Berbagai cara telah dilakukan Angelica Jane untuk kabur dari neraka yang disebut sebagai rumah itu dan ribuan kali pula dirinya gagal dalam usaha pelarian. Tak sekali dua kali, bahkan berkali-kali. Vincent Federico-- iblis berkedok paras malaikat itu merenggut kebebasannya.
Sampai ketika, seorang pria misterius tiba-tiba datang dan membawanya pada sebuah kenyataan yang tak terduga. Kenyataan tentang rahasia masa kecilnya yang selama ini tidak diketahuinya sama sekali.
Memori serta ingatan asing perihal kejadian di masa lalunya mulai bermunculan, seolah ingin mengungkap dan mengingatkannya akan suatu hal yang selama ini dilupakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon xyniee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10. Darah pengkhianat.
Vincent menyadari bahwa ada seseorang memegang senapan di balik dinding, tetapi dia memilih pura-pura tidak tahu. Membiarkan dirinya seolah masuk dalam perangkap mereka. Tangannya berlumuran darah milik Jay. Namun, tak menghentikan pukulannya sedikit pun.
Ketika Jackson berteriak memperingatinya, Vincent membalikkan tubuh Jay dan membuatnya sebagai tameng untuk melindungi diri. Kendati demikian, tak menutup kemungkinan beberapa peluru mengenai bahu serta lengannya. Sementara, Jay sendiri sudah tewas akibat puluhan menembus tubuhnya.
Saat semua mengira dirinya telah mati dan asap beracun memenuhi ruangan, Vincent bergegas berlari keluar sambil menarik sang asisten yang hampir kehilangan kesadarannya. Menjauh dari ruangan tersebut sejauh mungkin, lalu menjatuhkan diri dengan posisi telungkup.
Tak lama, sebuah ledakan besar terjadi diiringi kobaran api yang menyambar. Vincent mendesis, merasakan telinganya berdengung hebat akibat suara dari ledakan itu. Beruntung dia sempat menutup telinganya, sehingga membuat tekanan udara di dalam telinga dan di luar menjadi sama.
"Argh! Shit!"
Vincent meringis saat darah mengucur dari luka tembakan di lengannya, dengan tenaga yang tersisa dia berusaha untuk bangkit. Kepalanya menoleh, melihat puluhan anak buahnya tiba sebelum kesadarannya perlahan menghilang.
“Tuan!”
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ***
Ruangan dengan atmosfer klasik berwarna vintage itu terlihat hening. Seorang pria terbaring dengan bahu terbalut kain kasa hingga ke lengannya. Dentingan jam menjadi pengisi keheningan, sebelum derit pintu terbuka mengalihkan perhatian.
Dua pria berjalan masuk ke dalam.
"Tuan, masih belum sadar."
David menghela napas kasar. Menatap asisten kepercayaan adiknya tersenyum tipis, lalu memberi tepukan ringan di bahunya.
"Jangan khawatir, dia akan segera sadar."
“Tuan ....”
Jackson berlutut sambil menundukkan kepalanya, sukses membuat David terkejut.
"Maafkan saya karena tidak bisa melindungi, Tuan Muda. Maka dari itu, saya pantas untuk dihukum," tegas Jackson.
Tidak terdengar sedikit pun keraguan dari ucapannya. Sebelum David berbicara, sebuah suara berat sedikit serak memotongnya.
"Jangan bodoh. Hanya karena kau tak bisa melindungiku, bukan berarti kepalamu akan dipenggal."
Vincent mengernyitkan dahi, lalu mencabut selang infus di tangannya. Sontak membuat David menjitak kepalanya kesal, menarik sang adik agar kembali berbaring.
"Bocah idiot, kau itu baru siuman!" sentaknya.
Vincent meringis memegangi kepalanya yang terkena jitakan, "Jangan membuatku seperti bangun dari koma panjang. Aku hanya terluka, sial."
Perkataan Vincent membuatnya dongkol, pria itu menghela napasnya berbicara rendah.
"Kau memang koma, bocah. Seminggu kau tidak sadarkan diri dan kritis. Apa perlu aku tayangkan rekaman saat kau koma, hah?"
Vincent berdecak malas mengibaskan tangannya tak acuh, tubuhnya dibawa bangkit sambil melihat sekitar dengan bingung.
"Hanya seminggu. Oh, fu*k. Bagaimana dengan kabar gadisku di Mansion?"
Jackson mengangguk.
"Nona Jane baik-baik saja, Tuan."
David menatap datar pembicaraan mereka.
"Lalu bagaimana dengan para pengkhianat itu?"
Nada suara Vincent mendingin, membuat atmosfer di ruangan tiba-tiba berubah.
"Jay tewas, Kai sendiri telah kami tangkap dan mengurungnya di ruang bawah tanah bersama seseorang yang bekerja sama dengannya. Kita juga mengalami sedikit kerugian karena beberapa senjata rusak."
Keterdiaman Vincent membuat tenggelam dalam hening, hingga cairan infus yang menetes ke lantai mengalihkan mereka. Terlihat Vincent tengah membalut luka di tangan dengan bahan seadanya, kemudian beranjak bangun dengan tubuh shirtless.
"Sampah yang masih tersisa harus segera dibersihkan, jika tidak sampah itu akan mengundang banyak kotoran lain."
