Ellena Celestia Baskara adalah gadis pewaris tahta keluarga Jarzam, pemilik perusahaan berlian terbesar di negara itu. Tetapi dia harus mengalami peristiwa buruk saat para mafia merampas seluruh hartanya, dan membunuh kedua orangtuanya, dia melarikan diri dan tenggelam di lautan tempat tinggalnya dewa laut, sang dewa menolongnya dan membalik kehidupan Ellena menjadi seorang bayi lagi yang kemudian ditemukan oleh seorang wanita tua.
Para Mafia itu mengejarnya sampai menemukan sebuah kristal biru sumber kekuatan terbesar seluruh lautan di muka bumi ini, dan mereka merampasnya juga, sang dewa murka dan mengirim titisan setengah kekuatannya dalam kristal kapsul kecil bersamaan dengan Ellena yang juga sengaja di masukkan ke dalam sebuah kapsul kristal, lalu apakah yang akan terjadi dengan kedua kristal itu?
Saksikan kisah selanjutnya hanya di sini, happy reading semuanya ...
Jika membaca tolong tinggalkan jejak ya ges, like, komen, dan vote-nya, thankyouu---haturnuhun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Teriablackwhite, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ADD Eps 9
...•...
...•...
...•...
...•...
...•...
Dengan tergopoh-gopoh Kalea berlari di atas tangga yang sedang berjalan, langkahnya begitu menggebu-gebu sambil sesekali dia menoleh ke belakang, memastikan jika tidak ada yang mengikuti jejak mereka.
Topik utama yang menjadikan rasa takutnya semakin mencekam adalah sosok Kano. Seringkali Kalea membaca berita tentang kekejaman dan kehebatan Kano Ratilal Syrho, geng motor yang selalu seliweran di sosial medianya.
Setibanya di lantai dua, Kalea masih menyeret Ellena sampai masuk ke dalam sebuah toko yang memang menjadi tujuannya, toko yang menjajal keperluan membuat Roti dan kue-kue.
"Untung kamu selamat Len," ucapnya lega karena telah berhasil melarikan diri dari sosok Kano.
"Hah?!" Sudut bibir kirinya menaik sejenak.
Kalea mengambil keranjang belanjaan beroda dan Ellena membuntuti gadis berambut sebahu berlayer itu. Keduanya mulai menjelajahi tempat itu, dari rak satu ke rak lainnya tanpa memedulikan orang-orang yang tengah memperhatikan tingkah mereka.
"Ini kenapa sih, aku jadi bingung Kal," pungkas Ellena mengernyit, dia menggaruk belakang telinganya. "Kamu tahu siapa dia? Tadi kata Pak Satpam juga harus hati-hati sama cowok itu, karena dia pimpinan apa ya tadi ...," urai Ellena yang tiba-tiba saja menghentikan langkahnya.
Netra merah muda gadis itu berputar di tempat yang sama, dia tengah mengingat nama geng motor yang sempat terlontar dari mulut satpam itu. Namun, tidak ada anyaman kata yang terlintas di benaknya sehingga dia mencebik kesal karena tidak bisa mengingat apapun.
"Ih apa sih itu namanya, kok bisa lupa," kesal Ellena sembari menggaruk pelipisnya dengan satu jari telunjuk tangan kanannya.
Kalea kembali mendekat, tepat di telinga Ellena, dia terdiam. "Atlantis Aodra," bisiknya dengan suara yang amat pelan.
Degh!
Mendengar nama itu menerobos masuk ke telinganya, seketika seluruh raga Ellena kembali terguncang, ada rasa takut yang berkecamuk di dalam dadanya. Bulu kudu gadis itu tiba-tiba saja menegang, perlahan dia usap tengkuk lehernya.
"Nah itu A-"
Cepat-cepat Kalea menutupi mulut sahabatnya dengan tangannya, kembali bola matanya mengedar ke segala arah untuk memastikan jika tak ada lagi orang lain yang menyadari perbincangan mereka.
