Seorang wanita pekerja kantoran yang memiliki hidup penuh akan pekerjaan. Setiap hari dia selalu bekerja dan bekerja, waktu liburan dia hanya tidur dan tak melakukan kegiatan seperti orang lain pada umumnya.
Pola hidup yang tak pernah berubah membuat dirinya stress, hingga akhirnya ia mencapai titik dimana dia tak berpikir untuk hidup.
Namun, takdir membuatnya berpindah ke tubuh seorang bocah berusia 10 tahun. Mulai dari sana ia mengalami begitu banyak peristiwa yang membuatnya memiliki alasan untuk hidup.
Kisah kebangkitan seseorang pada kehidupan keduanya dimulai!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katsumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Dicurigai?
"Serang! Jangan biarkan mereka memasuki kota!" seru Yulius.
Semua orang tengah bertarung, menahan serangan para monster agar tak memasuki kota. Namun, monster itu terlalu banyak hingga membuat semua orang kewalahan. Untungnya ada penghalang yang melindungi kota, sehingga mereka dapat beristirahat secara bergantian.
Pertarungan terus berlangsung hingga hari berganti. Viana senantiasa berada di garis depan dan mengalahkan setiap monster yang ada di hadapannya. Namun, mau sekuat apapun Viana ia tetaplah manusia, kelelahan adalah hal yang wajar.
Nafasnya mulai terengah-engah, mau bagaimana lagi, dia sudah bertarung tanpa henti selama berjam-jam.
"Viana! Cepatlah mundur dan istirahatkan dirimu!" Seru Yulius yang memotong dua tubuh monster yang mencoba menyerang Viana.
"Tapi-" Viana mencoba untuk menolak.
"Tak ada tapi-tapian! Cepat kembali ke kota dan istirahatkan tubuhmu!" potong Yulius dengan tatapan tajam.
Viana yang melihat hal itu, menundukkan kepalanya, "baik," jawabnya lirih, dengan berat hati Viana meninggalkan medan tempur dan beristirahat di tempat peristirahatan.
Huft~ kapan aku bisa sekuat Kak Yulius? Padahal kami sudsh bertarung dalam kurun waktu yang sama, tapi kenapa energi sihirku habis duluan?
Viana mendongakkan wajahnya ke atas, melihat langit yang menjelang petang. Saat itu ia melihat sebuah cahaya terang dari arah mansion, sebuah asap dan cahaya orange, api.
"Apa yang terjadi!?" Viana bangkit dan langsung berlari menuju ke arah mansion.
Sesaat sampai di mansion tepatnya di halaman belakang, ia dikejutkan dengan adanya mayat monster yang gosong dan Laylie yang tengah di gendong oleh seorang laki-laki.
"Rein, apa yang terjadi?!" seru Viana sembari berlari menuju ke tempat mereka.
Rein merupakan putra ke dua dari keluarga Laurenfrost, dia terkenal akan kejeniusannya dalam menggunakan pedang dan sihir, terlebih lagi Rein adalah penyihir yang memiliki dua atribut yakni air dan tanah. Berbeda dengan kedua kakaknya, Rein sudah memiliki kontrak dengan seekor Fenrir yang merupakan lambang keluarga Laurenfrost.
"Kak Viana kenal dengan gadis ini?" tanya Rein penasaran.
Viana mengangguk pelan, "namanya Laylie, dia anak yang kuselamatkan saat mengejar pencuri." Viana menggelengkan kepalanya, "tidak, yang lebih penting apa kalian tak apa? Terus bagaimana bisa ada mayat Wolfshark yang terbakar hingga hangus disini?"
"Aku tak tahu soal monster itu, tapi saat aku sampai disini, ada seorang iblis tingkat atas yang hendak menyerang gadis ini. Kemungkinan besar gadis inilah yang mengalahkan monster itu," jawab Rein.
Viana terdiam sejenak, ia tak pernah berfikir jika Laylie bisa menggunakan sihir, apalagi mengalahkan monster rank-C seorang diri.
...----------------...
Di sebuah kamar di dalam mansion, Laylie terbaring di atas kasur dalam keadaan tak sadarkan diri. Viana telah menyembuhkan luka-lukanya dengan sihir, namun ia tak bisa memulihkan energi sihir milik Laylie.
"Dia seumuran denganmu, Rein," ucap Viana.
"..." Rein hanya diam seolah tak peduli dengan ucapan Viana.
"Mungkin dia juga seorang jenius sepertimu," sambung Viana dengan nada yang sedikit sedih.
"Hah? Kakak bercanda, kan? Gadis ini seorang jenius, hanya karena dia bisa mengalahkan monster rank-C seorang diri?" bantah Rein yang tak terima jika dirinya disamakan dengan Laylie.