Tanpa bertanya lagi Jackson sudah mengerti apa maksud dari Vincent, pria itu pun bergegas mengikuti Tuan Mudanya keluar. Seokjin terdiam menatap kepergian mereka berdua. Jika adiknya sudah seperti ini, dia tak bisa berbuat apa-apa apalagi menghentikannya.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ***
Torture Chamber Room's.
Suara jeritan keras memekik di telinga saling bersahutan, aroma daging yang bersentuhan dengan besi panas mengudara. Lantai yang semula putih berubah menjadi lautan darah, menghantarkan aroma anyir yang menyengat.
Terlihat dua orang pria dengan rantai membelit di tubuh mereka sedang berjuang untuk melepaskan diri. Masing-masing kulit mereka telah mengelupas akibat terkena zat kimia membuat darah berceceran di lantai. Zat asam fluorida tak henti-hentinya diteteskan, menjadikan daging di tubuh mereka meleleh.
Kursi yang diduduki sesekali akan mengeluarkan aliran listrik rendah, memberi efek sengatan kejut. Wajah mereka dipenuhi peluh, serta jejak darah mengering. Semua penyiksaan itu benar-benar membuat mereka lelah. Terlebih, jika kepala mereka terangkat mendongak sebuah panah besi panas akan langsung menembus leher mereka.
Tiba-tiba semua alat penyiksaan itu berhenti beroperasi, disusulnya suara derit pintu yang terbuka. Kepala mereka akhirnya bisa terangkat walau hanya sedikit, melihat siapa yang memasuki ruangan neraka ini.
"Kenapa mereka belum mati?"
Pertanyaan itu dengan entengnya keluar. Berjalan tanpa peduli dengan bau anyir yang menyengat, sebaliknya malah menikmati aroma khas darah itu. Jarinya mengambil sedikit tetesan darah di lantai lalu menjilatnya tanpa rasa jij*k, tetapi meludahkannya ke samping dengan ekspresi kesal.
"Karena saat mereka hampir sekarat kami menyembuhkannya agar bisa kembali disiksa, terus mengulang seperti itu hingga Anda sadar."
Jackson menatap Tuan-- ralat, Masternya yang tengah bermain-main dengan kulit daging yang terkelupas dari tubuh. Sesering apapun dia menemani sang Master dalam berbagai misi hingga penyiksaan, tetap membuatnya merasa mual. Vincent Federico, adalah iblis yang sesungguhnya.
"Traitor's blood."
Sudut bibirnya menyeringai, menatap dua orang yang ketakutan dengan tatapan aneh. Perlahan kakinya melangkah mendekat, di tangannya membawa sebuah bor dan paku. Tak lama tawa mengerikan menggema.
"Ayo kita bersenang-senang sambil menunggu kematian kalian!" Vincent menunjuk Kai lalu beralih ke seseorang di sampingnya-- William.
Vincent menus*k paku pada punggung tangan William, kemudian menekannya dengan bor membuat jeritan kembali terdengar. Sementara Kai, kedua pahanya ditancapk*n paku berkali-kali hingga dagingnya tercabut keluar.
"William, nyatanya kau tidak lebih dari sekedar pengecut bagiku. Menghasut anak buah kepercayaanku dengan ucapan omong kosongmu, kemudian bermimpi untuk bisa menyamaiku."
Sebuah pisau berkarat ditancapkan di bahunya, perlahan turun membuat goresan memanjang hingga ke punggungnya. Darah menetes deras, memperlihatkan daging yang terkoyak menganga lebar. Vincent mengiris daging punggung William, menghirup aromanya. Namun, sedetik kemudian membuangnya.
Vincent beralih ke Kai.
"Kai, aku dulu pernah memperlihatkan padamu sebuah penyiksa*n khusus untuk para pengkhianat dan beruntungnya, kau akan mencobanya sekarang.”
Tangannya mengambil dua mata pisau, lalu perlahan membuat goresan memanjang di kaki Kai. Matanya fokus menguli*ti memisahkan kulit dari dagingnya, menyebabkan darah terciprat mengenai wajahnya.
Ketika selesai, Vincent mengambil kulit daging itu dengan garpu seolah makanan. Menyodorkannya pada Kai, memasukkan kulit itu ke mulutnya secara paksa agar pria itu memakan kulitnya sendiri.
Bagai kehilangan akal, Vincent mengambil kapak berukuran sedang lalu mengelus ujung runcingnya. Kepalanya menoleh, menatap Kai dan William yang sudah sekarat.
"Waktunya mengakhiri permainan."
Suara gesekan kapak dengan lantai menciptakan atmosfer menegangkan, terlebih Vincent memberi senyuman setan untuk mereka. Perlahan kapak itu terangkat, memenggal kepala Kai hingga terjatuh menggelinding ke bawah.
William yang melihat itu semakin pucat, peluh membanjiri wajahnya. Membuat Vincent tertawa puas.
"Tenang saja, kau akan bernasib sama sepertinya."
Sebuah samurai bermain-main di dada William, ujung tajamnya menyayat membentuk tanda X tepat di bagian jantungnya. Setelah itu menus*kkan samurai tersebut berkali-kali, sampai suara retakkan tulang terdengar. Satu kali teba*san, kepala William telah lepas dari tubuhnya.
Jackson menatap tubuh, kulit serta daging yang berserakan. Berusaha untuk menahan rasa mualnya. Terlebih, kepala milik Kai berada tepat di sampingnya dengan mata melotot. Sampai suara rendah milik Vincent mengejutkannya.
"Kita pulang ke Mansion."