NovelToon NovelToon
Mahar Sandiwara Sang Papa

Mahar Sandiwara Sang Papa

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:568
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Terbangun dari koma, Amira Zoe dipaksa masuk ke dalam pernikahan sandiwara tanpa cinta oleh Daniel Narendra, seorang CEO kaya. Semua demi menjadi sosok "ibu" bagi Felia, putri Daniel yang kritis karena trauma kehilangan ibu kandungnya, Selena. Amira bersedia membimbing bocah itu, asalkan statusnya tetap menjadi diri sendiri, bukan bayang-bayang masa lalu.
Namun, di balik kemegahan mansion Daniel, sebuah rahasia kelam menanti. Amira menemukan fakta mengejutkan bahwa kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya adalah sabotase berencana. Seseorang di lingkaran terdekat sengaja mengincarnya karena wajahnya yang sangat mirip dengan mendiang Selena, demi memalsukan dokumen dan mencairkan dana asuransi kematian bernilai fantastis. Kini, di tengah getar asmara yang perlahan tumbuh di hatinya, Amira harus bertaruh nyawa mengungkap dalang kriminal tersebut sebelum dirinya benar-benar dihabisi.Akankah pernikahan sandiwara ini membuka jawaban semuanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Sementara Amira berjuang keras meniti langkah pertamanya di ruang terapi, suasana kontras yang mencekam sedang terbangun di sudut lain kota Jakarta.

Di terminal kedatangan Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, derap langkah kaki dengan sepatu hak tinggi yang angkuh terdengar berketuk di atas lantai marmer.

Anita, wanita dari masa lalu Daniel yang terkenal ambisius dan dingin, akhirnya menginjakkan kakinya di ibu kota.

Ia membetulkan letak kacamata hitamnya, lalu menyunggingkan senyum penuh rencana yang sarat akan kelicikan.

Baginya, panggilan ini adalah tiket emas untuk kembali merebut apa yang menurutnya tertunda: posisi di samping Daniel Narendra.

Begitu keluar dari pintu kedatangan, Anita langsung dijemput oleh Gayatri yang sudah menunggu di dalam mobil hitamnya.

Pintu mobil tertutup rapat, mengisolasi mereka dari keriuhan bandara.

Di dalam mobil mewah yang kini bergerak membelah kemacetan Jakarta yang padat merayap menuju rumah sakit, atmosfer di dalam kabin langsung berubah tegang.

Tanpa membuang waktu, Gayatri membeberkan setiap detail tentang pernikahan mendadak antara Daniel dan Amira yang terjadi di Yogyakarta.

"Perempuan itu cuma orang asing, Anita. Wanita udik, kumuh, dan tidak punya latar belakang apa-apa," ucap Gayatri dengan nada suara yang bergetar menahan geram.

Anita mendengarkan dengan saksama, sesekali menyilangkan kakinya dengan anggun.

"Lalu, apa rencana Tante sekarang?"

Gayatri menoleh, tatapan matanya menajam. "Tante sedang mempersiapkan gugatan hukum berkas demi berkas. Fokus utama Tante adalah merebut hak asuh Felia dari tangan Daniel dan membekukan seluruh aset peninggalan Selena agar Daniel tidak bisa menyentuhnya sama sekali."

Gayatri kemudian menggenggam tangan Anita, menatapnya dengan penuh harap sekaligus penuh racun.

"Tapi untuk urusan di dalam rumah tangga mereka, itu tugasmu, Anita. Tante beri kamu tugas utama: dekati Daniel kembali. Gunakan pesonamu dan masa lalu kalian. Buat Amira merasa tidak aman. Kacaukan mental perempuan lumpuh itu sampai dia sadar diri dan merasa sama sekali tidak pantas bersanding dengan seorang CEO seperti Daniel. Buat dia pergi dengan sendirinya dari hidup Daniel."

Anita menarik sudut bibirnya, membentuk senyuman sinis yang mengerikan.

Bayangan wajah tegas Daniel dan kekayaan keluarga Narendra sudah menari-nari di benaknya.

"Tante tenang saja," bisik Anita dengan nada dingin yang menusuk.

"Membuat wanita cacat seperti dia merasa tidak berguna, itu adalah hal yang sangat mudah bagiku. Besok pagi, pertunjukan ini akan dimulai."

Amira melangkah masuk kembali ke kamar rawat Felia dengan bertumpu pada tongkat penyangganya.

Senyumnya terkembang lebar, memancarkan rasa bangga yang luar biasa atas kemajuan kecil namun berarti yang berhasil ia capai hari itu.

Di sisinya, Daniel berjalan dengan langkah lambat, pandangannya tidak lepas dari Amira, siap siaga menjaga setiap pergerakan istrinya jika sewaktu-waktu keseimbangannya goyah.

