NovelToon NovelToon
Karena Malam

Karena Malam

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintapertama / Nikahmuda / Tamat
Popularitas:6.4M
Nilai: 4.9
Nama Author: Adalynn

Baru beberapa jam menginjakkan kaki di kota kelahirannya, Sienna sudah harus menerima perlakuan tidak mengenakkan dari orang yang dicintainya.

Malam itu jadi malam yang panjang dan tak terlupakan baginya, juga bagi Akshan yang merupakan kakak dari sahabat baiknya.

Gadis itu pun menghilang bagai ditelan bumi. Hingga suatu malam pula, Akshan menemukannya dalam keadaan sangat berbeda. Dan oh, siapa lelaki dan 2 anak itu?


Mohon dukungannya, ini karya pertamaku. Kritik dan saran yang membangun terbuka lebar di kolom komentar. Selamat membaca!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adalynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10

...Hari Pernikahan...

Setelah kepergian Raisa yang terburu-buru, aku hanya terdiam dan makin meratapi hidupku. Kak Akshan menikah, hari ini?! Aku harus bagaimana? Haruskah aku menggagalkan pernikahannya dan meminta ia untuk bertanggungjawab atas anak yang ada dalam kandunganku?

Tapi.. akan betapa memalukannya hal itu, mengingat om Daniel dan tante Billa yang selalu baik padaku, tega kah aku membuat reputasi mereka hancur karena ulah kami? Tidak, aku tak bisa! Lantas aku harus bagaimana?

Kalau aku terus berada di sini, lambat laun mereka semua pasti akan mengetahui keadaanku. Tapi bagaimanapun juga kan anak ini mengalir darah keluarga Albrecht. Tapi tunggu, aku sendiri juga belum memastikan aku benar-benar hamil atau tidak kan(?).

Maka ku putuskan untuk mengunjungi dokter obgyn, aku harus memastikannya sendiri. Karena pada saat aku dirawat di rumah sakit kemarin kan aku hanya mendengar diagnosa saja, untuk buktinya aku tak lihat sendiri. Dan ya, aku sudah mendaftar dan sekarang sedang menunggu antrean.

"Nyonya Sienna.." terasa seperti menggelitik saat aku mendengar perawat memanggilku dengan sebutan nyonya. Aneh sekali, ini pertama kalinya aku dipanggil dengan sebutan seperti itu. Nyonya? Menikah saja belum, nyonya dari siapa?

*T-taapiiii.. maaf ya, Si, ya.. kemungkinan lo hamil beneran udah di depan mata.

Ku masuki sebuah ruangan yang terlihat rapi, putih bersih dengan berbagai macam peralatan. Aku tidur di sebuah matras berranjang besi yang diperuntukkan sebagai tempat pemeriksaan atas perintah dokter, dengan perawatnya yang membantu. Setelah berbincang ringan, dokter wanita itu memulai pemeriksaannya.

Ku lihat sebuah layar yang berwarna hitam, putih dan abu-abu, membiaskan gambar isi dari perutku, tepatnya rahimku. Dokter itu pun mulai menjelaskannya. Aku tertegun, fokus pada layar dan sedetik kemudian setetes air jatuh dari sudut mataku.

Wanita paruh baya yang menyandang status sebagai dokter senior di rumah sakit itu ikut merasakan haru. Mungkin dia pikir karena aku bahagia. Ya, aku memang bahagia, dapat melihat dan mengetahui bahwa janin yang ada dalam kandunganku berkembang dengan begitu baik di sana, syukurlah. Walau ada hal lainnya juga yang membuatku merasa teriris, makanya sampai menangis.

Dokter itu memberikan pengarahan mengenai apa saja yang harus dan tidak baik untuk dilakukan oleh wanita hamil, makanan yang bergizi dan yang harus dihindari, hingga menyarankan untuk melakukan senam kehamilan dan lain-lain. Ia pun meresepkan beberapa vitamin yang harus aku konsumsi selama masa kehamilan. Ia begitu ramah, pantas saja resepsionis tadi menyarankan agar aku periksa ke dokter kandungan ini, dokter Tina namanya, mungkin ia seumuran dengan ibuku, begitu mengayomi dan penuh kasih.

Terakhir, dia memberikanku hasil pemeriksaan dan foto USG (ultrasonografi) kondisi rahimku, tidak, tepatnya gambar si kecil yang bahkan belum berbentuk sempurna. Kemudian aku lanjut ke apotek untuk menebus vitamin sesuai resep.

"Ini vitaminnya bu, yang ini diminum satu kali sehari dan yang ini dua kali sehari, keduanya diminum setelah makan ya bu, dan obat yang satu ini untuk menahan mual, diminum jika ibu merasa mual dan bila terjadi morning sickness saja." penjelasan dari apoteker. Aku mengangguk dan tersenyum.

