Berawal dari hubungan sebagai tetangga hingga pada akhirnya takdir merubahnya menjadi sebuah hubungan yang terjalin dalam ikatan rumah tangga.
Daffin Malik Narendra tidak pernah menyangka jika dirinya akan berjodoh dengan putri dari tetangganya. Tentu saja hal ini terjadi lantaran sang mama yang begitu terobsesi untuk menjadikan putri dari tetangganya itu sebagai menantunya.
Begitu juga dengan Kanaya. Dirinya sama sekali tidak pernah menyangka akan berjodoh dengan Daffin yang tak lain anak laki-laki dari tetangganya. Apalagi dimata Kanaya, Daffin adalah pria dingin dan menyebalkan.
"Bukannya dapat jodoh cowok yang cool, ini malah dapatnya kanebo kering." Kanaya Putri
"Buat apa cobak kuliah jauh-jauh sampai keluar negeri kalau ujung-ujungnya nikah sama tetangga. Mana cabe-cabean lagi." Daffin Malik Narendra.
Akankah keduanya mampu menjalani hari-hari mereka sebagai sepasang suami istri?
Yuk ikuti terus jalan ceritanya dan jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Risalah_Hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hipertensi
Tepat pukul sebelas siang mereka sampai ditempat yang sudah disepakati dengan pimpinan PT. Mega. Pembahasan mereka tidak membutuhkan waktu yang lama karena memang perusahaan mereka sudah lama saling bekerja sama.
Sepulang dari pertemuan itu Daffin mengajak Farel untuk mampir sebentar disebuah cafe yang tak jauh dari sana. Tujuan Daffin adalah ingin mencari yang segar-segar mengingat cuaca hari ini begitu panas. Dan lagi memang ini sudah masuk jam makan siang.
kini keduanya terlihat sibuk memilih masing-masing menu yang ingin dipesannya. Dan tak butuh waktu lama mereka memanggil seorang waiters.
Saat keduanya tengah menunggu pesanannya datang, tiba-tiba tanpa sengaja pandangan Farel tertuju pada dua gadis yang baru saja masuk kedalam cafe.
"Fin coba lo liat, kayaknya itu si putri tidur." Ucap Farel sembari tangannya menunjuk pada dua gadis yang nampak bingung mencari tempat duduk.
"Ck....gue kira apaan. Ya udah biarin ajalah. Lagian ngapain lho kepoin mereka." Daffin terlihat cuek.
"Nay....sini gabung." Tanpa meminta persetujuan Daffin, Farel langsung memanggil Naya. Bahkan tangannyapun tak mau kalah dengan ikut melambai-lambai.
"Nay...kayaknya ada yang manggil lho deh." Nindi menggerakkan tubuh Naya agar menghadap pada sosok laki-laki yang rupanya memanggil sahabatnya itu.
Naya memang tak mendengar panggilan dari Farel lantaran dirinya yang sibuk mencari tempat duduk.
"Siapa sih." Naya terlihat mengerutkan keningnya sembari kedua matanya mengikuti arah tangan yang ditunjuk oleh Nindi.
"Itu kan kak Farel, asistennya kak Daffin. Aduh kenapa pakek acara ketemu mereka segalah sih." Naya terlihat berbicara lirih. Namun sayangnya masih bisa didengar oleh Nindi.
"Lho kenal sama mereka?" Tanya Nindi penuh selidik.
"Salah satu dari mereka yang kemarin nabrak gue." Ucap Naya dengan nada sinis.
"Ayo Nay sini gabung sama kita." Bahkan kali ini Farel sudah nampak berdiri dari posisi duduknya.
"Lho apaan sih, udahlah biarin aja mereka mau duduk dimana." Disana ternyata Daffin terlihat begitu kesal pada asistennya yang dengan beraninya memanggil Naya tanpa meminta persetujuan darinya.
Tak enak karena melihat Farel yang terus memanggil sahabatnya, Nindi pun langsung menarik temannya itu agar mendekat kearah mereka.
"Silahkan duduk." Dengan ramah dan penuh tebar pesona, Farel mempersilahkan keduanya dengan sangat ramah.
"Permisi ya kak, kita duduk." Bukan Naya yang menjawab, melainkan Nindi yang terlihat salah tingkah lantaran melihat Farel yang entah mengapa terlihat begitu tampan dimata Nindi.
"Yah silahkan. Sekalian juga kalian langsung pesen mau makan apa." Kini tangan Farel terlihat menyerahkan buku menu yang ada dihadapannya setelah memastikan kedua gadis itu duduk.
"Nay lo mau makan apa?" Tanya Nindi
"Samain aja sama lo." Jawab Naya dengan tangannya yang terlihat sibuk dengan ponselnya.
Setelah memesan makanan sesuai yang diinginkan, Nindi langsung terlihat memperkenalkan dirinya kepada Farel.
Tentu saja Farel menyambut antusias perkenalan Nindi. Sementara Daffin, dia hanya menaggapinya dengan menganggukan kepala sembari tersenyum tipis.
****
Kini mereka berempat terlihat tengah menikmati makanan mereka masing-masing. Terlihat Nindi dan Farel yang nampak terlibat obrolan. Sementara Naya dan Daffin keduanya nampak saling diam. Namun sesekali Daffin terlihat curi-curi pandang kearah Naya.
"Ehem..." Farel yang memang dari tadi sengaja diam-diam memperhatikan gelagat bosnya yang terlihat curi-curi pandang kearah Naya sengaja berdehem.
Dan tentu saja apa yang dilakukan oleh Farel ini sukses membuat Daffin jadi sedikit gelagapan. Namun sebisa mungkin dia bersikap cool didepan mereka agar tidak sampai merusak citranya sebagai lelaki cuek dan dingin.
