Bianca Fernandez baru saja putus dengan kekasihnya yang berpacaran dengannya selama tiga tahun. Hatinya sangat hancur dan ia memutuskan pergi ke suatu tempat dan tak sengaja bertemu dengan Lucas Taylor. Ironisnya takdir kembali mempertemukan mereka yang ternyata akan menjadi saudara tiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mariana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Lucas berjalan beriringan dengan para perawat yang sedang mendorong troli pasien, yang sedang terbaring Viona di atasnya . Wanita itu terus bergumam, "T- tolong... selamat janin saya."
"Bawa dia ke ruangan VVIP, sekretaris saya akan mengurus berkas-berkasnya." Tutur Lucas, tanpa memalingkan wajahnya dari Bianca.
"Baik Tuan, harap menunggu di luar," jawab seorang perawat. Lucas hanya menjawabnya dengan anggukan singkat. Tangannya merogoh ponsel di dalam saku celananya, dan menelpon Jonathan, sekretarisnya.
"Tunda segala rapat hari ini. Sekarang kau ke rumah sakit Miller Group, urus berkas-berkas pasien atas nama Bianca Taylor," tutur Lucas.
"Kau yakin?" tanya Jonathan dengan nada ragu. "Hari ini ada rapat taken kontrak dengan perusahaan dari Belanda." Lanjutnya.
"Apakah aku perlu mengulanginya lagi?" tanya Lucas.
"Tidak, tidak perlu. Kau sensi sekali, seperti perempuan yang sedang mens." Celetuk Jonathan di seberang telepon. "Baiklah, sebentar lagi aku akan sampai di sana." Imbuhnya. Setelah mendengarkan jawaban itu, Lucas langsung memutuskan telepon secara sepihak.
Ia memandang deretan kursi, tempat orang-orang menunggu. Memori kelam masa lalunya kembali teringat lagi.
Flashback On
Lucas kecil sedang menangis di kursi tunggu, depan ruang persalinan. Bayang-bayang ibunya yang bersimbah darah tadi, terus menghantuinya.
Ia terus saja menyalakan dirinya karena meletakkan mainannya berserakan. Ia sendirian menunggu di sini, sepertinya ayahnya terlalu sibuk hanya untuk datang melihat istrinya melahirkan. Tiba-tiba ia di kejutkan dengan suara tangisan bayi dari dalam.
"Eaaa... Eaaa..."
Ia terus mengusap air matanya, tapi seakan-akan air matanya itu tidak mau berhenti. Detak jantungnya terus berdetak cepat, seakan ingin memberontak ingin keluar dari tempatnya. Bocah berumur 6 tahun itu sangat ketakutan, ia takut terjadi apa-apa terhadap ibunya. Ia pernah mendengar tentang seorang ibu yang melahirkan lalu meninggal. Ia terus berdoa untuk keselamatan ibu dan adiknya. Tiba-tiba pintu ruangan terbuka lalu keluarlah seorang perawat.
"Halo, adik tampan. Kau sendirian di sini dari tadi?" tanya Sang Perawat. Lucas cepat-cepat mengusap air matanya, lalu mengangguk. Melihat Lucas yang sedang menangis, perawat itu merasa iba. Kemudian ia berjongkok di depan Lucas.
"Ada apa? mengapa kamu menangis?" tanyanya sambil mengusap jejak-jejak air mata di wajah Lucas.
"Apakah ibuku baik-baik saja?" tanya Lucas sambil menatap perawat itu dengan mata sembabnya.
"Oh... adik kecil. Ibumu baik-baik saja, masuklah ke dalam, lihatlah adik dan ibumu." Jawabnya sambil mengusap-usap kepala Lucas. Ia tersenyum mendapatkan perlakuan hangat dari perawat itu.
Setelah itu, ia memberanikan diri untuk melihat ibu dan adiknya. Dibukanya pintu ruangan itu, terlihat ibunya yang sangat pucat sedang terbaring lemah di atas ranjang. Dengan langkah pelan, Lucas mendekati ibunya.
"Apakah ibu baik-baik saja?" tanya Lucas dengan suara yang kecil.
"Ibu baik-baik saja," Jawab Ibunya. Seperti itu ibunya saat ada orang lain, ia akan sangat baik terhadap Lucas, layaknya seorang ibu yang sangat sayang terhadap anaknya. Padahal tentu saja tidak, wanita itu sangat membencinya.
"Kau pergilah makan, Sayang. Ayah sebentar lagi akan datang. Dia akan memarahi kamu kalau belum makan siang." Ujar Riana. Lucas menunduk melihat Riana yang tersenyum, ia tahu maksud dari perkataan ibunya.
"Baik, Ibu." Jawab Lucas lalu meninggalkan ruangan itu.
Lucas keluar dari ruangan itu dan telah datang Pak supirnya yang membawa makanan untuknya dan ibunya.
"Ini jajan untuk anda, Tuan Muda." Ujar pria paruh baya itu sambil menyerahkan sebuah paper bag.
"Makasih Pak," ucap Lucas.
