NovelToon NovelToon
After Reunion

After Reunion

Status: sedang berlangsung
Genre:Teman lama bertemu kembali
Popularitas:231.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mak Nyak

Reuni, ajang bertemunya kembali dengan kawan lama. Tidak jarang, ajang ini dijadikan momen pamer kekayaan dan kekuasaan. Apakah mungkin, kisah cinta lama dapat bersemi kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mak Nyak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengintaian

Pov : Tompi

Susah sekali makanan itu dikunyah agar masuk ke perutnya. Aku geram dan kuambil piring makan dihadapannya. Kusuapi dia perlahan. Ternyata serapuh ini jika terlihat dari dalam.

Aku sangat kasihan dengannya. Apa yang membuat Gandi pergi dari rumah? Aku mengenalnya dengan baik, jadi tidak mungkin itu tentang kekerasan pada anak. Entahlah.

Dia menolak suapanku. "Aku sudah kenyang," katanya.

Kusodorkan gelas berisi air yang dia tuang untukku. Segera ia meneguknya sampai habis. Kami berdua sama-sama diam. Aku menunggunya siap untuk bercerita padaku.

Akhirnya Widya menceritakan semuanya padaku. Aku meminta nomor ponsel mantan suaminya. Setelah menyalin nomor itu, aku memintanya beristirahat.

"Kayaknya aku nggak akan bisa tidur, Tom. Pikiranku tidak bisa tenang."

Aku menghela napas dan mencoba menghiburnya. "Mau kutemani tidur?" Mataku mengerling tanda menggoda.

Dengan cepat dia memukul lenganku. "Sembrono!"

Aku hanya terkikik mendengar ucapannya. Sabar, Tom. Jalanmu masih panjang, harus melewati kerikil, beberapa belokan, tanjakan dan turunan curam, berharap menemukan keindahan di ujung jalan.

"Biar aku yang mencari Gandi, kamu tunggu saja kabar dariku."

Widya mengangguk. Aku segera pamit karena malam semakin larut. Sesampainya di rumah, aku meminta anak buahku untuk melacak nomor tersebut.

Sembari menunggu, aku mengirim pesan pada Widya. Meminta foto mantan suaminya dan juga Gandi. Dia membalasnya, itu artinya ia masih terjaga.

Aku tidak bisa memaksanya cepat tidur. Ya, bagaimanapun juga jika kita sedang memiliki pikiran semuanya terasa mengganggu. Bawahanku membalas pesanku. Mengirimkan koordinat lokasi Rendi berada.

Patut diapresiasi pekerjaan anak buahku ini. Loyal sekali dia, padahal ini bukan jam kerja. Aku mengirimkan uang sebagai balas budiku.

Me : Buat ngopi sama beli cemilan.

Rencananya besok aku akan menelusuri keberadaan Rendi. Semoga saja Gandi memang bersama lelaki itu dan tidak segera pergi, seperti yang ditakutkan Widya. Kalau menyimpulkan dari cerita sahabatku, anaknya ini memiliki kepribadian bila tidak ada bukti maka dia akan sulit percaya.

Oke, kita susun rencana yang matang terlebih dahulu. Semoga saja lelaki itu memang bertemu dengan seorang wanita. Agar aku bisa mengambil barang bukti dan menunjukkan pada Gandi.

Me : Tidurlah, aku sudah mendapatkan lokasi mantan suamimu. Semoga saja memang dia bersama bapaknya.

Widya : Sedang kuusahakan untuk terpejam. Aku besok ikut, boleh?

Me : Tunggulah di rumah. Kalau kamu besok ikut aku takut.

Widya : Takut apa?

Me : Takut tidak fokus mencari, malah nanti yang ada kita kencan 😝

Widya : 😪

Aku tersenyum sendiri membaca pesanku padanya. Kami mengakhiri percakapan dan terlarut dalam mimpi masing-masing.

