NovelToon NovelToon
Tahanan Sang Konglomerat

Tahanan Sang Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / CEO / Obsesi
Popularitas:740
Nilai: 5
Nama Author: Buana

Monique "Momo" Salim — gadis Tionghoa dari gang sempit Pecinan Semarang, anak haram yang dijual ayahnya sendiri, tabungan Rp 300.000 — terbangun di sebuah pulau mewah yang tak pernah ada di peta mana pun.
Di hadapannya berdiri seorang pria yang menguasai separuh ekonomi Asia Tenggara.
Renard Aurelius Widjaja.
CEO Widjaja Group. Konglomerat paling berkuasa — dan paling berbahaya — di Indonesia. Matanya amber seperti matahari terbenam, tapi tatapannya lebih dingin dari es.
"Kamu milikku," katanya. Bukan pertanyaan. Bukan permintaan. Itu pernyataan.
Momo dikurung. Bajunya diganti. Ponselnya disita. Satu-satunya yang tersisa: setengah gelang sakura di pergelangan tangannya — dan ingatan samar tentang pil putih yang memulai segalanya.
Tapi Momo bukan gadis yang mudah tunduk.
Di balik tembok emas penjara Renard, ada rahasia yang lebih gelap dari obsesinya:
— Seorang hacker jenius yang menawarkan kebebasan... dengan harga yang tak terduga.
— Sebuah password sembilan huruf yang menyimpan cinta bertahun-tahun.
— Dan kebenaran tentang keluarga Widjaja yang bisa menghancurkan segalanya.
Ketika cinta paksa berubah menjadi cinta sungguhan — siapa yang sebenarnya menjadi tahanan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2

Bab 2: Monster di Balik Pintu

Botol parfum di tangan Momo hampir terlepas.

Pria di ambang pintu itu tidak bergerak masuk. Ia hanya berdiri, membiarkan cahaya koridor membentuk garis gelap di sekeliling tubuhnya. Pecahan kaca di lantai memantulkan sepatunya yang hitam mengilap. Tingginya membuat pintu yang tadi terasa besar mendadak seperti bingkai yang terlalu kecil.

Momo menelan ludah.

Ia pernah melihat pria tinggi di jalan, di kampus, di depan hotel tempat orang kaya turun dari mobil. Tetapi pria ini berbeda. Tubuhnya bukan sekadar tinggi, melainkan seperti terbiasa membuat ruang tunduk padanya. Kemeja hitamnya rapi tanpa lipatan. Rambut gelapnya tersisir ke belakang, memperlihatkan wajah tegas dengan rahang keras. Matanya berwarna amber, indah dengan cara yang salah, seperti cahaya matahari yang tenggelam di dasar jurang.

Dan di jari telunjuk kanannya, cincin ular bermata batu hitam itu berkilau.

Ingatan tentang pil putih dan lantai basah menusuk kembali.

"Jangan mendekat," kata Momo.

Suaranya tidak setegas yang ia inginkan. Botol parfum di tangannya terasa licin karena keringat.

Pria itu menatap botol tersebut, lalu kembali menatap wajahnya. Tidak ada kemarahan. Tidak ada keterkejutan. Seolah seorang gadis yang baru bangun dan menghancurkan kamar mewah hanyalah masalah kecil yang bisa dibereskan dengan satu gerakan tangan.

"Kalau kau ingin melempar, arahkan ke kepalaku," ucapnya datar. "Pintu itu lebih mahal dari keberanianmu."

Momo terpukul oleh nada tenang itu. Lebih menakutkan daripada teriakan.

"Siapa kamu?"

"Renard."

Hanya satu kata. Tidak ada penjelasan.

Momo menggenggam botol itu lebih erat. "Aku tidak kenal kamu. Kenapa aku ada di sini? Mana ponselku? Mana bajuku?"

Renard melangkah masuk.

Momo otomatis mundur. Kakinya menginjak pecahan kaca kecil. Rasa perih menusuk telapak, tetapi ia menahan suara. Renard melihatnya. Matanya turun sebentar ke lantai, lalu kembali naik. Dalam sorot itu ada sesuatu yang hampir seperti kesal, tetapi terlalu cepat hilang.

Jarak di antara mereka menyusut, dan Momo baru menyadari aroma tubuh pria itu, dingin seperti hujan di atas batu, bercampur wangi kayu mahal yang samar. Bukan parfum manis. Bukan aroma orang yang ingin disukai. Aroma itu masuk ke napasnya tanpa izin, membuat dada Momo makin sesak karena tubuhnya mengingat sesuatu sebelum pikirannya mampu menolak.

Ia benci bahwa tubuh bisa mengingat penculiknya.

"Kau banyak bertanya untuk seseorang yang posisinya tidak memberi pilihan."

"Posisiku?" Momo tertawa pendek, kering. "Kamu menculikku."

"Aku mengambil apa yang sudah dibayar."

