Suatu perjodohan yang buat kedua dua insan harus menerima nya, tetapi dengan perjanjian yang dibuat di atas kertas, yang mereka sepakati bersama, walau ada hati yang tersakiti dengan perjanjian itu....
Akan kah mereka dapat melalui lika likunya rumah tangga yang akan mereka hadapi nanty
Ikutin trus, dan slalu siap" dengan cerita baru nanti.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keluarga baru
Sudah hampir satu minggu Dela tak pernah melihat Alvano. Ucapan pak Ujang memang benar. Ditambah ia baru mengetahui ternyata
ada supir pribadi dirumah Alvano. Namanya pak Ali, katanya beliau baru kembali dari kampung akibat istrinya yang sakit dan pak Ali harus menjaganya sampai sembuh. Oleh karena itu Dela baru melihatnya.
"Terus anak bapak gapapa ditinggal sendiri kalau istri bapak belum terlalu sehat?" tanya Dela menatap Pak Ali yang sedang meminum kopi hitamnya itu.
"Awalnya saya sudah menolak non, tapi istri saya kekeh agar saya kembali kesini. Takut jika den Alvano marah kalau saya terlalu lama dikampung." jawab pak Ali yang hanya mendapat anggukan mengerti dari Dela.
Sekarang Dela sedang menikmati hari liburnya. Da sedang bersantai dihalaman belakang rumah Alvano yang ternyata sangat luas ini. Ada kolam ikan, beberapa tanaman dan berbagai bunga serta gazebo. Tapi Dela lebih memilih menggulung tikar diatas rumput untuk menikmati sore yang teduh ini. Dia juga tidak sendiri, Dela ditemani oleh Intan, Mbok Ijah, pak Ujang serta pak Ali. Memaksa mereka untuk berkumpul bersama. Awalnya mereka semua menolak karena tak enak hati jika melakukan itu dengan majikannya, terlebih lagi Dela sekarang adalah istri Alvano. Tapi dengan berbagai alasan dan sedikit ancaman akhirnya mereka semua mau bergabung. Menikmati kopi serta teh hangat buatan mbok Ijah dihari libur ini.
"Kalau pak Ujang dari mana?" tanya Dela yang kini berganti menatap pak Ujang yang sedang memakan beberapa cemilan didepannya.
"Kalau bapak asli dari jakarta non..' jawan pak Ujang.
"Terus pak Ujang punya keluarga?" tanya Dela lagi yang rupanya sangat penasaran dengan kehidupan pekerja dirumah Alvano itu.
"Istri bapak sudah meninggal non, bapak hanya hidup sendiri. Dikota ini bapak gapunya siapa-siapa. Untungnya ada den Alvano yang dulu nolongin bapak ketika bapak kecelakaan. Beliau membiayai rumah sakit bapak dan menyuruh seseorang merawat bapak hingga sembuh. Dan ketika bapak sembuh, dengan baik hati den Alvano menawarkan pekerjaan dirumahnya ini." jelas cerita singat pak Ujang.
Dela tidak menyangka. Dia kira Alvano adalah sosok yang kejam tak punya hati pada perempuan. Tapi rupanya Alvano sangat baik sekali pada orang-orang yang bekerja dirumahnya. Mau menampung dan menolong orang-orang yang sedang kesusahan seperti pak Ujang. Ia tersenyum sendiri, hari ini Dela merasa telah memiliki keluarga baru. Semuanya baik padanya,
ia tak sungkan mendengar keluh kesah dari pekerja-pekerja Alvano itu. Rasanya liburan hari ini sangat berharga dan patut dikenang.
Kapan lagi mereka akan mengobrol dan bertukar cerita seperti sekarang? Pikir Dela.
Sedangkan pak Ujang maupun pak Ali, mbok Ijah serta Intan. Merasa sangat senang memiliki seorang majikan yang baik hati dan ramah kepada bawahannya. Mereka semua merasa seperti keluarga. Tidak malu untuk bergaul dengan para pembantu disini dan tentunya kehadiran Dela membuat mereka nyaman sekaligus senang. Majikan barunya itu menganggap mereka sama, satu derajat. Tidak seperti kekasih tuan mudanya. Merekajuga mulai membandingbandingkan mana yang baik untuk Alvano. Anatara Angel atau Dela. Mungkin Dela menang lima poin diatas Angel karena mendapat kenyamanan hati tersendiri dimata para pekerja Alvano.
