Josephine Silva alias Joey merupakan seorang gadis lugu dan polos.
Suatu hari dia bertemu dengan Devano Geraldi atau biasa dipanggil Al.
Mereka saling mencintai dan saling percaya satu sama lain.
Hingga pada suatu ketika di acara pernikahan mereka, tiba-tiba saja Al menggagalkan acaranya tanpa alasan yang pasti.
Lambat laun, ketika Joey sudah menata hatinya dan bangkit kembali, ia bertemu dengan Marcus Hanson Antinio (Mark), dengan sifat yang berbeda jauh dengan Al.
Mark pria yang angkuh dan sombong.
Mark melakukan berbagai banyak cara untuk bisa mendapatkan hati Joey.
Akankah Mark berhasil mendapatkan hati dan juga cinta Joey?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riana a s, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ditinggal Tanpa Berita
Suasana di rumah Joey sangat sepi. Mama Olin masih di kantor. Dengan malas Joey melangkah menuju ke kamar. Ia merasa kegerahan. Ia pun berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Sementara Mark baru saja tiba di rumahnya.
Di tempat lain, ada seseorang yang sedang asyik dengan ponselnya.
Joey, aku akan selalu menunggumu. Aku nggak rela kamu dekat dengan lelaki mana pun. Batin lelaki itu.
Dia adalah Al. Al sang mantan Joey. Setelah lama dia menghilang dari kehidupan Joey, dengan percaya diri dia datang lagi tak tau apa tujuannya.
Dia memata-matai Joey. Al menyuruh bayarannya untuk selalu mengawasi Joey. Dengan siapa Joey sekarang, bagaimana hidupnya. Intinya semua yang berhubungan dengan Joey harus dilaporkan suruhannya itu kepadanya.
Dia masih mencintai Joey. Tetapi apa kah Joey tau itu? Apakah Joey masih mau menerimanya lagi? Hanya Joey yang bisa menjawab semua pertanyaan itu.
Flashback on.
Hari yang ditunggu tiba. Hari dimana Joey dan Al menikah.
Cuaca hari ini pun sangatlah mendukung. Matahari dengan riangnya memancarkan cahayanya. Membuat pejalan kaki harus mengenakan sesuatu untuk menutupi kepala dan wajahnya agar tidak terpapar sinar matahari. Terutama wanita. Wanita yang memakai s*incare. Hahaha..
Suasana di aula pernikahan sudah ramai. Memang sih nggak terlalu ramai. Karena Joey hanya mengundang keluarga besar, sudara-saudara jauh, rekan kerja.
Untuk saat ini tamu yang berdatangan hanya keluarga Joey atau tepatnya undangan atas nama Joey yang memenuhi aula. Sementara keluarga Al? Entahlah. Tak tau dimana rimbanya. Hanya satu yang tak terlupakan, kala senja.......
Eh kok malah nyanyi pula.
Para tamu mulai memberi ucapan selamat pada Joey. Ada yang memeluk, ada yang cipika cipiki (cium pipi kanan, cium pipi kiri) Ada juga hanya sekedar salam tangan. Kebanyakan itu rekan kerjanya mama Olin.
Terlihat di tengah-tengah aula, pak penghulu sudah menunggu dengan setianya pengantin pria dan wanita. Sebuah meja yang sudah dihiasi dengan kain berenda berwarna putih sudah tertata dengan posisi mantap di hadapan pak penghulu. Para petugas pembawa papan bunga berdatangan silih berganti. Sementara Joey dan mama Olin di ruang rias.
"Kamu cantik, Joey. Mama harap kamu akan bahagis sayang." kata mama Olin.
Joey memakai gaun pengantin berwarna putih. Sangat cantik.
Suasana yang hangat dan penuh haru terjadi.
"Seandainya papa masih ada ya, mam." kata Joey. Tak terasa butiran bening mengalir di pipinya. Aku pasti akan sangat bahagia. Berkali-kali lipat bahagiaku.
"Pasti papa melihat kamu dari singga sana Joey. Papa pun pasti bahagia lihat putrinya bahagia." ucap mama Olin
"Sudah Joey, hapus air mata kamu. Nggak bisa kita menangisinya lagi. Sang Maha Penguasa lebih mencintainya. Mau nangis sekeras apa pun nggak akan bisa mengembalikan papa." imbuh mama Olin.
Joey kembali meneteskan air matanya. Puluhan tahun Joey nggak pernah merasakan kasih sayang dari sang papa. Ingin bertemu tapi apalah daya. Sudah beda dunia.
Mama Olin memeluk Joey erat. Mereka berdua menangia sesenggukan. Mengingat kilas balik hidup mereka sejak ditinggal sang papa. Bagaimana berjuangnya Mama Olin untuk bangkit.
Membesarkan Joey sendirian. Melakukan peran ganda demi sang putri. Jadi ayah dan jadi ibu sekaligus. Awalnya memang sangat susah. Hanya air mata dan hampir putus asa.
Itulah yang menimpa mereka. Akan tetapi usaha memang tak pernah menghianati hasil. Dengan kegigihan mama Olin, bisa melewati semua hingga menjadi seperti sekarang.
Mereka masih saling memeluk satu sama lain. Dengan pemikiran masing-masing.
"Mbak, pak penghulu ingin bicara." kata mbak yang merias Joey membuat mereka menoleh ke arah sumber suara.
Joey dan mama Olin menghapus sisa air mata mereka dengan tissue. Mama Olin membantu Joey. Mama Olin tidak ingin ada sedikitpun wajah sedih saat acara pernikahan ini.
