#Terkadang yang kita anggap obat ternyata adalah luka terhebat#
Novel ini menceritakan seorang laki laki yang bernama Raka Pratama. Raka pernah berpacaran dengan seseorang 5 tahun. Tetapi Ia menjalin hubungan dengan perempuan yang Pondasi hidup nya berbeda. Sehingga Membuat kedua orang tuanya tidak merestui hubungan mereka. Dan akhirnya, Ia memilih menyerah.
Luka di hati Raka yang masih basah tersebut , Ia malah bertemu dengan perempuan yang sedang patah hati. mengapa begitu? Rara baru saja mendapatkan kabar bahwa kekasihnya itu dijodohkan dengan perempuan lain. Padahal mereka berdua sudah memikirkan untuk lanjut kejenjang lebih serius.
Dua orang yang sudah patah, bertemu dalam keadaan rapuh. Tanpa sadar mereka saling menjadi sandaran. Bagaimana mereka mengatasi perbedaan dan tekanan dari orang sekitar? Apakah mereka bisa saling menyembuhkan atau justru saling melukai atau bahkan orang yang mereka temui adalah " Jodoh Orang lain "?
Bagaimana kelanjutan ceritanya? Ikutin terus yaaaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elga Rista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan dan Pertanyaan
Seseorang melangkah masuk.
Raka mengangkat kepala, dan matanya langsung tertuju pada seseorang yang baru datang.
Seseorang berdiri di ambang pintu. .
“Mas Raka, ada tamu,” ujar asistennya dari luar.
“Siapa?” tanya Raka, agak bingung
Raka mengernyit,
“Suruh masuk,” ucapnya.
Dan sang asisten pun bergeser posisi agar tamu nya kelihatan dipandang an sang bos besar tersebut.
Seseorang yang sama sekali tidak Raka sangka akan muncul hari ini.
Dan ternyata yang datang adalah Reyhan sahabat Raka. Dan sang asisten pun pamit undur diri, meninggalkan ruangan tersebut .
“Gue ke sini karena ada yang kelihatan lagi kesepian,” suara itu terdengar dari pintu ruangan kantor Raka, diiringi langkah santai dan senyum percaya diri yang khas. Dan jangan salah lagi Reyhan adalah type orang yang peka dengan keadaan sekitar
Raka yang sedang duduk di balik meja kerjanya mendongak pelan. “Reyhan…” gumamnya, tidak tahu harus senang atau kesal.
Reyhan melangkah masuk tanpa diundang, langsung duduk di kursi tamu tanpa basa-basi. Ia menjatuhkan tubuhnya dengan gaya santai, menyilangkan kaki, lalu menatap Raka dengan sorot mata penuh rasa ingin tahu.
“Gimana hidup lo? Kenapa gue lihat lo kayak orang yang abis kehilangan arah?”
Raka hanya menatap kosong layar komputer di depannya, lalu mengalihkan pandangannya ke jendela. “Lo dateng nggak sopan banget,” ujarnya pelan, tapi tak ada nada marah marah disana dia hanya lelah
Reyhan tertawa kecil. “Kalau lo baik-baik aja, gue gak perlu datang sok jadi superhero gini.”
Raka menghela napas panjang, lalu mengambil ponselnya. Jemarinya dengan cepat mengetikkan pesan ke Kristiana—lagi. Namun, seperti sebelumnya, tidak ada tanda-tanda balasan.
Reyhan memandang Raka dengan penuh tanda tanya
"Kenapa lu," tanya Reyhan heran
Dan ngga ada balasan dari Raka
" Berantem sama Kristi?," lanjut Reyhan
“Iya,” jawab Raka singkat.
"Masalah apalagi?" tanya Reyhan
"Seperti biasa," jawab Raka dengan menghelakan nafas panjang
Reyhan mengangguk pelan, matanya menyipit. “Lo serius sama dia?”
Pertanyaan itu membuat Raka terdiam. Lama. Lalu, akhirnya ia bicara, “Sebenarnya gue sedikit ragu tapi, Gue… masih berusaha.”
“Berusaha karena cinta, atau karena tanggung jawab?” tanya Reyhan tajam.
Raka terdiam lagi. Pandangannya jatuh ke meja. Reyhan memang tahu caranya membuat seseorang membuka luka yang disimpan rapat.
“Masalahnya bukan cuma soal perasaan, Rey. Lo tahu dia beda keyakinan sama gue. Dan dia... mulai nuntut kepastian.”
Reyhan bersandar ke kursinya. “Terus lo jawab apa?”
“Gue gak bisa jawab. Jujur, gue juga takut. Takut salah langkah. Gue sayang sama dia, tapi gue gak mau hidup saling paksa.”
Reyhan mengangguk, lalu bertanya pelan, “Ada kejadian apa baru-baru ini?”
Raka menatap ke luar jendela sebentar, sebelum akhirnya mulai bercerita.
“Dua malam lalu, dia minta gue anterin pulang dari acara kantor. Di mobil, dia nanya, ‘Raka, lo pernah bayangin kita nikah gak?’ Gue diem. Terus dia nanya lagi, ‘Kalau kita gak seiman, menurut lo masih bisa jalan gak hubungan ini?’”
“Dan lo jawab apa?” potong Reyhan.