Rutinitas pagi hari yang kujalani seperti biasa, bangun, salat, mandi, sarapan, dan pergi bekerja. Sekarang akan kutambahkan lagi rutinitas yang baru.

Me : (Mengirim gambar foto wajahku)

Widya : Jelek banget itu muka!

Me : 🙄 Lagi sibuk?

Widya : Nggak, rencana ke lokasi bang Rendi jam berapa? Aku ikut.

Me : Nanti, aku sudah minta tolong rekanku. Tenanglah. Nggak usah ikut. Biar kuselidiki dulu. Takutnya nanti kalau Gandi lihat kamu dia malah pergi jauh lagi. Kamu cukup duduk manis saja di rumah. Ah iya, masakkan sesuatu untukku, selesai pengintaian aku akan menemuimu.

Widya : Gitu? Padahal aku kangen sama Gandi.

Me : Ya tahan dulu kangennya, atau mau kangen sama calon Papahnya Gandi juga boleh 😆

Widya : 😫 kerja yang benar. Jangan lupa kabari aku tentang Gandi. Apapun hasilnya. Aku masih ada pasien. Bye

Me : Siap, Mamah.

Aku tersenyum sendiri di dalam mobil, hingga ternyata mamah melihat keceriaanku. Wajahku langsung berubah menjadi serius. Asli, aku takut kalau mamah muncul tiba-tiba begitu. Takut jika rencanaku gagal.

Sesampainya di kantor, aku segera melakukan tugasku. Aku meminta seorang kawan membantuku dalam pengintaian mereka. Setelah jam kerjaku berakhir aku segera bergegas ke lokasi.

"Mau kemana buru-buru?" Mas Tugas mencegahku.

Aku berbalik dan menjelaskan tujuanku. Kuminta padanya agar bisa merahasiakannya dari mamah.

"Jadi ini keputusanmu?" tanyanya lagi.

Aku mengangguk mantap. Tekadku sudah bulat. Aku ingin memperjuangkannya sekali saja dalam hidupku. Dia menepuk bahuku.

"Kalau begitu selamat berjuang. Aku tidak bisa membantumu dalam hal ini karena aku akan di pihak mamah."

Aku sudah menduga akan mendengar hal ini. Tiba-tiba saja ada suara dari arah belakangku.

"Kakak yang akan mendukungmu, Tom. Perjuangkan." Aku menoleh, ternyata kakak iparku ada disana juga.

Kak Tisha yang masih memakai seragam bhayangkari mendekat. "Kakak dan Rania akan mendukungmu."

"Kekuatan kalian akan kalah," sahut Mas Tugas.

"Jalani saja dulu, yang menentukan berjodoh atau tidak kan takdir Allah. Kalau mau berikhtiar dan berdo'a, insyaAllah pasti ada hasilnya."

Kak Tisha memberikan semangat padaku. Baru kali ini aku melihatnya lebih banyak bicara padaku. Tatapan mereka yang saling beradu menggambarkan mereka juga sedang tidak baik.

Ah, sudahlah. Aku tidak mau mencampuri urusan mereka. Aku pamit dan bergegas menuju lokasi. Memacu kendaraan roda empatku dengan kecepatan tinggi. Aku mencari tempat untuk ganti baju terlebih dahulu.

Selanjutnya aku bersama kawanku mengintai target kami. Temanku mengatakan bahwa belum ada pergerakan sama sekali. Ini terlalu lama, tapi inilah cara kami yang paling efektif.

Baru saja kami mengeluh, target keluar bersama anak lelakinya. Syukurlah anak Widya bersama bapaknya. Setidaknya hal ini bisa meredakan kekhawatiran wanita itu.

Me : Gandi sama bapaknya. Tenangkan dirimu.

Widya : Alhamdulillah, 🙏 bagaimana keadaannya?

Me : Sepertinya baik. Tunggulah kabar dariku lagi.

Widya : Terima kasih, Tom.

Aku dan temanku mengikuti incaran kami. Ternyata mereka mencari makan. Hanya sebentar saja mereka keluar dari hotel, setelahnya Gandi dan Rendi berpisah.