Mama Olin membantu Joey berdiri. Menuntunnya berjalan ke aula pernikahan. Menuju meja tepat dihadapan bapak penghulu. Mereka duduk.
"Ibu, dimana pengantin prianya? Apa sudah sampai?" tanya bapak penghulu.
"Belum, pak. Mungkin macet. Pasti mereka sedang dalam perjalanan." kata mama Olin meyakinkan bapak penghulu.
"Baiklah, sebaiknya kita tunggu saja." kata bapak penghulu lagi.
"Iya,pak. Mereka pasti datang. Kita hanya menunggu dengan sabar." ujar mama Olin menenangkan para saksi yang sudah mulai krasak krusuk karena pengantin pria tak kunjung tiba.
Satu jam sudah mereka menunggu. Tapi yang ditunggu belum juga datang. Para tamu sudah mulai resah. Seperti cacing kepanasan.
"Bu, bagaimana pernikahan ini dilanjutkan sementara mempelai pria tak kunjung datang?" tanya salah seorang tamu. Dan diangguki oleh tamu lainnya.
"Sabar bapak-bapak, ibu-ibu. Mereka sebentar lagi datang." kata mama Olin agak cemas. Mama Olin berusaha menenangkan para tamu agar mau bersabat sebentar lagi.
Dalam hati dia sangat berharap Al dan keluarganya pasti akan datang.
Sedangkan Joey mulai gelisah. Ribuan pertanyaan sudah menempel di benaknya. Lalu Joey meminta ponselnya kepada bibik Darmi. Ia menghubungi nomor Al.
Akan tetapi nomornya tidak aktif.
Puluhan kali Joey menghubungi nomor yang sama tetapi hasilnya sama. Nomor Al tetap tidak aktif. Joey emosi. Joey melempar ponselnya ke lantai.
Dasar handphone tak berguna, pekiknya.
Joey berjalan keluar dari aula mencari-cari sesuatu. Ia menuju lobby. Meminjam telepon pada resepsionis. Kembali Joey menghubungi nomor Al lewat telepon. Lagi-lagi hasilnya sama.
Joey panik. Pikirannya sudah tidak jernih. Entah apa yang terjadi dengan Al.
Sementara di dalam aula, mama Olin mencari keberadaan Joey. Tidak ketemu.
Kemana Joey pergi, batinnya.
Mama Olin juva mulai gelisah. Rasa kecewa sudah terpancar di wajahnya. Ingin rasanya menumpahkan kepenatannya tetapi urung. Masih banyak orang.
Langkah mama Olin seketika berhenti ketika seseorang memanggilnya dari belakang.
"Lin, mau kemana?" tanyanya.
"Aku mau cari Joey Si. Aku takut dia kenapa-kenapa." kata mama cemas sangat.
Wanita itu adalah Desi. Teman dekat mama Olin.
"Bagaimana dengan para undangan, lin? Apa yang akan kita lakukan?" tanya Desi.
Mama Olin berpikir sejenak. Kemudian berlalu ke kerumunan tamu yang sedari tadi sudah ribut. Ada yang mengejek ada pula yang merasa iba. Bahkan ada beberapa tamu yang sudah pulang. Mereka udah nggak kerasan menunggu. Mungkin mereka punya kegiatan lain yang nggak terelakkan.
Entahlah. Hanya mereka yang tau apa alasan mereka pulang tanpa permisi pada sang empunya acara. Bapak penghulu menghampiri mama Olin.
Ia juga ijin pulang karena mau menghadiri pernikahan di tempat lain. Karena dia juga yang diminta sebagai penghulunya.
Dengan berat hati bercampur malu, mama Olin berusaha tegar untuk menjelaskan kepada para tamu mengenai calon pengantin pria. Mama Olin mengatakan kepada mereka bahwa pihak keluarga mempelai laki-laki nggak tau dimana keberadaannya jadi kemungkinan acara dibatalkan saat ini juga.
"Mohon maaf yang sebesar - besarnya bapak dan ibu atas ketidaknyamanan ini. Kami juga tidak menginginkan hal ini. Bapak dan ibu boleh kembali pulang...
Belum selesai mama Olin bicara bik Darmi datang tergopoh - gopoh menghampiri majikannya.
"Nyonya, aku barusan melihat acara libe di TV. Den Al ada di sana bersama wanita lain. Sepertinya juga acara pernikahan nyonya." kata bik Darmi memberitahu majikannya dengan berbisik.
Meskipun berbisik tetapi ada seseorang yang mendengarnya. Lalu dia berlari menghampiri ke arah TV aula dan menekan tombol remot.
Sementara yang lain kebingungan. Mereka tidak mengerti apa yang terjadi. TV menyala. Dan semua orang melihat acara live pernikahan seseorang yang mereka tau itu adalah calon pengantin pria yang mereka tunggu.
Semua tercengang.
Ada yang mengumpat. Ada yang tersenyum sinis. Ada pula yang bersedih. Kasihan Joey. Teganya Al meninggalkannya di saat seperti ini dan menikah dengan wanita lain.
Sementara di tempat lain, Joey terduduk di lantai. Lemas. Dia juga sudah melihat acara di TV itu. Dia ingin menangis tapi urung karena masih banyak tamu di aula. Kemudian dia bangkit dan hendak berlari ke ruang rias. Tetapi tiba - tiba,
brukk.
Joey terjatuh di lantai. Dia pingsan.
Flashback off.