Kebahagian memang tidak pernah abadi.
Sekalipun kamu kaya, cantik ataupun cerdas, roda kehidupan akan selalu berputar selama kamu hidup.
Begitulah kira-kira pribahasa paling sesuai dengan nasib naas yang dialami oleh seorang wanita cantik bernama Lie.
Kebahagiaan yang selama ini ia miliki hilang begitu saja.
Di masukkan kedalam penjara, kedua orangtua nya dibunuh dan perusahaan keluarga diambil alih!
Haruskah aku menyebutmu iblis? Karna manusia bukanlah kata yang pantas untukmu!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon esterliia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masih hidup
"Bukankah dia orangnya? Lihatlah sendiri jika tidak percaya" sambil melempar sebuah amplop coklat kecil ke meja.
**
Monca terpaku melihat amplop didepannya, seluruh tubuhnya bergetar hebat mendengar setiap kata yang diucapkan pria itu.
Melihat hal itu Lie bergegas mengambil amplop itu dan membukanya, sebuah foto keluarga formal disebuah hotel. Lie mengenal siapa saja yang ada difoto ini.
Nafas nya tercekat melihat Romie. Ya. Sepertinya ini acara tunangan Romie. Disisi kanan ada kedua orangtua Romie yang adalah Tuan dan Nyonya Dala, disisi kiri jika ditebak adalah keluarga pihak perempuan dan ditengah adalah Romie dan perempuan cantik memamerkan cincin dijari mereka.
Foto berikutnya adalah foto Romie beserta keluarga besarnya, sisi kanan orangtuanya dan sisi kiri adalah keluarga sepupunya Om James dan Tante Lidya beserta anaknya Mikhael Dala.
Dan foto ketiga adalah foto Romie disisi kanan, tunangannya dan Mikhael disisi kiri. Romie mengenakan setelan jas hitam putih yang membuatnya terlihat berkharisma.
Tunangan nya mengenakan gaun putih susu tanpa lengan dengan berlian menghiasi sisi atas gaunnya serta potongan panjang bawah gaun yang menampilkan kaki jenjangnya.
Serta Mikhael yang menggunakan setelan jas berwarna biru laut membuatnya terlihat fresh.
Melihat foto ketiga ini, Monca sekali lagi terkejut bukan main. Seperti ada bom meledak di hati dan kepalanya. Rasanya panas dan menyesakkan.
Tubuhnya kaku dan dingin. Ia masih mengingat dengan jelas wajah pria yang mencoba memperkosanya 3 tahun lalu, bukan mencoba tapi lebih tepatnya adalah pria yang berhasil memperkosanya.
Ia membecinya, apalagi saat ia tau bahwa dirinya tidak berhasil membunuh Mikhael.
"Apa sudah percaya? Jadi bagaimana? Aku tidak suka menunggu. Tentukan sekarang." Golden melirik mereka dengan penuh keyakinan bahwa mereka akan pasti akan sepemikiran.
Jadi ia hanya perlu memastikan nya sekali lagi.
Mereka saling berpandangan seolah memahami apa yang ada dipikiran masing-masing lalu Lie pun mengangguk lalu Monca berkata "Baik, kami terima tawaranmu. Kami akan berusaha keras untuk berhasil dan jangan lupakan janjimu."
"Baik, kalian boleh keluar sekarang. Cari Bibi Wen untuk menunjukkan dimana kamar kalian. Berisirahatlah dan mulai bekerja besok." jawab Golden tenang.
"Baik terima kasih" setelah mengucapkan itu Monca berjalan keluar dan menarik Lie namun ia menengok dan mengisyaratkan Monca untuk keluar lebih dulu. Tinggallah mereka berdua disitu dalam diam.
"Ada apa?"
"Apa kau memiliki dendam pribadi dengan Dala Group atau kau memiliki hubungan dengan keluarga ayahku? Aku tau permintaanmu cukup berat tapi dari apa yang kulihat ini tidaklah sesederhana itu." jawabku setenang mungkin.
"Lalu?" jawab nya acuh
"I need a reason."
Golden berdiri dan menyenderkan tubuhnya pada meja lalu kedua tangannya bersilang sambil memandang Lie dengan sebelah alis terangkat "Reason? What do you think about enemy of my enemy is my friend?"
Lie mencoba mencerna maksud dari perkataannya itu, jadi Dala adalah musuhnya? Tapi kenapa harus membantu Lie? Bukankah dia memiliki kekuasaan yang lebih besar untuk menghancurkannya sendiri? Pasti ada sesuatu yang disembunyikan.
"Kamu bisa melakukannya sendiri tanpa bantuanku, tidak bisakah kau berkata terus terang?"
"Hahaha nona Lie, lakukan saja apa yang sudah disepakati. Jangan mencampuri yang bukan bagianmu." balasnya dingin
Kecurigaannya benar. Pasti ada alasan lain. Tapi ia pun tidak bisa memaksakan rasa ingin taunya. Benar. Ia hanya perlu melakukan tugasnya, toh keduanya akan saling diuntungkan.
Lagipula ia pun bertekat untuk tidak terlalu dekat dengan pria seperti dia.
"Baiklah, saya permisi" berjalan keluar
"Nona Lie, saya hanya ingin menyarankan gantilah nama panggilanmu menjadi Callista. Terdengar lebih cocok untukmu." saran Golden.
Lie menengok sebentar lalu tersenyum menjawab "Baiklah, akan kupertimbangkan." lalu berjalan pergi.