Karya Jalur Kreatif
Anzel Ashakalif punya cita-cita menjadi dokter. Tapi keluarganya, terutama ayahnya tidak mengizinkan Anzel menjadi dokter karena kelemahan dan kemampuan Anzel yang sedikit. Bahkan keluarganya selalu melarang Anzel melakukan apa saja yang membuat malu keluarganya itu.
Suatu hari tanpa sepengtahuan keluarganya,Anzel mendaftarkan diri ke fakultas kedokteran, dia berjalan kaki dari rumah menuju universitas yang di inginkan karena jaraknya tidak jauh. Ketika pulang setelah mendaftar, tiba-tiba sebuah mobil menyerempetnya dengan sengaja hingga dia terpental ke selokan pinggir jalan.
Tidak ada yang tahu kejadian itu, Anzel pun tak sadarkan diri. Setelah sadar, dia ternyata di tolong oleh seorang kakek berjanggut panjang berwarna putih. Dia kaget ketika sadar berada di mana, sebuah laboratorium besar dan kuno.
"Siapa kamu?"
"Saya adalah seorang profesor. Kamu akan jadi seorang profesor yang sangat terkenal dan hebat dengan segala kemampuanmu dalam meracik apa pun, termasuk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ummi asya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Janji
Anzel kembali bersinar, setelah formula yang dia ciptakan untuk limbah pabrik kembali di buru dan di cari oleh para pengusaha yang memang perusahaan atau pabriknya memilki limbah yang cukup banyak. Mereka berbondong-bondong untuk membeli formula itu pada Anzel, tak jarang juga ada yang memborongnya hingga bisa untuk stok pengolahan limbah.
Banyak ilmuwan di negeranya yang meminta resep apa saja yang dia gunakan untuk pembuatan penghancur limbah pabrik itu. Tapi Anzel tidak memberitahu akan semua bahan untuk formula penghancur limbah pabrik yang membahayakan bagi masyarakat. Mereka cukup menggunakan hasil buatan Anzel, tidak bisa di buat ulang oleh orang lain.
"Jadi, memang formula itu bahan-bahannya tidak bisa di dapatkan begitu saja. Meski memang ada di sekitar kita, tapi harus jeli dan tidak merusak lingkungan," ucap Anzel ketika dia di wawancarai oleh presenter yang kembali mengundangnya.
"Hmm, jadi bahan-bahannya itu sangat rahasia tuan Anzel?" tanya presenter.
"Ya, dan orang lain tidak bisa membuatnya begitu saja. Itu akan jadi bomerang bagi si pembuatnya jika tidak sesuai dengan aturan komposisinya," jawab Anzel lagi.
Begitulah Anzel, dia bukannya tidak mau berbagi ilmu yang dia dapatkan. Hanya saja dia tidak mau mengulang kesalahan dari kisah profesor Ghaaziy. Profesor Cullen, dia awalnya adalah teman dari profesor Ghaaziy. Tapi lambat laun, laki-laki bernama Cullen itu memaksa untuk menyerahkan formula itu. Publik tidak tahu akan hal itu, karena waktu profesor Ghaaziy hanya berharap profesor Cullen tidak menggunakan formula yang dia buat.Tapi nyatanya, laki-laki itu justru menggunakan formula tersebut. Dan membuat profesor Ghaaziy harus menghilang.
Mereka tidak tahu kalau kedua ilmuwan itu di belakangnya sering bertukar pendapat mengenai ciptaannya, tapi karena profesor Ghaaziy selalu unggul dalam pembuatan formula apapun, jadinya profesor Cullen jadi saingannya. Sejak itu, profesor Ghaaziy menghilang. Satu tahun kemudian, profesor Cullen pun menghilang. Dia pergi, tetapi ke tempat para mafia berkumpul. Dan dia bergabung dengan para mafia tersebut.
Anzel tahu cerita itu dari profesor Ghaaziy sendiri, dia menyayangkan sikap profesor Cullen. Kini laki-laki itu kembali, bersiap untuk menguasai apa yang di miliki oleh temannya, profesor Ghaaziy. Seperti menginginkan Anzel menjadi rekan bisnisnya dalam membuat formula yang lebih canggih, atau membuat senjata pemusnah massal. Jika Anzel menyetujuinya, maka dia akan di suruh membuat senjata massal tersebut dan di jual pada politikus di negara yang senang akan peperangan.
_
Anzel duduk di kursi, dia duduk menunggu seseorang yang membuat janji padanya. Duduk sambil menyeruput kopi pesannya. Hampir habis setengahnya kopi di meja, tapi orang yang di tunggu belum datang juga. Justru yang datang malah orang yang ingin sekali dia hindari.
