"Setelah 17 tahun pernikahan, Wulan Hartati baru mengetahui bahwa anak tiri yang selama ini ia sayangi bagaikan anak kandungnya sendiri ternyata adalah anak dari suaminya, Arif dan selingkuhannya, Siti Aminah!
Wulan pun menuntut cerai saat itu juga dan beranjak dari rumah bak neraka itu dengan tangan kosong. Mantan suami dan orang-orang di sekelilingnya meremehkannya, dan menghina kalau dirinya tak akan bisa hidup di luar sana.
Namun, Wulan kembali dengan tamparan keras! Tak hanya sebagai CEO sebuah bisnis kuliner tetapi juga istri dari seorang Mayor Angkatan Darat, beserta ketiga anaknya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Chandrakanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Batu bata yang dilempar Wulan tepat mengenai lengan pria perampok itu. Ia menjerit kesakitan, menekuk tubuhnya sedikit, lalu berbalik menatap Wulan dengan mata membara. Marah dan malu bercampur di wajahnya. “Sialan! Kau berani?!,” teriaknya, dan ia lari ke arah Wulan, menebar ancaman dengan tangan terkepal.
Wulan merasakan tubuhnya membeku. Refleks lama muncul: tubuhnya kaku, mata terpejam, menunggu pukulan yang tak kunjung datang. Detak jantungnya melonjak. Tubuhnya gemetar, dada terasa sesak. Ia merasa seluruh dunia menjadi lambat. Ia membayangkan pukulan yang akan menghantam wajahnya, tubuhnya, tapi tidak ada yang terjadi.
Dari sisi lain, suara langkah cepat terdengar, satpam bank muncul secepat kilat. Dengan gerakan cekatan, satpam itu menubruk perampok itu, menahan tubuhnya. Polisi yang dipanggil melalui panggilan darurat tiba tak lama kemudian. Wulan menatap mereka bergerak cepat, mengikat perampok dengan borgol. Tubuhnya masih gemetar, tetapi ada perasaan lega dan lega yang tak tertahankan.
Wulan menarik napas panjang. Tubuhnya gemetar, tangan dingin, tapi hatinya terasa ringan. Ia baru saja melakukan sesuatu yang sebelumnya tak pernah ia bayangkan bisa ia lakukan: menghadapi bahaya, mengambil risiko, dan melindungi orang lain. Setidaknya untuk pertama kalinya, ia merasa kuat.
Ibu Yanti, wanita yang tasnya hampir dirampas, berlari menghampiri Wulan. Matanya berkaca-kaca. “Terima kasih banyak, Nak! Kau menyelamatkanku! Aku tidak tahu apa jadinya kalau bukan karena kau!” serunya.
Wulan tersenyum tipis, masih gemetar. “Tidak apa-apa, Bu. Saya hanya melakukan yang benar,” jawabnya. Suaranya lembut, tapi tegas. Ia menundukkan kepala, menahan rasa malu karena adrenalin masih mengalir deras di tubuhnya.
Ibu Yanti menatapnya dengan penuh perhatian. Wajahnya ramah dan tulus. Ia menanyakan nama, umur, dan keadaan Wulan. Ketika mendengar Wulan berusia tiga puluh sembilan tahun, Ibu Yanti tersenyum hangat. “Ah, Nak, kau masih muda dan kuat. Aku senang bertemu denganmu. Panggil saja aku Ibu Yanti.”
Percakapan itu mengalir, tapi Wulan masih merasa lapar. Perutnya berbunyi, mengingatkan dirinya bahwa tubuh ini perlu diperhatikan. Tangan dan jari-jarinya pecah-pecah karena dingin dan luka, terlihat jelas bagi Ibu Yanti.
“Anakku, ikut makan di rumahku. Kau pasti kelaparan dan kedinginan,” ujar Ibu Yanti sambil melangkah lebih dekat, menawarkan tangannya.
Wulan tersenyum, tetapi menolak dengan lembut. “Terima kasih, Bu. Tapi saya baik-baik saja. Saya harus segera kembali,” jawabnya. Ia ingin tetap mandiri, ingin menunjukkan bahwa ia bisa menanggung dirinya sendiri. Ibu Yanti hanya tersenyum, tampak lebih menyukai Wulan karena ketulusan dan keberanian gadis itu.
Wulan melangkah pergi, menghela napas panjang. Hatinya masih berdebar, tetapi ia merasa bangga. Ia memandang jalanan sekitar bank, mengamati orang-orang yang berjalan dengan wajah biasa, tidak menyadari pertempuran kecil yang baru saja terjadi di depan mata mereka. Ia menatap trotoar yang basah, genangan air yang memantulkan cahaya sore, dan merasa bahwa dunia tetap berjalan, namun ia sudah mengambil kendali atas sebuah momen penting dalam hidupnya.
