Patah hati karena cintanya harus kandas tanpa sempat bersemi membuat Agam Mahardika semakin tidak tersentuh. Meski kerap menghabiskan malam panas bersama banyak wanita cantik yang rela menyerahkan diri untuk menemani malam-malamnya, namun pria tampan dengan berjuta pesona itu tetap memilih menutup rapat pintu hatinya. Menguncinya bersama satu nama yang sudah sedari awal mendiami relung hatinya.
Namun, pertemuan tidak terduga dengan seorang gadis cantik yang terpaut usia jauh di bawahnya, perlahan mulai mengusik relung hati.
Akankah pintu hati yang telah lama tertutup itu kembali terbuka, atau akan tetap terkunci tanpa tersentuh, membiarkan hatinya tetap layu tanpa pernah bersemi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Tepat pukul dua siang, di saat pegawai lain kembali fokus bekerja setelah jam makan siang. Viona malah tengah berdiri seorang diri di depan sebuah pintu ruangan di lantai paling atas gedung tempatnya bekerja. Sebelumnya, sesuai arahan Bu Siska, selesai membersihkan lantai di Koridor dua, ia diminta menemui salah seorang petinggi perusahaan yang akan menentukan nasib pekerjaannya ke depan.
Sebelum mengetuk pintu, Viona menarik napas dalam-dalam, mencoba menstabilkan gemuruh jantung yang mulai berdebar kencang. Berusaha mengikhlaskan apapun yang akan menjadi keputusan untuknya, sekalipun ia harus diberhentikan hari ini juga.
"Kenapa malah berdiri di sini?" sebuah suara dari arah belakang membuat Viona berjingkat kaget. Spontan ia menoleh sekaligus memutar tubuh.
Viona buru-buru menundukkan kepala dan mundur satu langkah saat maniknya bertemu pandang dengan seorang pria yang terhitung sudah dua kali bertemu dengannya. Pria yang tentu merupakan salah satu petinggi perusahan karena sosok pria itu kini menghuni ruangan di lantai paling atas. Lantai yang tidak sembarang orang boleh memasukinya.
"Tu-tuan, Saya... "
"Masuklah! kedatanganmu sudah di tunggu seseorang di dalam sana," potong Hyun, suaranya terdengar tenang namun juga tegas. Sementara wajah tampannya terlihat datar, sungguh berbeda dengan ekspresi wajah yang sempat Viona lihat saat bertemu dengan pria itu di ruang Pak Teguh pagi tadi.
Hyun tampak menarik tipis sudut bibir saat menatap sekilas Viona yang terlihat gugup. Ia kembali melangkah maju ke arah samping Viona untuk membuka pintu ruangannya. Begitu pintu terbuka, ia mempersilahkan Viona untuk masuk lebih dulu.
Meski sempat merasa ragu melihat ekspresi datar yang Hyun tunjukkan, namun Viona tetap melangkah masuk, disusul Hyun yang juga ikut melangkah masuk kemudian menutup rapat pintu ruangan pribadinya, memastikan tidak ada seorangpun yang ikut masuk ke dalam ruangan itu sampai ia dan seorang pria yang lebih dulu berada di ruangannya selesai dengan gadis yang sudah berhasil menarik perhatian di hari pertama ia bekerja.
Di lantai yang sama, Agam tengah duduk seorang diri, sibuk menatap layar laptop di ruangan yang sebelumnya merupakan milik sang Ayah.
Agam mendesah pelan, satu tangannya memijat pelipis yang tiba-tiba berdenyut nyeri kala membaca beberapa laporan yang tampak tidak singkron menurutnya. "Aku tidak mengerti, bagaimana bisa Ayah mempercayakan perusahaan sebesar ini pada mereka yang bahkan tidak berkompeten dibidangnya," gumam Agam yang tidak habis pikir dengan pola pikir sang Ayah. Agam yang mulai lelah dengan banyaknya laporan yang harus ia urai satu persatu memilih untuk bersandar lebih dulu pada sandaran kursi kebesarannya, menutup kedua mata dengan satu lengan dan membiarkan layar laptop tetap menyala.
Sebelumnya, Agam berpikir kondisi perusahaan milik keluarganya tidak sampai seserius ini, namun setelah meneliti berbagai laporan yang ia minta langsung dari sekretaris pribadi sang Ayah, ia malah dibuat pusing sendiri. Hingga tidak menutup kemungkinan, ia akan berada di tempat ini dalam kurun waktu yang cukup lama, setidaknya sampai kondisi perusahaan kembali stabil.
Getar ponsel yang tergeletak di atas meja membuat Agam membuka kembali mata, melirik malas lantas bergerak meraih benda pipih canggih tersebut.
Sebuah nama tampak di layar ponsel. Dahi Agam tampak berkerut sebelum akhirnya ia memilih mengangkat panggilan dari seseorang yang menurutnya mampu membantu menyegarkan pikirannya barang sejenak.
Selesai dengan panggilan telepon singkatnya. Pria itu menutup layar laptop, meraih kunci mobil dan barang-barang pribadi lainnya lantas bergegas melangkah keluar dari ruangan menuju sebuah hotel tempat seorang wanita yang tengah menunggu kedatangannya.
****