Namaku Auryn, seorang mahasiswa yang berkuliah di salah satu kampus swasta di ibu kota. Aku merupakan mahasiswa yang bermasalah dan sangat tertutup pada orang lain kecuali dengan teman-temanku yang sama bermasalahnya denganku.
Orang lain menilaiku sebagai gadis yang berkepribadian dingin dan tidak memperdulikan sekitarku, aku mengakui semua itu.
Perlahan sifatku mulai berubah sejak mengenal Dosen yang bergelar Doktor muda di kampusku. Aku tertarik padanya dan melakukan hal yang tidak biasa kulakukan untuk bisa akrab dengannya.
Sifatnya yang berbeda dari kebanyakan orang membuatku penasaran padanya, karena dia aku berusaha ingin menjadi lebih baik lagi.
Aku berharap dialah takdirku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Karena Aku Nyaman Berada di Dekatnya
Perasaanku saat ini sangat tidak karuan. Bagaimana tidak, yang duduk didepanku saat ini adalah kak Rafqi. Aku terus saja merasa salah tingkah walau kak Rafqi tidak berbuat apa-apa didepanku, dia hanya fokus mengunyah makanannya tapi aku yang tidak bisa fokus pada makananku tetapi tetap saja mengunyahnya.
Entah kenapa, tapi mengingat tadi dia menanyakan hubunganku dengan Zaidan membuat perasaanku seperti di aduk-aduk dengan rasa senang yang ingin meledak tapi aku masih bisa menyembunyikannya dibalik wajah datarku.
Beberapa waktu kemudian, wadah makanan didepan kami masing-masing telah kosong. Aku bingung setelah ini aku harus bagaimana, tidak mungkin aku langsung pamit pergi begitu saja. Aku takut jika hal itu bisa menyinggung kak Rafqi nantinya.
"Sudah selesai makannya?" Ucapnya menatapku yang hanya menganggukan kepalaku mengiyakan dengan senyum tipis
"Kau ada kelas setelah ini?" kali ini aku menggelengkan kepalaku. Rasanya sangat sulit mengeluarkan suaraku
Aku melihat kak Rafqi seperti sedang berpikir. Mungkin ada sesuatu yang ingin dikatakannya tapi Ia masih menyusun kata-katanya.
"Jika kau senggang, apa kita bisa mengobrol sebentar?" Tanyanya kemudian
"Apa yang ingin Kak Raqfi bicarakan?" kataku yang berhasil lolos keluar dari mulutku karena penasaran.
"Tidak enak jika kita bicara disini, bagaimana kalau kita bicara di cafe depan kampus" Tawarnya agak canggung tapi tetap ku iyakan
***
Begitu sampai di cafe, aku memesan segelas chocolate dingin dan kak Rafqi memesan greentea dingin.
"Apa yang ingin kak Rafqi ceritakan?" Tanyaku penasaran karena kemarin ia pun menggantungku dengan pertanyaan yang tidak ia lanjutkan.
"Tidak, aku hanya penasaran dengan ceritamu waktu itu" Ucapnya membuatku bingung
"Cerita yang mana kak?"
"Kau memiliki Kakak yang Islam tapi kau sendiri non muslim kan" Aku mengangguk mengiyakan tapi aku masih bingung dengan ucapannya.
"Apa kau adiknya Aisyah?"Tanyanya yang membuatku sedikit terkejut.
"Kak Rafqi tau dari mana tentang kakakku"
"Kakakmu adalah teman saya, kami berteman dari SMA. Saya baru tau kalau kau ini adiknya, tadi dia datang mengunjungi saya" Jawabnya dengan senyum yang tidak dapat ku artikan di wajahnya.
Aku merasa ia bercerita tentang kak Aisyah dengan cara yang beda. Ada sedikit rasa sesak di hatiku melihat caranya tersenyum saat menyebut nama kak Aisyah.
"Jadi kak Rafqi adalah teman yang di maksud oleh kak Aisyah tadi" ucapku dengan suara yang bergetar, ia mengiyakan dengan anggukan kepala dan seulas senyum di bibirnya.
"selalu saja tentang kak Aisyah" batinku
Sepanjang waktu kami bersama di cafe yang di bahas oleh kak Rafqi hanya seputar kak Aisyah dan kak Aisyah. Kak Aisyah adalah orang yang baik, kak Aisyah orang hebat, sifat kak Aisyah sangat tenang dan semua tentang kak Aisyah.
Ada sedikit rasa sakit dihatiku ketika terus saja mendengar kak Rafqi memuji kak Aisyah. Ada apa dengan diriku, apa aku cemburu?, apa aku benar menyukai kak Rafqi?.
Kak Aisyah memanglah wanita yang baik dan semua orang menyukainya, hal itu sudah wajar dan aku tidak pantas untuk merasa iri dengan kakakku apalagi hanya dia yang sangat menyayangiku.
