Serangkaian konflik, cinta, sisi gelap, konfrontasi, ego dan di bumbui dengan beberapa misteri yang pelan tapi pasti terkelupas perlahan dengan balutan horor kejawen (jawa kuno) yang cukup kental. semua berpadu dalam satu mahakarya.
Sinopsis :
Di suatu desa..hiduplah seorang nenek tua yang cukup kaya raya. Ia mempunyai 6 orang anak. Anak yang di besarkan olehnya seorang diri sebagai seorang janda. Enam orang anak yang di besarkan olehnya dengan penuh kasih sayang. Enam anak itulah yang juga memulai konflik antara sesama saudaranya sendiri. Puncaknya adalah ketika sang nenek tiba-tiba meninggal dunia.
Disini semua tragedi itu berawal. Teror kasat mata dan yang tak kasat mata mulai menghantui semua yang sedang tinggal di rumah peninggalannya. Satu...persatu.... Mereka semua punya satu tujuan yang sama! 6 orang iblis bertopeng manusia!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mufid Kurniawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masa Lalu
Matahari terlihat masih malu-malu untuk menunjukkan sinarnya di pagi hari ini. Semburat kehitaman nampak menutupi sinar hangat sang Surya karena musim hujan sudah tiba untuk menunaikan tugasnya. Embun pagi masih menetes lembut dari dedaunan yang hijau. Dingin sisa hujan semalam terasa masih menusuk tulang.
Suara kendaraan Ikhwan sudah terdengar menggema membelah jalanan yang masih lenggang. ia hendak pergi ke pasar hari ini untuk menjual hasil panennya lusa kemarin. Apapun akan ia lakukan demi anak dan istrinya.
Sifat Ikhwan yang pantang menyerah itulah yang membuat putri sangat menyayangi suaminya itu. Terkadang saat suaminya tidur, putri sengaja memandang wajah Ikhwan dengan berlinangan air mata. Guratan garis sepanjang wajah lelah suaminya menggambarkan betapa keras usaha sang suami untuk membuatnya bahagia. Betapa capeknya hanya sekedar mencari nafkah untuk dia dan Nisa. Betapa berdosa dirinya yang sering membantah dan menuntut ikhwan untuk lebih lebih dan lebih. Doa tulus selalu tersemat dalam setiap tetesan air mata putri di setiap malam.
Sesampainya Ikhwan di pasar, ternyata lokasi pasar sudah cukup lumayan ramai dengan para pedagang yang sudah menawarkan barang-barang yang ia jual. Tak mau membuang banyak waktu lagi, ia kemudian segera mengambil posisi duduk di bahu jalan. Dengan karung bekas gandum yang di gelar, ia siap untuk menawarkan singkong-singkongnya.
...****************...
Jam 10:23
Brrrmmmm...hrmmmm
(Suara motor Ikhwan)
"Assalamualaikum..dek, aku pulang.." salam Ikhwan segera setelah memasukkan motornya ke dalam rumah.
"Loh kok sudah pulang mas? Gimana? Laku singkongnya?" Tanya putri sembari menyuapi putri kecilnya yang tak lelah berlarian kesana kemari.
"Hehehehe.. Alhamdulillah dek, laku semua. Langsung ludes!" Ujar Ikhwan dengan senyum yang lebar. ia langsung menangkap dan menggendong putri kecilnya.
"Alhamdulillah mas. Eh, kamu nggak lupa pesananku 'kan mas?" Tanya putri.
"Enggak lah dek, Emang buat apa sih kembang tabur ini dek?" Ujar Ikhwan penasaran.
"Huffffhh..Aku mau nyekar di makam ibu dan adik mas, hari ini tepat 15 tahun meninggalnya ibu dan adikku." Tutur putri menghela nafas panjang.
"Oh.." jawab Ikhwan singkat. Ia tak mau bertanya lebih lanjut dan membuat sang istri menjadi sedih.
"Dulu...ibu dan adikku di temukan meninggal dengan sangat tragis mas." Ujar putri membuka kembali ingatan masa lalunya sembari memberikan ASI untuk sang buah hati yang nampak sudah terlihat mengantuk.
"Sudahlah dek, kita doakan saja semoga ibu dan adikmu, di terima semua amal ibadahnya dan di tempatkan di surga yang paling mulia." Ucap Ikhwan mendekati sang istri yang tampak mulai nanar.
"Amin"
...****************...
Flashback..
15 tahun yang lalu..
Tak lelo..lelo lelo ledung..cup meneng.. anakku.. ojo nangis wae..
Tak lelo..lelo lelo ledung..cup meneng.. anakku.. ojo nangis wae..
Senandung sayang seorang ibu yang tengah menimang-nimang dengan penuh kasih seorang balita perempuan. Wajahnya terlihat begitu teduh sebagai seorang ibu. Bibirnya merah merekah alami. Rambutnya yang di kuncir asal tak mengurangi keindahan pahatan illahi dalam wajah ayu itu.
"Ibu..ibu..ibu dimana.." teriak seorang gadis kecil yang baru saja pulang dari taman kanak-kanak. Gadis itu segera berlari menuju halaman belakang saat ia melihat siluet ibunya sedang menimang-nimang adiknya disana. Ia langsung memeluk ibunya yang hanya memakai jarik (kain yang dililitkan ke tubuh bagian bawah) bermotif batik.
"Kalau pulang itu mbok yo salam dulu to cah ayu.." jawab ibunya dengan mengelus kasar rambut gadis yang di kuncir dua itu dengan gemas. Bocah kecil itu hanya tersenyum saja sembari masih memeluk kedua kaki ibunya erat.
"Sana ganti baju dulu putri. Baru nanti makan. Ibu sudah masakin ayam kesukaanmu." Tutur lembut wanita cantik itu.
"Njeh (iya) bu." Ujar putri melepas pelukannya kemudian berlalu meninggalkan sang ibu di halaman belakang.
Tak lama kemudian, wanita itu menyusul masuk karena dirasa gerimis kecil mulai turun membasahi tanah. Lestari mulai meletakkan anaknya yang masih balita di atas dipan kasur dari bambu. Tak lupa ciuman mendarat lembut di pipi mungil bayi perempuan itu.
Lestari segera bergegas mengambil sapu dan lap di belakang. Wanita itu memang di kenal sangat disiplin dan rajin. Dengan hati-hati ia mulai mengelap meja di ruang tamu hingga beberapa bingkai foto yang tergantung di dinding semi permanen rumahnya.
Dengan mata yang sudah terasa lelah, ia memandang nanar foto keluarganya. Sudah terhitung cukup lama ia di tinggal suaminya pergi ke luar kota untuk mencari sesuap nasi menjadi pemborong bangunan. Sang suami, Sudi hanya beberapa bulan sekali pulang untuk menengok anak istrinya dan itupun tidak lama karena alasan kontraknya belum selesai. Tak dapat di pungkiri, rasa rindu akan sang suami begitu bergejolak dalam relung hatinya. Lestari hanya menghela nafas panjang sesaat.
"Kangmas, aku rindu.." lirih lestari dalam hati.
Dokk..dok..dok..
(Suara pintu diketuk)
.
.
.
.
.
Bersambung..
gmana penampakan rumah nenek nyaa, huhuhu.
lnjut dong thorrrr
lnjut thor .. bnyak yg nggu nih
ttp semangattt💪💪💪