Budi, seorang karyawan kantor biasa yang gaji bulanannya selalu numpang lewat karena harus melunasi utang warisan orang tuanya, tiba-tiba mendapatkan sebuah sistem aneh bernama 'System Lempar Dadu Monopoly'.
Sistem ini menampilkan papan permainan hologram mirip Monopoli lengkap dengan avatar chibi dirinya di atasnya, di mana setiap lemparan dadu bisa memberikannya reward uang dan item ajaib, atau hukuman memalukan yang harus ia jalani di dunia nyata.
Kini, hidup Budi berubah drastis menjadi sebuah pertaruhan harian di mana setiap petak yang ia injak perlahan-lahan mengangkatnya dari kemiskinan, asalkan ia bisa bertahan dari "kejutan" konyol yang disiapkan oleh sistem tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Senin pagi selalu menjadi hari yang paling dibenci oleh sebagian besar pekerja kantoran di ibu kota.
Namun bagi Budi, hari ini adalah panggung pertunjukan yang sudah sangat dia nantikan.
Budi membuka matanya dengan semangat yang meledak ledak di dalam dada.
Dia langsung duduk bersila di atas kasur dan memanggil sistem papan permainannya.
'Ayo kita lihat hasil panen dari tiga mesin uangku pagi ini.'
Ting.
Layar hologram biru bercahaya seketika muncul dan menerangi kamarnya yang masih sedikit remang.
Mata Budi langsung mengarah ke pojok kanan atas layar.
Saldo Sistem saat ini adalah lima juta lima ribu rupiah.
Tiga properti pasifnya benar benar bekerja dengan sangat baik sepanjang hari minggu kemarin.
Kedai Pak Mamat memberikan lima ratus ribu, Kedai Kopi Senja menyumbang seratus lima puluh ribu, dan Binatu memberikannya delapan puluh ribu rupiah.
Budi tersenyum sangat lebar melihat angka lima juta yang kini menjadi miliknya sepenuhnya secara digital.
"Fondasi keuanganku sudah sangat kuat sekarang."
Budi segera menutup layar sistem dan bergegas mandi untuk bersiap menghadapi hari yang panjang.
Dia kembali mengenakan kemeja baru yang bersih dan rapi.
Sesampainya di lobi gedung kantor, suasana sudah terlihat sangat sibuk dan padat.
Budi melangkah masuk ke dalam lift bersama karyawan dari berbagai divisi.
Begitu pintu lift terbuka di lantai divisinya, Budi berjalan dengan sangat tegap menuju mejanya.
Reno sudah datang lebih dulu dan sedang memakan roti lapis untuk sarapan.
"Pagi Bud, wajahmu cerah sekali untuk ukuran hari senin yang menyebalkan ini."
"Pagi Ren, tentu saja cerah karena akhir pekan kemarin aku cukup banyak istirahat."
Budi meletakkan tasnya dan langsung menyalakan komputernya.
Siska melangkah masuk beberapa saat kemudian dengan wajah yang terlihat sedikit tegang.
Dia bahkan lupa menyindir Budi dan langsung duduk di mejanya sambil sibuk membuka tumpukan map.
Tepat pukul delapan pagi, Pak Anton keluar dari ruangan kacanya dengan senyum yang sangat lebar.
Senyum itu adalah senyum palsu yang sama seperti yang dia tunjukkan hari jumat lalu.
"Selamat pagi semuanya, mari kita mulai minggu ini dengan semangat kerja yang tinggi."
Pak Anton menepuk tangannya dua kali untuk menarik perhatian seluruh karyawan divisi administrasi.
"Budi, terima kasih ya atas kerja kerasmu menyetor dokumen ke pusat jumat kemarin."
Pak Anton sengaja mengeraskan suaranya agar semua orang di ruangan itu mendengarnya.
Budi hanya mengangguk pelan sambil membalas senyuman licik bosnya itu dengan senyuman yang jauh lebih tenang.
"Sama sama Pak Anton, sudah menjadi tugas saya untuk menjalankan perintah dari Bapak."
Budi sengaja menekan kata perintah yang membuat alis Pak Anton sedikit berkerut.
Namun sebelum Pak Anton sempat membalas ucapan Budi, pintu utama ruang divisi terbuka lebar.
Dua orang pria dan satu wanita berpakaian jas formal warna hitam melangkah masuk dengan wajah yang sangat serius.
Mereka memakai tanda pengenal khusus berwarna merah yang dikalungkan di leher.
Kehadiran mereka langsung membuat seluruh ruangan menjadi sunyi senyap.
Itu adalah tim audit internal dari kantor pusat yang sangat ditakuti oleh seluruh karyawan.
Pria yang berjalan paling depan adalah Pak Dimas, kepala tim audit internal perusahaan.
