Lahirnya seorang pangeran yang cerdas dan berbakat seharusnya menjadi keberuntungan suatu kerajaan ataupun kekaisaran, tetapi yang terjadi justru keberadaannya dianggap sebagai ancaman nyata oleh berbagai pihak yang mendambakan kekuasaan semu.
Melalui sebuah konspirasi, sang pangeran harus mengalami musibah. Ia yang sebelumnya dikenal cerdas dan berbakat, berakhir menjadi seorang pangeran yang tidak berguna.
Dengan kondisinya itu, sang pangeran diusir dari istana dan dibuang ke Gerbang Timur, tempat di mana para keluarga istana yang dianggap sampah diasingkan.
Namun, di balik musibah yang terjadi, Gerbang Timur menjadi titik balik kebangkitan sang pangeran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muzu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Qin Canglan
Kediaman Pangeran Qin Lei.
“Tidak bisakah Ibu duduk dengan tenang? Aku pusing melihatnya.” Ekor mata Pangeran Qin Lei terus bergerak mengikuti langkah Selir Lan Yue yang mondar-mandir di depannya.
“Kau diam, jangan bicara!” bentak Selir Lan Yue. Ia terus saja bolak-balik di depan anaknya yang mengerucutkan bibir melihatnya.
Tak lama kemudian terdengar pintu diketuk, cepat-cepat Selir Lan Yue membukanya. Di hadapannya berdiri Selir Xian Ruo yang datang bersama putrinya, Qin Xue. Tatapannya menyapu dari atas kepala hingga ke kaki.
“Kak Yue, apa ada yang salah dengan penampilanku?” tanya Xian Ruo seraya mengamati pakaian yang dikenakannya.
“Kau agak gemuk sekarang. Pantas saja langkahmu lambat,” ketus Lan Yue, membuat bibir tipis Xian Ruo melengkung ke bawah.
“Cepatlah masuk!” Ditarik tangan kedua tamunya itu. “Ini kesempatan kita menyingkirkan Qin Canglan,” imbuhnya tanpa basa-basi.
Sejenak ibu dan anak itu saling pandang. Sebelumnya mereka menduga pertemuan kali ini akan membahas soal perkembangan dari kekacauan yang terjadi di beberapa kota akhir-akhir ini. Akan tetapi, dugaan itu meleset.
Satu garis di kening Selir Xian Ruo tampak begitu jelas. Ia pun bertanya, “Apa rencana Kak Yue?”
“Menghabisinya,” jawab Lan Yue singkat.
“Apa ini tidak akan menimbulkan kecurigaan?” Ada keraguan di sorot mata Xian Ruo. Walau bagaimanapun, menghabisi Pangeran Qin Canglan akan menarik perhatian banyak pihak. Tidak terkecuali terhadap para selir istana.
“Kondisi kekaisaran sedang dalam keadaan genting. Baginda tidak akan menaruh curiga terhadap kita,” beber Lan Yue meyakinkannya.
“Baiklah. Sekarang apa yang bisa aku bantu?” Xian Ruo menatapnya serius.
“Tidak ada,” jawab Lan Yue cepat.
“Lalu mengapa Kak Yue memanggilku?”
“Biar kamu tahu saja.”
Selir Xian Ruo mendengus kesal. Ia kemudian menarik putrinya pergi, tetapi tangannya ditahan Lan Yue.
“Jangan diambil hati. Aku memanggilmu tentu ada hal yang harus kau kerjakan.” Kali ini Selir Lan Yue berkata serius.
“Katakan!”
“Orang-orangku tengah sibuk dalam misi. Jadi, tugas menghabisi Qin Canglan aku serahkan padamu.”
“Aku akan mengerahkan pembunuh bayaran untuk menanganinya. Aku harap Kakak juga mau menanggung konsekuensi jika sesuatu yang buruk terjadi.”
“Tenang saja. Aku paham.”
***
Di luar istana, Permaisuri Li Hua dengan berat hati melepas kepergian putranya, Qin Canglan. Nalurinya sebagai seorang ibu tentu saja sangat mengkhawatirkan keselamatan putranya itu.
“Bagaimana aku bisa pergi jika Ibu terus muram begitu?” Qin Canglan melepaskan tangannya dari pegangan sang bunda.
“Cepatlah kembali,” pinta Li Hua seraya memaksakan senyum. Pandangannya terus terpaku pada kereta kuda yang membawa anaknya hingga lenyap ditelan keriuhan.
“Ibu tidak akan membiarkan hal buruk terjadi padamu. Pasukan bayangan dari klan Li kita akan menemani perjalananmu,” gumamnya, lalu kembali memasuki istana.
Lebih dari seratus li meninggalkan ibu kota, rombongan Pangeran Qin Canglan telah sampai di jalur vital Hutan Serigala. Mereka disambut tebalnya kabut yang menghalangi pandangan.
Seorang komandan dengan terpaksa mengangkat tangan dan memerintahkan semua orang untuk menghentikan langkah. Tatapannya yang tajam memindai area sekitar. Tidak ada kejanggalan yang ditemukan, tetapi nalurinya mengatakan ada bahaya yang mengancam.
“Lindungi Pangeran!” pekiknya lantang.
Pedang terhunus dari sarung pasukan pengawal. Mereka meningkatkan kewaspadaan tinggi, bersiap menyambut serangan yang datang. Akan tetapi, setelah lebih dari dua dupa bersiaga, tidak ada ancaman yang datang.
Di balik tirai, Pangeran Qin Canglan menyeringai dalam keheningan. Samar-samar ia melihat pasukan bayangan beraksi di kegelapan hutan yang tertutup kabut. “Ibuku memang baik,” gumamnya.
