Penglihatan menembus dimensi ghaib. Tidak hanya di alam nyata, dalam pandangan lain bahwa sosok Indigo ketika berada alam bawah sadar itu sukmanya bisa terlepas keluar dari badannya. Berjalan-jalan menembus ruang dan waktu dunia lain. Setiap malam dirinya di kejar kematian yang mengancam. Para Indigo yang meninggal nanti ada dua kemungkinan. Yang pertama takdir dari Yang Maha Kuasa atau yang kedua karena tidak dapat kembali ke wujud tubuhnya di alam dunia. Simak kisahnya..!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARSY AL FAZZA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#Tabir Perkampungan Siluman
Petualangan sang putri di dalam alam lain. Sukmanya yang terlepas mengarungi perjalanan waktu memberitahukan padanya mengenai cerita alam lain yang jarang di ketahui khalayak umum.
Perkampungan siluman, sebuah lokasi dimana wajah-wajah manusia di alam nyata terdapat pendamping bangsa lain. Lokasi di bagian Tenggara tepat di sebuah wilayah bagian tanah kepemerintahan Urkan. Dari luar tempat itu tampak biasa saja, tidak ada yang mengira di dalamnya banyak hal-hal ganjil mistis.
Kek Rege berusia enam puluh tahun, tubuhnya masih segar bugar. Dia berkecimpung mendalami usaha pembuatan kertas. Mereka memanfaatkan hasil hutan dari pohon-pohon khusus yang berserat berkualitas bagus. Anggota yang di pekerjakan tergolong sedikit, hanya sepuluh sampai lima belas orang yang bekerja selama satu kali dua puluh empat jam. Potongan waktu istirahat masing-masing tiga jam, mereka mulai menjemur kertas saat matahari mulai terbit.
Usaha yang laris manis atas campur tangan makhluk halus. Rege suka sekali bermain dukun, mencari penglaris demi melancarkan usahanya. Kalau di alam nyata di tampak seperti manusia pada umumnya, tapi di pandangan mata manusia yang melihat sosok Rege menjadi sangat berwibawa dan menarik usahanya membuat orang ingin membeli.
Jin penduduk aura pengasih, wajahnya lebih muda dan semua ucapannya terdengar sangat manis. Memiliki hal-hal ganjil tersebut tidak membahagiakan atau membuat ketenangan hidup. Setiap malam di hantui makhluk aneh dan gangguan lainnya. Nasib rumah tangganya juga di ambang kehancuran, dia lebih tergoda dengan pria lain. Wani membawa anaknya lari dari rumah membawa emas dan semua uang Rege.
“Si Wani itu wanita yang tidak pandai bersyukur. Rege telah memberikan segalanya, semu keinginannya di turuti sampai anak tirinya di sandangi. Dia malah memilih berpisah menuju ke pria yang tidak mempunyai pekerjaan” ucap Mola.
“Dia dahulu putih berseri, keliling pasar membeli semua barang yang dia mau. Senam, arisan, karaokean sampai pulang tidak tau jam. Rege sangat mencintainya. Lihatlah sekarang dia harus banting tulang berjualan keliling” kata Pina.
Desa si suka ramai, banyak mengisahkan keanehan pada tiap jalannya. Pada hari-hari tertentu, jalanan sering bertumpukan bangkai-bangkai tikus yang bertebaran dan hewan lainnya. Malam jumat di pergantian musim, seorang anak kecil menjerit ketakutan. Situasi jam keramaian malam yang ramai anak-anak kecil bermain di luar rumah.
Tubuh Soni membiru, dia di kerubungi ular yang menggeliat di tubuhnya. Jeritan ibunya Misa memeluk anaknya di tengah jalan tanpa memperdulikan ular-ular mematuknya. Suaminya Beni menjauhkan ular sampai memotong-motong dengan teriakan.
Para warga menangkap hewan melata yang jaraknya tidak terhingga itu, di sebuah lubang tanah yang berukuran besar. Ular di bakar di dalam bara api yang menyala.
Kalau ada yang mau meninggal di perkampungan itu. Ada tanda-tanda serupa jika ada yang mau meninggal. Beberapa diantaranya suara tangisan gema suara wanita dari kejauhan, lolongan suara anjing yang tidak berhenti menggonggong selama berhari-hari dan sebuah tanda beberapa ekor burung bernada aneh.
Keramaian anak-anak yang bermain di malam hari semakin berkurang. Keganjilan tempat itu terkuat mendengar sebuah keluarga yang memakai pesugihan.
“Kita tidak bisa mengaitkan kejadian-kejadian lalu akibat orang yang memakai uang tumbal sebelum ada buktinya” ucap pak Gamot.
“Tapi semua jelas adanya pak. Kamu jadi takut menjadi korban selanjutnya” jawab Enda.
