Eleana harus berjuang mendapatkan kembali cinta Aaron setelah lelaki itu mengalami kecelakaan tragis yang membuatnya kehilangan ingatan.
Bukan hanya melupakannya, Aaron bahkan berniat menikahi Naura, sang mantan kekasih yang dulu pernah meninggalkannya.
Akankah Eleana terus berjuang mendapatkan Aaron kembali meskipun beribu kesakitan terus menderanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nazwa talita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SAHABAT LAMA
"Elea ...." Damar merasa terkejut saat melihat wajah wanita itu.
Melihat raut wajah terkejut suaminya, Rania kemudian memperhatikan wajah perempuan di hadapannya. Kedua matanya membola saat lampu mobilnya menyorot langsung ke arah wajah Eleana.
"Eleana!" Rania berteriak panik.
"Ya, Tuhan, apa yang terjadi padamu?" Rania membelai wajah Eleana yang sebagian terkena darah yang mengalir dari pelipisnya yang terluka.
"Mas Damar, ayo kita tolong dia!" seru Rania. Damar dengan cepat membopong tubuh Eleana masuk ke dalam mobil.
"Sayang, kamu duluan!" teriak Damar ikutan panik.
Rania segera duduk di kursi belakang, setelahnya, Damar meletakkan tubuh Eleana yang tidak sadarkan diri dengan posisi kepala berada di pangkuan istrinya.
Tidak lupa, Damar juga mengambil kedua koper yang tergeletak di jalanan dan memasukkannya ke dalam bagasi mobil. Rania mengatakan, kalau koper itu pasti milik Eleana karena berada di sekitar perempuan itu. Oleh karena itu, Rania menyuruh Damar memasukkannya ke dalam mobil.
Sepasang suami istri itu menduga, jika Eleana menjadi korban tabrak lari. Jalanan yang sepi tanpa banyak kendaraan yang lewat membuat pelaku tabrakan bisa melarikan diri dengan leluasa.
Mobil segera melaju kencang menuju rumah sakit terdekat. Dalam perjalanan, Rania dan Damar terus saja berdoa semoga Eleana baik-baik saja.
Eleana Adisti, gadis cantik sahabat Rania dan Damar semasa SMA. Sudah lama Rania tidak bertemu dengan Eleana. Mereka berpisah setelah lulus SMA. Eleana bahkan tidak tahu jika Rania sudah menikah dengan Damar yang merupakan sahabat baiknya sendiri.
"Setelah bertahun-tahun tidak bertemu, akhirnya aku bertemu denganmu, Elea. Tapi, aku sungguh tidak menyangka kalau kita akan bertemu dalam keadaan seperti ini." Rania menangis sambil merapikan rambut Eleana yang penuh dengan darah.
"Lebih cepat lagi Mas!"
"Iya, Sayang, sebentar lagi kita sampai." Damar melirik ke arah google map dalam ponselnya yang menunjukkan arah menuju rumah sakit.
Beberapa menit kemudian, mereka sampai di rumah sakit. Beberapa perawat datang mendorong brankar setelah Damar memanggil mereka. Eleana dibawa ke ruang IGD. Damar dan Rania mengikuti para petugas medis itu dari belakang.
"Maaf! Kalian berdua dilarang masuk," ucap salah satu perawat sambil menutup pintu ruang IGD.
Rania memeluk Damar.
"Semoga Eleana baik-baik saja. Aku sungguh sangat takut jika terjadi apa-apa sama dia. Kita bahkan tidak pernah bertemu dengannya, sekalinya bertemu ...." Rania tidak melanjutkan ucapannya. Perempuan itu menangis dalam pelukan suaminya.
"Kita doakan saja yang terbaik untuk Elea, Sayang. Aku yakin, dia pasti kuat. Kamu pasti masih ingat bagaimana Eleana bukan?" Damar menghibur istrinya.
