NovelToon NovelToon
Biarkan Aku Pergi

Biarkan Aku Pergi

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Novi Setyowati

Menjadi istri kontrak Sagara bukanlah hal mudah bagi Amara. Pria itu masih mencintai kekasihnya yang menghilang seminggu sebelum pernikahan mereka, sementara pernikahan ini hanyalah kesepakatan demi kepentingan masing-masing.

Mereka berjanji untuk tidak saling jatuh cinta. Namun kebersamaan perlahan mengaburkan batas itu.

Di tengah hubungan yang semakin rumit, Denisa kembali sebagai bom waktu yang siap menghancurkan pernikahan mereka kapan saja. Belum lagi Dirga, kakak Sagara, yang misterius dan terus berusaha menjauhkan Amara dari adiknya seolah menyimpan rahasia besar tentang dirinya.

Saat cinta, pengkhianatan, dan rahasia keluarga mulai terungkap, mampukah Amara dan Sagara bertahan pada perjanjian mereka? Atau perpisahan memang sudah menunggu sejak awal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi Setyowati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Luka Lelaki

BRAKK!!

Suara gebrakan meja dari tangan Pak Darma menggema di meja makan. Gelas-gelas kristal bergetar. Sendok di tangan Amara sampai terlepas dan berdenting kecil di atas piring.

Sesaat, suasana berubah menjadi hening yang mencekam. Tatapan Pak Darma beralih dari Dirga ke Sagara dengan rahang mengeras dan urat leher menonjol tegang.

"Dirga. Sagara. Duduk!" bentak Pak Darma penuh tekanan, "Jangan rusak makan malam ini dengan kekanak-kanakan kalian!"

Namun suasana telanjur terbakar.

Dirga masih berdiri tegak dengan dada naik turun. Tatapannya menusuk lurus ke arah adiknya, tajam seperti menyimpan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar amarah.

"Pa, kali ini aja," ucap Dirga pelan, tetapi justru lebih mengintimidasi.

Tangan Dirga mengepal begitu keras sampai buku-buku jarinya memutih.

"Aku minta Papa jangan turuti kemauan Sagara. Ini udah kelewatan," pinta Dirga dengan mata yang melembut penuh harap.

Sagara terkekeh sinis. Tawa pendeknya begitu dingin. Tatapan kosongnya menyorot ke arah sang kakak.

"Kelewatan apanya?" sahut Sagara sambil menyandarkan tubuh santai di kursi, meski matanya penuh kebencian, "Mau direstui atau enggak, aku tetap nikahin Amara. Nggak ada yang bisa ubah pendirianku."

Kalimat itu membuat Amara menegang. Ia merasa diperebutkan namun bukan untuk diperjuangkan.

Sementara, Dirga menatap Sagara lama. Terlalu lama. Sampai akhirnya ia tersenyum tipis—senyum yang sama sekali tidak hangat.

"Hanya demi warisan..." ucap Dirga rendah penuh sindiran, "kamu rela mengorbankan masa depan seseorang?"

Sorot mata Sagara langsung berubah gelap.

Cuihh!

Sagara meludah kasar ke samping kursinya. Lalu, ia bangkit berdiri begitu cepat sampai kursinya terseret keras.

"Omong kosong!" bentak Sagara sambil menunjuk Dirga tepat di depan wajahnya, "Nggak terima aku langkahi? Makanya nikah, Mas!"

"Sagara..." suara Bu Ning mulai bergetar.

Namun Sagara tak peduli. Tatapan kedua bersaudara itu kini benar-benar seperti dua orang asing yang saling ingin menghancurkan.

Dan yang membuat Amara semakin merinding, Dirga tidak tampak marah sepenuhnya. Lelaki itu justru terlihat menahan sesuatu. Sesuatu yang sejak tadi ingin diucapkan, tetapi terus ditelan kembali.

Di sisi lain, tatapan mata Dirga berulang kali mengarah kepada Amara seakan ingin mengucapkan sesuatu yang sangat penting. Seolah ada rahasia besar yang membuat ia ingin menghentikan pernikahan itu apa pun caranya.

""Dirga! Sagara!" suara berat Opa Hendra memotong ketegangan—tidak keras, tetapi cukup membuat semua orang terdiam, "Kalau mau bertengkar, keluar. Ini tempat makan, bukan arena pergulatan."

