"Saya penasaran, Berapa lama lagi tuan akan mencintai saya."
Cerita ini berlatar belakang era kolonial di Hindia Belanda, mengisahkan Santi, seorang gadis pribumi muda yang awalnya bekerja sebagai buruh tembakau. Kini beralih menjadi seorang baboe (pembantu rumah tangga) di rumah seorang Belanda.
Semua berawal dari sebuah pertemuan tak terduga di dalam gerbong kereta kelas tiga yang padat. Santi, yang saat itu sedang dalam perjalanan pulang dari kota Surabaya, tanpa sengaja menolong seorang pria misterius yang tengannya terluka, Tuan Ludwig. Pria itu terus mengeluarkan suara menahan rasa sakitnya , Hingga Santi yang duduk di kursi dekat pria misterius itu memberanikan dirinya menawarkan sapu tangan untuk mengikatkan sapu tangan miliknya ke luka pria misterius itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PEACHESEEU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 10
“Ah kamu datang,”
“Ik heb de documenten meegebracht die de resident assistant van Surabaya u heeft toevertrouwd, meneer. (Saya membawa dokumen yang asisten residen Surabaya titipkan untuk diberikan pada anda Tuan.)”
“Ah, kalau begitu ayo ke atas.”
Tuan Ludwig pun berdiri dari tempatnya, Bu Warti menggantinya untuk mengobati kaki Santi. Di situ Santi seketika merinding saat ia menyadari raut wajah tuannya berubah seketika, Tuan Ludwig pergi dari ruang tamu diikuti dengan Anton di belakangnya. Sekarang, Di ruang tamu hanya ada Bu Warti dan Santi.
“Untung durinya engga dalam nduk, Kok kamu bisa sih terluka seperti ini.”
“Tadi itu Bu, Saya di minta tuan untuk ikut jalan jalan pagi.”
“Jalan-jalan pagi??” Ragu Bu Warti,
“I-iya bu, Tadi itu saya lagi nyapu halaman depan Bu. Terus tiba tiba tuan datang terus nyuruh saya buat ikut jalan jalan lagi, Saya awalnya nggak mau Bu. Tapi tuan paksa saya buat ikut, Emangnya kerja baboe di kediaman rumah yang lain begini ya Bu?”
“Masa sih??”Alisnya terangkat sebelah, membentuk lengkungan asimetris yang seolah ragu akan tuannya yang telah ia layani bertahun-tahun akan melakukan hal itu, Bu Warti memiringkan kepala sedikit ke samping, matanya menyipit kritis. “Mungkin tuan bosan jalan-jalan sendirian setiap pagi, Sudah sudah sekarang yang penting kamu obati kaki dulu. Sini kakimu,”
“Iya Bu,”
..._ _ _...
Beberapa hari berlalu begitu saja, Santi tampaknya sudah mulai pulih dan sudah mulai bekerja kembali. Di dapur, Dia bersama berbincang dengan Bu Warti yang hari itu ada disana bersama dengan beberapa pelayan yang datang di rumah itu tampak sibuk melakukan tugasnya masing-masing secara bergiliran. Santi tengah berada di dapur bersama Bu Warti, Mereka hanya berbincang bincang sederhana sampai seorang pelayan pria mendatangi mereka. "Bu Warti, Untuk bahan masakan Minggu ini sudah siap Bu. Ada petani yang menawarkan daging rusa sebagai pengganti daging kerbau,"
"Apa harganya sama seperti daging kerbau?? Jika iya tidak apa apa, Suruh mereka menaruhnya di gudang untuk diasap nanti."
Pelayan pria itu mengangguk, Ia memandangi Santi yang berdiri di samping Bu Warti dengan tatapan mata seolah ingin tahu siapa gadis itu. "Bu, Ini???"
"Ah dia?? dia ini Santi yang sekarang bekerja untuk membantu menyiapkan barang barang tuan."
Santi memberikan senyum ramahnya pada pelayan pria itu, "Saya Santi mas,"
"Saya Ucup mbak, Salam kenal." Kata pelayan ia, Sembari ia menganggukan kepalanya dan gesturnya sedikit membungkuk.
