Hana Yasmin adalah lambang dari ketegaran wanita yang luar biasa. Enam tahun yang lalu terpaksa diusir dari rumah orang tuanya sendiri karena telah mengandung benih pria yang tidak dia kenal. Sebuah tragedi kelam merenggut paksa kesucianya. Trauma mendalam itu sempat meruntuhkan dunia Yasmin. Namun, takdir berkata lain. Bayi yang dititipkan dalam tahimnya lahir sepasang malaikat kecil laki-laki dan perempuan yang ia beri nama Fatir dan Fathia.
Yasmin berjuang sendiri membesarkan anak kembarnya itu hingga tumbuh menjadi anak yang cerdas, padahal masih usia 5 tahun dan sekolah TK. Yasmin yang bekerja di restoran bertemu Marco Bellini. Pria itu jatuh cinta kepadanya bahkan mengajak menikah dan berjanji untuk membesarkan si kembar, tapi rasa trauma membuat Yasmin tidak mudah untuk menerima.
"Yasmin, menikahlah denganku demi kamu dan anak-anak."
Apakah Yasmin akhirnya menerima Marco? Bagaimana kisah selanjutnya? Kita ikuti kelanjutannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Yasmin tertegun menatap sang Ayah yang berjalan lebih dulu menarik koper miliknya sambil menuntun Fatir hingga masuk ke dalam rumah. "Semoga ini bukan mimpi," gumamnya berkaca-kaca.
"Bunda... Kita masuk juga, ya... aku mau lihat Ayam di potong," rengek Fathia yang masih menggenggam jemari bunda.
Yasmin menunduk mengusap kepala putrinya, lalu mengangguk semangat. Dengan perasaan sedikit lega ia menggandeng tangan Fathia. Tiba di ruang tamu mereka bertemu dengan ibu Maryam yang tak kalah kaget. Wanita itu berdiri di ruang tamu memandangi suaminya yang menggandeng tangan Fatir cucu laki-lakinya berjalan menuju pintu belakang, senyum akhirnya muncul di bibir Maryam.
"Alhamdulillah... Berkat cucu akhirnya Ayah kamu luluh juga Yas," kata bu Maryam menatap Yasmin yang masih berdiri di pinggir pintu.
"Iya Bu, ini karena kalian sayang..." Yasmin membungkuk memandangi Fathia. Air mata Yasmin tiba-tiba menetes ketika baru menyadari, di balik ketegasan dan sikap dingin ayahnya tadi sebenarnya tidak tega membiarkan dirinya dan anak-anak pergi.
"Bunda, aku ikut Kak Fatir sama kakek sekarang ya..." pinta Fathia.
Yasmin mengangguk, lalu melepas genggaman tangannya membiarkan Fathia berlari-lari ke arah dapur.
"Biarkan saja Ayah kamu dekat dengan cucunya, sekarang kita ke kamar lagi," titah Maryam. Yasmin mengangguk lalu menarik koper kembali ke kamar.
Sementara itu di taman belakang, terdengar suara tawa kecil Fatir yang sedang ngobrol bersama Kakek dan Fathia, membuat suasana sore itu terasa jauh lebih hangat dari sebelumnya.
Ayah baru saja meletakkan pisau tajam di atas talenan kayu, lalu menoleh ke arah kedua cucunya. "Nah, sekarang kita potong ayamnya ya, nanti biar Bibi masak gulai untuk kita makan malam," kata Amir.
"Di goreng saja Kek, atau dimasak sayur sop," usul Fathia karena biasanya bunda memasak seperti.
"Boleh-boleh, tapi Fatir tidak boleh pegang pisau," ucap kakek, segera ambil alih pisau tajam yang baru diasah oleh tukang kebun, karena tiba-tiba Fatir mengangkat pisau tersebut khawatir melukai tangannya.
"Kalian badannya sehat dan kuat, pintar lagi, pasti Bunda kamu sering memasak sayur Ayam," tebak kakek, seharusnya tidak usah bertanya begitu sudah bisa mencerna apa yang Yasmin ceritakan siang tadi.
"Bunda jarang masak Ayam Kek," jujur Fathia, lalu bercerita sering makan sayur ayam akhir-akhir ini karena dibelikan, om.
Amir seketika diam, hatinya merasa tersentil. Selama ini ia makan enak, sementara cucunya makan ayam pun minta belas kasihan orang lain.
