Pernikahan sebuah komitmen yang panjang, istri cantik, pekerja keras, mapan, tetaplah dicari kurangnya. Suami yang tidak bersyukur tidak akan pernah merasa cukup sebaik apapun pasangannya.
***
Kania kehilangan rumah tangga bahagia yang dia bina selama 10 tahun, dia kalah, tersingkirkan bahkan dikhianati karena satu kekurangannya yang belum bisa memberikan keturunan.
Kekurangan itu menjadi alasan untuk membela dirinya saat dia sudah terdesak dari segala arah.
Ditengah badai, sepi, dan sakit, Kania bertemu malaikat cantik yang mandiri, kuat juga selalu memberikan kenyamanan. Pertemuan dengan Alia, alasan utama Nia jika dirinya juga istimewa dan pantas untuk punya kebebasan.
Lanjut baca ya kita lihat penyesalan Amer, kehancuran pelakor, dan jalan baru yang Nia lewati.
***
follow Ig vhiaazaira
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vhia azaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DILAPORKAN
Laju mobil pelan, Nia sesekali menoleh ke belakang melihat Alia yang tidur pulas.
"Kamu tidur saja," tegurnya pelan.
"Kamu dokter yang hebat, tapi kamu tidak sepenuhnya jadi ayah yang hebat." Nia menoleh sekilas.
El paham, dia sudah berusaha. Apa yang Elber lakukan demi masa depan Lia. Kerja tanpa kenal waktu dan lelah, demi anaknya.
"Kalau kamu sakit, siapa yang jagain, apa Lia juga? apa kamu tidak berpikir Lia belum waktunya dewasa, tapi dia dipaksa dewasa untuk mengerti keadaan Ayahnya. Bekerja itu boleh Elber, kerja keras harus, tapi utamakan dulu dirimu agar kamu bisa menjaga buah hati," ucapnya penuh ketulusan.
El terdiam, ucapan Nia tidak ada yang salah. Elber terlalu keras kepada dirinya, tidak pernah bertanya pendapat putrinya.
"Terimakasih sudah mengantar, aku masuk. Oh iya soal Amer, maaf."
"Jangan pedulikan itu, aku tidak ingin tahu masalah rumah tangga kalian, tapi berkeluh padaku jika butuh." Senyuman tulus terlihat.
Nia juga tersenyum, dia bergegas masuk. Elber begegas pulang ke rumahnya.
Alia sudah pindah ke kamar, dia tidur nyenyak karena kelelahan. Hatinya juga bahagia merasakan moment keluarga utuh.
Alarm terdengar, Alia mengerutkan keningnya karena bunyi yang terdengar pengganggu.
"Kenapa kamu selalu berbunyi saat aku mimpi indah, heran." Mata Alia melotot.
Terpaksa dia bangun karena tidak ada baby sitter yang membantunya.
"Bangun pagi, langsung mandi, tidak lupa gosok gigi. Lanjut lagi, rapikan tempat tidur. Sisir-sisir rambut, bawa rasa sekolah." Alia bernyanyi kecil mencoba menghibur dirinya.
Rumah dua lantai yang ditempatinya terlalu besar untuk dirinya yang sekecil upil.
"Aku harus buru-buru ke tempat ibu, pasti sudah menunggu buat sarapan." Alia terburu-buru keluar kamar.
"Good morning Sayang, Ayah antar sekolah."
"Tumben sudah bangun," tegurnya.
Senyuman Elber terlihat, dia akan selalu menyempatkan waktu mengantar Alia sekolah, dan menemaninya tidur.
"Yah, kita sarapan apa?"
"Hah, beli di depan. Ayah tidak punya waktu." El repot mencari celana panjang.
Kepala Alia geleng-geleng, dia jalan lebih dulu. Melihat ayahnya kerepotan menambah pusing kepala.
"Ke mana Lia, bukannya ini terlalu pagi untuk pergi?"
"Sarapan rumah Bu Dokter," jawabnya.
Pagi-pagi gerbang rumah Nia sudah terbuka, dia sengaja menunggu Alia datang.
"Lia, ini sedikit terlambat. Apa kamu telat bangun?"
"Kata ayah ini masih kepagian." Lia berjalan masuk meletakkan tas sekolahnya.
Tawa kecil Nia terdengar, dia meminta Alia segera duduk untuk sarapan.
"Apa ini Bu?"
"Nasi goreng ayam kipas, ini enak sekali."
Bau wangi ayam tercium, suara perut Lia juga terdengar langsung memberontak.
Tas sekolah diperiksa, Nia mengecek pensil, buku agar Lia bisa belajar dengan baik.
"Bu, boleh Lia ambil ayam dua?"
"Boleh dong, makan yang banyak."
Bekal makan siang juga disiapkan, Nia memberikan minuman juga susu.
"Lia, Ibu letakkan makan siang disini, harus dihabiskan bersama buahnya. Kamu makan dulu baru jajan, ini ada uang untuk tabungan. Ingat, bekas bekal dibawa lagi," jelasnya.
"Iya ibu, makasih. Lia lauk apa makan siang?"
"Ada nasi, sayur, daging, dan telur."