Sama seperti istrinya, Damar pun merasa sedih melihat keadaan Eleana. Perempuan itu adalah sahabatnya. Dia dan Rania sangat tahu bagaimana perlakuan keluarganya Eleana.
Eleana adalah yatim-piatu. Dia tinggal bersama dengan paman dan bibinya dari semenjak kecil. Bukan hanya paman dan bibinya saja yang memperlakukannya dengan tidak adil. Akan tetapi, anak perempuan dari bibinya yang bernama Naura pun memperlakukannya dengan sangat buruk.
Namun, Eleana tidak pernah menaruh benci terhadap mereka. Gadis itu selalu mengatakan, biar bagaimanapun, paman dan bibinya sangat berjasa karena telah mengizinkan dia tinggal di rumah mereka dan merawatnya dari semenjak dia kecil.
Eleana bahkan tidak pernah marah dengan kelakuan Naura yang selalu menindasnya dan merebut apa yang menjadi miliknya. Bukan hanya barang yang direbut oleh Naura, tetapi, lelaki yang disukainya pun seringkali direbut oleh saudara sepupunya yang tidak tahu diri itu.
"Kamu benar, Mas. Eleana gadis yang kuat. Dia pasti sembuh." Rania kembali terisak dalam pelukan Damar.
Begitu sayangnya mereka berdua pada Eleana sampai-sampai mereka begitu takut kalau terjadi sesuatu pada wanita itu.
Sudah hampir lima tahun mereka berpisah. Setelah lulus SMA, Rania dan Damar berkuliah di tempat yang sama. Sedangkan Eleana pindah ke kota mengikuti paman dan bibinya.
Beberapa saat kemudian, pintu ruangan terbuka. Seorang dokter keluar dari ruangan itu.
"Bagaimana keadaan teman saya, Dokter? Apa dia baik-baik saja?"
"Keadaan pasien baik-baik saja. Sekarang dia sudah sadarkan diri, dan sebentar lagi akan dipindahkan di ruang rawat inap," jawab dokter dengan senyum mengembang pada wajahnya.
Rania dan Damar bernapas dengan lega mendengar ucapan dokter.
"Terima kasih, Dokter." Rania dan Damar berucap bersamaan sebelum sang dokter pergi meninggalkan mereka berdua.
***
Eleana memeluk Rania sambil menangis. Dia baru saja menceritakan pada Rania tentang kecelakaan yang menimpanya.
Saat bertemu dengan kedua sahabatnya itu, Eleana merasa terkejut dan tidak percaya. Dia tidak menyangka akan bertemu dengan mereka di saat dirinya sedang mengalami musibah.
Eleana juga menceritakan tentang apa yang dialaminya sebelum kecelakaan. Dari pertama dia berpisah dengan kedua sahabatnya sampai akhirnya menikah dengan Aaron dan akhirnya diusir oleh lelaki itu. Eleana juga menceritakan tentang Naura yang ingin merebut suaminya.
"Terima kasih sudah menolongku, Rania."
"Tidak usah berterima kasih padaku. Anggap saja sudah takdir Tuhan kita bertemu di sini. Hanya saja, aku tidak menyangka kalau wanita itu masih saja terus mengganggumu," ucap Rania dengan nada kesal setelah mendengar cerita Eleana tentang Naura dan suaminya.
"Dasar perempuan gatel! Dari dulu sampai sekarang, kenapa dia senang sekali merebut apa yang menjadi milikmu?" Damar ikut menimpali. Lelaki yang biasanya begitu tegas itu akan menjadi laki-laki bermulut lemes jika sudah menyangkut tentang Eleana.
Rania tersenyum mendengar ocehan suaminya. Perempuan itu mengusap bibir Damar dengan jarinya.
"Perasaan sudah lama banget ini mulut nggak ngomong lemes!"
Damar tersenyum malu mendengar ucapan istrinya.
"Sayang, setiap kali denger tentang perempuan tidak tahu malu yang terus saja mengganggu Eleana, mulutku gatal pengen maki-maki dia." Damar mengecup tangan Rania yang tadi menyentuh bibirnya.
