YANG SUKA ROMCOM... MERAPAT SINI✨
PLAGIAT, BISULAN SEUMUR HIDUP YA ! 👊🏻
Restu Anggoro Wicaksono selalu menjadi bahan tertawaan ketiga sahabatnya lantaran di usianya yang hampir tiga puluh tahun, pria itu belum pernah menyentuh seorang wanita.
Jangankan menyentuh, menjalin hubungan asmara saja Restu belum pernah.
Karena itulah, ia mendapat julukan si pria beku tak tersentuh.
Sampai suatu malam, ketiga sahabatnya menyusun rencana gila. Mereka kesal melihat hidup Restu yang terlalu flat.
Akhirnya, mereka bertiga nekat mengirim Restu ke kamar VIP di sebuah klub malam.
Malam itu seharusnya hanya menjadi kenangan singkat Restu bertemu wanita sewaan ketiga sahabatnya. Tapi anehnya, wanita itu justru terus memenuhi pikirannya.
Sayangnya, wanita itu tiba-tiba menghilang tanpa jejak.
Sementara Restu terjebak dalam pencarian panjang di tengah tekanan keluarga yang terus menuntutnya untuk segera menikah.
Apakah Restu bisa menemukan wanita malam itu kembali? Yuk, ikuti terus kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aquarius97, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 CMDWM
Nyonya Emma memalingkan wajahnya sambil menyilangkan tangan di dada, berusaha meredam emosi yang sejak tadi menumpuk.
"Baiklah, jika itu yang mama mau..." jawab Restu menantang ibunya, lalu meninggalkan ibu dan neneknya begitu saja.
Sebenarnya, ucapan itu hanyalah gertakan. Lebih tepatnya, itu merupakan luapan rasa kesal dan tekanan yang selama ini dipendam Nyonya Emma sendirian. Karena setiap kali arisan atau pertemuan keluarga, pertanyaan yang sama selalu datang padanya. Kapan puteranya akan menikah?
Lama-kelamaan, hal itu membuatnya risih dan tertekan sebagai seorang ibu.
**
Ada sedikit ketar-ketir di hati Nyonya Emma saat melihat Restu mengiyakan tanpa banyak perlawanan. Namun, logikanya segera kembali berjalan. Ia yakin, Restu tidak akan benar-benar meninggalkan Surabaya. Ada sesuatu yang mengikat anaknya di kota ini, meski ia sendiri tidak pernah tahu apa alasannya.
Hal itu sering membuatnya bingung. Sehari-hari, kegiatan Restu hanya berkutat pada urusan perusahaan keluarga. Di luar itu, ia lebih sering menghabiskan waktu sendiri, jarang pulang ke rumah, dan memilih tinggal di apartemennya.
Yang paling membuatnya heran bukanlah kesibukan itu, melainkan perubahan yang terjadi beberapa tahun terakhir.
Dulu, Restu masih sering bepergian untuk urusan bisnis, baik antar kota maupun ke luar negeri. Setidaknya satu atau dua kali dalam setahun, ia pasti melakukan perjalanan bisnis.
Namun dalam lima tahun terakhir, kebiasaan itu perlahan berhenti. Seolah ada sesuatu yang membuatnya enggan untuk meninggalkan Surabaya. Semua itu semakin menimbulkan tanda tanya besar di benaknya. Apa sebenarnya yang disembunyikan oleh putranya?
"Restu, kamu mau kemana! Mama belum selesai bicara!" teriak Nyonya Emma, melihat Restu yang sudah berjalan menaiki tangga.
Restu tak menghiraukan, ia melanjutkan langkahnya. Tidak ingin terpancing dan tersulut emosi.
Sebab ia tahu, sekali saja ia terpancing, kata-kata yang keluar bisa melukai hati orang-orang yang paling ia sayangi.
"Sudah, biarkan dia sendiri dulu!" sergah Oma Dania, nenek Restu.
Restu masuk ke dalam kamar dan menutup pintu rapat-rapat, lalu menjatuhkan tubuhnya ke ranjang. Ia menatap kosong ke langit-langit, mencoba menenangkan diri, tapi justru ancaman sang ibu terus berputar di kepalanya.
Bagaimana mungkin ia bisa meninggalkan kota ini? Selama hampir lima tahun, hatinya terikat pada satu nama, Azalea.
Ya, Restu masih menunggu kabar tentang keberadaannya. Wanita malam yang hanya hadir sebentar, tapi mampu meninggalkan kesan yang begitu dalam di hatinya.
"Apa kesalahan fatal yang kamu lakukan, Lea… sampai Madam mengusirmu?" gumamnya, penuh tanda tanya.
Restu di buat begitu frustasi, ia sama sekali tidak berniat bertunangan dengan Ayu maupun Clarissa. Di tambah lagi, tiba-tiba bayangan Nadine muncul.
Restu berpikir, bagaimana jika wanita licik itu benar-benar menemui keluarganya? Bisa-bisa Restu dipaksa menikah, dan harapan bertemu Azalea pupus selamanya.
"Arghhhhhhh!" Restu menjerit, kedua tangannya menangkup kepala. "Azalea, kamu dimana?! Ya Allah...tolong pertemukan aku dengannya sekali saja!" Suaranya pecah memenuhi kamar.
***
Malam harinya, setelah selesai makan malam, Tuan Ardhan meminta Restu menemui nya di ruang kerja. Beliau meminta Restu untuk ke Jakarta sementara waktu, menangani masalah di cabang perusahaannya.
"Res, Papa minta tolong, pergilah ke Jakarta untuk sementara waktu!"
Restu melirik papanya tajam. "Kenapa papa jadi ikut-ikutan mama sih? Kenapa harus maksa Restu dengan cara seperti ini?!"