"Kalau gitu kita sudahi acara piknik terpaksa ini bapak-bapak, ibu-ibu serta adek.. matahari sudah mulai terbenam sebaiknya kita semua para rakyat yang berguna bagi nusa dan bangsa membereskan tempat yang sudah dibuat berantakan itu agar kembali menjadi tempat yang bersih, aman, dan nyaman." ujar Dela yang tiba-tiba berdiri lalu mengintrupsi dengan tangannya yang berpura-pura menjadi mikrofon agar semuanya terdengar.
Semua yang ada disana hanya tertawa kecil mendengar pidato singkat Dela. Dela majikannya itu bukan hanya ramah dan mudah bergaul, tapi juga sangat bawel dan banyak bertanya. Tapi mereka semua merasa nyaman dengan tingkah Aurel yang seperti itu.
®®®®
Alvano baru sampai bandara Seokarno-Hatta tepat pukul 04:00 dini hari. la segera melesat menuju kekediamannya dengan supir pribadi yang sudah dikirimkan sang papah.
Alvano memijat pelipisnya karena sedikit pusing. la menyandarkan kepalanya kepadajok mobil itu. Pikirannya mulai menebak-nebak apa yang terjadi pada Angel kekasihnya itu. Sampai sekarang Angel tidak bisa dihubungi. Tak ada kabar apapun selama ia pergi. Sebenarnya sangat gampangjika ia ingin mengetahui bagaimana kabar kekasihnya itu. Angel hanya tinggal menyuruh seseorang detektif kepercayaanya untuk menemukan kabar Angel. Tapi semua itu tak Alvano lakukan. Alvano yakin dia sangat percaya kepada Angel. Angel juga melarang keras jika ia sampai membuntuti Angel dengan orang suruhan, karena katanya jika Alvano melakukan itu berarti Alvano tak percaya padanya. Alvano mendesah pelan mengingat itu, kepercayaanya sedikit hilang saat ini.
"Kita sudah sampai tuan.."
"Terimakasih." ucap Alvano seraya turun dari dalam mobil dan memasuki area rumahnya itu.
Ia langsung disambut dengan senyuman oleh kedua orang yang bekerja dirumahnya itu. Yah pak Ujang dan pak Ali yang rupanya sudah kembali.
"Bagaimana keadaan istri bapak?" tanya Alvano pada pak Ali.
"Sudah lebih baikan den," jawab pak Ali yang hanya diangguki oleh Alvano sebelum akhirnya memasuki rumahnya.
Jangan aneh jika panggilan pekerja dirumahnya dan dirumah orangtuanya berbeda. Alvano yang meminta sendiri agar tak dipanggil tuan kecuali Intan yang masih dibawah umurnya. Ia merasa panggilan itu terlalu tua dan akhirnya para pekerja dirumahnya memutuskan untuk memanggil dirinya den Alvano.
Ketika Alvano hendak menaiki tangga, matanya tak sengaja menatap pintu kamar Dela. Batinnya mendorong Alvano untuk memasuki kamar Dela.
Tapi hatinya menolak mentah mentah akan keinginannya itu. Namun baru beberapa langkah menaiki undukan tangga itu, ia kembali lagi menoleh kearah pintu kamar Dela. Pikiran dan hatinya mulai tak sejalan. Dari pada dibuat mati penasaran Alvano lebih memilih memasuki kamar Dela. Ntahlah iapun tak tahu keinginan konyol ini tumbuh dari mana.
Ketika membuka pintu kamar Dela, hidung Alvano bisa mencium harum ruangan kamar Dela yang berbau bunga sakura itu. Karna penerangan kamar Dela yang tidak dimatikan, la juga bisa melihat Dela yang sedang terlelap itu dari arah pintu.
Baru satu langkah berjalan, ia langsung memundurkan kakinya. Untuk apa Alvano melihat wanita itu? la berdecak kesal dengan kelakuan bodohnya dan secepat mungkin Alvano menutup pintu kamar Dela dengan hati-hati lalu kembali menuju kamarnya. Mengistirahatkan tubuhnya yang sudah sangat lelah.