"Baik, terimakasih."

Di perjalanan pulang, taksi yang ku tumpangi terjebak macet. Terlihat sebuah gedung hotel yang dipenuhi dengan papan ucapan selamat dan kerumunan orang yang dapat ku pastikan bahwa mereka adalah para pencari berita. Terlihat juga beberapa reporter itu sampai duduk di pinggiran jalan.

Banyak juga mobil yang berada di pinggiran jalan, bukan parkir, mungkin mengantri untuk masuk. Mobil-mobil yang lewat juga mungkin melambatkan laju mereka karena penasaran dengan apa yang terjadi di dalam sana, sehingga terjadi lah kemacetan seperti ini.

Aku malas melihat jalan yang penuh dengan kendaraan karena ingin segera sampai, jadi ku alihkan saja pandanganku bermain game di ponsel pintarku agar perjalananku tak terlalu berasa lama. Pada saat taksiku telah berhasil lewat di depan gedung itu..

"Oh artis toh yang nikahan, pantes macet, tamunya pasti banyak."

"Siapa emang pak?" Tanyaku masih dengan fokusku pada game yang ku mainkan.

"Itu loh neng, yang artis Indo tuh.. siapa ya namanya? Duh, lupa bapak neng.." Pria paruh baya itu menggaruk-garuk kepalanya.

"Oh iyaaahh, itu si Akshan neng, nama cowoknya Akshan. Nikah sama model, namanya Rana apa Rina, gitu.. Tadi istri saya juga gosipin itu sama tetangga."

"Oooh.." aku hanya mengangguk-anggukan kepalaku sambil terus memainkan handphone. Aku hanya tak ingin menangis, aku tak boleh lemah.

"Pak, bisa gak anter saya ke rumah, tapi tunggu saya packing, terus anter saya lagi ke bandara? Bentar kok pak packingnya. Saya takut lama lagi kalau harus pesan taksi lain nanti." Entah apa yang ada dalam pikiranku, aku langsung membeli tiket pesawat saat itu juga, dan ku bulatkan tekad untuk menghilang saja dari kehidupan kak Akshan dan keluarganya, termasuk Tania.

"Bisa banget neng!" Dengan riang bapak taksi itu menjawabku.

Ya, daripada harus berlama-lama menunggu pelanggan di pangkalan taksi kan(?) yang harus nunggu giliran atrean sama temen-temen supir taksi lainnya, pikirnya gak apa-apa lah nunggu, toh pelanggan di depan mata. Lumayan juga biasanya kalau disuruh nunggu gitu kan suka dikasih tips atau lebihan. Gak ngarep sih bapaknya, tapi boleh lah yaa buat kasih jajan cucunya.

Author's POV

Sienna bergegas masuk ke rumah, merapikan barang yang sekiranya akan ia butuhkan. Tak lupa ia menulis sepucuk surat sebelum akhirnya keluar dari rumah. Taksi itu pun melaju dengan Sienna yang hanya membawa sebuah koper kecil dan tas selempang di bahunya.

Sementara di tempat lain, tempat yang sangat mewah dengan segala dekorasi cantik yang menghiasi ruangan resepsi, ada hati yang sedang merasa gelisah namun tak tahu mengapa, rasanya seperti hampa. Tapi dia harus tetap tersenyum hingga acara usai. Ribuan pasang mata sedang memperhatikannya saat ini. Sungguh aktor yang hebat.

Apa yang dirasakan Akshan, dirasakan pula oleh Tania. Ada perasaan mengganjal yang membuatnya selalu memikirkan Sienna, sahabat terbaiknya sejak balita. Bagaimana pun dia bersalah pada gadis itu, dia telah berbohong. Walau untuk kebaikan Sienna, tetap saja dengan secara tidak langsung juga ia mengkhianati sahabatnya itu.

Setelah acara resepsi usai, seluruh keluarga besar tetap harus berkumpul di acara makan malam keluarga untuk pertama kalinya setelah disatukan oleh pernikahan. Tapi tak pikir panjang lagi, baru sebentar acara dimulai, Tania meminta ijin undur diri. Ia ingin segera menemui Sienna dan meminta maaf padanya.

"Lu mau kemana, dek? Acara baru dimulai, jangan bikin malu." Akshan mengejar dengan langkah panjangnya, menghentikan kegiatan kaki Tania yang terasa bergetar.

"Perasaan gue gak enak, kak. Gue harus ketemu Sienna sekarang."

"Ya kan bisa nanti setelah acara selesai."