Rahang Sagara mengeras, "Baik."

Sagara langsung berbalik pergi meninggalkan meja makan tanpa menoleh sedikit pun.

Kemudian, beberapa detik kemudian, Dirga menyusul tanpa pamit sama sekali. Tanpa bicara. Tanpa ekspresi. Ia berjalan menyusul dengan langkah lambat, tenang namun justru terlalu tenang untuk seseorang yang sedang emosi. Dan ketenangan itu terasa jauh lebih menyeramkan.

"Ya Tuhan..." Bu Ning menutup mulutnya sendiri dengan mata berkaca-kaca, "Dua anak itu..."

Amara menoleh panik ke arah menghilangnya Dirga dan Sagara.

"Ma, kenapa nggak ditahan? Kalau mereka baku hantam gimana?" tanya Amara mulai gemetar.

Bu Ning hanya memejam frustrasi. Bahkan, ia sendiri tampak tak tahu harus bagaimana.

"Percuma, Mbak," sahut Charita lirih sambil menatap ke sudut rumah dengan wajah cemas, "Kalau mereka udah bertengkar soal prinsip... yang perang itu harga diri mereka. Mau kita bela atau larang, hasilnya tetap sama."

Deg.

Jantung Amara makin tidak tenang. Entah mengapa, ucapan Dirga tadi terus terngiang di kepalanya.

Mengorbankan masa depan seseorang? Apa maksudnya? Batin Amara benar-benar ramai oleh tanya.

"Aku mau ke sana," ucap Amara tiba-tiba sambil bangkit dari kursi.

Namun sebelum ia melangkah, Pak Surya sudah lebih dulu berdiri, "Biar Om yang melerai. Kamu tetap di sini."

"Tapi—" bantah Amara.

"Surya, biarin aja," tentang datar Pak Darma membuat semua orang menoleh.

Pak Darma bersandar lelah sambil memijat pelipisnya. Meski terdengar tenang, sorot matanya penuh kekecewaan yang sulit disembunyikan.

"Kalaupun baku hantam, mereka paling cuma luka. Nggak akan sampai mati," ucap Pak Darma dingin. "Mereka udah biasa begini."

Amara tercekat. Biasa?

Oma Sari perlahan menghampiri Amara. Wanita tua itu mengusap lengan Amara yang gemetar dingin.

"Sayang..." ucap Oma Sari lembut, "mereka sebenarnya sama-sama baik. Cuma sering berselisih aja. Jangan takut. Mereka cuma belum berdamai dengan luka lama aja."

Amara mengangkat wajah perlahan penuh tanya, "Luka... lama?"

Namun Oma Sari tidak menjawab. Tatapannya justru tampak menerawang seolah ada sesuatu yang sengaja disembunyikan keluarga ini sejak lama.

Hal itu tentu membuat perasaan Amara semakin tidak nyaman. Ia menjadi bimbang dengan keputusannya sendiri.

"Oma..." suara Amara melemah penuh cemas, "Mara mau nyusul mereka, ya?"

Oma Sari mengembuskan napas panjang, lalu menoleh pada Charita, "Tata, temani Mbakmu."

"Iya, Oma," jawab Charita sambil berdiri dari kursinya.

Charita pun berjalan cepat mendekati Amara. Kemudian, ia menggenggam erat tangan calon kakak iparnya yang dingin itu.

"Kak, jangan kaget dan takut, ya," bisik Charita sewaktu membantu Amara berdiri.

Mereka berdua pun berjalan melewati lorong samping rumah yang mulai sunyi menuju taman depan. Makin dekat suara gaduh pertengkaran justru terdengar samar. Tidak ada bentakan. Tidak ada suara pukulan.

Dan, justru itu yang membuat bulu kuduk Amara perlahan meremang. Karena keheningan antara dua orang yang saling membenci, terkadang jauh lebih berbahaya.

...----------------...

Sesampainya di teras rumah yang langsung menghadap taman depan, Amara tercengan menyaksikan pemandangan di depannya.

"Mas Aga..." pekik Amara lirih.