"Selamat pagi Pak Anton."
Pak Dimas menyapa dengan suara berat yang sama sekali tidak terdengar ramah.
Wajah Pak Anton langsung memucat seketika dan senyum lebarnya luntur tak berbekas.
"Pagi Pak Dimas, tumben sekali tim audit pusat mampir ke divisi kecil kami pagi pagi begini."
Pak Anton mencoba tertawa canggung untuk menutupi kepanikannya.
"Kami datang bukan untuk kunjungan rutin Pak Anton."
Pak Dimas mengangkat sebuah map tebal berwarna merah yang sangat familiar di mata Budi.
"Kami menemukan adanya kejanggalan yang sangat serius pada dokumen pengajuan dana operasional divisi anda jumat lalu."
Jantung Siska sepertinya mau berhenti berdetak karena dia biasanya yang mengurus masalah pendanaan.
"Kami butuh ruangan tertutup sekarang juga untuk meminta keterangan."
Pak Dimas menunjuk ke arah ruang rapat divisi yang ada di sudut ruangan.
"Pak Anton, Saudari Siska, dan Saudara Budi, tolong ikut kami ke ruang rapat sekarang juga."
Nama Budi disebut karena tanda tangannya ada di kolom pemohon dokumen tersebut.
Reno langsung menatap Budi dengan tatapan panik dan berbisik pelan.
"Gawat Bud, sudah kubilang kau pasti dijebak sama bos sialan itu."
"Tenang saja Ren, tonton saja pertunjukannya dari luar."
Budi berdiri dari kursinya tanpa sedikit pun rasa takut atau panik.
Dia berjalan mengikuti Siska dan Pak Anton yang langkah kakinya terlihat sangat berat dan gemetar.
Mereka berenam masuk ke dalam ruang rapat dan pintu kaca langsung ditutup rapat serta tirainya diturunkan.
Pak Dimas meletakkan map merah itu di tengah meja bundar.
"Saya tidak suka membuang waktu, jadi kita langsung saja pada intinya."
Pak Dimas membuka lembar pertama dari dokumen tersebut.
"Angka pengajuan pengadaan barang divisi ini membengkak hingga tiga puluh persen dari kuartal sebelumnya."
"Dan setelah kami periksa menggunakan metode silang dengan vendor langganan, tidak ada kenaikan harga barang sebesar itu di pasaran."
Pak Dimas menatap lurus ke arah Pak Anton dengan tatapan mengintimidasi.
"Ini adalah percobaan penggelapan dana perusahaan secara terang terangan Pak Anton."
Keringat dingin sebesar biji jagung mulai menetes dari dahi Pak Anton.
Namun insting bertahannya sebagai pria licik langsung bekerja.
"Maaf Pak Dimas, saya benar benar tidak tahu menahu soal pembengkakan angka tersebut."
Pak Anton langsung menunjuk ke arah Budi dengan telunjuknya yang gemetar.
"Budi yang mengetik ulang semua data itu minggu lalu dan dia juga yang mengajukannya ke pusat."
"Bisa anda lihat sendiri tanda tangan pemohon di bagian bawah dokumen itu adalah tanda tangan Budi."
Siska yang tadinya ketakutan kini sedikit bernapas lega karena sasarannya beralih pada Budi.
Pak Dimas menoleh ke arah Budi yang duduk dengan punggung tegak bersandar santai di kursinya.
"Benar begitu Saudara Budi."
"Apakah kamu sengaja memanipulasi angka ini untuk keuntungan pribadimu."
Budi tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya pelan.
"Itu fitnah yang sangat tidak berdasar Pak Dimas."
"Saya hanya staf biasa yang tidak punya akses ke rekening pencairan vendor sama sekali, jadi untuk apa saya menggelembungkan dana."
Budi mulai menggunakan pengetahuan dari Buku Panduan Hukum Bisnis yang kini tertanam di otaknya.
"Berdasarkan prosedur standar operasional keuangan perusahaan pasal empat, semua pengajuan di atas lima puluh juta rupiah harus melewati verifikasi akhir manajer divisi."
"Dan dokumen asli itu sudah disegel di dalam map oleh Pak Anton sebelum diserahkan pada saya."
Pak Anton langsung menggebrak meja dengan wajah memerah menahan marah.
Brak.
"Jangan berbohong kamu Budi."
"Saya hanya menyuruh kamu menyerahkannya, kamu pasti yang diam diam menyelipkan halaman palsu di jalan."
Budi tidak terpancing emosi dan malah tertawa kecil yang terdengar sangat meremehkan.
"Saya sudah menduga Bapak akan menggunakan alasan konyol itu untuk mencuci tangan Pak Anton."