NovelToon NovelToon
My Teacher

My Teacher

Status: tamat
Genre:Nikahmuda / Romansa / Beda Usia / Dijodohkan Orang Tua / Tamat
Popularitas:323.8k
Nilai: 5
Nama Author: ¶`(₡ ฿úñgšù)ᵛⁱᵛⁱ•_•`FIIII

Nessa Ibrahim Halana, seorang gadis berjilbab yang baru menduduki bangku SMA. Dipertemukan dengan seorang guru baru yang penampilannya membuatnya selalu mendapat cemooh oleh murid-muridnya sendiri. Berbeda dengan Nessa yang tidak pernah menjelekkan gurunya itu.



Tiba-tiba suatu kejadian yang membuat mereka dinikahkan padahal status Nessa masih anak sekolahan. Berawal dengan ketidaksengajaan tidur bersama malah membuat orang tua mereka memutuskan untuk menikahkan keduanya.



"Menikah dan membina rumah tangga di usia muda bukanlah keinginan dan tujuanku." ~ Nessa Ibrahim Halana.


"Nessa, izinkan saya mencintaimu." ~Dimas Endi Rey.


Sama-sama awam persoalan cinta dan perasaan. Berusaha saling memahami. Mereka hanya mengikuti naluri hati masing-masing. Berjalan sesuai garis yang sudah ditetapkan Tuhan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ¶`(₡ ฿úñgšù)ᵛⁱᵛⁱ•_•`FIIII, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MT part 10

Sudah satu bulan terlewati, kebetulan saat ini mata pelajaran agama Islam.

Seperti biasa Pak Endi selalu menjelaskan materi, dan seperti biasa juga kelas selalu riuh saat guru itu menjelaskan. Pak Endi hanya diam saja, karena sudah ditegur pun masih tidak berubah.

Sedangkan Nessa duduk bersandar di belakang kursinya sambil mendengarkan materi.

Tiba-tiba suasana menjadi sunyi saat wali kelas mereka datang tiba-tiba tanpa aba-aba ataupun mengucap salam. Raut wajahnya terlihat sangat serius.

"Ada apa, Bu?" tanya Pak Endi bingung karena materi yang dia jelaskan berhenti.

Bu Mega, wali kelas mereka hanya diam sambil meminta izin mengambil waktu Pak Endi sebentar.

"Semuanya dengarkan Ibu baik-baik. Kalian tau kenapa Ibu masuk ke kelas kalian dengan tiba-tiba?" tanya Bu Mega mendapatkan gelengan dari semuanya.

"Ibu benar-benar kecewa sama kalian. Di mana rasa hormat kalian kepada guru? Jadi, seperti inilah kelakuan kalian saat jam pelajaran agama, iya?"

Semuanya diam, mereka pun akhirnya mengerti dengan apa yang wali kelas mereka bicarakan.

"Saya selalu rutin mengecek dan menanyakan tentang kalian pada semua guru yang mengajar, tugas-tugas kalian, dan sikap kalian. Setelah saya lihat... nilai kalian itu banyak yang kosong di mata pelajaran agama Islam. Kalian tau kan apa sebabnya? Ibu sangat menyayangkan dan Ibu sangat kecewa pada kalian."

"Tugas yang Pak Endi berikan tidak kalian kerjakan, saat dia menjelaskan kalian pun mengobrol di belakang. Sopan kah begitu terhadap guru? Kalian itu sudah besar, harusnya tau cara menghargai, kami sebagai guru tidak minta dihormati, tapi kami sebagai guru hanya ingin meminta di hargai."

"Bu, ini ada apa ya?" potong Pak Endi mencoba menenangkan Bu Mega yang terlihat marah.

"Lihat! Kalian lihat! Dia selalu sabar dalam menghadapi sikap kalian."

"Dengarkan baik-baik ya! Sekali lagi saya lihat kelakuan kalian seperti itu, maka siap-siaplah menerima konsekuensi. Kalian jangan berpikiran kalau Pak Endi yang mengadukan sikap kalian kepada saya, tidak! Itu tidak benar sama sekali, dia selalu diam dan berusaha menutupi sikap buruk kalian."