“Lanjutkan perjalanan!” titah Qin Canglan.
Sang komandan menyarungkan kembali pedangnya dan memberi gestur kepada pasukan untuk melanjutkan perjalanan menembus kabut tebal.
Matahari terbenam di ufuk barat begitu mereka keluar dari jalur Hutan Serigala. Pangeran Qin Canglan memerintahkan mereka untuk beristirahat di tepi sungai.
Komandan Tian Yin menghampiri. Ia bertanya, “Yang Mulia, apakah kita akan bermalam di sini?”
“Lembah berbatu di depan kita bukan halangan untuk melanjutkan perjalanan,” ucap Pangeran Qin Canglan setelah memperhatikan area di depannya. “Setelah kalian cukup beristirahat, kita lanjutkan perjalanan. Aku ingin kita sampai dalam waktu dua hari perjalanan.”
“Hamba mengikuti perintah,” timpal Komandan Tian Yin seraya menjura.
Setelah menempuh dua hari perjalanan, rombongan yang membawa Pangeran Qin Canglan sampai di mulut gerbang. Suasana tampak begitu sunyi. Tidak ada apa pun selain gerbang kuno dan bangunan hitam di dekatnya.
Pangeran Qin Canglan turun dari kereta kuda. Tatapannya tertuju pada bangunan hitam berlantai dua.
“Jauh-jauh meninggalkan istana hanya untuk melihat bangunan jelek ini,” keluh Qin Canglan yang kemudian melangkah mendekati. “Kuharap ada sesuatu yang membuat perjalananku tidak sia-sia,” imbuhnya berharap, lalu mendorong pintu.
Pintu di hadapannya tak bergerak. Ia menggerutu kesal, lalu memerintahkan pasukan untuk membukanya. Serentak pasukan istana mendobraknya. Ada yang menendang, ada pula yang membenturkan badan ke daun pintu, tetapi pintu itu seolah terbuat dari baja.
Berbagai upaya dikerahkan untuk membuka pintu, tetapi tidak membuahkan hasil. Tenaga pasukan terkuras habis setelahnya.
“Yang Mulia, sepertinya pintu ini terlindungi array formasi. Kami semua tidak bisa membukanya,” ujar Komandan Tian Yin memberi tahu.
“Aku tidak peduli!” berang Qin Canglan, “pintu ini harus terbuka atau kepala kalian tertinggal di tempat ini.”
Dengan terpaksa para pasukan kembali mengerahkan tenaga untuk membukanya.
Beberapa li dari Paviliun Hitam, Qin Zhao tersenyum simpul. “Kekayaanku datang,” serunya bersemangat. Ia kemudian memakai topeng dan melesat ke arah paviliun.
Satu per satu dari mereka diamati hingga tatapannya tertuju pada seorang pria berpakaian mewah.
“Orang kaya.” Berbinar sorot mata Qin Zhao melihatnya. Ia berpindah posisi untuk melihat jelas wajah orang itu.
“Wajah pria itu mirip adikku, Canglan. Tetapi kenapa ia terlihat tua?” Qin Zhao mengusap dagu memikirkannya.
Wajar saja Qin Zhao berpikir demikian. Kesadarannya terkunci sejak usianya sepuluh tahun, dan baru terlepas setelah usianya 20 tahun. Sampai saat ini pun ia merasa dirinya masih bocah kecil yang berada di tubuh dewasa.
Qin Zhao kemudian menghampiri. Ia berdiri di belakang adiknya, Qin Canglan. Namun, putra semata wayang Permaisuri Li Hua itu tidak menyadari keberadaan kakak tirinya.
“Mengapa kalian begitu bodoh? Hancurkan saja pintu sialan itu!” bentak Qin Canglan yang begitu tidak sabar melihatnya.
“Daripada marah-marah tidak jelas, lebih baik kau serahkan semua hartamu padaku. Aku bisa membukakan pintu untukmu,” kata Qin Zhao menawarkan.
Pangeran Qin Canglan menoleh. Matanya melebar, mulutnya menganga, dan wajahnya memerah ketakutan begitu melihat sosok menyeramkan tengah berdiri di dekatnya.
“Si … siapa kau?” Tubuh Qin Canglan bergetar, celananya pun basah karena saking takutnya.
Qin Zhao tidak menjawab. Tatapannya tertuju ke arah pasukan istana yang terpaku menatapnya.
“Kalian sepertinya orang miskin. Sebaiknya mati saja,” kata Qin Zhao yang dalam satu tarikan napas memenggal seluruh pasukan istana. Aksinya yang cepat tidak disadari oleh Qin Canglan.
“Cepatlah serahkan semua hartamu!” Qin Zhao mendesaknya. Ia tahu ada beberapa orang yang tengah mengintainya di luar gerbang.
“A … aku berikan.” Qin Canglan secepatnya menyerahkan kantong penyimpanan ke tangan Qin Zhao.
“Ha-ha, terima kasih,” kekeh Qin Zhao, “karena kau mirip Canglan di versi tua, aku tidak akan membunuhmu.”
“Ka … kau mengenalku?”
“Aku tidak mengenalmu, tapi melihatmu membuatku teringat dengan adik tiriku Qin Canglan.”
“Ka … kau Kak Zhao.”
“Karena kamu mengenalku, kamu harus mati.” Ditebasnya leher Qin Canglan dengan cepat, lalu berkelebat membantai pasukan bayangan yang bersembunyi di luar gerbang.
“Penghasilan hari ini lumayan,” kekeh Qin Zhao setelah mengumpulkan kantong penyimpanan di tubuh pasukan bayangan. Ia pun kembali ke tempatnya.