Sarah, seorang gadis yatim piatu yang sudah dari sejak kecil tinggal di sebuah pondok pesantren karena sebelum neneknya meninggal saat Sarah usia 5 tahun, nenek Sarah menitipkan gadis itu pada seorang Ustadzah supaya bisa tinggal di Pesantren sekaligus mendidik Sarah menjadi wanita sholehah yang paham ilmu agama.
Saat Sarah sudah dewasa, dia akan menikah dengan anak dari Kyai yang mengasuh pondok pesantren.
"Kamu jangan besar kepala dulu, Sarah. Saya memilih kamu itu atas keinginan Abi saya bukan atas keinginan saya sendiri!' ucap Farel bagai batu besar yang menghantam hati Sarah.
Dunia Sarah seakan hancur. Tubuh gadis itu yang awalnya berdebar-debar menjadi lemas tak bertenaga. Dia tidak menyangka jika Ustad Farel tidak benar-benar menginginkannya menjadi istri. Lalu bagaimana sekarang? Sarah bingung apa yang akan dia lakukan selanjutnya. Malam pengantin yang katanya indah hanyalah dalam mimpi saja....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jasmine murni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ke Pantai
Pesawat pun tiba di kota Lombok menjelang siang. Sopir jemputan sudah menunggu mereka. Mereka pun segera di antar oleh sopir ke hotel yang sudah di pesan oleh Farel.
Semoga nanti aku bisa memberikan nafkah batin untuknya. Aku tidak semestinya berlaku seperti itu terhadap Sarah. Bagaimanapun dia sudah menjadi istriku dan dia tidak bersalah dalam hal ini. Maafkan aku Sarah, semoga aku bisa memenuhi kewajibanku. Dan semoga aku bisa menyayangi dia layaknya seorang suami menyayangi istri. Masalah Amalia, aku akan segera menyelesaikannya. Hhh, semoga Amalia bisa mengerti. Farel membatin.
Mobil terus melaju di jalanan yang ramai. Sarah tidak mengerti jalan karena Sarah memang tidak pernah berpergian jauh hingga tidak tahu jalan yang mereka tempuh.
Sarah terus saja menatap ke arah jendela mobil.
"Sarah, ayo kita turun! Sudah waktunya sholat dhuhur," jelas Farel lagi lantas segera turun.
Sarah pun mengikuti suami turun. Ternyata mobil di parkirkan di depan sebuah Masjid yang berada tak jauh dari jalan raya.
Sarah mengambil wudhu di tempat khusus wanita setelah itu bergegas sholat mengikuti Imam Masjid. Setelah selesai sholat, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Hanya beberapa menit saja, mobil kembali berhenti di sebuah restoran.
Farel memesan makanan untuk makan siang mereka. Tak lama pesanan mereka datang, mereka pun makan dalam diam.
Tiba-tiba Farel mengambil handphone yang ada di saku celananya. Suami Sarah itu lalu berdiri. Mendorong kursi ke belakang lalu meninggalkan Sarah sendirian yang masih belum menghabiskan makanannya.
Mas Farel mau kemana? Sarah membatin sembari terus memperhatikan gerak gerik suaminya yang kini sudah keluar dari restoran.
Sarah menunggu suaminya di meja cukup lama. Wanita itu sesekali menoleh ke arah suaminya yang ternyata sedang sibuk berteleponan. Karena merasa tidak enak diperhatikan pelayan dan pengunjung lainnya, Sarahpun bangkit berdiri untuk menemui suaminya.
Saat Sarah sudah melangkah ke arah suaminya, dalam jarak lebih 1 meter, Sarah bisa mendengar dengan jelas pembicaraan suaminya.
"Maafkan saya. Saya belum bisa untuk ke sana sekarang karena saat ini saya sedang ada urusan penting. Tolong mengertilah kali ini. Saya janji secepatnya kita akan bertemu. Baiklah jaga diri. Assalamualaikum." Farel kembali menyimpan handphone di saku celananya.
Farel berbalik hendak masuk kembali ke restoran namun betapa kagetnya dia saat melihat Sarah sudah berdiri tak jauh darinya.
"Kamu ngapain di sini? Sejak kapan?" tanya Farel kaget.
"Saya baru saja kok, mas. Saya sudah selesai makan dari tadi," jawab Sarah lirih lalu menundukkan kepalanya.
Siapa yang ditelepon Mas Farel tadi, ya. Sepertinya orang terdekat.
"Ya sudah, kita langsung ke hotel," ajak Farel.
Sarah masih sibuk dengan pikirannya.
"Ta-tapi makanannnya belum di bayar, mas," jelas Sarah
"Saya sudah membayar makanan kita tadi," ucap Farel mengagetkan Sarah yang sedang melamun.
"Kapan mas bayarnya?" tanya Sarah bingung.
"Saya sudah menyelipkan uang di bawah piring tadi saat kamu sedang makan. Ayo!" Farel melangkah meninggalkan Sarah yang masih bengong.