Dari lantai dua rumah itu, Ada sebuah bayangan kegelapan yang tengah berdiri memperhatikan interaksi antara Santi dan Ucup. Itu adalah Tuan Ludwig, Matanya yang hijau kini berubah sedikit kemerahan seperti tengah menahan kemarahan. Rahangnya mengeras hingga terdengar suara gugurnya yang berdecit karena bergesekan dan ia mengepalkan tangannya hingga cerutu yang masih menyala di tangannya seketika hancur.
"Iya mas, Saya baboe baru yang bekerja di kediaman rumah ini mas."
Baboe pria itu pun mantap Santi dari atas hingga kebawah yang dimana sekarang Santi memakai sepatu yang diberikan oleh Tuan Ludwig, "Wah, Sepatunya mbak Santi cantik sekali."
"Sepatu???" Gumam Santi, Ia pun menatap ke bawah kakinya bersamaan dengan Bu Warti yang juga ikut melihat ke arah kakinya.
"Kamu dapat sepatu itu dari mana, Santi??" Tanya bu Warti.
"Eummhhh,"
Santi sepertinya bingung menjawab apa, Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Itu Bu Warti, Eummhhh."
..._ _...
Malam telah larut di Kediaman Ludwig. Hanya lampu meja yang memancarkan cahaya kekuningan di ruang kerja Tuan Ludwig, menyoroti rak-rak buku kulit yang menjulang tinggi dan lukisan-lukisan klasik. Tuan Ludwig duduk di kursi kulitnya yang besar, mengenakan piyama sutra dan jubah mandi beludru. Ia tampak benar-benar santai, jauh dari citra seorang compenie yang tegas. Di hadapannya, di meja kecil terhampar sebuah papan catur. Tuan Ludwig tidak bermain melawan orang lain. Ia hanya menatap papan catur itu dengan menyangga dagunya, Seperti sedang memikirkan sesuatu. Saat kesunyian di ruangan itu semakin pekat, pintu ruang kerja diketuk pelan.
"Masuk," sahut Tuan Ludwig tanpa mengalihkan pandangan dari papan catur.
Pintu terbuka, dan Santi melangkah masuk dengan langkah yang hati-hati. Ia membawa nampan perak di tangannya, di atasnya terdapat cangkir porselen berisi kopi hitam pekat, kebiasaan Tuan Ludwig sebelum tidur. Santi masih berjalan tertatih, Ia masuk ke ruang kerja tuannya.
"Kopi yang anda minta, Tuan," ujar Santi pelan, mendekati meja kerja.
Aroma kopi segar segera menyebar, sedikit mengalahkan bau kertas dan leather di ruangan itu. Santi meletakkan nampan itu dengan sangat hati-hati, memastikan cangkir diletakkan tepat di sebelah tangan Tuan Ludwig, sesuai kebiasaan.
Saat Santi hendak berbalik pergi, Tuan Ludwig akhirnya mengangkat pandangannya dari papan catur. Ia menatap Santi, matanya tampak penasaran.
"Terima kasih, Santi," kata Tuan Ludwig, mengambil cangkirnya.Ia menyesap kopi itu sebentar, lalu pandangannya kembali tertuju pada papan catur yang kini menampilkan posisi kritis.
"Santi," panggil Tuan Ludwig tiba-tiba, suaranya memecah keheningan.
Santi berbalik. "Ya, Tuan? Apa tuan perlu yang lain."
Tuan Ludwig menunjuk papan catur dengan dagunya. Bidak-bidak itu, yang terbuat dari kayu rosewood dan maple, berkilauan di bawah cahaya lampu. "Katakan padaku," ujar Tuan Ludwig, sambil menyandarkan punggungnya di kursi, "apakah kamu bisa bermain catur?"
“.....”
Santi terdiam. Ia memandang papan catur di mejaitu, lalu beralih menatap Tuan Ludwig. Ia mengira pertanyaan itu hanyalah basa-basi, tetapi melihat tatapan serius Tuan Ludwig, ia tahu jawabannya diharapkan jujur. “Saya tidak pernah bermain catur, Tuan.”
"Duduklah."
Tuan Ludwig menunjuk ke kursi kayu berukir yang biasanya digunakan untuk tamu, letaknya tepat di seberang dirinya, berhadapan langsung dengan papan catur.Santi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu, Sembari ia melihat ke arah pintu keluar.