"Kalian udah pada pulang kuliah?" Farel bertanya agar bisa memecah keheningan yang sempat terjadi.
"Iya kak, cuman karena tadi kita gak sempet makan siang jadi pulangnya kita mampir kesini dulu." Lagi-lagi Nindi lah yang menjawab setiap kali ada pertanyaan.
"Kalian naik apa kesini?"
"Kita pakai motor."
"Boncengan?"
"Iya kak. Soalnya Naya masih belum bisa bawa motor sendiri. Takutnya kakinya tiba-tib...." Belum sempat Nindi menyelesaikan omongannya, dibawah kolong meja nampak Naya dengan cepat menginjak kaki sahabatnya ini sebagai isyarat agar mulutnya ini bisa diam.
"Nay....kaki gue kenapa diinjak do-dol." Nindi terlihat kesal sembari wajahnya juga terlihat seperti menahan sakit.
"Sorry Nin, beneran deh gue gak sengaja." Naya berusaha terlihat agar dirinya seperti memang tidak sengaja melakukannya.
Sebenarnya Naya tak ingin melakukan hal itu lantaran takut membuat sahabatnya ini merasakan sakit dikakinya. Namun apalah daya, jika dirinya hanya diam saja bisa-bisa semua kebohongannya terungkap didepan Daffin langsung.
Ya, Naya memang sengaja berbohong dengan mengatakan jika kakinya sudah sembuh lantaran dirinya yang tidak mau lagi diantar dan dijemput oleh Daffin.
Bagi Naya terlalu lama bareng sama Daffin hanya akan membuatnya terkena hipertensi diusia muda.
Bagaimana tidak, hampir tiap hari Daffin selalu membuatnya kesal dengan setiap kalimat yang diucapkannya.
Kadang dia marah-marah gak jelas, kadang suka maksa, kadang bicaranya seperti sedang mengejek. Intinya bagi Naya bersama dengan Daffin hanya akan membuat moodnya anjlok saja.
"Udah mending dilanjutin makannya." Naya terlihat mengalihkan perhatian. Dirinya tidak ingin jika sampai Nindi membahas masalah kakinya lagi.
Selepas makan Naya hendak berdiri guna memanggil waiters untuk meminta tagihan makanannya.
"Mau bayar? Gak usah Nay, ini semua sudah dibayarin sama bos Daffin. Hari ini kebetulan dia dapat proyek jadi anggap saja ini sebagai ungkapan rasa syukur. Iya gak Fin?"
Sungguh Daffin ingin sekali menutup mulut asistennya ini dengan piring yang ada didepannya karena bisa-bisanya mengarang cerita dengan mengatakan jika dirinya habis mendapat proyek.
Bukannya Daffin keberatan untuk membayarkan mereka. Karena bagi seorang Daffin jangankan hanya membayarkan tagihan makan mereka, membeli cafenya pun dirinya sangat mampu. Hanya saja bagi Daffin apa yang dikatakan oleh Farel ini terlalu berlebihan dan tidak sesuai kenyataan.
Pertemuannya dengan pimpinan PT.Mega tadi hanya membahas masalah proposal dan belum sampai pada tahap keputusan karena masih menunggu satu bulan lagi.
Tak ingin menanggapi ocehan Farel, Daffin memilih segera berdiri dan menuju meja kasir. Baginya pembicaraan akan semakin melebar jika dirinya meladeni omongan asistennya yang satu ini.
"Habis ini gue ada agenda apalagi?" Tanya Daffin pada Farel begitu dirinya kembali ketempat duduknya
"Kayaknya gak ada Fin. Bukannya sisa pekerjaan udah lho limpahkan sama si Raisa." Farel mencoba mengingatkan kembali jika sebelum dirinya pergi menemui rekan bisnisnya, Daffin menyuruhnya agar memberika Raisa tugas untuk merevisi sebuah laporan.
"Oke kalau begitu gue cabut dulu." Dafin tiba-tiba berdiri sambil dirinya menarik pergelangan tangan Naya yang masih terlihat sibuk memainkan ponselnya.
"Eh ini apaan sih main pegang-pegang tangan gue aja." Naya terlihat kaget sekaligus kesal dengan apa yang dilakukan oleh makhluk bermulut pedas ini.
"Fin ini gimana maksudnya ya? Lho mau balik dulu, la terus kalau lho balik duluan gue pulangnya sama siapa?" Tak hanya Naya yang merasa kaget mendengar penuturan Daffin. Farel pun dibuat tak kalah kagetnya seperti Naya.
"Lo pulang naik taxi, sekalian lo ikutin motor gadis ini dari belakang. Pastikan dia sampai dirumahnya dengan selamat. Sementara Naya biar gue yang yang nganter."
nah bonusnya Bunga aj ya, Fin..
😂🤣
bang..
bangKruutt
😆🤣
gaskeunnnnn
itu barusan
satria???
aqu pun jd nyesal nih dukung naya
udah jd istri pun blm bisa berubah..
kena lagiiii
ampyuun uunn Bund
author dan naya joinan stres nih????
mmg benar..
ingin kebahagiaan mu..
smg langgeng ya, Nay....
sing sabar....
singkat jelas padat dan SiGap!
😃🤣🤣
gawat darurat nih...
.
awas aj loe gk.nikahin naya ya, fin..
gue kaburrrrrrrrrr
sok. Jaim
ujung ujungnya narik tangan juga..
😃🤣
Biarin JuTek tp ttp Tegas!!
tapi juteknya cukup ma Raisa
aj ya, No Naya!!!
😁🤣🤣
berat nih, Nay...
ada saingan CLBK
cinta lama berjuang kembali...
wkwkwk 🤣