"Apa salah kalo aku cinta ke mas?" tanya Nerrisha suaranya parau hampir tak terdengar
Nick tertunduk dan menghela nafasnya panjang dan menjawab dengan suara lirih.
"Nerrisha, dengar baik-baik. Jarak diantara kita terpaut jauh. Kamu tahu jurang di depan sana? Itu, anggap saja itu adalah kita..." ucap Nicholas lembut
"Seperti itulah jarak usia diantara kita. Saya gak mau dengar teman-temanmu memanggilmu dengan sebutan sugar babby. Maaf saya gak pantas buat kamu..." ucapnya kemudian yang berlalu begitu saja dari hadapan Nerrisha yang masih berdiri mematung terpaku memandang jurang di seberang sana
*****
Nerrisha dan Nicholas awalnya hanya sebatas saling sapa biasa saja. Namun seiring berjalannya waktu disetiap pertemuan-pertemuan kecil yang terjadi di keluarga Adiwangsa kerap menjadi saksi bisu perasaan keduanya.
Namun usia mereka terpaut 10 tahun jauhnya sehingga Nerrisha kerap disebut teman-temannya dengan sebutan sugar babby.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yogitha Ratnajyoti , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badut Ancol
Acara arisan pun dimulai dengan khidmat, semua teman-teman arisan bu Shanty tampak antusias menjalankan prosesi arisan hari ini dengan saling berbincang ringan. Bahkan ada pula yang iseng-iseng menjadi mak comblang untuk putranya dengan Nerrisha, namun bu Shanty selalu menjawabnya dengan kata-kata bijak nya.
"Hahaha...iya jeng, terimakasih, semua tergantung pada anaknya, kalo mau ya monggo, tapi kalo gak ya mau gimana lagi, toh jodoh sudah ada yang mengatur, kita kan gak pernah tahu..." ucap bu Shanty dengan sopan tanpa menyakiti perasaan siapa pun.
Tiba-tiba saja bu Lidya tak sengaja melihat liontin kalung yang sempurna menggantung di leher Nerrisha, sehingga ia pun bertanya.
"Wah...kalung kamu bagus banget, Ner, ini limited edition lho. Tante pernah lihat di acara pelelangan beberapa bulan lalu..." ucap bu Lidya tersenyum hangat sembari menunjuk liontin kalung Nerrisha.
"Oh ini ya tante? Masa iya sih tante, kalung ini limited edition?" ucap Nerrisha tak begitu percaya.
"Iya, kalung itu limited edition. Kalo gak salah pas itu yang memenangkan lelang kalung itu anak muda siapa ya namanya, saya kok lupa, pokoknya dia ganteng, berwibawa dan kayaknya belum menikah..." ucap bu Lidya mencoba mengingat-ingat nama pemuda yang memenangkan lelang kalung yang sama persis.
"Oh...begitu ya tante, tapi kayaknya ga mungkin kan kalung ini cuma ada satu doang? Pasti ada dong yang kw nya juga, tapi aku rasa ini kw sih tante..." ucap Nerrisha masih tetap tak begitu yakin jikalau kalung yang ia pakai saat ini asli.
"Coba kamu cek ke toko barang antik milik koh Ahong besok untuk memastikan ini asli atau tidak..." jawab bu Lidya.
"Ok deh tante, besok aku coba kesana. Tapi boleh gak tante temenin, soalnya aku gak tahu tempatnya, hehehe..." jawab Nerrisha tersenyum china.
"Boleh...kebetulan besok tante free, kabari aja ntar minta kontak tante dari mama kamu..." jawab bu Lidya ramah.
Perbincangan mereka semua pun berlangsung khidmat dengan acara arisan sore ini.
Berbeda dengan Rey yang sejak tadi menjadi baby sitter untuk Rafael yang sedang aktif-aktifnya. Pemuda satu ini sudah menjadi kuda-kudaan di tangan keponakannya yang satu itu.
"Udah ya, om capek, mau ambil minum dulu..." ucap Rey yang merasa kewalahan menghadapi Rafael kecil.
"Ga ga mau, lagi, pokoknya!" bantah bocah berusia 4 tahun itu.
"Aigo...gini amat punya satu ponakan, gimana coba kalo ada dua. Sumpah deh gue jadi ngeri buat nikah cepet, mending kayak mas Nick jomblo happy..." gumam Rey yang pasrah dengan keadaan.
"Lagiii...lagiii...lagiii..." sorak Rafael yang masih berada di atas punggung Rey.
Dengan berpasrah diri, Rey pun akhirnya menuruti kemauan bocah satu itu agar tidak mengganggu mamanya yang tengah asyik ikut arisan di lantai bawah.
Setelah puas bermain, kini Rey pun merasa pinggangnya encok, dia pun berkata pada Rafael, "Kamu tunggu disini dulu ya, ini main game di HP om dulu. Om mau ambil minum es timun sirup dibawah dulu, ok...?" ucap Rey dengan lembut.
"Oce om...bagi yah om..." jawab bocah 4 tahun itu dengan mengacungkan simbol O pada matanya.
"Ok, nice, good boy..." jawab Rey yang kemudian berlalu menuju lantai bawah, meninggalkan Rafael seorang diri di kamarnya.
Rafael yang masih memegang HP Rey, tiba-tiba saja dia melihat sebuah foto di galeri HP Rey yang membuatnya tertarik.
"Hehehe...apa ini?" ucap Rafael sambil memencet-mencet tombol di HP Rey.
Tiba-tiba saja, HP Rey berbunyi dan memutar sebuah video yang membuat Rafael tertawa terbahak-bahak.
"Hehehe...om, lucu!" ucap Rafael sambil terus menonton video di HP Rey.