“Tapi tuan,”
“Sebagai tuanmu aku memerintahkanmu duduk,”
Sekarang dia menyebutkan tentang statusnya. Mengapa seorang Tuan harus repot-repot melakukan ini untuk seorang baboe?
“...”
Santi bergerak perlahan, duduk dengan canggung di kursi kayu itu. Kursi itu tinggi, kokoh, dan terasa asing. Ia merasa seperti seorang murid yang dipanggil menghadap guru besar.
"Tidak perlu tegang," kata Tuan Ludwig, tersenyum kecil. Ia mengambil bidak berwarna Putih, yaitu Pion. "Tidak ada orang yang bisa aku ajak bermain catur, Anton tidak ada disini dan dia belum datang. Ini hanya permainan dan permainan ini, seperti bisnis dan hidup, adalah tentang melihat pola dan merencanakan masa depan."
“Maksud Tuan?? Saya kurang mengerti,”
“Lupakan saja,”
“Aku akan memberitahu kamu tentang dasar-dasarnya," mulai Tuan Ludwig, suaranya kini terdengar seperti seorang guru yang sabar. "Raja bergerak satu langkah, Benteng lurus, Gajah diagonal. Tapi, catur bukan tentang pergerakan. Catur adalah tentang rencana."
Ia menunjuk ke bidak pion di barisan depan. "Ambil pionmu. Catur selalu dimulai dengan pion."
Santi meraih pion di depan Raja, lalu memajukannya dua langkah.
Tuan Ludwig mengangguk. "Itu pembukaan standar. Sekarang, lihat bidak ini." Ia meraih salah satu Kuda milik Santi. "Kuda adalah bidak paling nakal dan paling tidak terduga. Ia melompat membentuk 'L'. Kebanyakan pemula fokus pada Ratu atau Benteng. Tapi pemain yang baik tahu bahwa Kuda, jika ditempatkan dengan benar, bisa menjadi ancaman yang mematikan."
“...?”
Tuan Ludwig menggeser Kuda milik Santi ke posisi strategis.
"Lihat," lanjutnya, matanya berbinar seperti seorang anak yang menunjukkan penemuan baru. "Tujuan awalmu bukan membunuh bidak. Tujuan awalmu adalah menguasai pusat papan. Pusat adalah medan pertempuran. Siapa yang menguasai pusat, dia menguasai permainan."
Santi mencondongkan tubuhnya ke depan, berusaha keras menyerap setiap kata. Ia menyadari Tuan Ludwig tidak hanya mengajarkan tentang catur, tetapi juga tentang cara berpikir strategis.
"Jadi, Tuan," tanya Santi hati-hati. "Haruskah saya segera memajukan Ratu untuk menyerang?"
Tuan Ludwig menggeleng, tersenyum geli. "Ah, Ratu yang agresif. Itu kesalahan klasik. Ratu itu terlalu berharga untuk dipertaruhkan di awal. Pikirkan Ratu sebagai cadangan senjata nuklir. Kamu hanya mengeluarkannya saat kamu benar-benar yakin bisa mendapatkan keuntungan besar."
Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, menunjuk ke bidak Santi yang lain. "Fokuslah pada pengembangan bidak ringanmu, Kuda dan Gajah. Bawa mereka keluar dari rumah dan biarkan mereka menjaga Raja di belakang. Ini namanya membangun Pertahanan."
Selama setengah jam berikutnya, Tuan Ludwig hanya menjelaskan tentang segala permainan catur. Selama itu, Santi ia hanya bisa diam menatap ke arah budak budak catur. Ia menggenggam begitu erat tangannya, Wajahnya tampak seperti kebingungan. Apa yang diharapkan dariku yang seorang pribumi?? Setiap saat aku hanya berfikir bagaimana aku bisa menyambung hidupku, Aku tidak memiliki waktu untuk hal seperti ini. Aku ingin pergi ke kamar, Walau selama berhari-hari aku disini. Aku masih belum terbiasa dengan tuan yang tiba tiba terkadang menyuruhku duduk untuk menemaninya, kadang ia menatapku tajam tapi saat itu juga tatapannya langsung berubah lembut lagi.
“Apa kamu mengerti?”
