Veynana Anggraeni Wardana, siswi kelas XI SMA sejahtera. gadis manis manja, biang onar, dan hoby bolos sekaligus telat🤣🤣🤣
Justin Ervando Bramasta, siswa kelas XII SMA sejahtera. cowok tampan, tinggi, dan memiliki gen bule. Yang memiliki jiwa otoriter sebagai panglima perang namun memiliki otak yang cerdas yang tak pernah tergeser dari singgasana peringkat satu.
mereka di satukan dalam pernikahan sah secara agama. Namun di kenal oleh teman2nya sebagai kakak adik bersaudara jauh.🤣ribet banget yak!!
mari kita lihat bagaimana perjalanan cinta setengah sahh ini. cuzzz😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sweetyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10 Perusuh
Semenjak pertengkaran itu hubungan Ervan dan Nana semakin membaik. Keduanya selalu berangkat dan pulang bersama saat sekolah. Tak ada yang curiga, karena semua teman-temannya mengetahui bahwa mereka dalam hubungan saudara.
Begitupun dengan Bayu, sejak pertama bertemu Nana di kolam waktu itu, ia sudah jatuh hati padanya. Mereka berteman sangat dekat, karena juga ternyata bayu masuk kelas yang sama dengan Nana.
Mereka selalu terlihat bersama dan teman-teman Nana menyadari sikap Bayu pada Nana berbeda. Mungkin hanya nana yang tak menyadari itu, ia hanya mrnganggap perhatian bayu padanya hanya sekedar karena kedekatannya sebagai teman.
“Silahkan duduk tuan putriku.” Bayu mempersilahkan Nana duduk pada kursi yang di tariknya.
“Terimakasih pangeran monyet.”Jawan Nana saat meletakkan diri di kursi tadi.
“Kan,, nggak jadi romantis deh. Nggak peka lo mah Na.” Bayu tampak kesal.
“Drama lagee..lagian nggak mungkin lah Nana mau jadi tuan putri lo. Nana kan tuan putri di hati babang Randi ya kan Na?” sela Randi.
“Apalagi elu, enek gue.” Jawab Nana yang mengundang gelak tawa keenam temannya.
“Iya-iya tuan putrinya mah Nana doang ya Sin. Kita mah apa atu.” Sela Erna.
“Haduh dedek Erna cemburu to. Sini-sini deket babang Randi.”
“Hogahh.. udah-udah yuk pesen.” Ajak Erna.
Bayu berdiri. “Lo mau makan apa Na? biar gue ambilin.”
Satu persatu mereka menyebutkan makanan keinginan mereka. Namun segera di potong oleh Bayu. “Berenti. Gue bilang Nana bukan kalian ya.”
“lebay deh lo Bay lama-lama, awas aja lo pake hati. Gue nggak mau temenan lagi sama lo.” Jawab Nana sembari berdiri dan pergi untuk memesan makanan yang diinginkan.
**
“Gara-gara elo sih tin, biasanya elo yang peka bel masa ketutup kuping lo tadi.” Kesal Nana pada martin.
Nana CS terlalu asik makan dan ngobrol tak tentu arah hingga mereka lewat setengah jam dari bel masuk berbunyi.
“Gausah bawel ya lo Na, lo nggak nyadar apa ini semua gara-gara lo makan lelet banget. Lu nggak inget tadi Erna udah nyolokin jam nya ke mata lo?” sela Randi.
“Iya-iya sorry. Nah kan ini udah nanggung kan.. gimana kalo kita bolos aja. Gue jajanin deh.” Ajak Nana.
“Please deh,, gausah mulai.” Jawab Sinta.
“Ya allah ya Tuhan kami, jauhkanlah hamba dan kawan-kawan hamba dari setan yang terkutuk. Aamiin.” Randi mendramatisir suasana yang sedari tadi panik. Mereka berjalan begitu cepat karena jarak antara kantin dan kelasnya cukup jauh. Kantin yang berada di ujung belakang sekolah sedangkan kelas mereka berada paling depan.
“Eh lu kira gua setan. Mana ada setan semanis gue.” Jawab Nana tak terima.
“Eh STOP.” Bayu berhenti secara tiba-tiba hingga mengejutkan kawan-kawannya yang berjalan cepat.
“Sialan lu ya, hmmmmdd hmmmmdd.” Nana siap mengeluarkan kata-kata emasnya namun segera di bekap oleh Martin yang ada di sampingnya.
“Udah ada gurunya *ego. Mulut lo nggak pernah ada remnya ya Na. Gue bawa ke penjahit baru tau rasa lo. Kesal Martin.
“Ssssstttt diem, kita pelan-pelan masuk aja nunduk.” Bayu memimpin rombongan pelaku telat itu. Mereka sedikit demi sedikit merangkak dengan menunduk berbaris mengular. Sangat… perlahan. Satu langkah dua langkah.. tak seperti biasanya mereka yang rusuh. Ini sangat.. sangat senyap. Namun,,
DUUUUTTTT,,,..