"Gak bisa. Lu gak tau sih kemaren dia sempet gak sadar tiga hari gara-gara tau lo tunangan! Gimana kalau tau lu nikah hari ini, bisa-bisa dia nekat bunuh diri lagi." Tania langsung bergidik ngeri sambil kembali berjalan sedikit cepat sampai-sampai tak sadar bahwa ia sudah menaikkan gaun panjangnya agak tinggi agar tak mengganggu langkah kakinya.

"Maksudnya?" tanya Akshan dengan kerutan dalam di dahinya, ia langsung menghentikan langkah adiknya, menarik bahu adiknya itu agar Tania benar-benar berhenti.

"Lu gak nyadar apa kalau selama ini dia ngefans banget sama lu?"

"Tau." jawab Akshan, enteng.

"Lu tau kalau dia cinta mati banget sama lu?!" Tanya Tania sedikit nyolot.

"Maksudnya? Dia suka sama gue sebagai artis doang kan? Sama dia anggap gue kakak karena dia anak tunggal?"

"Au ah, elap! Punya abang bego banget dah! Udah ya, kak, gue udah muak sama kegiatan hari ini. Gue cuma mau ketemu Sissy lo itu, sekarang!"

Tania pun pergi meninggalkan Akshan yang masih bingung akan ucapan adiknya itu. Sebenarnya ia juga ingin ikut Tania menemui Sienna, setumpuk permintaan maaf belum sempat ia sampaikan lagi untuk menebus segala kesalahannya.

Juga berbagai macam hal yang belum sempat ia katakan dan menurutnya harus sekali Sienna tahu agar tak terjadi kesalahpahaman yang akan menjadi masalah di antara mereka semakin pelik. Tapi tak bisa, ia harus tetap berada di sana, bagaimana pun ini adalah hari pernikahannya.

...✨🐻✨...

"Assalamualaikum.. Siiiii.."

"Waalaikumsalam.. eh non Tania, masuk non."

"Iya bi, makasih.. Sienna ada di kamar kan, bi?"

"Oh itu.. enggak non, tadi siang keluar, belum kembali.. nyonya besar sama tuan besar juga tadi sore sempet pulang tapi langsung pergi lagi."

"Oh, ya udah kalau gitu, aku tunggu di kamar Sienna aja ya, bi?"

"Iya non, silakan."

Tania berjalan menuju kamar Sienna. Seperti biasa, kamar bernuansa putih berhiaskan ornamen dan peralatan yang didominasi terbuat dari bahan kayu itu selalu tertata rapi dan tercium aroma wangi dari si pemilik ruangan tersebut.

Dara yang berusia dua puluh dua tahun itu pun masuk ke dalam kamar tersebut. Belum ada satu menit, namun langkahnya sudah terhenti karena menemukan sebuah amplop kecil berlogo sebuah rumah sakit swasta dan sepucuk surat yang sepertinya sudah diremas tergeletak di atas lantai parquet berwarna cokelat muda.

"I-ini... a-apa maksudnya?"

1
Haryati Kurniawan
dari sekian banyak novel yang aku baca, cerita ini lain dari pada yg lain 👍 suka banget dan selalu di nanti kelanjutan nya 😍😍 semangat Thor 💪
Widi Nuhgraeni
yeayyyy...akhirnya lanjut Nobel ini....semangat Akhsan
Haryati Kurniawan
Zayn atau zoey yg telpon Daddy ?
rosa lini
Lanjut thor aku suka banget sama kemal ini
Janah Husna Ugy
Biasa
nella juli
next thorrr up
Meria Sari
penggemar film fifty shades of the grey juga author. sama donk
altanum
cerita dari berbagai sisi.dengan ending yg berbeda.terus semangat berkarya thor...
tetehnyaechan
Akhir ceritanya di luar prediksi, tapi justru makin greget sih, gak sabar buat cerita selanjutnya (semoga ada, nunggu banget cerita Akshan)
Soraya
maaf sampai sini aja ya kak
Soraya
pertama numpang duduk dl ya kak
Rosnelli Sihombing S Rosnelli
salut thor siena memilih si bule bukan aksan
Kasmawati S. Smaroni
aku suka pierre yg sangat mencintai ayyara dan anak sambungnya
Kasmawati S. Smaroni: maksud sy sienna
total 1 replies
Kasmawati S. Smaroni
OMG hello,berat buanget ujian sienna
Bundanya Alvhia
tutur katanya jangan ke gitu Thor maap
krisan
lanjut
Bung Srira
sedihny pdhl kn cinta1 itu hrsny thor kmblikn mrka bersatu krns bkn dmuany slh aksan kn
Bung Srira
andaikn xavier memilih aq psti aq tk kn prnh meninggalknnya
Aira Hadera
Lanjut thor
Chanings_: Ashiaaaaappp.. dibaca ya beb
total 1 replies
Endang Kartini
aku klu jd pierre pasti ngamuk kalik ya...wanita yg aku perjuangin ternyata berselingkuh...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!