"Mama hebat sekali! Sudah bisa pakai tongkat!" seru Felia riang begitu melihat ibunya masuk tanpa kursi roda.

"Iya, Sayang. Berkat doa Felia, Mama bisa melangkah lagi," jawab Amira lembut, berniat merayakan keberhasilan kecil ini bersama putri kecilnya.

Namun, kebahagiaan sederhana di dalam kamar itu mendadak terhenti.

Sebuah ketukan pintu yang tegas dan bertenaga memecah keheningan, disusul dengan daun pintu yang langsung terbuka lebar tanpa menunggu izin dari dalam.

Ceklek...

Gayatri melangkah masuk dengan dagu terangkat angkuh. Namun kali ini, ia tidak datang sendiri.

Di belakangnya, muncul sosok Anita yang tampil luar biasa anggun dan elegan dalam balutan pakaian bermerek yang modis.

Riasan wajahnya sempurna, memancarkan aura wanita kelas atas kota metropolitan.

Begitu mata Anita menangkap sosok Daniel yang berdiri di dekat ranjang, seulas senyum manis yang penuh arti langsung terbit di bibirnya.

Tanpa memedulikan keberadaan Amira yang sedang bertumpu pada tongkatnya, Anita melangkah lebar melewati wanita itu begitu saja.

"Daniel! Oh my God, aku kangen banget sama kamu!" sapa Anita dengan nada suara yang sengaja dibuat sangat akrab, manja, dan berayun pelan—sebuah intonasi yang sengaja dirancang untuk memicu api kecemburuan.

Sebelum Daniel sempat bereaksi atau mengeluarkan sepatah kata pun, Anita langsung menghambur maju dan memeluk erat tubuh Daniel tepat di hadapan Amira.

Amira terpaku di tempatnya. Genggamannya pada tongkat penyangga seketika mengeras.

Pemandangan di depannya seperti hantaman keras yang mendadak membuat dadanya sesak.

Ada rasa asing yang menyakitkan menjalar di hatinya saat melihat wanita lain begitu leluasa mendekap pria yang semalam tidur di sampingnya dan baru saja berjanji untuk selalu menemaninya.

Sementara itu, Daniel membeku dengan mata membelalak sempurna, sama sekali tidak menyangka akan mendapat serangan kejutan yang begitu merendahkan harga diri istrinya di kamar rawat anaknya sendiri.

Suasana di dalam kamar rawat Felia mendadak terasa mencekam.

Detak jantung Amira seolah berhenti saat melihat wanita anggun bernama Anita itu memeluk erat tubuh Daniel tepat di hadapannya.

Rasa sesak yang asing menjalar di dadanya, sementara Daniel membeku, tangannya mengepal menahan geram atas kelancangan mantan kekasihnya itu.

Sebelum ketegangan itu meledak, pintu kamar kembali terbuka.

Rombongan dokter spesialis anak dan dua orang perawat masuk untuk memeriksa keadaan Felia.

Kehadiran tim medis itu memaksa Anita melepaskan pelukannya dari Daniel dengan senyum tanpa dosa, sementara Gayatri melipat tangan di dada, menatap Amira dengan pandangan meremehkan.

"Permisi, kami akan memeriksa kondisi dek Felia terlebih dahulu," ucap dokter ramah, memecah kecanggungan yang padat di dalam ruangan.

Amira yang masih bertumpu pada tongkat kruknya mencoba bergeser mundur agar memberikan ruang bagi dokter. Namun, gerakannya yang masih kaku membuatnya lambat.

Melihat hal itu, Anita sengaja melangkah maju. Dengan gerakan yang terlihat natural namun bertenaga, Anita mendorong tubuh Amira agar menjauh dari sisi ranjang.

"Minggir sedikit, kamu malah mempersempit ruangan," bisik Anita ketus, cukup lirih agar tidak didengar dokter, namun sangat jelas di telinga Amira.

Dorongan itu membuat keseimbangan Amira yang belum pulih sempurna langsung goyah.

Tongkat kruknya hampir tergelincir dari lantai rumah sakit. Amira memejamkan mata, bersiap untuk jatuh terjerembap.

Grep!

Sebuah tangan kekar dengan cekatan menangkap pinggang Amira, menariknya lembut ke dalam dekapan yang aman.

Pria itu menatap Anita dengan kilat mata yang dipenuhi amarah yang membara, seolah siap mencabik siapa saja yang menyentuh istrinya.

Setelah memastikan Amira berdiri seimbang, Daniel menggenggam erat tangan Amira, menautkan jemari mereka di depan semua orang, termasuk di hadapan Anita dan Gayatri yang langsung terbelalak tidak suka.

Genggaman tangan Daniel begitu hangat dan kokoh, seolah menyalurkan seluruh kekuatan dan penegasan bahwa Amira tidak sendiri.