Pria itupun memasuki ruangan ibunya untuk memberi makanan yang ia bawah. Dipandanginya isi paper bag itu dan mengambil sekotak susu cokelat. Supirnya itu memberinya jajan karena tentu saja ia sudah makan di rumah tadinya, ibunya hanya mengusirnya dari tempat itu, karena tidak ingin melihat wajahnya. Walaupun baru berumur 6 tahun, pemikirannya lebih dari pemikiran anak-anak seusianya. Sungguh malang bocah tampan itu.
Flashback Off
Pelan-pelan kesadaran membangunkan Bianca dari pingsannya. Samar-samar ia mendengar percakapan dari Lucas dan seorang dokter.
"Janinnya masih terlalu muda, baru saja belum sampai sebulan. Jadi sangat disayangkan, sepertinya Nona Taylor memiliki depresi berat atau mengalami goncangan kuat sehingga ia keguguran." Jelas Sang Dokter sambil tersenyum menyesal.
Tentu saja dari goncangan pria mesum itu.
Ingin sekali Bianca teriak seperti itu, namun tenggorokannya kering, sehingga ia sulit mengeluarkan suaranya. Ia memang belum siap memiliki anak, tapi tetap saja seharusnya janin lahir ke dunia dan menikmati hidupnya di dunia ini. Salahnya tidak pantas ditanggung oleh janin tak bersalah itu. Ia memandang tajam ke arah Lucas, tangannya meremas seprei ranjangnya sangat kuat.
Pria itu adalah seorang pembunuh berdarah dingin.
Dokter melihat Bianca yang telah sadarkan diri, "Bagaimana perasaan anda, Nona Taylor?" tanyanya sambil mengecek kondisi Bianca dengan beberapa alat. Bianca tidak menjawab, ia memalingkan wajahnya ke arah lain. Jujur saja ia ingin menangis sekarang.
"Sebelumnya saya mohon maaf sebesar-besarnya. Kandungan and-"
"Tidak perlu dijelaskan, saya sudah tahu, " sela Bianca. Air matanya tak bisa ia bendung lagi. Entah kenapa akhir-akhir ini ia begitu emosional, sehingga lebih sering menangis.
Sang Dokter hanya tersenyum simpul, ia mengerti perasaan Bianca. Setelah itu ia pamit pada Lucas, dan meninggalkan mereka berdua.
"Kau sudah puas?" tanya Bianca dengan nada sarkas, seraya menatap Lucas dengan wajah sembabnya. Lucas sama sekali tak meresponnya, ia hanya diam menatap Bianca.
"Kau membunuhnya, Taylor. Janin itu sama sekali tidak ada salah apa-apa! Aku tahu kau menyuruh aku untuk menggugurkannya, tapi atas salah apa janin itu? Aku berusaha untuk mempertahan anak ini tanpa dirimu, yang pastinya juga akan mengecewakan ibuku. Akan sangat menyakitkan jika ia tahu bahwa semua orang tidak mengharapkan kehadirannya, setidaknya... aku sebagai ibunya mengharapkan kehadirannya. Aku tahu betul betapa menyakitkan perasaan itu, sementara kau... tentunya tak paham akan hal ini." Tutur Bianca, mengeluarkan semua unek-unek. Lucas masih saja bergeming, kemudian ia mengambil ponselnya dan menelpon seseorang.
"Ke rumah sakit sekarang, Bianca sudah siuman. Ia akan rawat jalan," Ujarnya.
"Baik, Tuan Muda. Saya sedang menuju," Jawab Sang Supir dari seberang telepon. Setelah itu Lucas menutup teleponnya.
"Dasar, brengsek! Kau tidak memiliki hati nurani. Aku membencimu selama-lamanya, Taylor." Cerca Bianca seraya mencabuti alat infus dari tangannya. "Jangan sampai Ibuku tahu hal ini." Imbuhnya.
...
Brian sedang mengendarai mobil menuju rumah sakit milik keluarganya. Ia masih heran mengapa ayahnya tertarik membeli rumah sakit, yang sama sekali tidak berhubungan dengan basic perusahaan mereka. Namun ia melihat sebuah mobil yang sangat familiar juga memasuki area rumah sakit itu. Mobil itu biasa dikendarai oleh sekretaris Lucas, Jonathan. Ia pun segera keluar dan melihat Jonathan yang sedang mengurus berkas pada loket. Cukup lama Brian menunggu Jonathan menyelesaikan berkas-berkas itu. Setelah sekretaris sekaligus sepupu Lucas itu pergi, ia segera menghampiri petugas loket tadi.
Petugas loket itu menyadari kedatangan Brian, "Selamat siang, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?"
"Ada urusan apa pria berkacamata tadi di sini?" tanyanya.
"Tuan Newton mengurus berkas pembayaran atas nama Bianca Taylor, Tuan."
"Bianca sakit?" tanyanya dengan dahi yang berkerut. "Tolong berkasnya, saya ingin melihatnya." Imbuhnya.
Petugas itu terlihat ragu sejenak, namun karena terpaksa akhirnya ia menyerahkan berkas itu. Brian membaca berkas milik Bianca. Matanya melotot, seakan-akan ingin loncat keluar dari tempatnya, setelah tahu mantannya itu sakit apa.
gak seru...thor