"Ssstt ...!" desis Kalea menempelkan jari telunjuk di atas bibirnya.
Ellena bergeming bola matanya terlempar pada telunjuk Kalea yang berdiri di atas bibir sahabatnya itu. "Apa?" serunya bingung.
"Jangan bilang. Simpan di dalam pikiran kamu Len,"saran Kalea kembali mendorong troli belanjanya.
"Emangnya kalau di sebut kenapa sih? Ini kota lama-lama buat aku takut deh Kal." Ellena melangkah mengikuti kemanapun Kalea melangkah.
Gadis bermata almond itu mengarah ke rak putih yang ada di samping kanannya, di sana tepung-tepung dari kualitas rendah hingga tinggi berjajar rapi, kedua gadis itu tengah mencari tepung berkualitas tinggi yang sulit didapatkan di kota Sirevina.
Sepuluh kantong tepung berkualitas tinggi mendarat di troli belanja yang tengah didorong oleh Kalea. "Mereka itu orang-orang kejam yang ditakuti banyak orang, lelaki yang tadi gak sengaja kamu tabrak adalah salah satu orang kejam itu," jelas Kalea.
"Kekejaman seperti apa yang dia lakukan dan kamu tahu dari mana soal dia sebanyak ini, aku kok gak tahu apa-apa ya Kal," tanya Ellena polos sambil dia mengambil beberapa coklat yang sudah direncanakan untuk dia bawa ke kotanya.
Kalea mengembus, sungguh lelah mendengar pertanyaan Ellena yang tidak pernah ada habisnya, gadis itu menoleh malas pada Ellena yang tengah mendongak ke arah rak putih yang ada di dekatnya.
"Karena kamu selalu gak peduli apapun yang terjadi di sosial media, kamu bilang ...," urai Kalea sembari menggerakkan kedua tangannya menari-nari di udara dengan sembarangan, "ngapai mengurus urusan orang lain, mereka mau jahat ataupun enggak itu bukan urusan kita, selama kita baik-baik aja maka hiduplah sebagaimana mestinya," sambung Kalea panjang.
Mendengar celotehan sahabatnya, Ellena segera mencebik kesal, matanya menyipit saat setelah dia menoleh pada Kalea yang ada di belakangnya sambil memeluk beberapa toping yang akan digunakan untuk mempercantik roti dan kue di tokonya.
"Perkataan itu bener kan?! Sosial media itu tidak untuk kita perhatikan," sanggah Ellena melakukan pembelaan atas argumentasi yang sempat dia lontarkan beberapa waktu ke belakang.
"Iya, perkataan kamu memang benar, tidak ada yang salah. Tapi, kamu gak bisa menutup mata kamu untuk segala hal, terkadang ada banyak informasi yang bisa kita dapat dari memantau sosial media," ucap Kalea tak mau kalah.
"Kalau gak salah berarti aku bener, udah, selesai ...," celetuknya begitu saja mengabaikan apa yang berusaha Kalea jelaskan pada sahabatnya itu.
Senyuman yang seindah bulan sabit dengan segera terbit dari Ellena, lalu gadis itu beranjak dari Kalea, langkahnya begitu cepat. Ada sesuatu yang lebih menarik di depan, meninggalkan Kalea yang terperangah dengan jawaban yang diberikan Ellena untuk semua penuturan panjangnya tadi.
Kalea berkacak pinggang kesal di dekat troli yang sudah terisi oleh semua keperluan yang akan mereka bawa kembali ke kota kelahirannya. "Si Ellena bener-bener ya, susah banget kalau dikasih tahu," kesal Kalea menggelengkan kepalanya kuat.
...🌕 🌕 🌕...
Kalea dan Ellena termendak di sofa kecil yang ada di dalam kamar inap yang mereka sewa untuk dua hari ke depan. Semilir angin mengendap-endap masuk ke dalam sela-sela jendela kamar inap kedua gadis itu.