“Kalau menurutku keluarga pak Torja mengambil anak menantunya sebagai tumbal. Aku perhatikan setiap tahun ada saja yang meninggal secara tidak wajar” kata Mono.
Bagaimana perkampungan itu tidak di sebut sebagai perkampungan siluman? Banyak manusia yang mengikat diri dengan para jin dan makhluk lainnya. Kehidupan kedua di wilayah berdampingan menambah sesajian makanan kesukaan para jin.
Pasar tidak terlihat, aroma aneh merebak di seluruh perkampungan, suara-suara aneh dan aktivitas yang tidak lazim. Luna berjalan-jalan memasuki pasar, wajah-wajah makhluk aneh berlekuk tubuh bergerak suara patahan tulang kering dan ranting pepohonan.
Ramai suara yang tidak jelas, tatapan makhluk yang melihatnya, tanah di pasar siluman berwarna kehitaman dan sedikit berlumpur. Salah satu sosok berwajah menyeringai menatap tajam, menyodorkan sebuah tusukan bakaran sate. Gerakan menggelengkan kepala Luna sambil mengucapkan terimakasih.
Cara dagang, proses jual beli dan transaksi hampir sama seperti manusia. Uang yang mereka pakai mirip logam koin kuningan berukuran sedang. Pakaian yang di kenakan berbahan dasar kain lusuh berserabut. Warna abstrak, paling menyengat di rongga hidung kalau berdekatan tepat berjarak dekat.
Suara musik gamelan yang tidak tau dari mana asalnya. Asap mirip cerobong asap di sela meja aneh yang tersusun di jajaran dagangan. Sudut bumi yang tidak bisa di gapai, banyak penampakan alam lain sulit terlihat sempurna meski memiliki mata lain.
Perkampungan siluman, pasar dan kegiatan alam lain ternyata sering bertabrakan di alam manusia. Luna baru paham mengapa sering ada istilah penyakit ghaib atau non medis. Semua itu karena benturan energi dari makhluk halus atau bersenggolan dengan manusia yang tidak melihat ada bangsa lelembut sengaja atau tanpa sengaja melewatinya.
Malam adalah siang bagi makhluk lain, mereka sibuk melakukan kesibukan beberapa diantaranya melibatkan manusia yang memanggilnya. Kesempatan sebagian bangsa jin merasa terpanggil mendapatkan dudukan baru di tubuh manusia.
Kek Rege membakar kemenyan, membaca mantra dari dukun yang dia datangi dan menyapu depan usahanya setiap malam. Kalau menurut mitos atau kepercayaan yang meyakini barang siapa menyapu pada saat malam maka sama saja memanggil makhluk halus di sekitar.
Suara sapuan sapu lidi itu membuat tengkuknya merinding. Dia menepis ketakutan, setiap empat puluh hari sekali melakukan kesyirikan demi melancarkan usahanya. Efek menggunakan sihir hitam menguras tenaga, sering kali dia di ganggu makhluk halus dan bermimpi buruk.
“Rege! Hihihih!” suara di dalam kamarnya melengking sangat keras.
“Argh! Pergi!"
Rege seperti mimpi di dalam mimpi kedua kalinya membuka mata. Jendela terbuka lebar, di depan menggantung kepala putung membuat dia teriak ketakutan. Para tetangga sering mendengar teriakannya berpikir dia sedang bermimpi atau mengigau. Hampir saja dia terbunuh, Rege memukul keras kaca jendela karena melihat penampakan makhluk yang ingin mencekiknya.
Prang__
“Arhhh!” darahnya menetes, dagingnya robek di sela menahan rasa sakit mengambil kain menahan luka. Pecahan kaca menusuk kulit, Rege menyalakan sepeda motor dengan menyetir satu tangan pergi ke puskemas. Tetesan darah di sepanjang jalan di malam hari di senangi makhluk halus. Para jin dan setan membuntuti menjilati darah segar mengeluarkan suara ramai. Tepat di tengah malam, jalanan yang sepi itu tiba-tiba berubah ramai. Dia menoleh ke sisi kiri melihat sebuah pasar yang di gelar di kerumuni sampai berdesakan.
“Setau ku disana letak lahan kosong. Apa aku salah lihat?” gumamnya.
Penggambaran suasana dan detail dalam cerita ini sangat kuat, membuat pembaca seolah-olah ikut merasakan ketegangan dan ketakutan yang dirasakan oleh Aluna.
Saya penasaran dengan bagaimana Aluna akan menemukan solusi untuk menghadapi bencana yang akan datang, dan apakah dia akan berhasil mengubah nasibnya.
Pesan tentang pentingnya keberanian, persatuan, dan harapan dalam menghadapi tantangan hidup sangat menginspirasi.