Itu membuat kami juga harus berpisah. Aku mengikuti Gandi yang masuk ke dalam hotel. Sedangkan temanku mengikuti Rendi.

Aku mengambil gambar Gandi sedang membuka pintu kamarnya, lalu kukirimkan ke Widya. Setelah menunggu beberapa saat, aku mengetuk pintu kamar itu. Saat pintu terbuka dia heran melihatku.

"Saya Tompi, omnya Rania. Ternyata kamu benar-benar menemui bapakmu. Tidakkah kamu tahu bahwa mamahmu sedih?" cecarku.

"Aku butuh membuktikan sesuatu." Dia menjawab dengan nada kemarahan.

"Bukti?"

Dia mengangguk, "Mamah bilang bapak itu selingkuh. Tapi, saat aku tanya ke bapak, dia tidak selingkuh. Hanya mamah saja yang salah paham."

Wah, lelaki itu memang benar-benar ingin aku hajar. Tega sekali dia menyembunyikan kenyataan agar anaknya berada di pihaknya. Picik memang.

"Kalau Om berhasil mendapat buktinya, apa kamu mau menjadi anak penurut? Manut sama mamah?" Dia hanya terdiam.

"Berhenti menyalahkan mamahmu, Gandi. Om akan tunjukkan padamu bukti itu secara nyata."

Aku mengeluarkan dompet dan memberikannya uang. Dia bertanya untuk apa?

"Untuk kamu beli cemilan. Om tidak sempat membelikanmu. Pergilah beli makanan agar mamahmu tidak merasa kamu kekurangan."

Dia menolaknya. Katanya bapaknya akan membelikannya. Baru akan, bukan sudah. Bapak macam apa Rendi itu?

"Jangan menolak rezeki. Pergilah beli." Aku menyelipkan uang itu di saku jaketnya.

Rekanku menghubungiku bahwa target sedang kembali menuju hotel. Aku bergegas pamit agar tidak ketahuan.

"Mau titip salam untuk mamah?" tanyaku sembari memasukkan dompet lagi. Dia hanya menggeleng. Huft, keras sekali hati anak ini.

Oke, cukup untuk hari ini. Setidaknya satu masalah teratasi.

1
Ari Utami Ningsih
Luar biasa
Ari Utami Ningsih
Lumayan
Sri Lestari
andai anakku ketemu jodoh sprti tompi...
alhamdulillah...
Mukmini Salasiyanti
klrga cemara??
pinus kaliiikkkkk

wkwkwk
Mukmini Salasiyanti
lahhh
ini mmg abangnya yg gimanaaaa gituh
bikes!!
bikin kesel!!!
Mukmini Salasiyanti
eng ing eng......
fighting!!!!!


wkwkwk
Mukmini Salasiyanti
wowwwwww
kereeeen!!!!?
martina melati
versi laki2 widya y
martina melati
bikanny pusing krn soal matematika???
martina melati
saling tekan menekan nih...
martina melati
kalo dkota sdh hilang tuh sepeda dan motor
martina melati
cara gentelment y pria vs remaja lelaki (man vs boy)
martina melati
hahaha...
martina melati
kan grouo cerdas band.../Grin/
martina melati
acara reuni pas smp ato smu bahkan kuliah sdh tidak ku ikuti lagi... artiny jika gk celutuk y dsentil bahkan dbully gt.. bikin emosi bergejolak... blm lg jika ada cinta tumbuh bersemi lagiii...
martina melati
hahaha. polisi mah siap tangkap badan y
martina melati
emang sih apa pun alasanny... buntut2ny jd bersitegang malah berantem, pi yere??
martina melati
betulkn reuni maut tuh... bukan berharap jelek lho, nti pas karma pasangan april yg selingkuh bgm???
martina melati
emang ada apa y thor???
martina melati
shrsny terbuka aja, ceritakn ayahmu selingkuh...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!