Hati siapa yang tak hancur ketika orang yang sangat dicintai ternyata berkhianat.
"Apa salahku, Mas?"
"Maaf, aku mohon."
"Apa perbuatan kamu layak dimaafkan?"
Akankah Fani memaafkan pengkhianatan suaminya? Atau Fani akan mendapatkan pengganti yang lebih baik dari suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marishana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyusul Ke Puncak
Malam telah berlalu, sang surya sudah terbit di ufuk timur dan semburatnya memancarkan aura keindahan kepada semua insan di bumi. Suara burung berkicau di luar seolah bernyanyi menyambut pagi yang indah.
Kubuka jendela kamar, membiarkan udara segar masuk agar hembusannya membuat jiwaku terasa lebih baik. Embun pagi seakan berbisik seolah memintaku meninggalkan luka hati yang teramat perih dan menjemput bahagia.
Ku pejamkan mata sambil menghirup udara. Oh...Terimakasih Ya Allah atas nikmat--Mu sehingga aku masih bisa melihat pagi yang indah ini.
Aku keluar kamar untuk menemui Dewi, karena kami sudah janjian untuk jalan-jalan pagi ini. Rafa aku titip ke Fira karena memang belum bangun. Begitu juga dengan anaknya Dewi di jaga sama ayahnya.
Kami berjalan menyusuri jalan yang sudah ramai dengan pengunjung yang lain, termasuk teman kantorku. gunung-gunung yang sangat kaya dengan pemandangan batu gamping dan pinus.Hamparan perkebunan buah-buahan dan sayuran yang khas yang tumbuh di lereng gunung.
Kami berjalan tanpa merasakan lelah hingga tiba di sebuah pasar buah-buahan dan sayur-sayuran. Karena buah-buahan nya segar maka aku membeli beberapa kantong buah untuk kami makan di villa. Setelah selesai belanja aku baru sadar ternyata ada beberapa kantong belanjaan.
Puas belanja ku lirik jam yang melingkar di pergelangan tanganku, sudah menunjukkan jam 8.30. Saking asiknya menikmati alam dan belanja lupa dengan waktu. Padahal kami masih punya jadwal untuk pergi ketempat yang katanya sebagai salah satu landmark dunia.
Karena belanjaan yang lumayan banyak, apalagi buah yang lumayan juga beratnya. Sehingga aku kewalahan membawanya . Begitu juga dengan Dewi. Maklumlah ibu-ibu dapat barang harga murah. ya borong---lah😀.
"Kenapa juga ya kita nggak bawa mobil?" ucapku pada Dewi
"Kalau naik mobil, itu namanya nyetir-nyetir bukan jalan-jalan Fan," katanya bercanda.
Setelah berjalan sekitar beberapa meter, entah berapa kali aku singgah meletakkan belanjaanku, karena tanganku terasa sakit memegang kantong yang berat. Aku sempat berpikir untuk memberikannya kepada orang yang kami ajak berpapasan.
Ketika aku membawa kembali kantonganku, sebuah tangan memegang tanganku dari belakang. Reflek aku memukul tangannya.
"Biar aku yang bawa ," kata orang tersebut.
Suara itu tak asing bagiku, Oh ternyata Mas Rasya betul-betul datang menyusulku.
"Eh Pak Rasya, baru datang Pak?" ucap Dewi basa basi.
"Iyya, ini baru aja sampai."
"Ayo, ke mobil, "kata Mas Rasya sambil mengambil semua kantongan di tanganku.
Aku hanya mengikut di belakangnya karena Dewi sudah terlebih dahulu melangkah ke mobil Mas Rasya.
Aku duduk di samping Mas Rasya tanpa mengatakan sesuatu.
"Rafa mana?" Tanya Mas Rasya.
"Di villa sama Fira, tadi waktu aku berangkat dia masih tidur,' jawabku.
"Untung Pak Rasya nyusul, soalnya disini dingin banget pak," timpal Dewi asal bicara.
"Apa hubungannya Wi?" Ucapku pada Dewi
" Ya elah ... sok polos kamu Fan, " ucap Dewi sambil terkekeh.
" Pak Rasya tau nggak, tadi malam Fani nggak bisa tidur," kata Dewi
" Pasti kangen di peluk?" kata Mas Rasya menoleh kepadaku.
"Aku hanya mendengus kasar mendengar pembicaraan vulgar mereka,
Memang temanku itu tidak ada filternya kalau bicara.
Setelah beberapa menit perjalanan kami sampai di villa. Rafa sudah rapi dengan pakaiannya, sedang bermain dengan anak Dewi
sambil sesekali di suapi sama Fira.
Melihat kami datang, Rafa langsung berlari ke ayahnya dan minta di gendong. Mas Rasya mencium pipi gembul anaknya.