Rein menghela nafasnya, "huft~ aku akan pergi ke gerbang, Kakak istirahat saja dulu," ujarnya sembari berjalan menuju ke pintu kamar.
"Ya..." jawab Viana lirih.
Setelah Rein keluar dari ruangan, Viana berjalan menuju ke teras kamar. Angin sejuk menerpa kulitnya, cahaya hangat mentari yang mulai tenggelam memberikan pemandangan langit petang yang indah.
Di sisi lain, ada bencana yang sedang berlangsung, hingga semua orang harus bertarung untuk mempertahankan kota. Mereka terus bertarung secara bergantian, saat malampun terus bertarung. Memang benar ada pelindung yang mengelilingi kota, namun mau sekuat apapun pelindung itu, pasti akan hancur jika terus diserang.
Waktupum berlalu dengan cepat, pertarungan dimalam hari berlangsung hingga fajar pun tiba. Semua orang mulai kelelahan karena bertarung semalaman, meskipun begitu jumlah monster masih tersisa tujuh ratusan.
Viana yang telah mengistirahatkan tubuhnya, segera bergegas menuju ke medan tempur untuk kembali bertarung. Berkat hal itu mereka bisa menahan serangan para monster hingga bantuan dari ibu kota sampai.
Pertarungan-pun usai dan tak memakan korban jiwa yang begitu banyak, dan kebanyakan hanya mengalami luka.
Namun, kini di ruangan pertemuan yang diadakan di mansion wali kota, suasana tegang begitu terasa, tatapan tajam yang mengintimidasi terarah ke Laylie yang duduk di salah satu kursi di ruang rapat.
"..." Laylie hanya diam, menundukkan kepalanya, mencoba untuk menenangkan diri dan memahami situasi, serta mencari celah agar bisa keluar dari masalah.
"Untuk pertama-tama, saya selaku wali kota ingin mengucapkan terimakasih kepada semua orang yang telah berjuang demi melindungi kota," Count angkat suara dan mengungkapkan rasa terima kasih dengan begitu tulus.
"Dan... saya juga ingin berterima kasih pada Anda, Nona Laylie," sambung Count dengan tulus.
Laylie menoleh ke arah Count, kata-kata itu, serta raut wajah senyum milik Count bukanlah sebuah kebohongan, dia benar-benar mengatakan hal itu dengan tulus.
Laylie menggelengkan kepalanya pelan, "tidak, saya tak melakukan apapun, semua ini terjadi karena kerja keras semua orang," jawab Laylie.
"Ya, itu memang benar. Tapi semua ini tak akan terjadi jika kau tak menyadari adanya assasin serta mengaktifkan dinding pelindung kota," sela Yulius dengan tatapan tajam yang serius.
"Terlebih lagi dia bertarung melawan monster rank-C dan iblis tingkat atas seorang diri," tambah Rein.
"Hei... Laylie, apa kamu bisa memberi tahu kami siapa kau sebenarnya?" meski merasa enggan, Viana tetap mengajukan pertanyaan dengan berat hati.
Laylie diam sejenak, lalu menghela nafas pendek. "Aku hanya seorang gadis berumur sepuluh tahun biasa, hanya saja aku memiliki tiga guru yang hebat. Mereka mengajariku banyak hal."
Aku tak berbohong, aku memang memiliki tiga orang hebat yang selalu membantuku...
"Seorang ahli pedang, ahli sihir, serta mata-mata. Mereka adalah orang-orang yang begitu hebat, meskipun sekarang mereka sudah tiada."
Aku tak sepenuhnya berbohong, lagi pula mereka tak bisa dilihat oleh orang lain.
"Saat di jamuan malam itu, aku menyadari ada aroma lain di dalam teh itu, karena guruku yang merupakan ahli sihir juga seorang alkemis. Karena hal itu aku memiliki sedikit pengetahuan tentang obat-obatan dan racun."
Mary memang betul seorang ahli sihir dan alkemis, tapi aku mengetahui soal assasin itu dari Sebas. Tapi tak mungkin aku bilang jika aku menyadari adanya assasin yang menyamar sebagai pelayan, kan?
"Dan soal dinding pelindung yang tersembunyi di ruangan rahasia itu. Aku sudah pernah bilang, kan? Aku memiliki kemampuan untuk melihat roh, jadi ada roh yang menuntunku ke ruangan itu dan menyuruhku untuk mengaktifkan dinding pelindung demi menyelamatkan kota."
Setelah mendengar penjelasan Laylie yang panjang, semua orang hanya diam.
Emang sih jiwanya udah mbak-mbak kantoran tapi rasanya usia tubuh kadang perlu agak diperhatikan🗿