Kalimat itu membuat udara kamar seperti berhenti.

Momo menatapnya tanpa berkedip. "Apa maksudmu?"

Renard mengangkat tangan sedikit. Dari belakangnya, seorang pria lain muncul dengan langkah diam. Tubuhnya tinggi besar, memakai setelan hitam, wajahnya kaku seperti tembok. Di tangannya ada map cokelat.

"Albert," kata Renard.

Pria itu menunduk singkat. "Tuan."

Momo langsung menegang. Jadi ada orang lain. Ada penjaga. Ada sistem. Bukan satu pria gila saja.

Albert menyerahkan map itu kepada Renard. Renard tidak membukanya. Ia melemparkannya ke atas meja kecil, tepat di dekat kartu yang tadi diremas Momo.

"Gunawan Salim," ucap Renard.

Nama itu menghantam lebih keras daripada pecahan kaca di telapak kaki Momo.

"Jangan sebut dia."

"Ayah kandungmu."

"Dia bukan ayahku."

Untuk pertama kalinya, mata Renard berubah tipis. Bukan terkejut. Lebih mirip seseorang yang menemukan luka dan menekan tepat di sana.

"Namun namanya masih ada di dokumen kelahiranmu."

"Apa urusanmu dengan dia?"

Renard berjalan melewati pecahan kaca tanpa menunduk. Momo mundur sampai punggungnya menyentuh sisi meja rias. Botol parfum terangkat di antara mereka.

"Gunawan punya utang. Banyak. Terlalu banyak untuk orang yang masih berpura-pura menjadi pengusaha terhormat." Renard berhenti hanya satu langkah di depannya. "Ia menawarkan sesuatu sebagai jaminan."

Momo mendengar napasnya sendiri. "Tidak."

"Kau."

"Bohong."

"Ia menandatangani suratnya sendiri."

"Bohong!" Momo melempar botol itu.

Renard menangkap pergelangan tangannya sebelum botol lepas sempurna. Gerakannya cepat sekali sampai Momo baru sadar setelah kulitnya terjepit oleh jari-jari panjang itu. Botol jatuh ke karpet tanpa pecah. Tubuh Momo terdorong ke meja. Punggungnya membentur tepi kayu.

"Lepas!"

Renard tidak melepaskan. Tangannya yang lain mengangkat dagu Momo, memaksanya menatap mata amber itu.

Sentuhannya tidak keras sampai memar, tetapi cukup untuk membuatnya tidak bisa menghindar.

Ibu jarinya menekan tepat di bawah bibir Momo. Kulit di sana langsung panas, bukan karena sakit, melainkan karena jarak mereka terlalu dekat. Ia bisa melihat garis halus di bibir Renard, bayangan gelap di bawah bulu matanya, napasnya yang tenang menyentuh ujung hidung Momo. Dunia mengecil menjadi genggaman di pergelangan tangannya dan jari di dagunya.

"Lepaskan," bisik Momo, tetapi suaranya terdengar lebih lemah dari kemarahannya.

"Dengarkan baik-baik, gadis kecil." Suaranya rendah, nyaris tanpa emosi. "Mulai sekarang, kamu milikku. Bukan manusia bebas. Bukan tamu. Milikku."

Momo merasa seluruh wajahnya panas. Terhina. Takut. Marah. Semua bercampur sampai matanya pedih.

"Aku bukan barang."

"Di dunia Gunawan, kau sudah dijadikan barang jauh sebelum aku datang."

Kalimat itu membuatnya membeku. Karena ada bagian dirinya yang tahu, Gunawan memang mampu melakukan hal sekejam itu. Pria itu pernah menjual janji, nama keluarga, bahkan darahnya sendiri demi uang. Tetapi mengetahui kemungkinan itu benar tidak membuatnya lebih mudah diterima.

Momo menarik napas gemetar. "Aku mau pulang. Ama menungguku."

Jari Renard di dagunya menegang sangat singkat.

Terlalu singkat untuk disebut peduli. Namun cukup bagi Momo untuk melihat ada sesuatu yang bergerak di balik wajah dingin itu.

"Kau akan pulang kalau aku mengizinkan."

"Kamu orang gila."

"Banyak orang sudah mengatakan itu."

Renard melepaskan dagunya. Momo hampir jatuh karena lututnya lemas, tetapi ia menahan diri di meja. Albert berdiri di dekat pintu, wajahnya tidak berubah, namun matanya turun ke kaki Momo yang berdarah.

"Bersihkan lantai," kata Renard tanpa menoleh. "Dan bawa sandal."

"Baik, Tuan."

"Aku tidak butuh sandalmu," sela Momo.

Renard menatapnya lagi. "Kau butuh makan."

"Aku tidak akan makan apa pun dari kamu."

Beberapa menit kemudian, Momo duduk di ruang makan yang terlalu mewah untuk orang yang sedang ditawan.

