Dibuang dua puluh tahun ke London, Kalea dipaksa pulang hanya untuk menjadi tumbal wasiat kakaknya. Najwa, sang bidadari pesantren yang sedang menjemput ajal, meminta satu hal yang mustahil: Kalea harus menggantikan posisinya sebagai istri Gus Malik.
Kini, si pemberontak berpakaian seksi itu harus terjepit dalam pernikahan "turun ranjang" bersama pria sedingin es yang hanya mencintai kakaknya. Di bawah atap yang sama dengan Najwa yang kian merapuh, sanggupkah Kalea bertahan menjadi bayang-bayang di atas ranjang pria yang menganggapnya penuh dosa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Skandal di Balik Bayang-Bayang
Pagi itu, Jakarta terasa lebih menyengat dari biasanya. Namun, bagi Lea, panasnya udara tak sebanding dengan debaran jantungnya yang menggila saat melihat sebuah notifikasi muncul di layar ponselnya. Sebuah pesan singkat yang mengubah segalanya.
**Tom: Surprise, babe! I’m in Jakarta. I couldn’t take it anymore. Meet me at the Central Park Garden at 10 AM? I missed you like crazy.**
Lea membekap mulutnya. Tom di Indonesia? Kekasihnya, pelariannya, satu-satunya benang merah yang masih menghubungkannya dengan kehidupan bebas di London, kini hanya berjarak beberapa kilometer darinya. Tanpa pikir panjang, tanpa memedulikan status rahasianya sebagai istri seorang Gus, Lea segera bersiap.
Ia mengenakan *dress* bunga-bunga selutut dengan potongan leher sedikit rendah, menyampirkan tas kecil, dan memoles bibirnya dengan lipstik merah cerah.
"Mau ke mana, Lea?" tanya Najwa saat melihat adiknya terburu-buru di ruang tengah. Najwa sedang duduk di kursi roda, ditemani Arkan yang sedang bermain mobil-mobilan di lantai.
"Mau ketemu teman lama, Kak. Dira," bohong Lea, menghindari tatapan kakaknya. "Cuma sebentar, kok. Bosan di rumah terus."
Najwa tersenyum kecil. "Ya sudah, hati-hati ya. Mas Malik juga kebetulan mau ke kota hari ini, ada urusan di kantor wilayah dan mau mampir ke toko buku sama Arkan. Siapa tahu kalian bisa pulang bareng nanti."
Lea hanya mengangguk asal, lalu segera keluar menuju taksi *online* yang sudah menunggunya di gerbang pesantren.
Taman kota sedang cukup ramai, namun Lea langsung bisa mengenali sosok pria jangkung dengan rambut *blonde* yang berdiri di dekat air mancur. Tom. Pria itu tampak sangat kontras dengan kerumunan di sekitarnya, mengenakan kaos santai dan kacamata hitam.
"Tom!" teriak Lea.
Tom berbalik dan wajahnya langsung cerah. Ia berlari kecil ke arah Lea, lalu tanpa ragu mengangkat tubuh gadis itu dalam pelukan erat. "Oh God, Lea! You have no idea how much I’ve missed you!"
"I missed you too, Tom. So much," bisik Lea, membenamkan wajahnya di pundak pria itu. Di sini, di pelukan Tom, ia merasa kembali menjadi dirinya sendiri—bukan bayangan Najwa, bukan istri pajangan Gus Malik.
Mereka duduk di salah satu bangku taman yang agak tersembunyi oleh rimbunnya pepohonan. Tom menggenggam tangan Lea, menatapnya dengan penuh cinta. "Lea, kamu kelihatan beda. Ada apa? Kenapa kamu nggak pernah mau aku jemput?"
"Rumit, Tom. Masalah keluarga," Lea mencoba mengelak. Ia tidak sanggup mengatakan bahwa ia sudah menikah.
Perasaan rindu yang menumpuk berbulan-bulan, rasa frustrasi karena hidup di pesantren yang menyesakkan, dan kenyataan bahwa Tom nekat menyusulnya ke Indonesia membuat pertahanan Lea runtuh. Saat Tom mendekatkan wajahnya, Lea tidak menghindar.
Di bawah naungan pohon yang rindang, di tengah taman kota yang luas, Tom mencium bibir Lea dengan penuh kerinduan. Sebuah ciuman yang menjadi simbol pemberontakan Lea terhadap takdir yang mengurungnya.
