Sebuah kisah seorang ibu rumah tangga bernama Diana,iya berjuang keras untuk keluar dari jerat kemiskinan.suaminya,
Budi,tak mampu berbuat banyak karena upah yang ia peroleh dari bekerja tidak cukup untuk menutup hutang ya.
Hingga akhirnya takdir mempertemukan Diana dengan Kevin, Seorang lelaki misterius yang menawarkan sebuah kerja sama tak biasa,dimana Diana harus menjadi pemuas hasratnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
"Ke mana saja kamu hah?"
teriak seseorang yang aku pastikan adalah suara mas Budi.
semua orang yang berada di ruangan itu ikut terkejut dengan kehadiran mas Budi. termasuk hijrah yang tengah terhadap ikut terbangun karena mendengar teriakan mas Budi.
"ayah... mama...."tangis hijrah pecah, aku langsung berjongkok mendekati hijrah, dengan mas Budi. menurut bu RT, tulang kaki bagian tumitnya retak, serta ada tulang bagian bokong yang ikut ke geser karena hijrah jatuh dalam sekali hentakan.
anak bungsuku menangis dan meraung kesakitan. aku dan mas Budi hanya bisa menenangkan sebisa. suasana makin panik, karena tangis pecah bersamaan. pak RT dan istrinya ikut menenangkan kami semua, tak terkecuali mas Budi. semenjak berada di ruangan ini, tatapan matanya seakan tak menyukaiku, iya nampak jelas begitu menahan emosinya.
"kenapa bisa seperti ini Dina.?"sentak mas Budi. ia menyebut namaku yang artinya marahnya tak main-main kepadaku. biasanya mas Budi menyapaku dengan sebutan dek atau Mama. jika dalam keadaan marah seperti ini baru dia memanggilku dengan sebutan nama.
"aku juga nggak tahu mas! aku baru pulang, Nina sudah dibawa kemari"
"apa? baru pulang katamu?"
"sudah nak Budi. jangan ribut ini tempat umum."pak RT. seketika mas Budi langsung diam, tatapannya berubah sendu saat hijrah memanggil namanya.
dokter yang menyerang merawat hijrah datang. yang memberitahu penjelasan luka hijrah secara medis. anakku mengalami patah tulang, dan pergeseran tulang ekor. untuk sementara ia tidak bisa berjalan normal. akhirnya demi hijrah, aku dan mas Iqbal merundingkan penanganan selanjutnya. karena mengingat keterbatasan alat di Puskesmas ini.
"aku akan bawa hijrah ke rumah sakit daerah. di sana peralatannya lebih lengkap. kamu pulang saja sama intan, biar ini semua aku yang urus"ucap mas Budi setelah dokter beranjak pergi.
"aku mau ikut, mas!"
"tak usah, pulanglah. lebih baik kamu urus intan. aku masih hutang penjelasan tentang kejadian yang menimpa hijrah. oh ya, ini ongkos untuk kalian pulang"
mas Budi menyodorkan beberapa lembar uang kepadaku, aku langsung menerima dan tak banyak bertanya. akhirnya kami membagi tugas, mas Budi menemani hijrah, sedangkan aku sendiri membawa intan pulang.
jarak antara rumah sakit daerah dengan kampungku memang lumayan jauh. itu mungkin jadi kendala utama. padahal, ingin sekali aku menemani hijrah, meskipun harus mengeluarkan uang banyak, toh masih ada ATM milik Azam yang belum ku kembalikan. tapi setelah dipikir ulang, hal tersebut pasti mendatangkan kecurigaan besar bagi mas Budi.
satu hari berlalu, hijrah menjalani perawatan di rumah sakit ditemani ayahnya. pikiranku sebenarnya tak tenang, ingin sekali.
"permisi, Dina..!"suara bu RT dari luar rumah. buru-buru aku menghampirinya.
"iya, bu Rt. ada kabar dari mas Budi?"
"iya, barusan dia ada telepon ke saya"
"kalau begitu kita ngobrolnya di dalam saja"
bu RT langsung duduk di kursi teras, akhirnya kami penduduk berdampingan. ia mengeluarkan ponsel kemudian menyerahkannya kepadaku.
"ini pesan dari Budi ke bapak, kebetulan sama bapak di forward ke saya, biar kamu baca"
"mas Budi punya HP?"
