Hidup bersama dengan orang terkasih, tentunya membuat banyak orang membayangkan betapa bahagianya itu.
Namun, kenyataannya, setelah menikah dan hidup bersama bukanlah akhir dari kebahagiaan, itu adalah awal di mana akan dituntut untuk saling mengerti, saling menjaga, saling menyayangi dan mencintai sampai akhir.
Hidupku setelah menikah menceritakan lika-liku dari seorang Zakira. Zakira, gadis sederhana yang tak memandang harta pada suaminya, ia berusia 22 tahun.
Jangan lupa like dan komen, beri bintang lima untuk karya ini.
Suka dengan ceritanya mohon untuk vote/gift. Terimakasih 🤍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mala Cyphierily BHae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akhirnya Pulang Kampung
Zakira bersiap secepat kilat dan itu membuat dirinya menunggu sedikit lama untuk suaminya bersiap.
"Kamu udah, siap-siapnya?" tanya Pras yang baru saja selesai dengan mandi, Pras mengambil pakaiannya yang sudah Zakira siapkan dan itu berada di sofa.
"Udah, tinggal nunggu kamu aja!" kata Zakira yang sedang duduk di tepi ranjang, memperhatikan Pras bersiap.
Selesai dengan bersiap, Pras mengajak Zakira untuk pamit lebih dulu pada Ibu dan Bapaknya.
Zakira pun mengiyakan, karena memang harus ijin lebih dulu.
Sesampainya di sana, Norma tidak langsung mengizinkan mereka dengan alasan hari sudah malam.
"Jam berapa ini, mau sampai sana jam berapa?" tanya Norma seraya menggelung rambutnya, Norma sendiri yang kelelahan itu sudah tidur walau hati masih pukul 19.00 wib.
"Enggak papa, Bu. Berangkat sekarang sampai sana sekitar jam 9," jawab Pras seraya meminta punggung tangan Norma dan selesai dengan itu, Pras juga Zakira tidak lupa pamit pada Darma yang juga keluar dari kamar, terlihat kalau Darma sudah rapi, bersiap untuk pergi ke masjid.
"Iya, hati-hati. Jangan ngebut yang penting selamat!" kata Darma dan Pras pun mengiyakan.
Dan Norma, ia menatap tak suka pada Zakira, ia menganggap kalau Zakira merepotkan anaknya di malam hari.
"Emang enggak bisa besok aja, apa?" gerutu Norma dan Pras juga Zakira tak menanggapi, Zakira terus memeluk lengan suaminya, dalam hati, Zakira berdo'a, semoga Pras tidak termakan omongan Ibunya.
"Enggak papa kok, Bu. Dulu juga sering touring sama temen-temen, udah biasa jalan jauh," kata Pras, berharap, apa yang dikatakan itu dapat membuat Norma sedikit tenang.
"Hmm!" jawab Norma yang tak berhasil menghasut Pras.
****
Sekarang, Pras dan Zakira sudah dalam perjalanan, Pras meminta pada istrinya itu untuk mengeratkan pelukannya.
Pras mengusap punggung tangan Zakira dan Pras merasa kalau Zakira akan kedinginan jika tidak memakai sarung tangan. Pras pun menepikan motornya di penjual aksesoris dan membelikan Zakira sarung tangan.
Pras memberikan sarung tangan tersebut pada Zakira yang duduk di atas motor.
"Makasih." Zakira kembali merasa dicintai oleh Pras.
"Mas, seandainya kamu mengerti aku selalu, mungkin aku bisa bertahan di rumah ibu kamu," batin Zakira.
Zakira tidak ingin mengungkit masalah apapun saat ini, ia ingin menikmati waktu yang terasa sangat manis.
Keduanya melanjutkan perjalanan.
Malam ini, Zakira merasa sangat bahagia, ia memeluk suaminya dari belakang dengan eratnya.
"Kamu ngantuk, enggak?" tanya Pras seraya tangan kirinya berada di lutut kiri Zakira.
Zakira menjawab kalau dirinya mengantuk tapi masih bersemangat.
Lalu, Pras menyuruh Zakira untuk berpegangan dan Pras menambah kecepatan laju motornya.
"Mas, hati-hati!" kata Zakira seraya semakin mengeratkan pelukan.
"Iya," jawab Pras dengan pandangan tetap lurus ke depan.
Dan di tengah perjalanan, Pras mengajak Zakira untuk beristirahat sebentar.
"Udaranya dingin," kata Zakira dan Pras yang sedang memesan kopi itu memesankan mie kuah hangat untuk Zakira.
"Ini, biar hangat!" kata Pras seraya memberikan mie kuah dalam cup.
"Terimakasih," kata Zakira seraya menerima mie tersebut.
Setelah cukup beristirahat, sekarang, Pras mengajak Zakira untuk melanjutkan perjalanan.
Dan setelah memakan waktu yang cukup lama yaitu 2 jam setengah, sekarang, Pras dan Zakira sudah sampai di rumah Mar.