Akhirnya Sarah pun mengikuti langkah kaki suaminya. Mereka masuk ke dalam mobil yang sopirnya sudah lebih dulu masuk. Mobil melaju meninggalkan restoran dengan kecepatan sedang.
Sampai di hotel, mereka lalu menuju ke kamar. Farel langsung keluar menuju balkon sedangkan Sarah menuju ke kamar mandi.
Kenapa aku deg-degan, ya. Sarah membatin setelah keluar dari kamar mandi. Tak lama kemudian suaminya masuk dari balkon, melirik sekilas Sarah lalu masuk ke kamar mandi.
Sarah menunggu di sisi tempat tidur dengan menatap cermin. Dia usap wajah alaminya yang tanpa polesan. Apa aku harus dandan, ya? Kan memang harus tampil cantik di depan suami biar suami seneng. Hh, tapi aku kan tidak punya alat make up selain bedak murah ini. Sarah bermonolog sembari mengamati cermin dan bedak di tangannya.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul satu siang. Tak berapa lama Farel keluar dari kamar mandi sudah dengan berpakaian lengkap dan rapi. Sarah menoleh sekilas namun kembali memalingkan wajahnyanya, takut nanti suaminya marah kalau dia terus memperhatikan suaminya itu.
"Bersiaplah kita akan keluar!" titah Farel pasa istrinya.
Sarah langsung berdiri dari duduknya, "Iya, mas," jawab wanita itu sembari kembali menatap wajahnya di cermin.
Apa penampinku kurang rapi. Kenapa mas Farel masih meminta ku untuk bersiap sedangkan aku merasa kalau sekarang aku sudah siap untuk pergi. Sarah menoleh sekilas ke arah suaminya.
"Aku pakai pakaian ini saja tidak apa-apa kan, mas?' tanya Sarah ragu.
Farel menoleh, memperhatikan istrinya sebentar lalu menyambar handphone dan dompetnya yang dia simpan di atas nakas.
"Iya. Ayo berangkat!" ajak Farel lagi.
Mereka kemudian keluar dari kamar hotel.
Mas Farel mau ngajak aku ke mana, ya. Sarah membatin namun tetap mengikuti kemana langkah kaki suaminya.
Tiba di lantai bawah di dekat resepsionis Farel berbincang-bincang sejenak di sana. Sementara Sarah menunggu duduk di depan lobby. Tak lama kemudian Farel menghampiri istrinya itu.
"Ayo, kita pergi sekarang!" ajak Farel lembut.
Mereka lalu keluar dari hotel. Di depan Hotel sudah menunggu mobil. Farel mempersilahkan istrinya itu untuk masuk ke mobil. Farel ikut masuk di sebelah istrinya.
"Ayo, pak. Jalan!" titah Farel.
Mobil pun berjalan meninggalkan hotel.
Sarah memandang keluar jendela, menatap bangunan-bangunan sepanjang jalan. Mereka hendak ke mana Sarah tidak ingin bertanya. Tak lama kemudian mobil memasuki daerah yang sedikit penduduknya dan terdapat banyak pohon kelapa. Dari jauh Sarah dapat melihat laut. Apa mas Farel mau ajak aku ke laut? Sarah membatin.
Tak lama kemudian, mobilpun berhenti di dekat pantai.
"Ayo turun!" titah Farel lantas dia pun segera turun.
Sarah menganggukkan kepalanya lalu turun mengikuti langkah kaki suaminya.
Tiba-tiba Farel meraih tangan Sarah lalu menggenggamnya sembari terus berjalan.
Deg. Jantung Sarah langsung berdetak kencang. Telapak tangannya mengeluarkan keringat dingin. Dia terus menatap ke arah suaminya.
"Hati-hati berjalan. Kamu bisa terjatuh kalau terus memandang ke arahku!" ucap Farel membuat Sarah kaget dan langsung memalingkan wajahnya yang sudah merah seperti kepiting rebus.
Kenapa tangannya dingin sekali? Apa karena aku sentuh? Baru tangan yang aku sentuh.
Mereka berjalan ke arah sebuah restoran yang masih cukup ramai. Farel mempersilahkan Sarah untuk duduk. Laki-laki itu lalu memesan minuman dan makanan ringan.
Banyak wisatawan manca dan wisatawan lokal yang berlibur di sana. Sarah sibuk memperhatikan orang-orang yang ada di sekitarnya. Dia terlalu fokus dengan situasi di sana sampai tidak mendengar suaminya mengajak bicara.
"Sarah.." panggil Farel.
Sarah yang kaget langsung menoleh, "Iya, mas?"
"Ayo di makan. Kamu melamun terus kerjanya," ucap Farel sembari menatap lekat istrinya.
Kamu sibuk sendiri, mas. Aku bahkan tidak mempunyai keberanian untuk mengajakmu bicara sejak aku tahu kalau kamu terpaksa menikah denganku. Sarah membatin namun tetap menyentuh makanan dan minuman di hadapannya.
tetap semangat up'nya
semangat thor...biar crazy up ya
☠️⃝🖌️M⃤
☠️⃝🖌️M⃤