NovelToon NovelToon
Faristya

Faristya

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Dijodohkan Orang Tua / Bad Boy
Popularitas:759
Nilai: 5
Nama Author: NdahDhani

Karena permintaan terakhir ibunya, Tyasabella Almeera terpaksa menerima kenyataan yang tidak pernah ia inginkan: menikah muda.

Dan lebih parahnya lagi, menikah dengan musuhnya sendiri, Faris Abimanyu Alzavian. Cowok tukang nyolot yang selalu berhasil membuat emosinya naik setiap hari.

"Kenapa harus lo sih?" kesal Tya.

Faris langsung mendelik. "Emangnya gue mau nikah sama lo?"

"Gue juga gak mau."

"Bagus. Berarti kita sepakat."

Tya mendengus. "Sepakat kalau ini ide paling buruk yang pernah ada."

Namun, takdir seolah tidak peduli dengan pendapat mereka. Di tengah kehilangan yang masih terasa, dua remaja keras kepala itu dipaksa menjalani sebuah pernikahan yang tidak pernah mereka pilih sendiri.

Masalahnya, bagaimana jika perlahan mereka mulai menemukan sesuatu yang tidak pernah mereka duga sebelumnya?

Karena terkadang, orang yang paling sering membuat kita kesal justru menjadi orang yang paling sulit dilupakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NdahDhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Drama pulang dari alun-alun

Tya melangkah keluar dari alun-alun dengan langkah cepat. Setiap hentakan kakinya di atas trotoar seolah menjadi pelampiasan kekesalan yang sejak tadi memenuhi kepalanya.

"Dih! Nyebelin banget!" Gerutu Tya sambil mendengus kasar. "Orang lagi makan enak-enak, malah datang bikin emosi!"

Di belakangnya, Starla dan Megan saling berpandangan sekilas sebelum mempercepat langkah agar bisa menyamai Tya.

"Udah, Ty," ujar Megan pelan. "Jangan dipikirin lagi."

"Gimana gak dipikirin?!" Tya langsung menoleh dengan wajah kesal. "Masa gue dibilang anak SMP nyasar? Emangnya pendek gini dosa?!"

Starla yang sejak tadi berusaha menahan diri, refleks nyeletuk. "Ya, tapi memang kalau dilihat sekilas..." Belum sempat kalimatnya selesai, ia langsung membekap mulutnya sendiri.

 Megan spontan menoleh dengan mata mendelik. "Star..."

Starla menggeleng cepat sambil mengangkat kedua tangannya. "Eh, bukan! Bukan gitu maksud gue!"

Tya langsung menghentikan langkahnya. Ia menatap Starla datar beberapa saat, sementara Starla hanya nyengir canggung. "Sorry, gue refleks," ujarnya. "Sumpah, gue gak ada niat."

Megan langsung menggeleng kecil. "Ya ampun, Star... Bisa-bisanya lo malah nambah bensin."

Tya menghela nafas panjang. "Satu aja udah cukup bikin emosi. Ini nambah satu lagi."

Starla langsung merangkul lengan Tya sambil nyengir penuh rasa bersalah. "Maafin ya, Ty. Gue beneran keceplosan."

Tya hanya mendengus kecil, meski sudut bibirnya nyaris terangkat melihat kepanikan sahabatnya. Namun, ia buru-buru memasang wajah datar lagi.

"Pokoknya gue hari ini apes banget," gerutu Tya lagi sambil kembali melangkah. "Dan semua itu gara-gara Faris!"

Megan dan Starla hanya saling bertukar pandang sebelum kembali mengikuti langkah Tya. Mereka tahu, untuk sementara waktu, lebih baik membiarkan Tya meluapkan kekesalannya.

Sementara itu, di sisi lain alun-alun, empat mangkuk cilok akhirnya tersaji di atas meja kayu sederhana milik pedagang. Uap hangatnya masih mengepul, beradu dengan aroma bumbu kacang dan saus pedas yang menggugah selera.

"Silakan, dek," ujar sang penjual ramah.

"Wokee bang, makasih," sahut Dhyo.

Mereka berempat mulai menikmati cilok masing-masing. Sesekali terdengar suara sendok yang beradu pelan dengan mangkuk, diselingi obrolan santai khas GMA.

Dhyo yang baru saja menyuapkan satu butir cilok tiba-tiba menoleh ke arah Faris dengan senyum jahil. "Ris," panggilnya pelan.

"Hm?" Sahut Faris sambil mengunyah.

"Parah juga lo," ujar Dhyo sambil terkekeh.

Faris mengernyit. "Apaan?"

"Orang Tya lagi makan tenang-tenang, malah lo teriak 'anak SMP nyasar'," lanjut Dhyo kembali menyuap ciloknya.