Ellena mengendurkan punggungnya sampai bersandar pada sofa itu, kepalanya terjatuh dengan lembut ke kepala sofa, netranya berkeliaran ke ujung jendela, ada secercah cahaya rembulan yang tengah berpendaran.
"Sampai kapan kita ada di sini Kal," tanya Ellena dengan sayup-sayup matanya yang berat, rasa kantuk tengah menjeratnya.
"Sampai angkutan umum dari kota ini masuk ke kota kita," jawab Kalea sambil fokus dengan ponselnya.
"Kenapa harus nunggu sih, emangnya gak ada yang langsung apa." Ellena memejamkan matanya sembari memeluk dirinya sendiri.
"Ya gak bisa, ada jadwal tertentu, kan gak bisa sembarangan masuk ke kota kita begitupun dengan kota ini, semuanya ada aturannya," jelas Kalea yang tidak menyadari jika Ellena sudah terlelap.
Senyap. Desir angin bergerak maju berkelana di sekitar telinga Kalea, dan saat itu dia baru menyadari jika sahabatnya sudah tidak menjawab ataupun menangkis semua jawaban darinya, biasanya Ellena selalu berargumen menurut pikirannya jika kehidupan harusnya seperti ini dan itu.
Kerlingan Kalea menanjak sampai mendapati jika Ellena sudah tertidur pulas di atas sofa, tubuhnya membulat. "Ish, dasar ini anak, lagi ngobrol bisa-bisanya dia tidur," protes Kalea melemparkan cemilan bulat yang memiliki rasa asin dan gurih ke arah Ellena.
Namun, gadis bermata pipih itu tidak tergoyahkan, dia sudah menyatu dengan alam bawah sadarnya, abu-abu pekat menyelinap masuk ke dalam bayangan alam bawah sadarnya, Ellena tenggelam pada kabut kelabu yang berkumpul di sana.
Ada sosok pria gagah berwajah tampan menghampirinya, bola mata biru bak air laut itu menjerat raga Ellena menjadi bergeming, dia berusaha untuk membuka baju Ellena. Tubuh gadis itu berguncang sampai akhirnya dia membuka matanya.
"Aargh ...." Ellena memekik dan terbangun dari alam bawah sadar yang merenggut kesadarannya tadi.
Dalam sekejap mata tubuh Ellena mematung dalam beberapa waktu, napasnya terengah-engah seperti sudah terlepas dari kejaran anjing yang terganggu tidurnya, tatapannya membeku lurus ke depan, membuat Kalea yang baru saja ingin tertidur segera terjaga kembali, jantung kedua gadis itu berhamburan tidak karuan.
"Kenapa sih Len ... Suka banget bikin jantung aku lari-larian, kenapa? Kamu mimpi apa sampai teriak begitu," gerutu Kalea sambil mengusap dadanya.
Ellena menelan ludahnya yang kering, perlahan dia menoleh ke arah Kalea berada, kerlingannya masih berpadu, sorotnya menajam. Lantas dia melangkah ke luar kamar inapnya tanpa mengatakan sepatah kata pun, gadis itu mencengkeram kenop pintu yang baru saja membawanya keluar dari kamar kecil itu.
"Kal ...," katanya lirih memperpanjang sorotnya sampai tembus langit-langit yang menghitam.
Kalea beranjak dari sofa dan mendekati Ellena yang bertingkah aneh. "Euum ...," gumam Kalea berdiri di samping kanan Ellena.
"Aku mimpi aneh Kal, itu menakutkan, aku harus bagaimana Kal ...," terang Ellena, tubuhnya bergetar.
Mimpi singkat itu bisa merampas ketenangan Ellena, gadis itu menatap langit dengan getir. Embusan napas beratnya benar-benar tercekat, sekali lagi bayangan kelabu dari ingatannya melintasi kedua bola matanya merayang.