Dokter yang tidak menyadari ketegangan itu mulai memeriksa Felia.

Setelah memeriksa suhu tubuh, detak jantung, dan melihat catatan medis, dokter tersebut berbalik menatap Daniel dan Amira sambil tersenyum lebar.

"Kondisi fisik Felia sudah sangat stabil. Demamnya sudah hilang dan nafsu makannya bagus. Jadi, Felia sudah boleh pulang hari ini. Tinggal mengurus administrasi dan menebus obat jalan saja," jelas sang dokter.

"Horeee! Felia pulang!" sorak Felia gembira di atas ranjangnya.

Mendengar pengumuman dokter, Gayatri langsung mengambil kesempatan.

Dengan senyum yang dipaksakan manis, ia melangkah maju mendekati ranjang cucunya.

Gayatri yang bersiap akan menggendong Felia

agar bisa membawanya pergi dari Daniel.

"Ayo sayang, sama Oma ya. Kita pulang ke rumah Oma yang besar, tidak usah ikut Papa dan perempuan ini," ucap Gayatri ketus sambil mengulurkan tangannya untuk mengangkat Felia.

Namun, Felia langsung memalingkan badannya menjauh.

Ia menyurukkan wajahnya ke bantal, lalu menangis histeris sembari mengacungkan tangan kecilnya ke arah Amira.

"Tidak mau! Felia tidak mau sama Oma! Felia maunya sama Mama! Oma jahat! Oma selalu marahi Mama!" jerit Felia lantang di depan dokter dan perawat yang langsung tertegun heran.

Mendengar penolakan keras dari cucunya sendiri, wajah Gayatri seketika memerah padam menahan malu dan amarah yang luar biasa, sementara Anita hanya bisa menggigit bibir dalamnya, menyadari bahwa rencana mereka untuk mengacaukan mental Amira tidak akan berjalan semudah yang mereka bayangkan.

Melihat putrinya menangis histeris dan ketakutan, Daniel tidak tinggal diam.

Dengan gerakan cepat dan tegas, ia melangkah maju memotong pergerakan Gayatri.

Daniel langsung menggendong Felia ke dalam pelukan dadanya yang hangat, menepuk-nepuk punggung kecil itu untuk menenangkannya.

"Sstt, sudah... Papa di sini, Sayang. Tidak ada yang boleh memarahi Felia atau Mama lagi," bisik Daniel, meneduhkan tangis putrinya.

Daniel membalikkan badannya, menatap tajam ke arah Gayatri dan Anita bergantian dengan tatapan dingin sedingin es.

"Ayo kita pulang," ucap Daniel singkat namun sarat akan otoritas yang tidak bantah.

Daniel tidak membiarkan Amira tertinggal di belakang.

Sambil mendekap Felia di dada kirinya, ia melangkah mendekati Amira.

Ia menggenggam erat tangan istrinya, menautkan jemari mereka dengan kokoh, sementara tangan Amira yang lain bertumpu pada tongkat penyangganya.

Langkah mereka beriringan, bergerak meninggalkan kamar rawat tanpa memedulikan tatapan murka dari Gayatri.

Namun, di sepanjang koridor rumah sakit yang panjang, hati Amira tidak sepenuhnya tenang.

Di balik ketegasan Daniel, Amira diam-diam merasa sangat terintimidasi oleh kehadiran Anita.

Setiap kali ia melirik ke belakang melalui sudut matanya, ia melihat Anita yang berjalan dengan anggun, pakaian bermerek yang melekat sempurna, dan aura wanita karier yang begitu berkelas dan modern.

Amira menunduk menatap dirinya sendiri—seorang wanita yang baru bangun dari koma, mengenakan pakaian yang longgar, dan harus bertumpu pada tongkat kruk hanya untuk melangkah.

Rasa tidak aman dan minder perlahan mulai merayap, meracuni pikirannya persis seperti skenario yang diinginkan oleh Gayatri.

Daniel yang berjalan di sisinya bisa merasakan jemari Amira yang mendadak dingin dan gemetar di dalam genggamannya.

Ia melirik wajah sang istri yang mendadak muram, lalu beralih menatap Anita yang melemparkan senyum sinis dari kejauhan.

Rahang Daniel mengeras. Daniel mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga urat-urat di lengannya menonjol, menahan amarah yang bergemuruh di dalam dada.

Ia menyadari sepenuhnya bahwa kebahagiaan dan ketenangannya yang baru saja ia bangun bersama Amira dan Felia semalam kini tengah diincar oleh badai besar.

Masa lalunya telah kembali membawa racun, dan Daniel bersumpah di dalam hati tidak akan membiarkan Amira hancur oleh intimidasi mereka.

1
falea sezi
lanjut q kasih hadiah
falea sezi
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!