Andre yang mendengar itu hanya terkekeh kecil. Sementara Lex ikut menimpali, "Iya. Kayaknya emosi dia naik seratus persen gara-gara lo."

Faris menaikkan sebelah alis, "Ya, terus?"

Dhyo menggeleng sambil menyeringai. "Kasihan juga, cuy. Sore yang tadinya damai langsung rusak gara-gara mulut lo."

Faris hanya berdecak singkat, sama sekali tidak berniat menanggapi lebih jauh. Ketiga temannya saling berpandangan, lalu terkekeh pelan menikmati ekspresi datar ketua geng mereka itu.

Untung saja mereka tidak mengetahui drama piket yang terjadi siang tadi. Jika mereka tahu, kemungkinan besar Faris tidak akan diberi kesempatan makan dengan tenang. Bahkan ejekan mereka pasti akan bertambah berkali-kali lipat.

Drrrtt... Drrrtt...

Di sela-sela menikmati cilok, tiba-tiba terdengar nada dering dari saku celana Faris. Ia menghentikan gerakan tangannya, lalu mengeluarkan ponselnya. Begitu melihat nama yang tertera di layar, Faris langsung menghela nafas pelan.

"Pasti ngomel," gumam Faris lirih.

Dhyo yang duduk di seberangnya langsung melirik sekilas. "Siapa?"

"Nyokap," jawab Faris singkat.

"Ohh," Dhyo mengangguk paham.

Faris mengusap layar ponsel, lalu menempelkan benda pipih itu di telinganya. "Halo, Mah."

Belum sempat Faris berkata lebih banyak, suara tegas dari seberang sana langsung terdengar. "Kamu sekarang di mana, Faris?"

Faris melirik sekeliling sesaat, sebelum menjawab santai. "Di alun-alun."

"Kamu itu memang gak bisa diam di rumah, ya?! Pulang sekolah bukannya langsung pulang, malah keluyuran lagi. Kamu izin sama Mama juga enggak!"

Faris menjauhkan sedikit ponsel itu dari telinganya, lalu menggaruk pelipisnya pelan. "Kan cuma bentar, Mah."

"Bentar, bentar!" Sahut ibunya. "Kalau Mama gak telepon, paling juga pulangnya malam."

"Kan emang biasanya juga gitu, Mah." Sahut Faris enteng.

Di seberang sana, terdengar helaan nafas panjang. "Kamu selalu bikin Mama pusing," keluh ibunya. "Oh iya, Tya masih di alun-alun?"

Faris kembali menyuap ciloknya, lalu menjawab santai. "Udah pulang kali, Mah."

"Ini udah mau magrib. Mama khawatir dia pulang sendirian," ujar ibunya kemudian.

Faris langsung mendengus pelan. "Anak kandung Mama sebenarnya siapa, sih?"

Dhyo, Lex, dan Andre yang masih menikmati cilok spontan menoleh. Ketiganya saling pandang sambil menahan senyum.

"Kamu di alun-alun, kan?" Ujar ibunya tanpa ragu sedikit pun. "Jadi sekalian aja, nanti kamu antar dia pulang. Mama lebih tenang kalau kalian pulangnya bareng."

Mata Faris langsung membulat. "Hah? Enggak, Mah."

"Faris!" Nada suara ibunya terdengar sedikit lebih keras, membuat Faris kembali refleks menjauhkan ponselnya. "Ini udah mau magrib. Antar Tya pulang, jangan bikin Mama khawatir!"

Faris mengacak rambutnya sekilas, "Mau antar pakai apa, Mah? Motor Faris Mama sita."

"Itu urusan kamu," tegas ibunya. "Pokoknya sebelum pulang, cari dan antar Tya sampai rumah!"

Faris menggeleng cepat. "Gak mau, Mah!"

Hening sesaat, lalu suara ibunya kembali terdengar, kali ini dengan nada tenang yang justru berbahaya. "Kalau kamu masih nolak," ujarnya pelan. "Motor kamu Mama jual."

Faris langsung membeku, "Hah?!" Ujarnya spontan. "Mah! Jangan gitu juga, kali!"

Ekspresi santai Faris seketika lenyap, wajahnya berubah panik. Sementara ketiga temannya yang sejak tadi mencuri dengar berusaha menahan tawa mati-matian.

"Mama gak mau tau. Pokoknya cari Tya, antar dia pulang baik-baik. Kalau enggak..." Ibunya berhenti sejenak sebelum kembali berujar. "Besok motor kamu udah gak ada di garasi."

Faris memejamkan mata erat sambil mengusap wajahnya kasar. "Ya udah," gerutunya pasrah, nada suaranya begitu ketus. "Iya!"

"Nah, gitu dong," nada suara ibunya sedikit melunak. "Hati-hati di jalan."

Tuut!