"Padahal sudah bertahun-tahun, tapi kenapa si nenek lampir itu masih mengganggumu, Elea?" tanya Damar dengan penasaran sekaligus kesal.
"Entahlah! Aku juga tidak tahu kenapa dia begitu jahat padaku," ucap Eleana dengan lirih.
"Jadi, suamimu mengalami amnesia setelah kecelakaan yang menimpanya?"
Eleana mengangguk sebagai jawaban. "Dia melupakan aku sebagai istrinya, tapi dia tidak lupa jika aku ini adalah sepupunya Naura," jelas Eleana membuat Rania dan Damar merasa terkejut sekaligus prihatin dengan nasib yang menimpa sahabatnya itu.
Dalam hati mereka berdua mengatakan, kapan kebahagiaan akan datang untuk sahabat baik mereka itu? Eleana perempuan yang baik, tetapi, entah kenapa nasib baik tidak pernah berpihak padanya.
"Baru saja aku merasakan kebahagiaan bersama Aaron, kini, kebahagiaan itu kembali hilang. Aku tidak pernah menyangka kalau Naura dan kedua orang tuanya, juga mertuaku bekerja sama untuk memisahkan aku dengan suamiku."
"Brengsek! Benar-benar keterlaluan! Sampai kapan Mak lampir dan kedua orang tuanya itu berhenti menyiksamu, Elea?" umpat Damar dengan kesal.
Eleana menghela napas panjang. Sementara Rania menatap wanita itu dengan iba. Rania bahkan tidak berkomentar melihat kemarahan suaminya.
"Aku tidak tahu. Perasaan, selama ini aku selalu berbuat baik pada mereka semua, tapi, kenapa mereka masih saja membenciku?" Air mata Eleana mengalir. Perempuan itu menangis karena mengingat kejahatan yang dilakukan oleh Naura dan kedua orang tuanya. Begitupun dengan mertuanya yang bekerja sama dengan mereka untuk memisahkannya dengan Aaron.
Seandainya saja Aaron tidak mengalami amnesia, lelaki itu pasti akan membelanya mati-matian. Rasa cintanya Aaron yang begitu besar membuat sang ibu mertua merasa marah pada Eleana karena mengira jika dirinya telah mempengaruhi Aaron untuk membenci ibunya sendiri.
"Mereka benar-benar tidak punya hati. Ibu mertuamu juga. Kenapa dia harus memisahkan kamu dari suamimu? Padahal jelas-jelas dia tahu kalau anaknya cintanya sama kamu." Rania memeluk sahabatnya yang kini kembali menangis.
"Kamu harus kuat, Elea. Aku dan Mas Damar akan membantumu."
"Terima kasih, Rania. Terima kasih karena kalian berdua sudah menolongku." Eleana semakin menangis. Seandainya Rania dan Damar tidak melewati jalan itu dan melihatnya tergeletak di jalanan, entah bagaimana nasibnya sekarang.
"Apa rencanamu setelah ini, Elea?"
"A–aku tidak tahu. Aku tidak punya siapa-siapa sekarang. Aku tidak tahu akan tinggal di mana." Eleana kembali terisak. Semenjak ditinggalkan Aaron, Eleana merasa dirinya menjadi lemah dan cengeng.
Eleana merasa hidupnya tidak berarti karena tidak ada lagi Aaron di sisinya. Cintanya pada Aaron membuat wanita itu begitu terluka saat pria yang dicintainya mencampakkannya.
"Kamu bisa tinggal bersamaku kalau kamu mau. Mas Damar baru saja membeli rumah di sekitar sini karena sekarang dia bekerja di kota ini."
"Rania benar, Elea. Kamu tinggal saja di rumah kami. Rumah itu mempunyai banyak kamar kosong. Aku dan Rania bahkan belum sempat mengisinya dengan beberapa perabotan karena kita masih sibuk dengan pekerjaan. Iya 'kan, Sayang?" Damar menatap ke arah istrinya yang langsung mengangguk.