“Sialan lu ya..”
“Behhhh,, iya bener ini mah gue setuju, Sialan emang.”
“Trasi ini mah.”
“Bukan, telor busuk sih ini kayaknya.”
“Ampun,, makan apa sih lo bau banget.”
Mereka saling berpendapat tentang gas alam Erna yang keluar tanpa aba-aba yang pada waktu yang tidak tepat.
“Eh wangi kali, tadi gue makan batagor mang ujang enak banget kan, jadi pasti ini limbahnya juga berasa batagor. Hehe. Erna nyengir kuda.
“KALIAAAAAANNNN” tanpa mereka sadari guru yang mengajar sudah di depan Bayu.
“Ehh ibuk,, tambah cantik aja. Ngapain disitu bu?” Tanya randi tanpa rasa bersalah.
“KALIAN YANG NGAPAIN DISINI. KALIAN LAGI KALIAN LAGI. APA KALIAN TIDAK BOSAN DIHUKUM TERUS?” suara bu Arum memenui lorong depan kelas Nana CS.
Suasana didalam kelas pun yang tadinya tertib, sekarang sudah riuh, seakan mereka senang pelajaran berhenti.
“Nah kan itu ibu tau kita bosan di hukum mulu, nggak ada variasi lagi. Di suruh lari mulu kita, jadi bengkak banget ni betis jadinya bu.”Ucap davi yang selalu cerewet kalo udah kena hukum.
“Nah bener tu buk, emang ibuk nggak bosen hukum kita mulu?” timpal Nana.
“Kalian makin bikin pusing ya, kalian ikut saya ke ruang BK!” perintah Bu Arum.
**
Bu Arum membawa para perusuh itu ke dalam ruang BK dan menyerahkan kepada guru BK yaitu bu Inggrit. “Kalian lagi? Apa lagi sekarang? Sudah bosan saya sebenarnya sama muka-muka kalian ya. Dan ini apa? Tambah lagi personil kalian?”
“Eh ibu, jangan bosen dulu, kita kan masih kelas sebelas wakti kita masih panjang untuk bertemu dan bertegur sapa bu. Seperti ini ya bu, kita itu meluangkan waktu untuk mengunjungi ibu. Harusnya ibu seneng punya murid kayak kita. Murid yang lain mah nggak punya adab nggak mau nengok ibu.” Penjelasan panjang lebar Randi dengan tampang bangga.
“Seneng dari mana, Enek saya itu liat muka kamu.” Jawab Bu Inggrit.
“Ibu jahat banget remuk hati si kasep Randi Bu. Jawab randi.
“Kalian mau minta hukuman apa?” Tanya Bu Inggrit berbasa-basi.
“Beneran boleh milih bu?” Tanya Nana dengan polosnya.
“Boleh.” Mereka seketika tersenyum yang tadinya muram se suram hidupnya masing-masing.
“Tapi pada akhirnya juga saya sih yang menentukan.” Jawab Bu Inggrit yang membuat mereka syok dan kembali memasrahkan diri pada takdir yang akan mereka dapatkan.
“Ya sama aja kali bu, drama banget.” Kesal Nana.
“Terserah saya dong. Disini yang berlaku UUI.” Kata bu Inggrit.
“What? UUI?” Tanya Erna.
“Undang-Undang Inggrit. Hhahaha. Sekarang kalian ikut saya.” Perintah Bu Inggrit.
**
Disinilah mereka berakhir, lapangan sepak bola. Bisa di bayangkan berapa lebar kan lapangan sepak bola.
“Ngapain bu kita kesini? Main bola? Beneran bu masih kuat? Tanya Bayu dengan polosnya.
“Maaf ya bu Nana nggak ikutan main deh, panas banget ntar kalo inces item gimana bu? Mahal tau skincare.”
“Bukan urusan saya, siapa suruh bangor. Gadis-gadis pula punya bibit liar. Cepetan baris yang pendek depan” Kata bu Inggrit.
Mereka hanya mampu menurut.
“Jongkok” Titah Bu Inggrit.
“Perasaan gue udah nggak enak nih.” Ucap Martin.
“Jalan memutari lapangan 5 kali.” Kata bu Inggrit.
“NAH APA GUE BILANG TADI BOLOS AJA PADA NGGAK NURUT SIH AH..”
Nana teriak-teriak kesal.
“10 KALI”
“APA SIH IBUK, SAYA LAPORIN KAK SETO YA. SIAPA YANG PUNYA NOMOR KAK SETO TELFON CEPETAAAAN!”
“15 KALI”
“NANAAAA DIAM!!!” Ucap teman-teman Nana serentak menghentikan perdebatan Nana dan Bu Inggrit.
si pak pol temen masa kecil nya Nana lagi . psti dah knal akrab
suka kisahnya veinana.. 😩
tapi lumayan konyol lah... lanjut ah..