Bebas promosi!
Bukan, Pengantin yang tak Dirindukan.
Dicintai, atau mencintai. Mana yang akan kamu pilih? Jika Winda memilih untuk mencintai, berharap sosok yang dicintai balik mencintai. Namun, sayang. Harapan tidak sesuai kenyataan.
Kepahitan harus diterima. Kala orang yg terlihat benar berjuang. Nyatanya, hanya tipu muslihat semata.
Lantas, apa yang akan terjadi? Penasaran, yuk kita simak kisah selengkapnya!
Happy reading!
IG: @fakhiral2013
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fakrullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jas & Hujan
Malam menjelang. Memancarkan cahaya bulan yang bersinar temaram. Embusan angin meliuk-liuk, menerbangkan
daun-daun kering yang jatuh berguguran. Di sepanjang jalan. Di dalam sebuah mobil pajero berwarna hitam. Seorang pria terlihat sedang asyik menikmati alunan music yang diputar melalui ponselnya. Earphone bluetooth disampirkan di antara daun telinga. Dengan kepala yang mengangguk-angguk. Seolah sangat menikmati alunan music yang di dengar.
Kepenatan rutinitas pekerjaan. Membuat sang pengendara menikmati waktu luangnya sekarang. Mendengar lagu
kesukaan dari seorang penyanyi yang juga berasal dari tanah air. Pamungkas. Namun, seketika fokusnya teralih saat melihat dua orang wanita yang berdiri di bahu jalan. Seorang gadis berhijab bersama temannya yang betubuh gempal?
Tersenyum tipis. Laju kendaraan dipercepat. Berhenti di depan sang gadis yang belakangan menjadi incarannya?
Ferry tertawa. Sebelum akhirnya mengatupkan mulut saat mobil yang ia kendarai berhenti tepat di depan dua orang gadis tersebut.
Kaca samping mobil di buka. Ferry melonggokkan kepalanya dari sana. Melambaikan tangan, memasang senyum manis dan ramah. Sambil berkata, “hai!”
Salah satu diantaranya menjawab. Membalas senyuman Ferry. Juga ikut melambaikan tangannya.
“Hai,” tersenyum sumringah. Tasya mendelikkan mata. Sama sekali tidak menyangka jika akan dipertemukan kembali dengan lelaki yang tadi siang baru berkenalan. “Ferry,” lirih Tasya. Ferry membuka pintu mobil. Lantas keluar.
“Kalian sedang apa?” tanya Ferry. Matanya fokus ke arah Winda. Sementara Winda, gadis itu tersenyum kecut saat melihat Ferry menghampirinya.
“Sedang nunggu taksi. Tapi udah se-jam nggak ada yang lewat,” keluh Tasya. Terlihat kepenatan dari wajahnya.
Winda pun sama.
“Oya?” Ferry membalas Tasya. Lalu kembali mengalihkan pandang kepada Winda. “Motormu?” tanyanya.
“Motorku di bengkel. Sedang diperbaiki. Besok baru bisa di ambil,” kata Winda. Ferry mengangguk paham.
“Kalau begitu bagaimana kalau kalian aku antar?” tawar Ferry. Disambut antusias oleh Tasya.
“Mau!” serunya. “Tapi . . . apa nggak ngerepotin?” meskipun terkesan sangat senang. Karena akhirnya bisa naik
pajero yang selama ini diidamkannya. Namun, sepertinya Tasya masih memiliki rasa malu.
“Nggak kok. Hitung-hitung sekalian jalan-jalan,” kata Ferry.
“Nggak perlu repot-repot. Kami naik taksi aja,” sergah Winda. Terlihat tidak nyaman. Apalagi harus semobil dengan Ferry. Lelaki yang entah mengapa kurang disukainya.
“Yakin?” Ferry menaikkan sebelah alisnya. Tasya gelisah. Gadis itu ingin segera pulang. Jika Winda bersikeras
dengan ucapannya. Sudah dipastikan, tumpangan pajero hilang dan juga . . . harus berdiri lagi lebih lama sampai batas waktu yang tak ditentukan.
Syukur-syukur kalau ada taksi yang lewat. Atau angkutan umum lain misalnya? Jika tidak ada, maka sudah dipastikan mereka akan menginap di caffe. Tidur beralaskan sofa.