"Sebagai hukuman, kalian semua lari keliling lapangan 10 kali putaran, tidak menerima nego ataupun apapun itu!" titah Bu Mega mengambil keputusan.

"Bu."

"Pak, saya mohon kerja samanya, mereka sudah keterlaluan. Sebelum kalian lari, kalian minta maaf dulu pada Pak Endi."

"Maaf, Pak." ucap mereka serentak.

"Ulangi!"

"Maaf, Pak Endi."

"Tidak apa-apa, sudah saya maafkan sebelum kalian meminta maaf. Kalian anak didik saya, saya sebagai guru sekaligus pengganti orang tua kalian di rumah harus bisa menuntun kalian." jawab Pak Endi.

Semua teman sekelas Nessa hanya menunduk tidka berani menghadapi kemarahan wali kelas mereka.

"Bu, saya ikutan lari juga?" tanya Vella sembari mengangkat sebelah tangannya.

"Oh, kamu tidak ikut karena memang kamu tidak ada urusan dengan mata pelajaran tersebut."

"Berarti Nessa gak ikutan dong, Bu? Karna kan dia juga gak ikutan sama yang lainnya?"

🌼🌼🌼

Nessa masuk ke kelasnya bersama dengan teman-temannya yang lain yang dihukum juga. Ya, gadis itu yang tidak ikut campur malah kena imbasnya. Kata Bu Mega, kelas itu harus kompak, satu orang buat salah ya semuanya juga harus ikut menanggung. Tidak adil bukan? Tapi itulah kenyataanya.

Hanya terdengar nafas ngos-ngosan dari mereka, bahkan sebagian dari cowok di kelas Nessa ada yang membuka baju lantaran gerah, dan ada juga yang tepar berbaring di pantai keramik.

Sementara Nessa yang merasa sangat kegerahan ingin sekali izin ke luar.

"Vel, temenin ke toilet yuk!" ajak Nessa pada Vella.

"Yuk!" jawab Vella bangkit lebih dulu. Dia juga sebenarnya ikut prihatin dan kasihan, bagaimana pun juga sahabatnya tidak salah.

Kaki Nessa terasa sangat pegal dan remuk, bagaimana tidak, mereka berlari keliling lapangan sekolah 10 kali putaran. Dan semuanya tampak jera. Mungkin setelahnya tidak ada lagi yang menghujat guru agama Islam tersebut.

"Capek ya, Nes?" tanya Vella sembari memperhatikan Nessa yang tengah mencuci wajahnya di wastafel di dalam toilet.

Pake nanya lagi. Ingin sekali Nessa mengucapkan itu, namun rasanya tidak mungkin.

"Banget." jawab Nessa akhirnya.

"Gue beliin minum ya? Lo tunggu di sini."

Nessa tersenyum menanggapi, sahabatnya itu begitu pengertian.

"Jangan lama." ucap Nessa yang dibalas ancungan jempol oleh Vella.

"Gue tunggu di depan koperasi." ujar Nessa setengah berteriak karena Vella sudah berlalu. Entah ucapannya itu terdengar ataukah tidak, intinya Nessa ingin cepat-cepat duduk. Kakinya pegal, nyut-nyutan, dan badannya sedikit gemeteran.

Saat sudah selesai mencuci wajahnya, Nessa merasa lebih baik dari pada tadi. Sebelum keluar, Nessa terlebih dahulu membetulkan jilbabnya yang terasa basah karena keringat bercampur dengan air tadi saat Nessa mencuci wajahnya.

Kini gadis itu duduk di depan koperasi, suasana cukup sepi membuat gadis itu sedikit leluasa.

"Minumlah!"

Nessa yang saat itu menelungkupkan wajahnya dengan bantalan lengannya langsung mendongak.

"Pak Dimas." cicit gadis itu pelan.

Pak Endi, yang dipanggil Nessa Pak Dimas segera duduk di hadapannya sambil menyodorkan minuman dingin tepat di hadapan gadis itu.

"Makasih, Pak." ucap gadis itu menunduk malu.

"Sama-sama." jawab Pak Endi mengalihkan pandangannya.

Nessa yang dilanda haus langsung membuka minuman botol itu. Setelah beberapa kali dia mencoba, namun, tutup botol yang masih bersegel tersebut tidak bisa dibuka. Tenaganya sudah terkuras habis.

