rahasia perlahan terungkap. Seseorang sedang mencarinya. Bukan untuk menolongnya, melainkan untuk memastikan ia tidak pernah bangun lagi.

Siapa sebenarnya pria misterius yang ditemukan di tepi pantai itu? Dan rahasia apa yang tersembunyi di balik lambang mahkota hitam yang terukir di tubuhnya?

Ketika masa lalu mulai mengejarnya, Desa Sekar yang damai

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keysa Bom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 34 Hadiah Kecil

Malam yang tenang menyelimuti sebuah gedung megah di tengah kota yang bahkan tidak tercatat dalam peta resmi. Di balik dinding beton tebal dan sistem keamanan berlapis, pusat organisasi Shadow Crown tetap berjalan seperti biasa. Namun, ada satu hal yang berbeda. Kursi pemimpin masih kosong. Dan orang yang mengendalikan semuanya untuk sementara adalah Enzo.

Pria berambut hitam itu berdiri di depan jendela besar sambil memandangi gemerlap lampu kota dari lantai paling atas markas. Wajahnya tetap tenang, dingin, dan sulit ditebak. Di atas mejanya terdapat beberapa berkas laporan yang belum sempat ia baca.

Salah satu layar monitor di ruangan itu menampilkan laporan keuangan organisasi, sementara layar lainnya menampilkan laporan operasi dari berbagai negara. Meski Kael menghilang selama berbulan-bulan, Shadow Crown tetap berdiri kokoh karena Enzo memastikan semuanya berjalan sebagaimana mestinya.

Tok! Tok! Tok!

Seseorang mengetuk pintu kayu jati tersebut dengan ritme yang teratur.

"Masuk," sahut Enzo pendek tanpa membalikkan badannya dari jendela.

Seorang anggota elit melangkah masuk dengan langkah tegap, lalu menundukkan kepalanya dalam-dalam sebagai bentuk penghormatan tertinggi. "Tuan Enzo."

"Lapor," perintah Enzo dingin, kini memutar tubuhnya perlahan ke arah meja kerja.

"Wilayah timur sudah aman," jawab anggota elit itu sigap dengan sikap sempurna.

Enzo mengangguk pelan, mengetukkan jemarinya di atas meja. "Bagus."

"Dan penyelidikan mengenai insiden kapal masih berlanjut sampai sekarang," tambah pria itu lagi, menunggu instruksi selanjutnya.

"Keluar," usir Enzo pendek, tatapannya kembali beralih ke tumpukan berkas.

"Baik, Tuan." Pintu pun kembali tertutup rapat, menyisakan keheningan yang mencekam di dalam ruangan.

Ruangan kembali menjadi sunyi senyap. Enzo perlahan membuka laci meja kerjanya yang paling bawah. Di dalamnya terdapat sebuah foto lama yang sudut-sudutnya sudah mulai menguning.

Foto itu memperlihatkan dirinya, Kael, Teri, Arin, dan beberapa orang lain yang dulu berjuang membangun Shadow Crown bersama dari nol.

Tatapannya berhenti cukup lama pada sosok Kael, kemudian beralih pada wajah Arin. Sorot mata Enzo mendadak berubah menjadi sangat dingin, bahkan lebih dingin dari es.

Delapan orang. Sudah delapan orang yang mati secara mengenaskan di tangannya sendiri. Mereka semua adalah orang-orang yang terlibat dalam pengkhianatan besar yang menyebabkan kapal Kael dijebak di tengah lautan. Delapan orang itu telah berbicara membocorkan sedikit informasi, dan setelah itu, delapan orang itu langsung mati.

Namun, Enzo tahu betul bahwa semuanya belum selesai. Masih ada seseorang yang bersembunyi di balik kegelapan. Seseorang yang posisinya jauh lebih besar. Seseorang yang cukup berani untuk mengkhianati Kael, dan seseorang yang paling bertanggung jawab atas kematian Arin.

"Kalian beruntung. Sangat beruntung," gumam Enzo dengan suara yang sangat pelan dan berat.

Ia tersenyum sinis menatap foto tersebut. Karena jika Kael benar-benar mati saat insiden kapal itu terjadi, mungkin seluruh dunia bawah saat ini sudah berubah total menjadi lautan darah oleh amukannya.

Bzzzt... Bzzzt...

Ponsel di atas meja kerjanya mendadak bergetar. Sebuah pesan teks masuk dari nomor yang sangat rahasia. Pesan itu dikirim oleh Teri, dan isinya hanya terdiri dari dua kata singkat.

"Sudah pulang.✉️"

Sudut bibir Enzo sedikit terangkat setelah membaca pesan itu. Sebuah pemandangan yang sangat jarang bahkan hampir tidak pernah terjadi di wajah kaku pria itu. Akhirnya, ia tahu pasti bahwa Kael benar-benar selamat dan saat ini berada di tempat yang aman.