Dari dulu aku tidak pernah merasa iri atau merasa aneh jika kak Aisyah di puji oleh orang-orang bahkan oleh kedua orang tuaku. Tapi kenapa sekarang aku merasa tidak suka kak Rafqi memuji kak Aisyah.
***
Setelah pertemuanku dengan kak Rafqi di cafe pagi tadi, aku merasa tidak bersemangat.
Laras yang melihatku melamun langsung menghampiriku
"Kau kenapa?" Tanyanya mencolek lenganku
"Tidak, memangnya aku kenapa" jawabku menatapnya, tapi sepertinya Laras tidak puas dengan jawabanku
"Kau berbohong, kau seperti orang yang sedang banyak pikiran" katanya seraya duduk di sampingku
"Sungguh, aku tidak memikirkan apa-apa. Hanya saja aku merindukan kak Shandi" elakku yang membuat Laras percaya
"Wajar jika kau merindukannya, hampir setiap hari kau bersamanya. Dia sangat menyayangimu, akupun juga merindukan kak Shandi. Biasanya kita berenam sudah bersenang-senang kalau malam begini"
Benar yang dikatakan Laras, sejak kak Shandi pindah kami sangat jarang berkumpul. Bahkan beberapa hari ini aku jarang melihat kak Tara, kak Willi dan Lucas.
"Kau mau ke tempat kak Tara?" Tanyaku yang disambut semagat oleh Laras
"Tentu saja, ayo kita kesana" ucapnya sangat antusias.
Sebenarnya aku sangat malas untuk keluar kamar, tapi aku ingin melupakan semua perkataan kak Rafqi yang terus saja memuji kak Aisyah tadi. Aku tidak ingin merasa bersalah karena menyimpan rasa iri pada kakak kandungku yang sangat menyayangiku.
Mungkin dengan mencari kegiatan lain aku bisa mencari pelarian untuk pikiranku ini. Aku sudah memutuskan ingin menjauhi kak Rafqi, aku bertekad akan membuang rasa penasaranku padanya Sebelum aku benar-benar menyukainya.
***
Setibanya di kos kak Tara, kami di sambut dengan hangat oleh mereka bertiga. Seperti biasa, jika kemari aku lebih senang duduk di sofa ujung sana karena hanya tempat itu yang tenang.
Aku mendudukkan tubuhku di sofa dengan nyaman. Biasanya aku duduk berdua dengan kak Shandi disini dan akan mulai bercerita dengannya, kak Shandi selalu bisa membuatku nyaman sehingga aku tidak sungkan untuk bercerita dengannya dan berbagi masalahku dengannya.
"Minumlah" kata kak Willi membuyarkan lamunanku sembari duduk disampingku dan memberikan segelas alkohol padaku.
"Terima kasih, kak" aku menerima gelas itu dan meneguknya sedikit.
"Kau merindukan Shandi?" aku mengangguk pelan mengiyakan
"Kau tenang saja, kami semua ada disini untuk menjagamu" ucapnya seraya merangkulku. Dengan refleks tanganku menyikut perutnya
"Aww, kau ini selalu saja memukulku" keluhnya dengan wajah kesakitan
"Aku sudah bilang berapa kali aku tidak suka di sentuh dan aku bisa menjaga diriku sendiri" kataku dengan tegas namun tidak sampai membuat kak Willi tersinggung
"Kau pikir aku tidak tau kalau kau bisa jaga diri, ini semua perintah Shandi. Dia sudah menitipkan mu pada kami semua dan lagi kenapa kalau aku yang menyentuhmu selalu mendapatkan pukulan bahkan aku hanya merangkulmu giliran Shandi dia bahkan memelukmu tapi tak pernah kau hadiakan pukulan" serunya dengan kesal mengajukan protes terhadapku. Aku tidak menyangka sebegitu sayangnya kak Shandi padaku hingga menitipkan ku ke semua orang
"Karena aku nyaman berada di dekatnya" Ucapku dengan tegas
"Bahkan aku yakin kalau kalian berdua punya hubungan yang khusus" mendengar kata-kata kak Willi seketika membuatku kesal.
"Kau ini yang benar saja, mana mungkin aku memiliki hubungan yang khusus dengan kak Shandi. Dia sudah seperti kakakku sendiri" seruku dengan kesal
"Alasan saja" ledeknya
"Pergilah, kau sangat mengganggu disini" ucapku dengan keras dan mendorong tubuhnya agar pergi dari sana.
"Kalian selalu saja bertengkar" ucap Lucas yang melihat kami berdebat
"Kau benar, mereka itu bagaikan tikus dan kucing" timpal Laras terkekeh yang ku hadiahkan pelototan mata.
dsaat pad KUMpul psti ada laras
novelnya👍👍