Panggilan pun berakhir. Faris menurunkan ponselnya dengan wajah yang masih dipenuhi kekesalan. Ia menghela nafas kasar, sambil memasukkan ponselnya kembali ke saku celana.

Belum sempat berkata apa-apa, suara tawa langsung meledak dari ketiga sahabatnya.

"Buseett!" Seru Dhyo sambil menepuk meja. "Ketua kita kena ultimatum."

Lex menggeleng pelan, "Luar badboy, dalam anak Mami."

Andre terkekeh pelan. "Dapat perintah negara ya, bro?"

Faris mendelik tajam ke arah mereka bertiga. Tanpa menanggapi ledekan mereka lebih jauh, ia berdiri dari kursinya. Tatapannya langsung mengarah ke Dhyo.

"Dhyo," ujar Faris datar.

"Apa?" Sahut Dhyo, masih tertawa.

"Pinjem motor," ucap Faris singkat dengan nada dingin.

Dhyo kembali terkekeh. Ia merogoh saku celananya, lalu mengeluarkan kunci motor sebelum melemparkannya pelan ke arah Faris. "Nih."

Faris menangkap kunci itu dengan satu tangan. Dhyo menyeringai jahil sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi.

"Emang ya..." Ujar Dhyo dengan gelengan kecil. "Semesta tuh selalu punya cara buat mempertemukan dua insan yang gak bisa akur."

"Iya juga," timpal Lex. "Tadi ribut, sekarang disuruh pulang bareng."

Andre hanya mengangguk setuju. Sementara Faris menatap ketiga sahabatnya dengan tatapan datar. "Bacot!"

Tanpa mengucapkan apapun lagi, Faris langsung membalikkan badan. Jemarinya menggenggam kunci motor pinjaman dari Dhyo. Lalu, ia melangkah meninggalkan gerobak cilok dengan wajah yang masih dipenuhi rasa kesal.

Dhyo, Lex, dan Andre memperhatikan punggung Faris yang semakin menjauh. Sesaat kemudian, Dhyo menyenggol pelan lengan Lex.

"Woi, ikutin kuy!" Seru Dhyo.

Lex langsung menyeringai paham, "Mau nonton episode lanjutan?"

Dhyo mengangguk mantap. "Jelas."

Andre ikut berdiri sambil terkekeh kecil. "Kayaknya bakal seru."

Ketiganya pun bersiap melangkah mengikuti Faris. Namun, baru dua langkah berjalan, Dhyo tiba-tiba berhenti. Ia buru-buru berbalik ke meja, meraih mangkuk ciloknya yang masih tersisa beberapa butir. Ia memasukkan dua butir cilok sekaligus ke dalam mulutnya. Sementara Lex dan Andre sudah melangkah lebih dulu.

"Udah dibayar, sayang," gumam Dhyo pada dirinya sendiri.

Setelahnya, Dhyo mempercepat langkah menyamai langkah keduanya. Langkah mereka semakin cepat, menyusul Faris yang kini sudah berjalan lebih dulu menuju keluar alun-alun.

Sementara itu, Tya masih terus melangkah meninggalkan area alun-alun. Langkahnya justru semakin cepat, seolah setiap hentakan kakinya menjadi pelampiasan rasa kesal yang belum juga reda.

"Anak SMP nyasar," gumam Tya sambil menghembuskan nafas kasar. "Enak banget ngomong! Mentang-mentang badannya tinggi!"

Di belakangnya, Starla dan Megan mulai kewalahan mengejar langkah Tya yang sama sekali tidak melambat.

"Ty... Pelan dikit..." Ucap Megan di sela nafasnya.

"Tya," timpal Starla yang mulai sedikit ngos-ngosan. "Lo jalannya cepet banget."

Namun, Tya sama sekali tidak mengurangi langkahnya. Wajahnya masih ditekuk, sementara bibirnya terus bergerak mengomel sendiri untuk yang kesekian kalinya.

Brumm...

Di tengah langkah mereka, suara deru motor tiba-tiba terdengar dari arah belakang. Awalnya masih terdengar samar, namun semakin lama suara itu semakin mendekat. Beberapa saat kemudian, laju motor itu melambat hingga akhirnya berhenti tepat di belakang Tya.

Refleks, Tya menghentikan langkahnya. Starla dan Megan ikut menoleh bersamaan. Mata mereka langsung membulat ketika melihat sosok yang duduk di atas motor itu.

"Faris?" Gumam Megan pelan.

Di belakang Faris, dua motor lain ikut berhenti beberapa meter dari mereka. Lex dan Andre duduk di atas motornya masing-masing, sementara Dhyo yang dibonceng Andre menyilangkan tangan di dada dengan ekspresi penuh rasa penasaran.

Faris mematikan mesin motor itu. Tatapannya lurus ke arah Tya yang masih memasang wajah masam. "Naik," satu kata datar keluar dari mulutnya.