Namun, informasi berharga itu tidak akan pernah ia bagikan kepada siapa pun di markas ini. Bahkan para petinggi Shadow Crown lainnya tidak boleh mengetahuinya. Karena Enzo tahu, semakin sedikit orang yang tahu, maka akan semakin aman posisi Kael.

"Beristirahatlah dulu, Ketua," bisik Enzo sembari mematikan layar ponselnya, lalu menatap langit malam dari balik jendela kaca. "Biarkan aku yang membereskan sisa tikus pengkhianat ini.

Sementara itu... jauh dari dunia bawah yang penuh dengan lumuran darah dan pengkhianatan.

Mobil pick-up tua milik Desa Sekar akhirnya melaju pelan memasuki jalanan pesisir pantai yang sangat mereka kenal. Angin laut yang membawa aroma garam yang khas langsung berembus menyambut kedatangan mereka. Dari kejauhan, deretan rumah panggung kayu sederhana milik warga desa mulai terlihat satu per satu.

"Akhirnya pulang!" seru Hana dengan senyuman lebar yang langsung merekah di wajah cantiknya. Ia menyandarkan kepalanya di dekat jendela mobil dengan perasaan lega.

"Desa ini memang selalu membuat orang rindu, Dok," sahut Teri sembari mengangguk setuju, tangannya lincah memutar setir mobil tua itu melewati jalanan berbatu.

"Benar," jawab Hana pendek, matanya berbinar menatap lambaian pohon kelapa di tepi pantai.

Kael sendiri tidak mengatakan sepatah kata pun untuk menanggapi obrolan mereka. Namun, sorot tatapan matanya terlihat jauh lebih tenang dan rileks dibanding saat mereka masih terjebak di tengah ramainya suasana kota kemarin.

Tak lama kemudian, mobil pick-up tua itu berhenti dengan sempurna tepat di depan halaman rumah kayu milik Bu Ratih. Belum sempat mesin mobil dimatikan sepenuhnya, pintu depan rumah kayu itu mendadak terbuka lebar dari dalam. Sebuah sosok kecil berkuncir dua berlari keluar dengan langkah kaki yang terburu-buru.

"K-Kael!" teriak Rani sekuat tenaga sembari berlari secepat yang bisa dilakukan oleh sepasang kaki kecilnya.

Kael baru saja membuka pintu dan menurunkan satu kakinya dari atas mobil ketika gadis kecil itu langsung melompat menabrak tubuh tegapnya.

Bruk!

Rani memeluk pinggang Kael dengan sangat erat, menenggelamkan wajah mungilnya di jaket pria itu. "S-sudah... p-pulang..."

"Iya," jawab Kael lembut sembari berjongkok rendah. Ia mengusap pelan rambut Rani untuk menenangkannya. "Aku pulang."

Rani mendongak menatap wajah Kael, sepasang matanya langsung berbinar-binar senang walau ada sedikit sisa air mata di sudutnya. "K-Kael... l-lama..."

"Hanya beberapa hari saja, Rani," sahut Kael dengan nada suara yang melunak.

"L-lama!" protes Rani lagi dengan bibir yang mengerucut kesal, mempererat pelukannya di leher Kael. Kael tidak membantah lagi dan hanya membiarkan anak itu bergelayut di tubuhnya.

Di belakang mereka, Bu Ratih berjalan keluar dari teras rumah sambil tertawa kecil melihat pemandangan hangat tersebut. "Kau benar-benar dirindukan oleh seseorang di sini, Kael."

Pak Jalil dan Pak Sabir yang kebetulan sedang berjalan lewat memanggul jala ikan juga langsung memutar langkah untuk menghampiri mobil pick-up mereka.

"Wah, akhirnya kalian pulang juga!" seru Pak Jalil dengan suara menggelegar, wajahnya tampak sangat gembira.

"Gimana kondisi di kota? Ramai tidak?" tanya Pak Sabir ikut menimpali sembari menepuk-nepuk pundak Teri yang baru turun dari pintu kemudi.

"Bawa oleh-oleh yang banyak tidak untuk kami?" goda Pak Jalil lagi, melirik ke arah bak belakang mobil.

Suasana di halaman rumah Bu Ratih langsung berubah menjadi sangat ramai seketika. Hangat dan penuh dengan suara tawa khas orang desa, membuat lelah setelah perjalanan sepuluh jam menguap begitu saja.

Sore harinya.

Setelah semua barang pasokan medis diturunkan dan disimpan dengan rapi di dalam Poskesdes, Kael melangkah mendekati Rani yang sedang asyik menggambar di atas lantai beranda rumah.

"Rani," panggil Kael dengan nada suara yang datar namun lembut.

Gadis kecil itu langsung menolehkan kepalanya dengan cepat. "Hm?"

