~NOVEL KE 11~
Novel ini merupakan kumpulan cerita kehidupan dari seorang remaja sebelas tahun bernama Hani.
Dia adalah putri tunggal dari pasangan Lea dan Erik yang sibuk bekerja sepanjang waktu.
Sehingga sehari-hari nya, Hani bermain sendiri bersama pensil dan buku sketsa nya.
Semuanya berjalan biasa sampai ketika Hani menerima sebuah pensil ajaib dari seorang Pak Tua.
Mulai saat itu lah kehidupan monoton gadis kecil itu berubah jadi istimewa!
Yuk ikuti kisah-kisah nya!
catatan: Novel ini Mel dedikasikan khusus untuk dua bocil Mel (Ram dan Riy) dan umum nya untuk semua anak-anak hebat Indonesia.
Love you all, Kiddo..🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meli meilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pensil Ajaib
"Ehem! Biarkan saja lah, Ma. Jika memang Heru tak menginginkan pemberian dair kita, itu juga tak masalah.."
Ucapan Erik langsung terhenti seketika, usai ia menerima pelototan dari mata Lea.
Detik berikutnya ia menambahkan kalimatnya lagi.
"Begini saja.. ini adalah kartu nama saya. Jika sewaktu kamu butuh bantuan. Apapun itu. Hubungi saja nomor yang tertera di sana. Jangan merasa sungkan untuk menghubungi saya. Karena sebisa mungkin saya akan menolong kamu dan keluarga!" Janji Erik seraya menyerahkan secarik kartu pengenal miliknya.
Mendengar kalimat suaminya itu, Lea pun langsung mengangguk-angguk, tanda setuju.
"Ya! Hubungi kami kapan pun itu! Dan ini, simpan juga kartu nama milik saya. Ya Heru?!"
Dengan enggan, Heru akhirnya menerima uluran kartu nama tersebut.
"Baiklah Tuan, Nyonya. Kalau begitu, sekarang kami pamit terlebih dulu. Hani, kamu baik-baik ya! Ingat pesan Kakak, oke?!" Ujar Heru kepada Hani.
"Iya, Kak!" Jawab Hani segera.
"Dada, Hani! Kapan-kapan main lagi ya ke rumah ku!" Pamit Bono sambil mengayunkan tangannya kepada Hani.
"Iya. Bon! Kamu juga gantian ya nanti main ke rumah ku!" Tagih balik Hani.
"Mm! Oh ya!hampir saja lupa! Ini buat kamu! Anggap saja ini hadiah pertemanan kita! Dan pensil mu juga ada di dalam ny!" Seru Bono seraya mengulurkan kresek berwarna biru tembus pandang kepada Hani.
Di dalamnya terdapat ubi dan singkong yang masih mentah. Juga sebuah pensil panjang berada di antara tumpukan umbi-umbian tersebut. Pensil itu adalah pensil milik Hani yang ia dapat dari kakek pengemis. Hani tak sengaja ikut membawa pensil nya saat ia tiba di hutan. Entah kenapa.
Dan akhirnya, rombongan Bono pun akhirnya berlalu pergi dan masuk kembali ke jalan setapak yang menuju pedalaman hutan. Sepanjang kepergian mereka, Hani terus mengekori kepergian mereka dengan kedua matanya.
Dalam hatinya gadis itu melirihkan harapan.
'Aku berharap bisa bertemu lagi dengan mereka nanti!' gumam Hani dalam hati.
"Kita pulang sekarang yuk, Han?" Ajak Lea kemudian.
Hani mengangguk. Dan mengikuti tarikan tangan Lea yang menggenggam tangan nya menuju mobil volvo milik Erik.
***
Di mobil, dalam perjalanan pulang ketiganya, tiba-tiba saja Papa menanyakan sesuatu kepada Hani.
"Hani, apa lelaki tadi tidak melakukan sesuatu yang jahat padamu, Han?" Tanya Erik to the point.
"Huh? Maksud Papa Kak Heru?"
Dan Erik langsung mengangguk.
"Enggak. Kak heru, Bono dan nenek adalah orang yang baik, Pa. Yah.. walaupun kehidupan mereka sangat miskin, tapi mereka orang yang ramah, Pa," jawab Hani.
Kemudian Lea ikut nimbrung dalam perbincangan.
"Kenapa Papa tiba-tiba tanya begitu?" Tanya Lea pada sang suami.
"Hh.. Papa khawatir kalau sebenarnya keluarga itulah yang sudah menculik Hani kita, Ma.." ujar Papa menyampaikan hasil pemikirannya.
Dan Lea pun seketika terkejut. Sementara Hani yang masih mengerti arah perbincangan Papa pun langsung menyanggahnya.
"Diculik apaan sih, Pa?! Hani gak diculik siapa-siapa! Hani udah cerita kan kalau Hani tiba-tiba aja pindah dari kamar Hani ke hutan? Tring! Gitu, Pa! Jadi gak ada itu culik-culikan!" Sergah Hani.
"Tapi, Sayang.. itu gak mungkin terjadi kan. Itu jelas gak masuk di--"
Erik menangkap isyarat gelengan kepala dari Lea. Dan ia mengerti apa maksud istrinya itu. Akhirnya ia pun menghentikan kalimatnya. Dan menggantinya ke topik yang lain.