"kurang tahu, yang jelas seharian kemarin kata bapak mereka berkirim pesan"
"sejak kapan mas Budi memiliki hp? atau mungkin dipinjam punya seseorang?, entahlah..."batinku bertanya-tanya.
"ini din.baca saja?"
ponsel bu RT pun kali ini berada dalam genggaman, ia memperlihatkan pesan mas Budi dengan pak RT. ada beberapa percakapan yang kurang lengkap, namun dari perbincangannya dengan pak rt, mas Budi saat ini tengah butuh biaya untuk hijrah.
"Bu, sebenarnya ada tabungan, tapi, mas budi enggak mengetahuinya, bisa saya minta tolong?"
"tabungan?"kening bu RT langsung bertaut, mungkin dia sanksi terhadapku. karena bukan rahasia lagi kehidupanku yang sulit dan banyak hutang, sudah menjadi konsumsi publik.
"maksudnya, ini uang warisan dari mendiang orang tua. baru saya dapat kemarin. tapi, keluarga saya melarang mas Budi untuk tahu. untuk itu saya butuh bantuan ibu, bagaimana?"
tiba-tiba alasan itu keluar begitu saja. entahlah, aku sampai tak menyadari kenapa mantanku kan berubah. bahkan tanpa sadar aku pasti membuat kebohongan yang tak terlihat direncanakan.
"minta tolong apa ya Din?"
"tolong berikan uang ke mas budi , jangan bilang uang itu dari saya"
"lalu, saya harus bilang dari siapa Din? apa nanti Budi nggak mau mempertanyakan?"
"bilang saja dari ibu dan bapak"
"emangnya kamu mau ngasih uang berapa?"
"2 juta Bu"
"apa?"pekik bu RT. iya nampak menimang-nimang seakan usulanku tak sesuai dengannya."
bukannya saya nggak mau membantu tapi mungkin Budi juga nggak bakal percaya kalau saya ngasih uang sebanyak itu ke dia. mungkin kalau 100 200 dia mau nerima, gaji bapak aja nggak sampai segitu"
"baiknya gimana ya, bu RT?"
"ya kamu jujur aja, lagian itu juga uang kamu kan?"
"tapi keluarga saya melarang mas Budi tahu"
aku dan bu RT saling berpandangan, hingga akhirnya muncul ide yang baru lagi.
gimana kalau iuran dari warga setempat, mungkin mas Budi bisa menerima."
"ya sudah nanti saya obrolin dulu sama bapak ya! saya pamit dulu Din"
sepeninggal bu RT, pikiranku kini bercabang, rasanya aku harus memberitahu Budi perihal musibah yang menimpa putriku, ditambah aku memutuskan untuk beberapa hari ke depan tak mengunjunginya.
jam 01.00 siang aku putuskan ke rumah Kevin, sebelumnya aku menyempatkan memasak berbagai menu makanan dan membawakan untuknya.
saat tiba di persimpangan, kulihat sebuah mobil sedan berwarna hitam metalik terparkir di pekarangan rumahnya. aku pun mempercepat langkah guna mengetahui siapa yang mengunjungi kevin namun langkah kakiku kalah cepat, sebelum aku sampai di rumahnya, mobil itu sudah keluar dari perkarangan rumah.
sampai di rumah kevin, tugas aku masuk ke dalam rumahnya. namun saat menekan handle pintu, dalam keadaan terkunci. tak biasanya pintu rumah ini terkunci, apa mungkin Kevin tak ada di rumah.
ku ketuk pintu pelan, sesekali aku mengintip di balik jendela. saat melihat tubuh kekarnya berjalan ke arah pintu, senyumku langsung mereka.
"hai, mas. ujarku seraya tersenyum kepadanya. kevin tak menjawab, iya hanya menatapku dengan tata pendingin, tatapan yang saat pertama kali bertemu dengannya dulu.
, aku bawain kamu makanan. tapi, aku nggak punya kotak bekas jadi aku masukin ke bungkusan plastik. ini aku buat semur ayam sama tumis capcay, rasanya enak..."
Kevin langsung membelikan barang tak mengindahkan ucapanku, iya berjalan sembari menegangkan otot-ototnya, apa mungkin ya baru bangun tidur siang, tapi kenapa dengan sikapnya. apa iya karena aku datang terlambat.
aku masih berdiri diambang pintu, saat suara Kevin terdengar memanggil barulah aku masuk.