"Bisa? Mau dibukakan?" tawar pria itu baik sekali.

"B-boleh, Pak." jawab gadis itu gugup, dia kembali menyerahkan minuman itu.

"Nih!" Pak Endi kembali memberi minuman tersebut yang telah dia buka.

"Makasih, Pak." balas Nessa lagi.

Pka Endi hanya mengangguk menanggapi.

"Kenapa tidak bicara kalau kamu berbeda dengan yang lainnya?" tanya Pak Endi memecahkan keheningan.

Nessa mendongak, melihat sekilas pria itu lalu langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain.

"Gak masalah buat saya, Pak. Lagi pula kalau saya jelaskan nanti malah memperkeruh suasana. Moto hidup kelas kami itu kalau satu orang membuat salah maka semuanya harus menanggung akibatnya. Tidak adil kan, Pak?"

Pak Endi hanya mengangguk, dia juga bingung mau menanggapinya bagaimana.

"Nessa, lo di mana?!" teriak Vella saat melewati toilet.

"Saya pamit, Nessa. Semoga sehat selalu." ujar pria itu pamit karena takut Vella melihatnya bersama Nessa padahal mereka juga tidak ada hubungan apa-apa toh. Jadi, kenapa pria itu harus takut?

"Sekali lagi terima kasih, Pak." Pak Endi membalasnya dengan sebuah senyuman tipis, lalu pria itu langsung pergi.

"Sini, Vell!" balas Nessa. Vella pun mencari sumber suaranya. Dia pun menemukan Nessa yang tengah duduk di kursi, depan koperasi.

"Hahhhh hhhhhh hhhh, lo mah ngilang mulu." ujar Vella terengah.

"Kenapa lari-larian? Di kejer setan?" tanya Nessa ngawur.

Vella hanya cemberut menanggapi. Pandangannya teralihkan ke arah Nessa, gadis itu memegang minuman botol yang Vella tidak tau itu dari siapa.

"Lo udah beli minum?" tanya Vella tidak ingin suudzon dulu.

"Owh, ini. Tadi ada yang ngasih, mau nolak kan gak boleh namanya juga rezeki, ya kan?"

Vella hanya mengangguk-angguk tanpa banyak tanya. Alhasil minuman yang dia beli tadi tidak jadi diberikan kepada Nessa karena gadis itu sudah mendapatkan minuman dari orang.

1
Ummi Mimi
akhirnya.....buka puasa
dyve
pohon*
Bungsu_Fii: makasih koreksinya kak😅
total 1 replies
Tri Susanti
lanjutkan thor.....
Tri Susanti
nessa hamillllllll
Bungsu_Fii: bengek😂😂😂
total 1 replies
Tri Susanti
lanjut
Tri Susanti
lanjut thor
Tri Susanti
senengnya...... moga cepet saling jatuh cinta
Tri Susanti
lanjut thor
Tri Susanti
ok siip lanjut thor
Tri Susanti
lanjut thor... semangat... 💪💪
Tri Susanti
huuuuu.... bau bau cembokur nich... siap siap.....
Tri Susanti
oohhh... begono ceritanya.... sangat mengharukan ampe nangis thor aku nya kakek emang baik banget.......
Tri Susanti
lanjut thor sukses selalu yaaa......
Bungsu_Fii: Aamiin kak, makasih🤗sukses juga buat kk❤
total 1 replies
Tri Susanti
lanjut thor...
R2
sangat rekomen, i like it
R2
sangat baguss, i like it
nurul jannah
lah kok jadi satu bulan usia kandungannya nesa padahal di bab sebelumnya sdh dua bulan thor.tetap semangat thor ngetiknya💪💪😊
Bungsu_Fii: hehe😅😅mau revisinya lagi males kak😂
total 1 replies
Tutian Gandi
hamil kembar to ternyata???....kasih hukuman yg berat Thor ke sisi apa siapa cwek rese...kesel juga q..😡😡
Bungsu_Fii: sabar sabar😂😂
total 1 replies
Tutian Gandi
aduh Thor gntung nih....🥹🥹
Tutian Gandi
selamat kan Nessa Thor..jgn smpe kndungan nya kenapa2
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!