Fira langsung memasang muka cemberut ketika melihat Mas Rasya.
Aku langsung masuk ke kamar untuk mandi dan ganti pakaian. Karena kami sudah akan berangkat . Tak lupa aku sarapan untuk mengganjal perut. Mas Rasya juga melakukan hal yang sama.
Setelah semuanya siap, kami semua berangkat. Terpaksa aku ikut di mobil Mas Rasya, karena Rafa tidak mau lepas dari ayahnya.
Di dalam mobil Mas Rasya selalu mengajakku ngobrol tapi aku jawab seadanya saja.
Karena merasa aku cuekin, Mas Rasya mengajak Rafa untuk mengobrol.
" Mama cantik gak, Raf?" tanyanya pada Rafa
"Antik aaaanget" jawab Rafa dengan gaya cadelnya.
" Rafa mau adek gak?" tanyanya lagi.
"Ndak mau" jawab Rafa.
Aku tersenyum mendengar jawaban polos Rafa. Mungkin pikirannya kalau punya adik akan selalu bertengkar. Karena kalau bersama anaknya Dewi selalu ganti-gantian menangis.
Setelah sampai di tempat tujuan di sana disuguhkan panorama serba hijau. Bukan hanya pemandangan alamnya, juga menawarkan banyak pengalaman berwisata yang menarik, ada paralayang, berkuda, festival layang-layang dan banyak lagi yang lainnya. Tak jauh dari Highlands tersebut ada air terjun. dan ada juga mini zoo yang bisa dijadikan edukasi bagi anak-anak. Di situlah kami cukup lama karena Rafa tidak mau meninggalkan tempat itu.
Setelah makan siang dan kami jalan- jalan sebentar, kamipun bergegas kembali ke villa karena sore mulai datang, karena kalau sore akan tertutup kabut.
Karena capek Rafa tertidur di pangkuanku. Mas Rasya sesekali melirikku. Entah mengapa, aku canggung berada di dekat Mas Rasya. Padahal dia suamiku. Ingin rasanya cepat sampai di villa.
" Kamu masih marah, Fan? tanya Mas Rasya sambil menoleh ke arahku.
" Aku malas Mas membahas masalah itu, aku disini liburan buat nenangin diri ," jawabku.
"Tapi sampai kapan, Fan?" tanyanya lagi
"Aku nggak tau Mas, semakin aku coba
melupakannya semakin terngiang terus kamu bersama perempuan itu." Jawabku jujur
" Kalau sikapmu seperti ini terus, aku semakin tersiksa, Fan." Kata Mas Rasya
"Tersiksanya Mas tidak sebanding sakit hati yang aku rasakan, kamu tau Mas seorang istri itu akan merasa diinjak-injak harga dirinya kalau suaminya mempunyai wanita lain di luar sana," kataku panjang lebar.
" Maafkan Mas, Mas janji nggak akan mengulanginya lagi."Tambahnya lagi.
" Tidak usah janji Mas kalau akhirnya akan mengingkarinya," icapku
" Aku harus bagaimana Fan, supaya kamu kembali kayak dulu?" Tanyanya frustasi.
" Beri aku waktu Mas, Aku juga nggak nyaman
dengan keadaan ini, tapi aku juga punya hati."
Mas Rasya menarik nafas panjang sambil mengacak rambutnya.
Kami tidak saling berbicara lagi hingga kami sampai di villa.
Mas Rasya langsung menggendong Rafa ke kamar. Fani dan Ridho sudah sampai duluan.
Mas Rasya langsung merebahkan diri di kasur.
"Eithhh ... itu tempat aku, Kak!" Protes Fira.
"Jadi aku tidur di mana?" jawab Mas Rasya.
"Emang gue pikirin" teriak Fira.
Mas Rasya menatapku, aku hanya mengangkat bahuku pelan.
"Aku tidur disini aja kamu sama Ridho sana," ucap Mas Rasya asal.
Aku emosi mendengar ucapannya, Benar-benar ini Mas Rasya nggak tau adab ya.Masa orang belum halal di suruh tidur bersama.
" Ridho nggak seperti kamu Mas, meniduri perempuan sebelum adanya pernikahan!" bBentakku emosi.
" Dasar buaya!" Tambah Fira.
"Keluar, Mas!" Bentakku lagi.
"Mas cuma bercanda." Jawab Mas Rasya malu.
Karena mendengar ribut-ribut, Ridho masuk dan mengajak Fira keluar, sambil berbisik ke Fira tapi sempat terdengar.
"Biarkan dulu mereka menyelesaikan masalahnya," bisik Ridho ke Fira.
Karena lelah Mas Rasya tertidur tanpa memperdulikan omelanku padanya.