Santi hanya menundukkan kepalanya, Tuan Ludwig yang ada di depannya hanya melihatnya datar lalu perlahan ia menatap ke arah luar jendela yang kini sudah gelap. Hanya ada sinar rembulan yang masuk ke dalam ruangan itu. Tangan Santi menggenggam begitu erat di pangkuannya, Entah kenapa perasaannya saat itu tidak enak dan ia merinding dibuat- nya. “Jujur saja aku tidak mengerti, Lagian kenapa tuan mengajari hal seperti ini. Satu hal yang ku mau sekarang, Adalah segera keluar dari ruangan ini.”
To...tokk...tokkk
Terdengar 3 kali suara ketukan pintu, Santi seketika melihat ke arah pintu dengan wajah yang begitu tegang. Siapa yang mengetuk pintu?? Apakah ada yang datang, Siapa yang datang ke kediaman ini malam-malam??
“Masuk,” kata Tuan Ludwig.
“Tuan, Saya datang sesuai perintah anda. Ada pekerjaan yang harus tuan tangani,”
Seketika pintu ruang kerja tuan Ludwig terbuka, Dan di sana berdiri sosok Anton yang datang. Anton yang datang dan berdiri dengan raut wajah khasnya yang hanya diam dan dan menatap dengan tatapan yang dingin, Santi yang melihat kedatangan tuan Anton seketika seperti lega di buatnya. Ia langsung berdiri dari tempatnya duduk, Dan melirik tuan Ludwig yang ada di depannya.
“Baiklah, Kau boleh pergi sekarang. Sudah larut malam,”
Santi yang mendengar apa yang dikatakan tuannya itu segera membungkuk, Mengambil nampan yang ia bawa sebelumnya dan keluar begitu saja dari ruang kerja tuannya dengan begitu terburu-buru. Tuan Ludwig yang masih berada di tempatnya, Sorot matanya berubah menjadi dingin. Ia masih menatap ke arah luar jendela yang menampilkan sisi hutan yang begitu gelap.
..._ _ _...
Santi yang berada di dapur ia meletakkan nampan di tangannya itu di meja dan ia berlari kecil ke arah gentong yang berisi dengan air, Disana ia mengambil gayung dan mengambil air yang berada di dalam gentong itu dan membasuh wajahnya disana. “Huft, di Lebih baik aku ke kamar dan tidur. Tugasku sudah selesai hari ini,”
Santi pun mengelap wajahnya dengan kebayanya, Ia segera pergi ke kamar yang tidak jauh dari dapur itu. Dari raut wajahnya ia di buat merinding dengan perlakuan tuannya yang seperti tadi, Sudah hampir 3 Minggu aku disini. Aku masih belum terbiasa dengan perilaku tuan terhadapku.
Santi masuk ke dalam kamarnya, Baru ia masuk dan hendak membuka lemari pakaiannya, Tetapi ia mengurungkan niatnya di saat dari sudut matanya ia melihat sesuatu barang asing yang sebelumnya tidak pernah ada di tempat itu. "Apa ini??"
Ada sebuah kotak berwarna merah di meja di dekat ranjangnya, Ia mengamatinya sesat sebelum ia mengambil kotak itu dan membukanya. "Sepatu??"
Santi menyapu ruangan kamarnya, Memeriksa sekelilingnya yang sekarang hanya ada dirinya sendiri di dalam sana. "Kenapa ada sepatu disini?? Siapa yang menaruh ini disini." Gumam Santi.
'Kalau begitu, Aku akan memberimu sepatu nanti.'
Seketika ia mengingat perkataan tuannya di hari saat kakinya terluka, Malam hari saat ia mengantarkan kopi untuk Tuannya dengan berjalan tertatih tatih.
" Ini dari Tuan…”
...Aku segera menutup kembali kotak itu, seolah menyembunyikan barang bukti. Dadaku terasa sesak dan panas. Kenapa dia melakukan ini? Aku hanya seorang Baboe. Tugasku disini hanya menyiapkan makanan, membersihkan ruang kerjanya, Tidak lebih. Tidak banyak juga pekerjaan yang harus aku lakukan, Sepatu ini...Walau upah yang aku dapat di kediaman ini cukup besar, sepatu ini mungkin setara dengan gajiku selama dua bulan disini. Ini sangat mahal pastinya....
...Aku tidak pantas....