"Terima kasih atas tawaran kalian. Tapi, aku tidak mau merepotkan kalian berdua. Kalian sudah menolongku, aku tidak mau kembali menyusahkan kalian berdua." Eleana merasa terharu dengan kebaikan kedua sahabatnya itu. Akan tetapi, dia tidak mau menyusahkan mereka dengan menyetujui tawaran Damar dan Rania.
Mereka berdua saat ini sudah menikah. Tidak baik seorang perempuan tinggal di rumah sahabatnya yang sudah menikah. Eleana tidak mau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan di kemudian hari.
Dia percaya pada kedua sahabatnya. Mereka berdua orang yang baik dan sangat sayang padanya. Eleana tidak akan pernah melupakan kebaikan-kebaikan Rania dan Damar saat mereka masih sama-sama berseragam putih abu-abu.
Akan tetapi, bukankah kita tidak tahu apa yang akan terjadi di kehidupan kita ke depannya? Demi kebaikan, lebih baik Eleana mencegah daripada menyesal setelah kejadian.
"Kalau kamu tidak mau tinggal bersama kami, lalu kamu mau tinggal di mana? Bukankah kamu bilang kamu diusir dari rumah suamimu dan sekarang sedang bingung mau tinggal di mana?" Damar menatap Eleana yang terlihat lelah.
Begitupun dengan Rania yang sedari tadi mengusap rambut wanita itu dengan kasih sayang.
"Aku tidak tahu."
"Eleana, ayolah! Aku dan Rania hanya ingin menolongmu. Kita sahabat bukan? Bukankah sahabat harus menolong sahabatnya yang sedang kesusahan?" Damar masih tidak menyerah.
"Damar, aku tidak mau menyusahkan kamu dan istrimu."
"Kamu tidak menyusahkan kami, Elea. Justru kami senang bisa menolongmu. Aku dan Rania akan melakukan apapun untuk melindungimu dari orang-orang yang ingin berbuat jahat padamu." Damar kembali membujuk agar Eleana mau tinggal bersamanya.
"Mas Damar benar, Elea. Kami tidak merasa direpotkan. Justru kami senang jika kamu mau tinggal di rumah kami." Rania akhirnya menimpali.
"Aku tahu, Ran. Tapi sungguh! Aku tidak mau merepotkan kalian. Kalau kalian memang mau menolongku, kalian bisa mencarikan aku tempat tinggal. Misalnya kost-kostan kalau ada."
Damar dan Rania menghela napas panjang. Memang susah kalau membujuk orang yang keras kepala. Eleana menolak tinggal bersama mereka, tetapi, wanita itu justru menyuruh mereka untuk mencari kost-kostan untuknya. Sebenarnya mau dia itu apa?
"Baiklah! Kalau kamu memang tidak mau tinggal bersama kami, aku dan Damar akan mencarikan tempat tinggal yang kamu inginkan," ucap Rania akhirnya. Meskipun dia lebih suka Eleana tinggal bersamanya, tetapi, dia tidak mungkin memaksa sahabatnya yang jelas-jelas menolak untuk tinggal di rumah mereka.
***
Eleana sampai di kost-kostan yang disewa oleh Rania dan Damar. Wajah cantiknya ditekuk saat Rania tidak mau menerima uang darinya. Uang itu untuk mengganti uang Rania yang sudah dipakai untuk membayar sewa kamar kostnya.
"Bukankah kita teman? Kalau kamu menganggapku teman, kenapa kamu menolak bantuanku?" Rania menolak uang pemberian Eleana.
"Tapi, Ran–"
"Sudahlah! Sekarang aku akan membantumu untuk merapikan barang-barangmu, setelah itu, kita akan makan bersama. Damar sedang membelikan makanan kesukaan kita."
terimakasih author maaf juga mungkin di kala buat koment ada yng kebablasan 🤭
lope lope author Nazwa ❤❤
beberapa typho thor 💪💪