Sementara itu, di lantai bawah, acara arisan masih berlangsung dengan khidmat. Bu Shanty dan teman-temannya masih asyik berbincang dan tertawa bersama.
"Bu, bu, Rafael sedang apa di atas?" tanya bi Nilam yang tiba-tiba saja merasa khawatir.
"Oh, dia sama Rey, bi. Jangan khawatir, mereka sedang bermain," jawab bu Shanty sambil tersenyum.
Tapi, di atas, Rafael masih terus menonton video di HP Rey yang menampilkan video Rey bersama dengan seorang wanita tengah berlari dan ber velocity ala tiktok. Siapa lagi jika bukan Vanesha yang bisa dikatakan sahabat sekaligus crushnya itu.
Tiba-tiba Rey datang dengan membawa dua gelas es timun sirup, "Tara om datang..." ucap Rey dengan gaya cerianya.
"Eh...ngapain kamu? Lihat apaan?" tanya Rey kemudian, saat melihat bocah berusia 4 tahun itu tertawa terbahak-bahak.
"Aigo...turun dah derajat gue sebagai om ganteng..." gumamnya sembari mensugar rambutnya keras.
"Hahaha...om lucu, om...om...kapan-kapan ajakin tante ini kerumah dong..." ucap Rafael yang merasa tertarik dengan Vanesha.
"Aah...ya kapan-kapan ya, kalo tantenya udah balik ke Jakarta ya, soalnya sekarang dia lagi jauh di luar negeri sana..." jawab Rey tak berdusta tentunya.
"Luar negeri? Apa itu om?" tanya Rafael yang belum paham banyak hal.
"Aah...anu...apa ya, hadeehhh...ini mah pertanyaan syulit, lebih syulitt daripada pertanyaan dosen matematika..." gumam Rey yang tampak bingung.
"Dosen matematika? Apa lagi itu om?" tanya Rafael semakin menjadi.
"Aah...sudah...sudah, mending kita minum es timun sirup dulu ya. Ntar kita lanjut main ps aja, gimana?" rayu Rey agar atensi bocah di hadapannya itu teralihkan.
"Horee...main ps yeay..." sorak Rafael yang merasa senang jika selalu bersama dengan Rey, dikarenakan tak pernah dilarang untuk melakukan hal yang disukainya.
Tentu berbeda dengan Tiara, mamanya, yang selalu melarangnya ini dan itu, apalagi Nerrisha yang terbilang walaupun sedikit seperti Rey, namun jika sudah berkata A, ya tetaplah begitu, tak akan terbantahkan. Ditambah bu Shanty, omanya, walaupun selalu memanjakan Rafael, namun tetap saja harus ada aturan, dan senjata andalannya ialah "kata si mbah saya".
Acara arisan berakhir, semua orang berpamitan setelah makan bersama. Tak lama kemudian, pak Chakra dan Arga juga pulang tepat pukul 18.00 wib. Hari ini tidak ada lembur juga meeting, sehingga mereka pulang agak cepat.
"Tumben kalian pulang cepat?" tanya bu Shanty.
"Iya mah, gak ada lembur atau meeting-meetingan..." jawab pak Chakra sembari melonggarkan dasinya.
"Udah selesai acara arisannya?" tanya pak Chakra kemudian.
"Baru aja sekitar 10 menit yang lalu..." jawab bu Shanty yang masih sibuk membereskan beberapa buah-buahan yang juga dibantu oleh bi Nilam, Tiara, dan Nerrisha.
"Oh ya, papa mandi dulu gih, ntar kita makan malam bareng. Mama masih mau beresin semua ini..." ucap bu Shanty lembut.
Pak Chakra pun berlalu menuju ke lantai atas, begitu juga dengan Arga yang mencari keberadaan buah hatinya. Saat tiba di kamar Rey, dia pun dikejutkan dengan pemandangan dimana Rey sudah tampak acak-acakan.
Ulah siapa lagi jika bukan Rafael yang mendandaninya seperti badut Ancol karena melihat video Rey yang tampil dengan dandanan seorang wanita di ponselnya bersama dengan seorang wanita cantik yang bernama Vanesha.
"Astaga...Fael, apa-apaan ini nak?" tanya Arga yang melihat Rey adiknya sudah persis dengan badut Ancol.
"Papaaaa...yeay...papa pulang!" sorak Rafael yang berlari ke arah papanya itu.
"Kamu nakal ya, masa om kamu buat jadi mirip badut Ancol begitu. Siapa yang ngajarin kamu kayak gitu?" tanya Arga sekali lagi.
"Tante cantik yang di dalem HP om..." jawab bocah itu polos.
"Hah? Tante cantik? Siapa?" tanya Arga dengan dagunya pada Rey.
"Hmm...anu, Vanesha..." jawab Rey kikuk.
"Astaga Rey...makanya kamu itu kasih batasan dikit ke Fael, jadinya gini kan ngelunjak. Jadi laki-laki tuh harus tegas, jangan melehoy, pantes gak nikah-nikah udah bangkotan..." ucap Arga sambil menggelengkan kepalanya pelan.
"Udah paaa, jangan marahin om, kan kasihan om Rey..." bela Rafael yang merasa iba terhadap omnya itu.
"Ya sudah, ayo kita ke kamar, Rey thanks yah udah jagain Rafael. Jangan lupa bersihin diri lo itu..." ucap Arga pada Rey.
"Ashiap ketua..." jawab Rey cengengesan.
Mereka pun beraktivitas masing-masing petang ini sebelum makan malam bersama.
BERSAMBUNG!! ⭐🌟
Visualisasinya.
Lanjut thor penasaran jadinya bakal gimana nasib si nerris