Anna hanya seorang gadis biasa, ceria dan baik hati. Berubah menjadi gadis yang liar setelah seorang pria merenggut kesuciannya, peristiwa naas dari serangkaian peristiwa lainnya yang ia alami. Hingga suatu peristiwa membawanya ke dalam jerat cinta dua pria psikopat yang menginginkannya.
"Sesaknya beban hidup yang kujalani menghimpit jalan takdirku, membuatku harus berjuang keras tanpa hasil maksimal. Hanya karena aku kalah dalam segala hal."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di pecat tanpa hormat
Dika mengantarkan Anna sampai halaman rumahnya, lalu ia kembali ke Cafe. Sementara Anna berjalan memasuki rumah dengan dua kantong berisi pakaian untuk keperluan bekerja yang di belikan Dika, sahabatnya.
Anna tertegun menatap Alan dengan raut wajah marah. "Oh, jadi ini pekerjaanmu? jalan sama pria tua. Pulang dapat uang dan belanjaan, begitu?"
Anna menggelengkan kepalany, "tidak, aku-?"
"Plakk!!
"Memalukan!" Anna menjatuhkan satu kantong pakainanya lalu memegang pipinya yang terasa panas, matanya menatap tajam Alan. Kali ini ia tidak bisa diam terus.
"Papa!" pekik Tasya menarik tangan Alan. "Apa yang Papa lakukan!"
"Diam kau! Alan menatap tajam Tasya. " Dia sudah mempermalukan keluarga kita!" tunjuk Alan ke arah Anna.
Tasya menggelengkan kepalanya, "tidak mungkin Pa..aku tahu siapa kak Anna.." Tasya berusaha untuk meluruskan. Namun hati Alan yang memang menaruh rasa benci terhadap Anna. Apapun yang di katakan Tasya dia sama sekali tidak perduli. Di mata Alan, gadis itu sangat buruk.
"Harusnya kau dengarkan apa kata Tasya, mudah sekali kau ringan tangan," sela Elama, melihat Anna di perlakukan kasar, hati Elama merasakan sakit. Namun apalah daya, dia tidak bisa berbuat lebih untuk Anna.
"Belain terus! sudah jelas-?"
"Cukup! potong Anna berjalan satu langkah mendekati Alan.
"Berani sekali kau," ucap Alan geram.
"Tuan Alan yang terhormat dan Nyonya Elama. Kalian yang memintaku datang ke rumah ini, kalian yang mengaku sebagai orang tuaku meski aku sendiri ragu untuk mengakui kalian sebagai orangtuaku. Sikap yang kalian tunjukkan sama sekali bukanlah sosok orangtua." Anna menarik napas dalam dalam. "Jika kalian tidak suka denganku, tidak mengapa." Anna menatap Alan yang memalingkan wajahnya, lalu menatap Tasya dan Elama yang menangis mendengar pernyataan Anna. "Aku akan pergi." Anna balik badan lalu mengambil kantong pakaian yang tergeletak di lantai, kembali berdiri tegap melangkahkan kakinya.
"Anna! Elama mengejar Anna yang sudah berada di depan pintu. " Mama mohon, jangan pergi."
"Aku tidak perduli," sahut Anna dengan tatapan lurus ke depan.
"Anna..aku mohon..tetap di sini, aku tahu kau tidak seperti yang Papa katakan." Tasya memeluk Anna dari samping.
"Sudahlah Tasya, tidak ada gunanya kau menangis. Aku tetap akan pergi."
"Alan! dia putri kita juga!" pekik Elama menatap tajam Alan.
Alan hanya diam, jika ia membiarkan Anna pergi, siapa yang akan membantunya keluar dari masalah hutang piutang? siapa yang akan menggantikan Tasya?
Perlahan Alan berjalan mendekati Anna, "maafkan Papa.." ucapnya pelan menundukkan kepalanya.
"Tidak perlu." Anna terus melangkahkan kakinya.
"Anna, Anna! Alan menarik tangan Anna lalu jongkok di hadapan Anna. " Papa mohon, maafkan Papa.." ucap Alan tengadahkan wajah menatap Anna. Meski hatinya sangat muak bersikap lembut pada Anna. Tapi harus ia lakukan demi Tasya, demi nama baiknya.
Perlahan Anna hatinya melunak, ia mundur beberapa langkah ke belakang. "Kau tidak perlu bersikap seperti itu, baiklah..aku tidak akan pergi."