"Tetap di sini, Mbak. Merem aja kalau nggak kuat," sahut Charita sambil meremas lembut jemari Amara yang makin gemetar.

Di taman yang remang diterpa cahaya lampu halaman, suara pukulan mulai menggema brutal memecah malam.

Bugghh!

Tubuh Dirga dan Sagara sama-sama tersungkur ke rumput basah. Kemeja mereka kusut penuh tanah. Sudut bibir pecah. Tulang pipi lebam membiru. Napas keduanya memburu seperti dua binatang liar yang kehilangan kendali. Namun tak ada satu pun dari mereka yang mau mengalah. Tidak malam itu.

Dirga kembali menindih tubuh Sagara dengan amarah yang nyaris meledak dari kedua matanya. Tangannya mencengkeram kasar kerah baju adiknya sampai nyaris robek.

"Sagara, lepas Amara!" bentak Dirga penuh tekanan.

Sorot mata Sagara berubah gelap, "Nggak!"

Bukkk!

Satu bogem mentah dari Dirga menghantam wajah Sagara hingga kepalanya terpental ke samping. Darah segar langsung mengalir dari sudut bibirnya.

"Nikahi perempuan mana pun, tapi jangan Amara!" suara Dirga mulai serak oleh emosi, "Dia terlalu baik buat bajingan kayak kamu!"

Kalimat itu membuat rahang Sagara menegang keras. Ia perlahan mengusap darah di bibirnya menggunakan ibu jari. Tatapannya naik menyorot Dirga dengan senyum miring yang dingin.

"Sejak kapan, kamu tertarik sama perempuan di kehidupanku?" ucap Sagara lirih namun menusuk.

Dirga membeku sepersekian detik. Namun, justru dalam jeda itulah ada sesuatu yang tampak retak di matanya. Sesuatu yang selama ini ia sembunyikan mati-matian.

"Sejak, kamu milih Amara," jawab Dirga tegas.

Deg.

Kalimat Dirga terdengar terlalu jujur. Terlalu emosional sekaligus menyakitkan.

Sorot mata Sagara langsung berubah tajam penuh kecurigaan. Perlahan, ia mendorong tubuh Dirga hingga kakaknya kehilangan keseimbangan dan terjengkang ke tanah. Kini, gantian ia yang menindih tubuh Dirga dengan napas memburu.

"Rupanya..." ucap Sagara tersenyum penuh sindiran sambil menarik kasar kerah Dirga, "Mas tertarik sama calon istri adik sendiri?"

Tatapan Dirga langsung menggelap.

"Kenal dia?" lanjut Sagara pelan namun justru terdengar mengancam.

Dirga tidak menjawab. Namun, diamnya terasa jauh lebih mencurigakan.

"Makin Mas larang..." suara Sagara mulai dipenuhi ego dan kemarahan yang bercampur aneh dengan rasa posesif, "aku justru makin pengin memiliki dia."

Brak!

Dirga langsung membalikkan tubuh Sagara dan kembali menghajarnya tanpa ampun.

"Kalau sampai dia hancur..." desis Dirga di depan wajah adiknya dengan napas bergetar menahan emosi, "aku sendiri yang bakal menghancurkan hidupmu!"

Bukkk!

Sagara membalas dengan satu pukulan telak tepat di rahang Dirga.

"Tau apa kamu soal dia?" bentak Sagara tersulut.

Dirga kembali mendorong tubuh Sagara hingga keduanya berdiri sempoyongan. Napas mereka sama-sama memburu kasar. Wajah mereka sama-sama penuh luka. Namun yang paling mengerikan bukan luka di wajah mereka, melainkan luka yang tersembunyi di balik kata-kata mereka.

Keduanya kembali saling mendekat sampai dada mereka hampir bertubrukan. Tangan mereka sama-sama mencengkeram kerah lawan dengan urat tangan menonjol tegang.

"Aku tahu..." ucap Dirga dengan tatapan getir yang anehnya justru terlihat penuh kepedihan, "kamu cuma menjadikan Amara alat buat dapetin warisan."

Sagara menatapnya tajam.

Dirga melanjutkan dengan suara yang perlahan melemah oleh amarah dan kecewa, "Dan setelah semuanya selesai... kamu bakal balik ke Denisa, kan?"