'lain kali kalau hari Sabtu dan Minggu tak usah datang kemari. aku tak di rumah. lalu, kalau kau terlambat, lebih baik tak usah datang"
"mas anakku kecelakaan kemarin saat aku di sini, anak bungsuku terjatuh ke sumur yang sudah terpakai di samping rumah. itu alasan aku datang terlambat"
"tapi, saran ini bukannya kamu di rumah? dan yang mengurus anak itu suamimu bukan?"
Deg
lagi-lagi ucapannya benar. dari mana Kevin tahu semua itu, apa mungkin dia mau mata-mataku seharian ini. ah,entahlah.
"kamu marah,mas?"
"hahaha.... untuk apa? itu kehidupanmu,bukan urusanku"
"aku juga sekalian meminta izin, untuk beberapa hari ke depan tak berkunjung ke sini"cicitku pelan, saat mendongakkan kepala menatap Kevin. aku langsung terhenyak karena mendapat tatapan tajam dari kevin.
"maksudku..."
"siapa yang sakit? anakmu kan?
"iya, tapi sebagai ibu aku harus ikut menjaganya"
"harus 24 jam menemaninya bukan Kadek juga masih di rumah sakit?"
dan, aku juga butuh uang untuk pengobatannya"
"setelah hutangmu aku lunasi, juga biaya pengobatanmu masih aku yang harus membayarnya? dan kau ingin mangkir dengan tugasmu? lucu sekali kau ini...."
"lalu, aku harus bagaimana,?"
"selama aku tak memintamu datang, maka tak ada alasan lain untuk tak menemuiku. kau tak ingin aku sebut sebagai orang tak tahu diri?"
aku tertegun mendengar ucapannya. rasanya amat dilema, di posisi ini aku tak bisa memaksa kevin terus bersimpati dengan musibah yang aku alami. uang yang dikeluarkan tentu bukan jumlah yang sedikit.
"bagaimana dengan anakku,?"
"itu urusan, bukan urusanku! kau masih ingat kan, selagi kau bisa memuaskanku, ATM itu bisa kau pakai untuk keperluan apapun"
lagi-lagi uang menjadi tolak ukur. apa mau dikata, ini sudah resiko yang harus aku tanggung.
"kamu sudah makan siang? mau aku siapkan makanan?"
"tak usah.... hari ini aku hanya belum memakanmu!"
Kevin mengeringkan matanya. kali ini aku sudah tak merasa canggung lagi. aku mendekat seraya meninggalkan baju daster yang melekat di tubuh ini.
seperti biasa, kami hendak melakukan sesi penyatuan. namun ada yang berbeda dengan permainan kali ini, iya hanya bermain dengan jemarinya. meskipun demikian, berkali-kali aku bisa mencapai klimaks, masih pun tanpa benda pusaka.
"mas kenapa?"
"apanya?"
"kenapa kita tak bermain seperti biasanya?"
"apa kau tidak puasa ya dengan jariku saja? mau dengan ini?" kevin sembari tersenyum.
"em ...anu,bukan-sihhhhh"
tubuhku semakin menggelinjang, sekuat mungkin aku menahan agar suara jeritanku tak keluar. sesekali aku hanya bisa menarik rambut di kepala Kevin, saat dia terus bermain di bawah sana. namun, tiba-tiba saja suara di ketukkan pintu terdengar dari luar, membuat kami sama-sama terkejut.
tok tok tok
"pak kevin. permisi...!"suara Pa RT, begitu nyaring di telinga.
anak-anak jdnya ga terlantar
ya emang sih diposisi Fatma itu juga susah... tiba2 jadi istri dan ibu dari dua orang anak... masih kuliah lagi.. nggak nyari pembantu aja.
Budi juga nggak ngertiin istri kecilnya.
bisa2 depresi...
udah iklasin aja., kalau kamu tulus, insya Allah akan diberi ketenangan dan kebahagiaan walau tidak dengan Haris...
Thor bagus ceritanya.. tp perbaiki tulisannya sebelum di post, puyeng baca kalimatnya
kasihan anak2 jadi terlantar. jadi ibu tiri kayak gitu nggak mudah Lo... baru nikah, pingin seneng seneng ada anak... apa apa diribetin sama anak.
Dina juga kesalahan nya fatal banget 🤦.