Terlihat senyuman sinis di sudut bibir Alan. Lalu ia berdiri. "Terima kasih Nak, ayo masuk."
Tasya mengusap air mata dan tersenyum lebar, melihat Anna mau kembali ke rumah. Begitu juga Elama, bisa bernapas lega. "Kau egois Alan, kau butuh Anna. Tapi kau menyakitinya.." ucap Elama dalam hati.
Lalu Alan merangkul bahu Anna mengajaknya masuk ke dalam ruamh, selama itu pula Alan harus bersikap baik sampai tiga hari ke depan.
Mereka tidak menyadari, adegan yang mereka lakukan terhadap Anna, di perhatikan oleh Rangga di dalam mobil miliknya yang menepi di luar gerbang rumah Alan.
Rangga menghela napas panjang. "Licik, mereka menahan Anna hanya untuk kepentingan mereka sendiri. Orantua macam apa seperti itu?" gumam Rangga dengan tatapan lurus ke rumah Alan.
Rangga terdiam, berpikir bagaimana caranya memutus perjodohannya dengan Tasya lalu membawa Anna keluar dari rumah itu. Detik berikutnya Rangga memutar arah mobilnya meninggalkan rumah Alan.
***
Malam minggu di Cafe pukul 20:00.
Anna sudah bersiap siap untuk melakukan pekerjaannya, ia meremas pelan tangannya sendiri. "Kenapa kau bengong? ayo cepat, tamu istimewa sudah datang," ucap Dika tersenyum lebar menatap Anna yang menggunakan gaun berwarna merah muda selutut.
Anna menganggukkan kepala, lalu ia berjalan ke ruangan di mana para pemain musik sudah menunggu Anna. "Maaf, kalian lama menunggu." Anna tersenyum lalu duduk di kursi.
Matanya menatap ke arah seorang pria tinggi tegap, hidungnya mancung warna kulitnya tidak terlalu putih tapi terkesan macho. Pria itu duduk di kursi paling depan bersama seorang wanita muda, cantik dan elegan.
Dika, Manager Cafe berjalan mendekati pria itu dan menyapanya. "Tuan, selamat datang dan selamat menikmati suara penyanyi baru kami."
Siapa yang tidak kenal dengan Sano Pramudya Hardiyanto, salah satu anak seorang pengusaha terkenal berdarah biru. Tidak hanya ketampanan yang di kenal, tapi kekayaan dan aturan aturan di keluarga ningrat itu yang membuat para orang tua yang ingin menjodohkan anak gadisnya dengan anak keturunan darah biru itu. Wajar dong, setiap orang hanya menilai dari covernya saja. Tanpa mengetahui ada apa di balik keluarga terhormat itu.
Sano tengadahkan wajahnya menatap Dika sesaat, lalu beralih menatap Anna yang masih bengong duduk di kursinya. "Dia mau nyanyi, atau bengong sampai pagi?"
Dika melebarkan matanya, "maaf, maaf." Ia membungkukkan badannya sesaat lalu berjalan ke arah Anna dan membisikkan sesuatu di telinga Anna. Sano menggelengkan kepalanya tersenyum sinis, "Aldrien, kau pesan makanan kesukaanmu. Pilih saja sesuka hatimu."
Wanita yang datang bersamanya mengangguk cepat, "iya sayang." Aldrien tersenyum lebar menatap Sano
Perlahan suara alunan musik romantis mulai terdengar, Sano memalingkan wajahnya menatap Anna menyanyikan lagu, All of You by John Legend. Awalnya Sano menikmatinya, namun di pertengahan lagu yang Anna bawakan ada bait yang salah hingga tidak selaras dengan musik karena grogi. Ia berdecak kesal, lalu memanggil Dika.
"Ada apa Tuan?" tanya Dika cemas.
"Panggil gadis itu kemari." Sano menatap Dika sesaat. Dengan cemas, Dika berjalan mendekati Anna dan memintanya turun.
Anna menyadari kesalahannya, terlebih dulu meminta maaf pada Dika. "Dik, aku minta maaf." Namun Dika tidak menjawab, ia menarik tangan Anna dan membawanya ke hadapan Sano.
Sano menatap Anna tajam. "Apa kau tidak bisa menyanyi?"
Anna membungkukkan badan sesaat, "maaf Pak, atas ketidaknyamanan yang saya buat."