“Winda . . . ayolah . . . aku sudah sangat lelah. Seharian bantuin kamu capek loh. Badanku remuk gini. Aku ingin pulang.” Tasya mengiba dengan suara manja.
“Tapi, Sya, sebentar la—“
“Kelamaan . . . udah ayo.” Tasya menarik lengan Winda. Menuju ke arah pintu mobil yang sudah Ferry buka. Tidak
dapat lagi membantah. Winda akhirnya ikut meskipun terpaksa.
Ferry tersenyum. Setelah tadi melirik sebentar dari sepion depan. Melihat Winda yang wajahnya ditekuk, memberenggut seakan tidak senang.
***
Gerimis melanda. Angin yang mulanya tenang, kini berisik mengembus di tengah kota. Hujan yang awalnya rintik-rintik, perlahan mengguyur deras jalanan kota. Membuat suasana malam semakin dingin, menusuk kulit.
Setelah mengantarkan Tasya ke kos-kosannya. Kini Ferry menuju ke kediaman Winda. Jas yang dikenakan kemudian dilepas. Disampirkan sebentar ke samping. Sebelum akhirnya di ulur kepada Winda.
“Pakai,” kata Ferry. Menoleh sebentar, kemudian kembali fokus menatap jalan raya. Hujan yang semakin deras
membuat Ferry harus waspada. Tidak boleh lalai sedikit pun. Mengantisipasi sekecil mungkin kecelakaan yang mungkin terjadi?
Kening Winda mengerut. Sebelas alis terangkat dengan sendirinya. Tidak mengerti dengan maksud Ferry. Lantas
bertanya karena tidak ingin larut dalam penasaran?
“Untuk?”
“Bukankah kamu kedinginan? Pakai saja, bisa membuat tubuhmu hangat. Meski tidak terlalu,” kata Ferry.
Meski fokus pada jalan raya. Beberapa kali Ferry menjeling ke arah samping. Memperhatikan Winda diam-diam.
Tanpa sepengetahuan gadis itu.
“Tidak perlu. Begini saja sudah cukup,” tolak Winda. Menyodorkan kembali jas yang barusan disampirkan Ferry di
tangannya.
“Jangan keras kepala. Aku tau kamu kedinginan. Badanmu sudah terlihat gemetar. Jadi pakai saja.”
“Rumahku di depan sana. Cat warna hijau, pagar hitam. Jadi simpan saja jas-mu untuk kamu pakai sendiri. Aku sudah hampir sampai,” kta Winda, menunjuk ke arah rumahnya yang sudah kelihatan. Menaruh jas Ferry di dashboard, samping setir kemudi.
Ferry memelankan mobilnya. Memperhatikan bahu jalan. Melihat dengan seksama ke arah depan. Agar rumah yang tadi Winda tunjukkan tidak terlewat.
Mobil berhenti. Parkir tepat di depan pagar rumah Winda. Winda membuka pintu samping. Ferry buru-buru keluar
dengan payung di tangan. Menyampirkan jas-nya di kedua bahu Winda. Tanpa persetujuan gadis itu.
“Pakailah. Agar kamu tidak basah. Maaf, karena aku tidak bisa mengantarmu sampai di teras rumah. Karena aku harus buru-buru pulang.”
Ferry segera pergi. Kembali masuk ke dalam mobil. Winda mematung, namun hanya sebentar. Hujan yang semakin deras membuatnya tidak bisa berlama-lama. Apa lagi melampiaskan egonya. Mengembalikan jas Ferry yang disampirkan di pundaknya.
Melihat Ferry yang mulai memundurkan mobilnya. Winda segera berlari menuju rumah. Menarik jas yang diberikan Ferry ke atas. Menutup kepala agar tidak basah. Bukan diberikan, ralat. Tapi dipinjamkan.
Dari dalam mobil. Ferry tersenyum. Memperhatikan Winda dari belakang. Sebelum akhirnya lelaki itu benar-benar
melajukan mobilnya. Meninggalkan kediaman Winda.
Sungguh gadis yang sangat sulit untuk di dekati. Berbeda dari gadis-gadis pada umumnya. Batin Ferry sambil memacu mobilnya kembali ke jalan raya.
TBC.
sudah sekian lamanya, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun.. akhirnya bisa lanjut lgi alur ceritanya.
aq suka banget ceritanya .
please thor.. episode berikutnya jangan kelamaan..🙏❤️❤️
ternyata Reno.mantan suami Maya, kalo gak salah.