Mata Sagara berkedip pelan. Untuk pertama kalinya, ekspresinya berubah—bukan marah, melainkan terusik.

"Tau apa kamu soal hidupku?" sahut Sagara rendah, "Urus aja bisnis dan warisanmu itu! Toh kamu bisa dapetin semuanya tanpa perlu jungkir balik kayak aku!"

Plakkk!

Tamparan keras Dirga membuat wajah Sagara menoleh kasar ke samping.

Hening beberapa detik.

"Itu..." suara Dirga bergetar penuh penekanan, "karena aku bukan anak pembangkang."

Kalimat itu menghantam Sagara jauh lebih keras daripada pukulan sebelumnya. Tatapan Sagara langsung berubah dingin dan kosong.

Namun sebelum pertengkaran kembali pecah, langkah kaki terdengar dari arah teras rumah.

Dirga menoleh. Di sanalah, ia melihat Amara berdiri bersama Charita.

Wajah Amara sepucat mayat. Matanya membesar penuh ketakutan melihat kedua pria itu sudah babak belur seperti habis saling membunuh.

Sesaat, tatapan Dirga dan Amara bertemu. Tiba-tiba, Dirga langsung melepaskan kerah Sagara perlahan.

Begitu pun Sagara, ia melepas kerah Dirga pelan. Tidak ada kata. Tidak ada ancaman lagi. Hanya napas berat dan tatapan penuh emosi yang belum selesai.

Di sisi lain, Dirga mengangkat wajah. Ia tatap Amara lama sekali. Bahkan, terlalu lama seolah ingin mengatakan sesuatu. Sesuatu yang tak bisa ia ucapkan di depan semua orang. Namun akhirnya ia hanya tertawa kecil getir sambil menyeka darah di sudut bibirnya. Lalu, ia pergi begitu saja menuju mobilnya dengan langkah berat dan bahu yang dipenuhi kemarahan sekaligus kekalahan.

Mesin mobil Sagara menyala. Beberapa detik kemudian, mobil itu melesat keluar dari kediaman Hendratama meninggalkan suasana yang terasa semakin dingin.

Amara masih terpaku. Jantungnya belum berhenti berdebar oleh ketakutan dan rasa bersalah. Sebab untuk pertama kalinya, ia merasa pertengkaran itu bukan sekadar soal prinsip namun jua menyeret namanya di sana.

"Mas..." suara Charita pecah lebih dulu sambil menunduk dan mengusap air mata yang jatuh satu per satu, "Kenapa kalian begini lagi? Tata udah seneng banget karena kalian lama nggak bertengkar."

Tatapan Sagara perlahan melembut menatap adiknya. Namun wajahnya tetap dingin.

"Ini masalah laki-laki," jawab Sagara pendek, "Laki-laki itu biasa luka-luka."

Charita menggeleng pelan.

"Tapi nggak harus diselesaikan pakai kekerasan, Mas," bantah Charita sarat kepedihan mendalam.

Sagara terdiam beberapa detik. Tatapannya justru melirik Amara yang masih terlihat ketakutan padanya. Hal itu sontak saja membuat dadanya terasa sesak.

"Udah," ucap Sagara akhirnya dengan suara lebih rendah, "Sana masuk. Bilang maaf ke semuanya. Aku bawa Amara pulang. Tenang aja... aku nginep di hotel."

Sagara langsung menggenggam pelan tangan Amara tanpa meminta perizinan. Genggaman itu terasa hangat namun jemarinya bergetar samar.

"Tapi, Mbak Mara belum makan..." lirih Charita cemas.

Amara langsung memaksakan senyum kecil meski jantungnya masih kacau melihat darah di wajah Sagara.

"Nanti aku makan sama Mas Aga sambil ngobatin lukanya, Ta," sela Amara mencoba setenang mungkin.

Charita menatap mereka berdua lama. Tatapannya dipenuhi kecemasan yang sulit dijelaskan. Sebab malam itu, bukan hanya wajah Dirga dan Sagara yang terluka, tetapi juga hubungan mereka.

Dan yang paling menakutkan, Amara mulai merasa dirinya ada di tengah rahasia besar keluarga Hendratama yang perlahan sedang menyeretnya masuk terlalu dalam.

...----------------...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!