Mar dan Jalen yang mendengar suara ketukan pintu itu bertanya-tanya, siapa yang datang malam-malam begini?
Mar yang semula mengantuk itu kembali bersemangat setelah mendengar suara Zakira.
"Ma, ini Rara, Assalamu'alaikum!" seru Zakira dari balik pintu.
Dari dalam, Mar dan Jalen pun segera berjalan ke depan untuk membukakan pintu.
"Rara, Pras, ayo masuk... masuk!" kata Mar dengan sangat antusias.
Sungguh sangat berbeda, Pras di sambut dengan hangat oleh keluarga istrinya dan begitu tidak adilnya ketika Zakira tidak disambut hangat.
Itulah perbedaannya, bahkan, Jalen begitu menghargai menantunya, ia menemani Pras yang sedang duduk di kursi kayu, kursi itu berada di ruang tengah.
"Ma, mana minuman untuk Nak Pras?" tanya Jalen dari tempatnya duduk.
Tidak lama kemudian, Mar pun keluar dengan membawa teh hangat untuk semua orang.
"Kalian, kenapa malem-malem gini, mana enggak ngabarin, kalau ngabarin Mama pasti siapkan makanan enak," kata Mar seraya menyajikan tehnya.
"Rara lembur terus, Ma. Jadi baru sempat sekarang, sengaja malem sampai sini biar kami nginap," kata Rara.
Tidak lama mengobrol karena hari sudah larut, sekarang, Zakira sudah berada di kamar lebih dulu, kamar itu masih rapih dengan hiasan pengantinnya.
Dan bunga melati saat acara resepsi pun masih ada di atas meja rias.
Zakira dan Pras seolah mengalami flashback ke beberapa minggu lalu.
Melihat itu semua, membuat Pras bersemangat untuk berolahraga malam, apalagi malam di puncak, dingin, membuat Pras segera masuk ke dalam selimut Zakira yang sudah lebih dulu bersiap untuk tidur.
Keduanya pun berpelukan.
"Yang," panggil Pras dan Zakira pun menjawab, "Iya."
"Ayo, kita bikin dedek bayi!" ajak Pras seraya membuka kancing piyama istrinya dan Zakira pun melakukan hal yang sama yaitu membuka kaos suaminya dengan bersemangat seolah melupakan luka yang belakangan ini menerpanya.
Dari kamar sebelah, kamar Mar dan Jalen. keduanya mendengar suara decitan dari ranjang Zakira, keduanya pun mengetahui kalau anak dan menantunya itu sedang berjuang memberikan cucu.
Mendengar itu, Jalen pun menjadi ingin juga yang akhirnya Jalen dan Mar pun melakukannya, olahraga malam.
****
Keesokannya, pagi sekali, Rara sudah rapih dengan pakaian santainya, celana jeans pendek selutut berwarna krem dipadukan dengan kaos berwarna putih.
Rara menyiapkan sarapan untuk semua orang, tumis kangkung dan goreng tempe dan spesial hari ini ada jengkol dan petai.
Rata segera menyingkirkan itu karena Pras sama sekali tidak menyukainya.
"Oh, Neng. Kan itu makanan favorit kamu, kok disingkirkan?" tanya Mar yang datang dari dapur dengan membawa penanak nasi ke ruang tengah.
Rara pun menjelaskan itu pada orang tuanya.
"Kamu istri yang patuh, Ra!" kata Mar seraya membelai rambut hitam putrinya.
"Kata Mama aku patuh, tapi lain kata suami dan keluarga suami, Ma," kata Zakira dalam hati.
Dan pemikiran Zakira yang seperti itu membuatnya kembali teringat kalau besok ia sudah harus kembali ke rumah Pras dan aktivitas seperti biasa.
****
Di rumah Ninik.
Norma datang mencari putrinya dan terlihat kalau Ninik sedang tidur siang.
"Nik, kamu enggak bantuin Anto di pasar?" tanyanya.
"Enggak, capek, Bu. Pengen istirahat dulu!" jawab Ninik dengan tetap berbaringnya.
Sedangkan Norma, ia datang dengan membawa pakaian kotor, berharap kalau Ninik akan mau mencucinya.
"Bu, taruh aja di bakal Zakira, besok dia balik pasti dicuci. Ninik capek, Bu! Pengen istirahat dulu!" kata Ninik seraya menunjuk rumah sebelah, rumah bagian Pras.
"Yang bukan anakku aja mau cuci bajuku, ini anak kandung ku sendiri menolak!" batin Norma. Walau begitu, Norma hanya bisa membatin, dari dulu, Norma dan Darma begitu memanjakan Ninik yang anak perempuan satu-satunya.
Apakah ketulusan dari Zakira akan membuat mata Norma terbuka lebar?
Bersambung.
Jangan lupa like dan komen supaya Norma dan Ninik mendapatkan hidayah.
kan aku pngen tau gmna reaksi kluarga.ny pras.. 😌
udah tamat aja
harus lanjut donk .. melihat tumbuh kembang di baby girl ..