"Kamu sepertinya sedang membuat janji," kata seseorang berdiri di depan Anzel dengan menatap sinis.
"Tentu, aku ini orang penting. Jadi banyak yang ingin membuat janji denganku," jawab Anzel tenang.
"Apa? Kamu orang penting? Hahah! Jangan mimpi kamu! Jangan sombong, hanya karena dua formula obat penyembuh segala penyakit dan juga formula penghancur limbah pabrik. Bukan berarti kamu menjadi hebat," kata laki-laki yang kini duduk di depan Anzel, Mervin.
Laki-laki itu masih sinis saja pada adiknya itu, Anzel sendiri tidak peduli dengan ejekan bahkan meremehkannya. Dia kembali menyesap kopinya hingga habis, di liriknya jam yang melingkar di pergelangan tangan. Sudah hampir satu jam waktu yang dia buang dengan menunggu orang yang mengajak janji bertemu. Tidak ada tanda akan ada yang datang, apa lagi ponselnya tidak berdering sama sekali.
Mervin memperhatikan yang di lakukan Anzel, dia tersenyum miring. Menatap sekeliling, tidak ada yang menyapa Anzel. Meski banyak juga yang melihat adiknya, tapi tidak ada yang berani menyapa keduanya.
"Kamu menunggu kekasihmu?" tanya Mervin asal.
"Aku tidak punya waktu untuk berkencan, apa lagi memiliki kekasih. Semua itu akan menghambat pekerjaanku," jawab Anzel lagi.
"Ah, benar. Kamu mana ada yang menyukaimu, semua enggan berkencan denganmu. Laki-laki pecundang!" ucap Mervin dengan tatapan masih sinis.
Anzel menatap Mervin dengan lekat, laki-laki itu menelusuri dari sorot mata kakaknya. Dia menangkap dari sorot mata Mervin, ada kemarahan, rasa malu dan juga gengsi karena dirinya yang lebih cepat di kenal. Lebih tepatnya iri karena dia lebih di kenal meski tidak menempuh pendidikan lebih tinggi darinya. Dia tersenyum, kemudian menunduk.
"Kenapa kamu tersenyum?" tanya Mervin kesal.
"Kak Mervin, kamu berjuanglah lebih keras lagi untuk lebih unggul dariku. Aku tahu kamu marah padaku karena aku lebih unggul, dan terkenal karena ciptaanku, Lebih tepatnya, kamu iri padaku," kata Anzel dengan tenang.
"Apa? Aku iri padamu? Hahah! Sangat lucu, jelas aku yang lebih tinggi darimu. Pendidikanku lebuh tinggi, sebentar lagi aku akan jadi dokter spesialis. Dengan kepintaranku, aku bisa lulus lebih cepat dan mendapat nilai cumlaude. Sedangkan kamu? Hanya sampah yang tidak berguna, kebetulan saja kamu di pungut oleh profesor Gyaaziy. Kamu juga membuat formula itu karena bantuan beliau kan? Ah tidak, lebih tepatnya kamu mencuri formula itu darinya. Sama kasusnya temannya, profesor Cullen yang mengambil paksa formula milik profesor Ghaaziy," ucap Mervin.
Anzel diam, jadi kakaknya tahu akan kasus itu?
"Kamu kaget aku tahu apa yang dulu terjadi antara profesor Ghaaziy dan profesor Cullen temannya itu? Aku bisa mendapatkan informasi lengkap, dan bisa mengetahui apa yang akan mereka lakukan," kata Mervin menyombongkan diri.
"Oh ya? Coba kamu tebak, aku menunggu siapa? Aku membuat janji dengan seseorang, jika kamu bisa menebaknya, kamu bisa bertemu dengan profesor Ghaaziy dengan keinginanku," kata Anzel, dia tahu kakaknya itu ingin bertemu dengan profesor Ghaaziy.
Mervin mendengus kasar, kesal sekali dengan ucapan Anzel. Tapi dia tertarik tawaran yang di ucapkan Anzel padanya. Sambil berpikir, Mervin menatap tajam pada adiknya yang bersikap tenang dan juga tersenyum seperti mengejeknya.
"Kamu, yakin aku akan menebaknya? Jangan kaget jika aku bisa menebaknya," kata Mervin.
"Tebak saja," ucap Anzel.
Dia kembali berpikir, mana mungkin Anzel bertemu dengan para pejabat negara. Atau bertemu dengan politikus.
"Kamu akan bertemu dengan ..."
"Oh, maaf tuan Anzel. Saya terlambat datang kesini."
_
_
*******