Tya langsung mendengus, "Ogah!"

Faris memicingkan mata, "Naik!" Kali ini nada suaranya terdengar sedikit lebih tegas.

Tya justru bersedekap dada, "Gue bilang enggak, ya enggak!"

Hening, tak ada satu pun yang berbicara. Starla dan Megan langsung melirik bingung. Sementara GMA terlihat antusias melihat tontonan gratis di depan mereka.

Faris berdecak pelan, lalu menurunkan standar motor hingga kendaraan itu berdiri kokoh. Perlahan, ia melangkah mendekati Tya. Belum sempat Tya kembali membuka mulut untuk kembali membantah, tiba-tiba saja...

"Eh?!"

Tanpa aba-aba, Faris langsung membungkukkan badan, meraih tubuh mungil Tya, lalu mengangkatnya ke pundaknya dengan gerakan yang begitu cepat.

Tya sontak memekik kaget. "WOI, FARIS! APA-APAAN LO?!" Teriaknya panik. "TURUNIN GUEEE!!"

Refleks, kedua tangan Tya langsung memukul-mukul punggung Faris tanpa henti. Setiap pukulan mendarat bertubi-tubi di punggung Faris. Namun, cowok itu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan melepaskannya. Ia tetap melangkah dengan wajah datar, seolah beban di punggungnya hanya sebatas tas sekolah.

"FARIIS!!" Tya semakin memberontak. Kakinya bergerak kesana-kemari, berusaha turun, namun sia-sia. "LEPASIN GUE WOII!"

Starla dan Megan hanya mampu membeku di tempat. Mata keduanya membulat lebar, mulut mereka sama-sama ternganga. Sementara di belakang, anggota GMA justru terlihat heboh.

"ANJIIRRR RIS!" Dhyo langsung berteriak heboh sambil menepuk-nepuk punggung Andre.

"WOOAAHH! BERANI BANGET!" Timpal Lex.

Andre hanya menggeleng sambil tertawa, "Busett! Beneran di angkut cuy!"

Dengan gerakan yang tetap tenang, Faris menghampiri motor, lalu menurunkan Tya begitu saja hingga gadis itu terduduk di atas jok belakang.

Tya langsung mendelik tajam, wajahnya memerah. Entah karena malu atau kesal, atau mungkin keduanya sekaligus. Ia menunjuk tepat ke arah wajah Faris.

"Kesambet apaan lo, hah?!" Hardik Tya. Ia bergidik dramatis sambil mengusap lengannya sendiri. "Ihh... Merinding gue!"

Faris langsung berdecak, "Ck! Kalau bukan Mama yang suruh," balasnya ketus. "Gue juga ogah!"

"Heh! Siapa juga yang minta diantar?!" Tya semakin menatap tajam.

Faris sama sekali tidak menanggapinya lagi. Ia langsung menaiki motor, tanpa menoleh, ia menyalakan mesin. Belum sempat Tya menyelesaikan protesnya, Faris langsung menarik gas tanpa aba-aba. Motor itu melesat meninggalkan teman-teman mereka di belakang.

Karena tidak siap, tubuh Tya spontan terhuyung ke belakang. Refleks, kedua tangannya langsung memeluk pinggang Faris agar tidak terjatuh.

Namun, sesaat kemudian, mata Tya langsung membulat. Ia spontan melepas pegangannya dengan gerakan cepat.

"Ihh!"

Dengan wajah yang masih dipenuhi kekesalan, kedua tangan Tya kembali melayang ke punggung Faris. "PUAS LO?!" Gerutunya sambil terus meluapkan emosinya. "NYEBELIN BANGET SIH JADI ORANG!!"

Faris hanya menghela nafas kasar, "Berisik!"

Motor itu terus melaju meninggalkan alun-alun, diselingi Omelan Tya yang belum juga reda. Sementara tawa Dhyo, Lex, dan Andre masih menggema dari belakang.

^^^Bersambung...^^^

1
xuer jinghao
kak lanjut semangat terus kak 🤭🤭
Enz99
bagus banget
xuer jinghao
dan sehat selalu 💪💪
𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱 𝓻𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲: Terima kasih kak, semoga kakaknya juga sehat selalu😄
total 1 replies
xuer jinghao
kak lanjut semangat terus kak 😍😍
Shintara
Faris : Dari sekian banyak cewek di dunia ini, kenapa harus lo?
Tya : Karena lo gak mampu cari cewek kayak gue 🤣🤣🤣
𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱 𝓻𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲: Hehehe bener banget kak🤭
total 1 replies
Shintara
❤️❤️❤️
Shintara
lanjut kak..
jangan lupa mampir juga ya. ❤️
𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱 𝓻𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲: Siap kak, terima kasih sudah mampir 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!