Kael mengulurkan sebuah kantong kain berukuran sedang yang sejak tadi ia sembunyikan di balik punggungnya. Rani berkedip bingung, menatap kantong kain itu bergantian dengan wajah Kael.

"U-untuk... a-aku?" tanya Rani ragu, menunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuknya yang kecil.

"Iya," jawab Kael pendek sembari meletakkan kantong itu di pangkuan Rani.

Rani menerimanya dengan sangat hati-hati, seolah takut barang di dalamnya akan rusak. Tangannya yang kecil perlahan membuka ikatan tali kantong tersebut. Beberapa detik kemudian, gerakan tangannya mendadak terhenti dan matanya membelalak sempurna karena terkejut.

Di dalam kantong itu terdapat sebuah gaun baru berwarna biru muda yang sangat cantik dan sebuah boneka kelinci kecil berbulu putih bersih. Persis seperti mainan yang selalu diimpikan oleh Rani selama ini.

Gadis kecil itu sempat membeku di tempatnya selama beberapa saat. Ia menatap wajah Kael, lalu melihat ke arah boneka kelincinya, lalu kembali menatap Kael lagi dengan pandangan tidak percaya.

"K-Kael..." bisik Rani, suaranya terdengar bergetar karena terlalu senang.

"Hm?" sahut Kael pelan.

Tanpa aba-aba, Rani langsung melompat maju dan memeluk leher Kael erat-erat, sampai-sampai tubuh Kael sedikit terdorong ke belakang. "S-suka! Rani s-suka sekali!"

Kael tersenyum sangat tipis sebuah senyuman tulus yang hanya ia perlihatkan khusus untuk anak kecil ini. "Baguslah kalau kau suka."

Rani melepaskan pelukannya, lalu memeluk boneka kelinci barunya itu seperti sebuah harta karun paling berharga di seluruh dunia.

Kemudian, tiba-tiba saja ia membalikkan tubuhnya dan berlari kencang menuju ke arah seorang pria yang sedang berdiri mencuci tangan di dekat sumur tidak jauh dari sana.

Pria itu adalah Teri. Teri bahkan belum sempat mengeringkan tangannya ketika tubuh kecil Rani sudah melompat dan memeluk pinggangnya dengan sangat erat. Teri langsung membeku di tempat, benar-benar kaku seperti patung batu.

Otaknya yang biasanya sangat encer dan terbiasa menghadapi serangan mendadak dari para pembunuh profesional dunia bawah, mendadak mogok total dan tidak tahu harus berbuat apa.

"K-Kak... T-Teri..." panggil Rani sembari mendongak, memamerkan senyuman ompongnya yang paling lebar dan manis. "T-terima... k-kasih..."

Teri yang panik langsung mengarahkan pandangan matanya ke arah Kael, memberi kode keras dengan matanya seolah memohon bantuan untuk diselamatkan dari situasi canggung ini.

Namun, Kael justru dengan sengaja memalingkan wajahnya ke arah laut, berpura-pura tidak melihat dan seolah tidak mengenal pria itu sama sekali.

Pak Jalil yang sejak tadi memperhatikan interaksi mereka dari teras rumah sebelah langsung meledakkan tawa kerasnya. "Hahaha! Lihat wajah si Teri! Lucu sekali!"

"Dia ternyata lebih takut dipeluk anak kecil!" timpal Pak Sabir ikut tertawa terpingkal-pingkal sampai memegangi perutnya yang buncit.

Seluruh halaman rumah sore itu dipenuhi oleh suara tawa riuh dari para warga desa yang melintas. Sementara itu, Teri hanya bisa berdiri kaku dengan wajah yang memerah padam, membiarkan Rani terus memeluk kakinya dengan ceria.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya yang kelam, anggota elit dari organisasi Shadow Crown itu merasa jauh lebih gugup dan berkeringat dingin menghadapi kepolosan seorang anak kecil, dibandingkan saat harus menghadapi medan perang yang sesungguhnya.

Dan di tengah-tengah suara tawa hangat warga Desa Sekar yang damai itu... tak ada satu orang pun yang menyadari bahwa dua pria yang sedang berdiri di halaman rumah kayu tersebut adalah sepasang monster menakutkan yang pernah membuat seluruh dunia bawah tanah bertekuk lutut gemetar ketakutan.

Kini, di tempat ini, mereka berdua hanya terlihat seperti dua orang pemuda biasa yang baru saja pulang dari kota dan membawa hadiah sederhana untuk seorang gadis kecil yang mereka sayangi.

Sebuah kedamaian yang sangat indah, yang mungkin saja tidak akan bisa bertahan selamanya di masa depan. Namun, untuk saat ini, di sore yang hangat ini... mereka memilih untuk menutup mata dari dunia luar dan menikmati setiap detiknya.

Bersambung...

1
falea sezi
Rani g punya ortu kah
Keysa_Bom: ada kak 😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!