Ia tidak tahu bagaimana ia bisa sampai di sana tanpa benar-benar diseret. Renard hanya berjalan di depan, Albert di belakang, dan dua pengawal berdiri di ujung koridor. Pintu-pintu terbuka sebelum Renard menyentuhnya. Semua orang menunduk. Semua orang diam. Momo merasa seperti masuk ke dalam perut makhluk besar yang seluruh organnya bekerja untuk satu pria.

Ruang makan itu menghadap laut. Meja panjangnya bisa menampung dua puluh orang, tetapi hanya ada dua piring yang disiapkan. Di depan Momo, mangkuk bubur hangat mengepul. Ada telur rebus setengah matang, ikan kukus, potongan buah, dan segelas air madu. Makanan itu terlihat lembut, seperti disiapkan untuk orang sakit.

Perut Momo berbunyi.

Ia membenci tubuhnya sendiri saat itu.

Renard duduk di seberangnya, memotong roti panggang dengan tenang. Cincin ular di jarinya bergerak mengikuti pisau. Ia makan seolah tidak ada gadis yang baru saja ia hancurkan hidupnya di meja yang sama.

Momo mendorong mangkuk itu menjauh. "Aku bilang tidak mau."

"Kau boleh membenciku setelah makan."

"Takut aku mati kelaparan sebelum kamu selesai bermain jadi pemilik?"

Renard mengangkat mata. "Kalau aku ingin kau mati, kau tidak akan bangun di kamar."

Momo merinding.

Albert berdiri tidak jauh di belakang Renard. Seorang pelayan perempuan datang hendak menuang teh, tetapi Renard memberi isyarat kecil. Pelayan itu mundur tanpa suara.

"Makan," katanya.

"Tidak."

Renard mengambil sendok dari sisi mangkuk Momo, mencicipi bubur itu sendiri, lalu meletakkan kembali sendok dengan rapi.

"Tidak ada racun."

"Aku tidak bilang takut racun."

"Wajahmu bilang."

Momo ingin membalas. Namun perutnya kembali bergerak, kali ini lebih menyakitkan. Ia belum tahu sudah berapa lama tidak makan. Kepalanya masih berdenyut. Telapak kakinya perih. Dan di depan matanya, bubur itu mengepul dengan bau kaldu yang hangat.

Ia mengambil sendok.

Satu suap.

Hanya satu suap, katanya pada diri sendiri. Untuk bertahan. Bukan karena menuruti pria itu.

Bubur menyentuh lidahnya, hangat dan lembut. Tubuhnya yang lapar langsung mengkhianatinya. Suapan kedua datang lebih cepat. Lalu ketiga.

Renard menyaksikan tanpa komentar.

Itu lebih memalukan daripada jika ia mengejek.

Tatapannya tidak turun ke mangkuk. Tatapan itu tetap di mulut Momo, di cara ia menelan, di bibirnya yang basah oleh kuah hangat. Momo sadar, lalu gerakannya mendadak kaku. Rasa lapar berubah menjadi sesuatu yang canggung, terlalu intim untuk sebuah meja makan. Ia menekan sendok lebih keras, seolah logam kecil itu bisa menjadi tameng.

Momo berhenti setelah setengah mangkuk. Pipinya panas. "Jangan lihat aku."

Sudut bibir Renard bergerak.

Bukan senyum ramah. Bukan juga tawa. Hanya lengkungan tipis yang membuat wajah tampannya terlihat lebih berbahaya, seperti predator yang akhirnya melihat mangsanya berhenti berdarah.

"Kau lebih patuh saat lapar."

Momo meletakkan sendok keras-keras. "Aku makan supaya bisa hidup. Bukan supaya patuh."

"Hidup juga bagian dari kepatuhan di sini."

Sebelum Momo sempat menjawab, Albert mendekat dan menunduk ke sisi Renard. Suaranya sangat pelan, tetapi ruang makan itu terlalu sunyi.

"Tuan, laporan dari Semarang sudah masuk."

Tangan Renard berhenti di atas cangkir.

Momo mendengar satu kata itu. Semarang.

Jantungnya langsung melonjak.

Albert melanjutkan lebih rendah. Momo tidak menangkap semuanya, hanya potongan kecil yang membuat darahnya berdesir.

"Ama Hsia... batuknya kambuh pagi ini."

Wajah Renard berubah.

Hanya sekejap. Namun Momo melihatnya. Tatapan amber yang sejak tadi dingin mendadak menjadi tajam, bukan ke arahnya, melainkan ke sesuatu yang jauh di luar ruang makan ini.

"Pastikan dokter itu datang sebelum siang," kata Renard.

Momo membeku.

Dokter?

Untuk Ama?

Renard menatap Albert. Suaranya turun, lebih dingin dari sebelumnya.

"Dan jangan biarkan siapa pun menyentuhnya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!