"Lia tidak suka sayur."
Kania cemberut, harus wajib makan sayur agar pencernaan baik. Apapun yang di makan harus seimbang.
"Bu, hari ini ada keajaiban. Ayah bangun pagi," ucapnya.
Tawa Kania terdengar, Lia juga tertawa. Ayahnya memang aneh, dan tidak punya waktu membuatkan sarapan.
"Alia, ayah antar sekolah sekarang," panggilnya.
"Bu, Lia pergi dulu." Alia bergegas bangkit mengambil tas dan bekas makan siangnya.
Hembusan napas Elber terdengar, dia merasa malu kepada Nia karena Putrinya numpang makan.
"Bu, Lia pergi dulu."
"Tunggu, ini buat sarapan." Nia membungkuskan untuk Elber.
Senyuman Lia terlihat, ayahnya tidak perlu malu karena masakan ibu dokter tidak diragukan.
Makanan diambil, El tidak tahu harus mengatakan apa karena anaknya sudah menyusahkan dan ditambah dirinya.
"Terima kasih Nia, aku akan menghabiskan."
"Iya, hati-hati di jalan." Nia tersenyum melihat Alia nampak bahagia bisa pergi sekolah diantar ayahnya.
Belum sempat Elber masuk mobil, seseorang sudah menahannya.
"Kamu tahu tidak dia sudah bersuami?"
"Tentu," balas Elber.
"Apa kamu punya otak, mendekati istri orang melalui perantara anak. Aku bisa melaporkan kamu," ancam Amer.
Gerbang rumah ditutup, Elber menoleh sekilas merasa lega Nia tidak melihat karena sudah masuk rumah lebih dulu.
"Apa karena dia kaya, kamu sengaja mendekatinya. Aku tidak akan tinggal diam." Kerah baju El ditarik.
"Kamu sendiri yang membuat berantakan rumah tangga kalian, kenapa berlagak seperti aku perusak nya?"
"Hubungan aku dan Nia baik-baik saja," bentaknya.
"Baik setelah perselingkuhan, itu yang dibilang baik." El menepis tangan Amer.
Seharusnya Amer yang menggunakan otak, dia tahu jika salah. Pernikahan dengan Lita tidak resmi dan dia bisa disebut melakukan penipuan pernikahan.
"Percepat perceraian, aku siap menggantikan posisi kamu," bisiknya.
Pukulan Amer kuat, El memukul balik. Keduanya saling tatap, Amer mengusap darah dari hidungnya.
Alia melihat kejadian, dia hanya diam saja karena pernah melihat ayahnya diselingkuhi, dan ibunya melakukan pemukulan.
"Sayang, maafkan ayah."
"Tidak apa ayah, bagus. Ayah jangan diam saja jika disakiti, kalau dipukul balas, oke." Lia mengusap wajah ayahnya yang ada bekas merah.
Senyuman Elber terlihat, dia merasa gelisah meninggalkan Nia. Takut terjadi hal buruk.
"Yah, ibu dokter bukan perempuan lemah, jangan khawatirkan dia." Lia meminta segera diantar sekolah.
Pintu digedor kuat, Nia yang ingin pergi kerja bergegas membukanya.
"Bagus kamu ya, memberikan makan laki-laki lain. Sekarang sudah bisa macam-macam." Lengan Nia dicengkeram kuat.
"Lepaskan aku," bentaknya.
Tubuh Nia dilempar sampai jatuh ke lantai, Amer teriak kencang. Dia menyebut Nia nampak murah sehingga membawa lelaki lain.
"Kania, aku yang selalu bersama kamu, aku yang selalu mensupport kamu. Kenapa sekarang kita nampak asing." Pergelangan tangan dicengkeram kuat.
Kali ini Nia hanya diam saja, tidak ada perlawanan sama sekali.
Sekarang dia melihat wajah asli Amer, lelaki yang dulunya lembut aslinya bermasalah.
"Nia sayang, dengarkan aku. Kamu itu milikku, jadi jangan bertingkah." Wajah ditepuk pelan.
Panggilan masuk, Amer mencaci maki Lita karena baru ditinggal sebentar saja sudah mengeluh.
"Gunanya kamu itu apa, jaga Dwi jika tidak kamu yang aku buang," ancamnya.
Nia mengambil tas, dia tidak menggubris apapun yang Amer katakan.
"Mau ke mana?"
"Kerja, aku tidak punya waktu berdebat." Nia langsung keluar rumah menuju mobil yang lain.
"Mana mobil satunya, apa kamu berikan kepada lelaki itu?"
Mobil melaju pergi, Nia mengecek kondisi tubuhnya. Langsung ke rumah sakit untuk visum, dan melaporkan Amer ke polisi.
"Kamu pikir aku terima dicengkeram begini, tidak." Nia melotot tajam.
***
Follow Ig vhiaazaira
kapan mau dianjut pasti othornya males nulis karna gak ada yg komentar menyemangati padahal ceritanya bagus
peperangan baru mau dimulai.. si amer bakalan shock kalau lihat kalian nikah
segera otw dpat SIM
weeeh mau malemingguan ber 2
ayoo kak vhia lanjutin dong