"Mulai besok, kau tidak perlu menyanyi lagi disini." Sano mengeluarkan uang dari balik jas yang ia kenakan. Anna dan Dika saling pandang sesaat. Anna baru mengetahui jika pria di hadapannya pemilik cafe.
"Ini..aku rasa cukup bahkan mungkin lebih dari cukup." Sano memberikan uang pecahan ratusan ribu, sebanyak sepuluh lembar.
Anna menatap uang di tangan , lalu ia mengambil satu lembar uang di tangan Sano. "Terima kasih Pak, ini cukup untuk mengganti ongkos saya."
Sano terdiam menatap wajah Anna, lalu tersenyum tipis. "Kalau kau ingin maju dan sukses, hiduplah teratur dan disiplin. Jangan buat kesalahan, paham?" ucapnya lalu memasukkan kembali uang di tangannya.
"Saya hargai nasehat Bapak, tapi setiap orang punya jalan masing masing yang tidak bisa kita terka." Anna tersenyum tipis, membungkuk sesaat.
"Kau benar, tapi kalau kau berpikir seperti itu terus, selamanya kau akan tertinggal jauh." Sano berdiri, ia merasa di tantang dengan pernyataan Anna.
"Terserah Bapak, saya hargai itu. Jika tidak ada lagi yang hendak di bicarakan, saya permisi." Anna membungkuk sesaat lalu melangkah.
"Tunggu." Sanomencekal tangan Anna. "Kau tahu siapa saya?"
Anna menatap wajah Sano dan menggelengkan kepala. "Tidak tahu, sepertinya saya tidak perlu tahu siapa Bapak." Anna menepis tangan Sano yang sedikit angkuh, berbeda dengan saudaranya yang lain.
Aldrien yang sedari tadi diam, akhirnya angkat bicara. "Seharusnya kau bersyukur, Dia mau membayar suara falsmu itu."
Anna menoleh ke arah wanita itu. "Oya?"
Aldrien menganggukkan kepala, ia berjalan mendekati Anna dengan kedua tangan di silangkan di dada. "Jarang sekali dia mau bicara dengan orang dari kalangan sepertimu." Aldrien memperhatikan pakaian Anna dari ujung rambut hingga ujung kaki. "Norak." ia tersenyum sinis.
Anna tertawa terbahak bahak mendengar pernyataan Aldrien, membuat wanita itu dan Sano menatap heran Anna. Sementara Dika diam dengan wajah cemas. "Apa yang lucu?" tanya Aldrien.
Anna berhenti tertawa, "kau!" sahut Anna.
"Aku?" Aldrien menunjuk hidungnya sendiri.
"Ya kau, siapa lagi. Jika caramu menilai seseorang dari penampilan, lihatlah dirimu. Betapa lucunya kau.." Anna tertawa kecil.
"Apa maksudmu?!" Aldrien mulai tersulut emosi.
"Apa kau tidak sadar? pakaianmu mewah, wajahmu cantik. Tapi isi kepalamu kosong! hahahahaha!"
Aldrien mendengus geram, tangannya mengambil gelas minuman lalu ia siramkan minuman di gelas ke wajah Anna. "Jaga bicaramu!" bentak Aldrien melotot sembari meletakkan gelas di atas meja.
Dengan santai Anna mengusap wajahnya lalu menjilati bibirnya sendiri. "Manis." Lalu ia berjalan lebih dekat dengan Aldrien. "Jika hatimu tidak ingin terluka, berpikirlah dahulu sebelum bicara." Anna mengetuk pelipisnya dengan jarinya sendiri.
"Cukup!" Sano mulai kesal. "Sebaiknya kau pergi dari sini, pintu keluar ada di sebelah sana." Tunjuk Sano
Anna tersenyum tipis lalu membungkukkan badan dengan satu kaki di tekuk. "Baik tuan muda yang terhormat." Anna kembali berdiri tegap menatap wajah Sano dan tersenyum lebar. Ia langsung ngeloyor meninggalkan Cafe tanpa basa basi lagi.
Sano menarik napas dalam dalam, melirik ke arah Dika yang ketakutan. "Siapa gadis itu? aku perlu datanya."
"Sudahlah sayang, gadis itu tidak penting," sela Aldrien.
"Dia harus di beri pelajaran," sungut Sano.
Istilahnya pagar makan tanaman nih
penasaran
siapa yg akan dijodohkan dengan Anna
lanjutkan
Salam kenal kak💐💐