Ia memutuskan untuk tidak langsung kembali ke kontrakan. Wulan ingin membeli beberapa kebutuhan di pasar dan memeriksa keberadaan Lestari. Hari masih sore, dan ia berharap menemukan teman lamanya di sana. Namun setibanya di pasar, Lestari tidak tampak di mana pun. Wulan sedikit cemas. Ia berharap Lestari baik-baik saja. Rasa tanggung jawab muncul: meskipun Wulan sudah mandiri, ia ingin memastikan teman lamanya tidak menghadapi kesulitan sendirian di kota besar.
Wulan berjalan di sepanjang jalan pasar, menatap setiap kios dan pedagang. Aroma rempah, nasi, dan jajanan tradisional menyebar di udara, bercampur dengan suara orang yang berjualan dan pembeli yang tawar-menawar. Hatinya sedikit tenang, tetapi rasa lapar masih menyeruak. Ia berhenti di depan sebuah warung kecil, menyeberang jalan dengan hati-hati. Bau manis roti kukus menarik perhatiannya. Ia masuk, membeli dua buah roti kukus seharga Rp 100 per buah untuk mengganjal perut.
Saat duduk, ia menikmati setiap gigitan roti. Lembut, hangat, dan manis, sedikit mengisi perutnya yang keroncongan. Namun tepat ketika ia hendak pergi, terdengar suara ribut di belakang warung. Wulan menoleh. Suara pertengkaran pasangan suami istri terdengar jelas. Agus, pemilik warung, sedang marah karena ibunya jatuh dan harus dirawat di rumah sakit. Istrinya, Sri Wahyuni, terlihat bingung dan cemas. Ia tidak tahu bagaimana mengurus warung sendirian.
Wulan memperhatikan mereka dengan cermat. Sesuatu bergetar di hatinya. Ia tahu dunia keras, dan kesempatan tidak selalu datang dua kali. Ia menarik napas panjang, lalu melangkah mendekat. “Permisi, Bu, Pak. Kalau boleh, saya bisa membantu di warung ini,” ucap Wulan, nada suaranya sopan tapi tegas.
Sri Wahyuni menatap Wulan dari atas ke bawah, menilai postur dan gerak tubuhnya. “Apa pengalamanmu?” tanya Sri, sedikit skeptis.
Wulan tersenyum. “Saya bisa memasak sederhana, membersihkan, melayani pelanggan, dan menjaga kebersihan warung. Saya siap bekerja keras,” jawabnya.
Agus menatapnya dengan ragu, tapi Sri Wahyuni tampak mempertimbangkan. Ia menggerakkan bibirnya, terlihat merenung. “Baiklah. Pekerjaannya sederhana: menyiapkan sarapan, membuat minuman, menjaga kebersihan warung, dan mencuci peralatan. Jam kerja pukul enam pagi sampai pukul dua siang. Gaji Rp 450.000 per bulan. Bisa diterima?”
Wulan mengangguk cepat. “Ya, Bu. Saya terima. Mulai besok pagi?”
Sri tersenyum tipis, puas karena akhirnya ada orang yang mau membantu. “Mulai besok pagi pukul enam. Terima kasih sudah bersedia,” ujar Sri.
Wulan merasakan lega dan senang. Ia baru saja mendapatkan pekerjaan pertamanya setelah meninggalkan rumah lama. Meski sederhana, pekerjaan ini berarti kebebasan dan kesempatan untuk hidup mandiri. Ia menatap warung kecil itu, merasakan tekad yang mengalir ke seluruh tubuhnya.
Sore itu, Wulan kembali ke kontrakan. Langkahnya mantap, tubuhnya lelah tetapi hati ringan. Ia menata barang-barang di kamar, membersihkan sedikit debu, menyiapkan diri untuk hari pertama kerja besok. Ia menatap Dinda, tersenyum, dan melihat gadis kecil itu tersenyum balik. Kehadiran Dinda membuatnya merasa hangat, aman, dan menyadari bahwa kehidupan baru ini memiliki harapan.
Di kamar kecil kontrakan, Wulan duduk di tepi tempat tidur. Ia menarik napas panjang, memejamkan mata sejenak, dan membayangkan hari esok: bangun pagi, bekerja, dan membangun hidupnya sendiri. Ia tahu jalan masih panjang, tetapi langkah pertama telah ditempuh. Keberanian, keteguhan, dan kemauan untuk mandiri kini berada di tangannya.
Ia tersenyum tipis. Dunia mungkin keras, orang-orang mungkin tidak peduli, dan tantangan masih banyak menunggu, tetapi Wulan tahu satu hal: hidup ini miliknya sendiri. Tidak ada lagi ketergantungan, tidak ada lagi ketakutan yang membelenggu. Hanya ia, tekadnya, dan kehidupan baru yang sedang dibangunnya.
ᴅɪʙᴀᴡᴀ ᴋ ᴋɪsᴀʜ ᴊᴀᴍᴀɴ ᴅᴀʜᴜʟᴜ ᴅɪ ʙᴀɴᴅᴜɴɢ...
ᴋᴇʀᴇᴇᴇᴇᴇɴɴñ ᴛʜᴏʀ.... 😍😍😍