Tuan Ardhan tertegun, keningnya berkerut. "Apa maksud kamu ikut-ikutan Mama? Papa tidak mengerti."
"Papa sengaja, kan? Minta aku pergi dari sini, supaya aku mau bertunangan dengan Ayu atau Clarissa? Karena papa tahu, Restu nggak akan mau meninggalkan Surabaya!"
Tuan Ardhan terdiam sejenak, lalu menghela napas panjang. "Astaga... kamu suudzon sama papa, Nak."
"Papa meminta kamu ke Jakarta itu sungguh-sungguh, bukan untuk menggertak. Cabang perusahaan kita di Jakarta sedang kacau. Setahun terakhir, omzet merosot tajam. Papa yakin ada yang tidak beres disana. Itu sebabnya papa ingin kamu yang turun tangan langsung."
Restu mencondongkan tubuhnya, lalu menatap intens ke arah Papanya. "Jadi bukan karena papa ingin Restu segera bertunangan?"
Tuan Ardhan menggeleng.
Restu menarik napas panjang, kepalanya dimundurkan lagi sambil berhembus lega. "Ah... maafkan Restu, Pa."
"Memang Mama nyuruh kamu minggat dari sini?"
"Iya," Restu mengangguk. "Mama gertak Restu. Kalau Restu tidak mau bertunangan, Restu disuruh pergi!"
Tuan Ardhan terkekeh, "Kerjain balik saja, pasti dia bakalan nangis-nangis!"
"Tapi....Pa..." Restu terlihat ragu.
"Papa mohon, Res. Kali ini saja. Setelah urusan di Jakarta selesai, kamu bisa segera kembali ke sini." Ia menjeda sejenak, lalu menatap putranya lebih dalam. "Papa tahu kok alasan kamu enggan pergi jauh selama ini..."
"Hah? Papa tahu......?!" Jantung Restu berdegup resah.
"Ya, Papa tahu..." Tuan Ardhan mengangguk pelan. "Kamu selama ini sibuk dengan perusahaan game yang kamu dirikan diam-diam, kan? Karena itu kamu tidak bisa ke mana-mana selama lima tahun terakhir ini."
Restu mendengus, kembali menyandarkan punggungnya ke kursi.
Dalam hatinya ia bernapas lega. "Ck..Kirain Papa tahu soal Azalea... ternyata cuma soal perusahaan game."
Tuan Ardhan tersenyum tipis. "Papa bangga sama kamu, Nak. Tapi kali ini, tolong Papa ya!"
Restu terdiam lama, lalu akhirnya mengangguk kecil. "Baiklah...Restu akan menangani masalah disana."
Tuan Ardhan mengembangkan senyumnya. "Terimakasih, Nak. Segeralah berangkat ke sana, sebelum masalah makin runyam."
...🕊️🕊️🕊️...
Keesokan harinya, ketika koper sudah tertata rapi dan Restu bersiap menuju bandara, ponselnya berdering. Asistennya, Rangga Pradipta, menelepon dengan suara tergesa.
"Tuan, Nona Nadine ingin bertemu. Katanya ada hal penting yang harus disampaikan."
Restu mendengus. Kemarin ia memang meninggalkan kartu nama Rangga pada Nadine. Ia sengaja, karena tidak mau berurusan secara langsung dengan Nadine. Akhirnya, di sinilah mereka sekarang, di sebuah restoran elegan milik keluarga Wicaksono.
Restu yang datang bersama Rangga, langsung menuju meja di mana Nadine sudah menunggu.
Tanpa basa-basi, setelah duduk ia menatap lurus ke arah Nadine. "Jadi, apa keputusanmu, Nona Nadine?" suaranya dingin. "Langsung saja, jangan bertele-tele. Aku tidak punya banyak waktu."
Nadine mendengus pelan. Cih, sombong! batinnya.
"Baiklah." Nadine menegakkan tubuhnya. "Setelah kupikir-pikir, daripada aku menikah denganmu lalu hidupku berubah seperti di neraka, aku lebih memilih menerima kompensasi darimu."
Restu menyeringai sinis, ia sudah menduga ujungnya akan ke sana. "Baiklah. Katakan, berapa yang kau minta?"
"Seratus miliar. Apa kau sanggup? Itu sudah sepadan dengan kesucian ku yang kau renggut!" ucapnya sarkas.
Mata Rangga hampir meloncat keluar. Ia melotot ke arah Nadine, "Enteng banget mulutnya. Minta seratus Milyar udah kek seratus ribu aja. Dasar perempuan gila!" batinnya.
Namun tak disangka, Restu hanya mengangguk tenang. "Baiklah. Tapi ada syaratnya. Setelah ini, kau tidak boleh mengusik hidupku lagi. Sampai kapanpun!"
Wajah Nadine berubah sumringah. Ia tak menyangka Restu akan semudah itu mengabulkan permintaannya. "Baiklah, aku paham!" Angguknya.
"Rangga, buatkan perjanjiannya. Setelah dia tanda tangan, baru kirimkan uangnya," titah Restu tegas.
"Baik, Bos!"
Restu kemudian berdiri, merapikan jasnya, dan melangkah pergi meninggalkan Nadine tanpa basa-basi.
...ΩΩΩΩΩΩΩ...
Apaahhhh ????? kesucian Nadine di hargain 100 milyarrr ??? 😵
oh ah oh eh oh uh...
apa oma kecewa Restu gk nikah2, hehe...
entah apa yg terjadi sama Oma, malah jadi akting jadi nenek pikun 😭
gk mau kalah sama Angga
astagaa... bestiemu msh setia bngt Res smpe inget sama gadis yg bikin kamu gk bisa mupon...
jika buru2 tanpa mengenal baik pasangan yang ada hanya menimbulkan ketidakbahagiaan dalam rumah tangga