Ayah berdiri lalu membuka pintu kandang ayam yang diselot dengan pasak kayu. Fatir dan Fathia segera mengikuti berdiri di samping kiri dan kanan Ayah.
"Sekarang kalian tinggal pilih, mau yang mana?" Tanya Amir menoleh dua cucunya, merelakan Ayam kesayangan demi cucu yang baru ia temukan.
"Yang paling besar ini boleh, Kek?" Fatir menunjuk Ayam jago yang berdiri gagah, ia tidak tahu jika jago itu kesayangan kakek.
Amir diam sejenak menimbang-nimbang, bukan tidak boleh ayam itu dipotong, tapi masalahnya dagingnya akan alot. Sebab, Ayam tersebut sudah sangat tua. Selama memelihara Ayam, ia sama sekali belum pernah memotong karena tidak tega memakannya.
"Yang ini saja Kak," Fathia memilih ayam betina berbulu halus.
"Oh, benar-benar," ucap kakek, lalu mengatakan kepada Fatir jika ayam pilihan Fathia sedang enaknya untuk disayur. Fatir akhirnya mengangguk.
Kakek menangkap ayam pilihan Fathia dan bersuara "keok" lalu mengikat kaki ayam betina itu sudah siap potong, Fatir dan Fathia memperhatikan saja.
"Kakek pasti nggak pernah ketinggalan shalat," ucap Fatir ketika memandangi pisau yang sudah nempel di leher ayam siap eksekusi.
Mendengar kata itu, pak Amir menatap Fatir menyipit. "Kenapa kamu tanyakan itu?"
"Kek... Fatir ingat kata Ustadz di masjid. Orang yang tidak melaksanakan kewajiban shalat, menurut Islam tidak diperbolehkan memotong hewan, apa benar begitu?" Tanyanya polos.
Suasana di depan kandang seketika hening. Tangan Kakek yang hendak menarik pisau di leher ayam pun terhenti. Ia terdiam cukup lama, seolah kata-kata polos Fatir baru saja memukul hatinya dengan keras.
"Bagooong..." seru pak Amir memanggil tukang kebun yang bernama Bagong.
"Saya, Pak..." jawab pria usia 40 tahun berjalan cepat dan berhenti di hadapan pak Amir dengan tubuh membungkuk.
Fatir dan Fathia yang berjongkok di samping kakek bingung. Padahal mereka sudah menunggu kakek memotong Ayam karena sebentar lagi Adzan magrib tiba, tapi kakek malah berteriak memanggil Bagong.
"Kakek... kenapa Ayamnya tidak jadi dipotong? Jangan-jangan Kakek nggak solat ya, hayo..." serang Fatir dengan kata-kata polos. Sejak siang tadi tinggal di rumah ini, ia tidak pernah melihat kakeknya shalat.
Yasmin yang memperhatikan di ambang pintu geleng-geleng kepala, tak menyangka anak-anaknya itu akan berkata hal sedemikian hingga membuat ayahnya mati kutu.
"Biar Bagong saja yang motong ya, Kakek tidak tega," jawabnya asal, padahal bukan itu alasannya. "Bagong... potong Ayam ini," Kakek memberikan ayam yang sudah ia ikat kakinya.
"Baik Tuan..." dengan mengucap bismillah, Bagong menggores leher ayam dan darah pun mengalir ke tanah.
Fatir dan Fathia yang melihat hal itu menampilkan ekpresi wajah berbeda. Jika Fathia memilih menutup mata karena ngeri melihat darah, Fatir justru memperhatikan dengan cermat karena ia yang akan membantu bunda jika suatu saat disuruh motong Ayam.
Sementara kakek hanya duduk termenung di kursi kayu panjang, menunduk dalam. Tatapannya kini tampak kosong namun penuh perenungan. Sejak lama ia memang mulai melalaikan shalatnya, dan hal itu belum pernah ia sadari sejelas ini sampai diingatkan oleh cucunya sendiri.
Panggilan shalat magrib pun menggema, Bagong membawa ayam tersebut ke dapur. Sementara Fatir dan Fathia mendekati kakek.
"Kakek... Kalau lagi magrib tidak boleh bengong, ayo Kek, kita shalat bareng," ujar Fatir menyentuh lutut kakeknya.
...~Bersambung~...
bingung....tu...Marco mo jawab apaan....
jgn kan knyataan dlm mimpi juga Marco GK bkln blik Karo kwe tau....🤣🤣🤣🤣🫣
bnyak bgt ....bikin syok nya....dri kmrin 🤣🫣