"Mimpi apa?" tanya Kalea nampak khawatir.
"Ada cowok badannya kekar, tubuhnya tinggi, bola matanya biru bagaikan air laut mau berusaha buka baju aku, katanya dia mau lihat tanda," jelas Ellena penuh antusias, kedua tangannya berlayar kesana kemari tak jauh dari jangkauan netranya dengan Kalea.
Terlihat Kalea mengernyit, tanda? Hal ini yang menjadikan pertanyaan kokoh mengudara dalam benak gadis itu, tanda apa yang dimiliki oleh Ellena, sebelumnya dia tidak pernah mengetahui jika Ellena memiliki sebuah tanda.
"Tanda? Tanda apaan? Emangnya kamu punya tanda di tubuh kamu Len?" tanyanya penasaran.
Netra gadis bermata almond itu tak henti-hentinya memasati paras cantik Ellena sampai dia mengedar ke anggota tubuh lain milik gadis berambut panjang bergelombang itu. Namun, dia tidak menemukan apapun, tubuh Ellena benar-benar putih bersih, tidak ada benda atau hal apapun yang mampu mengotori kulit putih halusnya.
"Itulah, kenapa coba lelaki itu nyari tanda di tubuhku, padahal kan gak ada apa-apa." Ellena berujar kesal bercampur padu dengan rasa takut.
Pasalnya Ellena tidak mengetahui siapa lelaki itu dan kapan hal itu akan terjadi. Itu hanya sebuah mimpi, tetapi entah mengapa batin Ellena memiliki keyakinan yang cukup kuat jika satu hari dalah kehidupannya pasti akan bertemu dengan lelaki itu.
Kalea mengelus lembut punggung Ellena yang tengah memeluk dirinya sendiri mendekap rasa takut dan dingin yang menusuk. "Tenang Len ... Itu kan cuman mimpi, jangan terlalu dipikirkan," ucap Kalea berusaha menenangkan Ellena.
"Tapi Kal ... Mimpi itu bener-bener seperti nyata, aku yakin kejadian itu pasti terjadi di suatu hari nanti," urai Ellena tak mau kalah.
Ada perasaan tidak enak yang menggila, ia seperti angin limbubu yang berputar-putar secepat keinginannya. Seperti itulah kondisi hati Ellena saat ini, untuk tertidur kembali membutuhkan waktu yang cukup lama.
Kedua gadis itu tidak lekas kembali ke dalam kamar inapnya, mereka memutuskan untuk berjalan-jalan kecil di sekitar tempat menginap mereka, langkahnya bergulir ke sebuah taman kecil yang dilengkapi dengan danau indah yang memiliki tanaman air yang memukau. Beberapa kunang-kunang nampak ikut menghiasi keindahan lokasi tersebut.
"Danaunya indah ...," seru Ellena menghirup aroma mawar liar yang terjaga dengan baik.
Matanya terpejam sejenak sembari dia membentangkan kedua tangannya sampai menghalangi pemandangan Kalea, sahabatnya itu gegas melangkah mundur, menghindari Ellena sambil dia menggeleng.
"Len ... Kamu ya kenapa ngajak ke sini sih, kayak yang tahu aja tempat apa ini?" protes Kalea melipat kedua tangannya di depan.
Gadis berambut hitam legam itu mengabaikan ocehan Kalea, danau di depannya sungguh menarik perhatian Ellena. Dia berayun, berlari kecil mendekati danau di depannya. Gadis itu tersenyum lebar sesaat setelah dia membenamkan kedua tangannya ke dalam dekapan air danau yang hitam karena perona langit malam ini.
"Kebiasaan banget nih, kalau nemu laut, danau atau air aja suka lupa segalanya, Len ... Len ... Kamu itu kayak anak kecil sih Len," gerutu Kalea lagi yang tetap bertahan diposisinya saat ini
...----------------...
jangan lupa mampir di novel pertama qu
🙏