“Gue bilang… gue masih butuh waktu. Tapi dia cuma senyum, lalu bilang, ‘Waktu lo kayaknya gak pernah cukup buat aku.’”
Hening.
Reyhan menyentuh dagunya, berpikir sejenak. “Lo gak salah, Rak. Tapi Kristiana juga gak salah. Dia perempuan. Dia butuh kejelasan dan kepastian. Dan mungkin buat dia, kejelasan itu bukan sekadar kata-kata. Tapi keberanian buat ambil sikap.”
Raka menunduk, menatap tangan sendiri yang saling mengunci. “Tapi kalau gue pilih dia, berarti gue harus kehilangan sesuatu yang udah jadi bagian dari hidup gue sejak kecil.”
“Iman?” tanya Reyhan perlahan.
Raka mengangguk, pelan dan berat.
“Ya udah, berarti pilihan lo tinggal dua: pertahankan yang udah lo yakini, atau berani ubah semuanya demi orang yang lo cintai,” ucap Reyhan bijak. “Tapi inget, Rak… hidup dengan penyesalan itu lebih menyakitkan daripada hidup dengan kehilangan.”
Raka hanya menatap kosong. Terlalu banyak hal berputar di pikirannya.
**
Sementara itu, di sebuah ruangan guru yang sepi, Rara duduk di kursinya sambil menatap layar ponsel.
Aplikasi pelacak nomor yang baru saja ia unduh menampilkan layar putih dengan tulisan:
“Nomor tidak ditemukan atau tidak terdaftar.”
Rara menggigit bibir bawahnya, lalu mengulang pengecekan. Hasilnya tetap sama. Tidak ada nama, tidak ada foto, tidak ada catatan panggilan publik.
Seolah-olah nomor itu hanya muncul untuk satu tujuan mengganggu pikirannya.
“Siapa sih kamu sebenarnya?” gumam Rara lirih.
Ia menatap layar ponselnya lama, seakan berharap akan muncul jawaban tiba-tiba. Tapi tak ada. Hanya sunyi.
Beberapa menit berlalu, hingga ponselnya kembali bergetar.
Nomor Tak Dikenal
Pesan singkat masuk:
“Aku ingin bertemu. Hari ini, di taman dekat sekolahmu. Jam empat.”
Rara menatap pesan itu dengan mata membulat. Jantungnya berdetak lebih cepat.
Tangannya refleks meraih tas, ingin buru-buru keluar. Tapi langkahnya terhenti di ambang pintu ruang guru. Ia kembali menatap ponsel.
“Gila… ini bisa aja jebakan.”
Ia terdiam. Lalu mengingat pesan Nayla Kalau pesan aneh itu muncul lagi, bilang sama aku.
Namun ia tidak langsung menghubungi Nayla. Ia hanya berdiri di tempatnya, pikirannya berkecamuk.
Tangan Rara bahkan sempat mengetik balasan: Siapa kamu? Kenapa ngajak ketemu?
Tapi belum sempat dikirim, ia hapus lagi.
Rara menunduk. Ia merasa seperti masuk dalam skenario drama yang absurd. Di satu sisi, ia ingin tahu. Tapi di sisi lain, rasa takut dan waspada jauh lebih besar.
Akhirnya, ia hanya mendesah panjang, lalu mengetik satu pesan baru bukan untuk pengirim misterius itu, tapi untuk Nayla.
"Nay… nomor itu ngirim pesan lagi. Ngajak ketemu. Tapi aku takut ini jebakan."
Beberapa detik kemudian, balasan datang.
"Jangan dateng! Apapun yang terjadi, jangan dateng sendirian. Mending cari cara lain buat tahu siapa dia."
Rara mengetik balasan pelan.
"Aku juga mikir gitu. Tapi entah kenapa, hatiku gak tenang."
**
Di kantor, Raka masih termenung di kursinya. Reyhan sudah berdiri, hendak pamit.
“Lo harus mulai nanya ke hati lo, Rak. Bukan cuma soal dia. Tapi soal lo sendiri. Apa yang lo sanggup korbankan?”
Raka mengangguk pelan. “Thanks, Han…”
Reyhan menepuk bahu sahabatnya, lalu melangkah pergi dengan ringan.
Dan Raka kembali memandangi layar ponselnya.
Tak ada pesan masuk.
Hanya sunyi.
Sama seperti hatinya.
**
Sore hari…
Rara akhirnya pulang. Ia menaiki motornya, melintasi jalan-jalan kota yang mulai padat.
Sampai di sebuah lampu merah, pandangannya tertuju ke sebuah toko perhiasan di seberang jalan.
Dan di sana… ia melihat sosok yang membuat napasnya tercekat.
(BERSAMBUNG.....)
Siapakah dia? Penasaran yaa...
*************************************************
Jangan lupa beri komentar, saran, dan like
Karena dukungan kalian merupakan semangat untuk author membuat cerita. Terima Kasih sudah membacanya❤️
Maaf kalau menurut kakak alurnya terasa terlalu berliku. Aku memang mencoba membuat cerita dengan beberapa konflik dan kejutan supaya perjalanan para tokohnya lebih terasa ✨
Tapi aku tetap menerima kritik dan sarannya. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca ceritaku 🤍