Di sisi lain taman, seorang pria dengan baju koko biru dongker dan celana kain hitam sedang menggandeng tangan seorang bocah kecil. Gus Malik baru saja membelikan Arkan buku gambar dan es krim, lalu memutuskan untuk mengajak putranya berjalan-jalan sebentar sebelum kembali ke pesantren.
"Abi, dingin es krimnya," celoteh Arkan riang.
Malik tersenyum tipis, sebuah ekspresi langka yang hanya muncul jika ia bersama Arkan atau Najwa. "Makan pelan-pelan, Sayang. Nanti batuk."
Langkah Malik terhenti sejenak untuk membenarkan tali sepatu Arkan yang lepas. Saat ia berjongkok, Arkan yang berdiri bebas tiba-tiba menunjuk ke arah barisan bangku di bawah pohon besar yang tak jauh dari mereka.
"Abi... itu Onty Lea kan, Bi?" suara polos Arkan memecah keheningan.
Malik mengerutkan kening. Ia mendongak, mengikuti arah telunjuk kecil putranya. "Mana, Arkan? Onty Lea kan sedang pergi bersama Tante Di—"
Kalimat Malik terhenti di tenggorokan.
Waktunya seolah membeku. Jarak mereka hanya sekitar sepuluh meter, dan Malik memiliki penglihatan yang sangat tajam. Di sana, ia melihat wanita yang beberapa hari lalu ia nikahi di hadapan Tuhan, sedang berada dalam pelukan mesra seorang pria asing yang tak pernah ia kenal.
Darah Malik seolah mendidih ke puncak kepala. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri, Lea—istrinya—sedang berciuman dengan pria itu di tempat umum. Penampilan Lea yang terbuka, rambutnya yang tergerai, dan tindakannya yang sangat jauh dari norma agama benar-benar menghantam harga diri Malik sebagai seorang suami dan pemimpin agama.
"Abi? Kenapa Onty ciuman sama om itu, Bi?" tanya Arkan dengan nada bingung. "Onty kan sudah menikah sama Abi?"
Pertanyaan Arkan bagaikan petir yang menyambar Malik. Syok, marah, dan rasa jijik bercampur menjadi satu di dadanya. Pria itu segera berdiri, tangannya mencengkeram bahu Arkan dengan sedikit terlalu kuat karena emosi yang meluap.
Malik memejamkan mata rapat-rapat, rahangnya mengeras hingga otot-otot di lehernya menegang. Ia beristighfar berkali-kali di dalam hati. Rasanya ia ingin menghampiri pria itu dan menghajarnya, ia ingin menyeret Lea pulang dan mengurungnya. Namun, ia melihat Arkan yang menatapnya ketakutan.
"Ayo pulang, Arkan," suara Malik terdengar sangat rendah dan dingin, lebih dingin dari es batu yang dipegang anaknya.
"Tapi Onty Lea—"
"Kita pulang sekarang!" bentak Malik tertahan. Ia tidak menatap ke arah bangku itu lagi. Baginya, pemandangan itu adalah najis yang lebih kotor dari apa pun.
Malik menggendong Arkan dengan kasar dan melangkah lebar menuju parkiran. Ia tidak peduli dengan es krim Arkan yang jatuh ke tanah. Di dalam kepalanya hanya ada satu hal: Kalea benar-benar telah melampaui batas. Ia telah menginjak-injak akad suci dan martabat pesantren.
Selama perjalanan pulang, Malik tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, tangannya mencengkeram kemudi hingga buku jarinya memutih. Hatinya hancur bukan karena cemburu atas dasar cinta, tapi karena ia merasa telah gagal menjaga amanah Najwa. Ia merasa telah membawa seorang wanita yang tak bermoral masuk ke dalam jantung kesucian keluarganya.
"Akan saya pastikan ini adalah terakhir kalinya kamu bisa melangkah keluar tanpa pengawasan saya, Kalea," desis Malik tajam di dalam hati, sementara air mata amarah hampir jatuh dari pelupuk matanya.
Malam ini, pesantren tidak akan lagi menjadi tempat yang tenang bagi Lea. Badai besar sedang menuju ke arahnya, dan Gus Malik tidak akan lagi memberi ampun.