"Ehem! Lalu.. apa itu tadi.. mm.. tadi Papa dengar Heru mengingatkan kamu tentang pesannya. Memangnya, kalau boleh Papa tahu, lelaki itu minta kamu untuk apa, Han?" Tanya Erik dengan nada yang lebih lembut.
Hani yang masih mengerucutkan bibir karena kesal atas tudingan tak berdasar dari Papa nya itu pun langsung saja teralihkan ke pertanyaan Erik yang baru.
"Oh.. itu. Kak Heru nasihatin Hani, untuk nurut sama Papa dan Mama. Kak Heru juga bilang, kalaupun Papa dan Mama sangat-sangat sibuk dengan pekerjaan kalian, kalian tetap paling menyayangi Hani. Papa dan Mama bekerja juga untuk Hani kan? Karena itulah Hani harus bisa lebih sabar dan mengerti Papa dan juga Mama.." tutur Hani dengan kepala tertunduk.
Erik dan Lea seketika beradu pandang. Keduanya sama-sama tertegun usai mendengar penuturan Hani tersebut.
Keduanya menyadari kalau selama ini mereka memang terlalu sibuk dengan pekerjaan maisng-masing.
Tiba-tiba saja, Lea bertanya kepada putri semata wayangnya.
"Apa Hani mau Mama berhenti bekerja?" Tanya Lea begitu tiba-tiba.
Pandangan Hani pun seketika menegak. Ia menatap sang Mama dengan pandangan penuh harap. Namun, sesaat kemudian apa yang keluar dari mulutnya adalah kalimat yang sangat mengejutkan tak hanya Lea saja. Akan tetapi Erik pun ikut terkejut jua.
"Itu.. terserah Mama saja. Mama tahu yang terbaik untuk dilakukan. Hani gak bisa maksain Mama untuk berhenti bekerja. Hani gak mau buat Mama bersedih," jeda sesaat.
"Kata Kak Heru juga begitu.." imbuh Hani menutup kalimatnya.
Seketika itu jua, Lea langsung menarik Hani ke dalam pelukannya. Pasangan ibu dan anak itu pun berpelukan lama. Lea yang merasa terharu atas kalimat penuh tenggang rasa dari putrinya yang masih belia.
Erik yang didera perasaan menyesal karena sudah sempat berprasangka buruk kepada Heru dan keluarganya.
Serta juga Hani yang merasa senang karena akhirnya bisa berkumpul kembali dengan Papa dan juga Mama.
Ketiganya menikmati perjalanan pulang mereka, dengan perasaan yang beragam warna.
***
Peristiwa kepergian Hani tanpa kata-kata menjadi peristiwa yang membuat hubungan di antara personel keluarga tersebut menjadi kian erat. Mama dan Papa bahkan langsung mengikuti permintaan Hani untuk jalan-jalan ke Dufan pada keesokan harinya.
Baru pada hari ketiga lah Hani akhirnya kembali ke sekolah. Saat itu sahabat baiknya, Nuri, menyambut Hani dengan wajah penuh kecemasan.
"Hani! Syukurlah kamu akhirnya pulang juga! Kamu sebenarnya ke mana aja sih, Han?!" Tanya Nuri begitu cemas.
"Nuri! Aku kangen kamu!" Hani tak menggubris pertanyaan sahabatnya itu.
Gadis itu malah langsung menarik Nuri ke dalam pelukan erat. Keduanya bagai teletubbies yang berpelukan di depan pintu kelas.
Tak lama kemudian Hani melepas pelukannya. Ia menatap Nuri dengan senyuman berseri-seri. Sementara itu yang dipandang malah menatapnya dnegan pandangan sebal.
"Kamu tuh ya! Ditanya, bukannya menjawab! Malah ngalihin topik! Kamu ke mana aja, Han?!" Tanya ulang Nuri yang kini terlihat jelas merasa kesal.
Hani tak langsung menjawab pertanyaan sahabatnya itu. Ia terlebih dulu melirik ke sekitar. Menyadari kalau berbincang di depan pintu kelas bukanlah sesuatu yang membuatnya nyaman.
Akhirnya Hani pun menarik Nuri ke pojokan sepi di taman. Dan dengan sikap misterius, ia akhirnya menjawab pertanyaan sahabatnya itu.
"Kamu tahu gak, Nur? Aku punya pensil ajaib lho!" Seru Hani dengan kedua mata yang dipenuhi kerlipan bintang. Begitu bling bling.
"Hah?! Pensil ajaib?!" Nuri sangat terkejut atas pernyataan sahabatnya itu.
Dengan sigap, Nuri menyentuh kening Hani dengan punggung tangannya. Ia mengira kalau Hani sedang melindur karena demam, atau sesuatu yang seperti itu.
Dan Hani yang menerima perlakuan dari sahabatnya itu masih tetap menyengir lebar. Sudah dari semalam ia ingin memberitahu rahasia yang baru saja diketahuinya itu. Rahasia tentang pensil ajaib yang ia dapatkan dari kakek pengemis di pom bensin, pada beberapa hari yang lalu.
***