"siapa namamu?"
xavier menatap lekat bocah 5 tahun itu yang melotot marah kepadanya, bocah laki-laki dengan rambut gondrong ikal sebahu, memegang sebuah rubrik di tangannya.
mata bocah itu mengingatkan xavier pada wanita itu, wanita sialan yang pergi begitu saja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
dua puluh tiga
Diandra sedang sibuk melayani pembeli yang ramai siang itu, pembeli yang antri dan segala permintaannya dilayani dengan senyuman manisnya.
Sangking sibuknya, diandra tak menyadari sepasang mata mengamatinya dari dalam sebuah mobil yang tak jauh parkir di seberang jalan depan rumahnya.
Mobil itu memang tidak terlihat mencurigakan, mesinnya mati, dan kacanya tertutup. Tak akan ada yang menduga kalau ada orang di dalam.
Mata elang kebiruan itu, menatap lekat. Seakan meyakinkan benarkah seseorang di depan sana adalah diandra.
Pria di dalam mobil itu sudah menyalakan mobilnya, saat matanya melihat seorang pria yang sepertinya pernah dilihat, mendatangi diandra.
Diandra terlihat kaget, wajah cantik perempuan itu tak suka, namun tak berapa lama mereka masuk ke dalam rumah.
Xavier meninju stir mobilnya, siapa pria tadi. Sepertinya xavier pernah melihatnya tapi dimana.
Ingin rasanya ia turun, ada rasa cemburu menggelegak di dalam dadanya. Susah payah xavier menahan. Dengan berat hati dan amarah serta cemburu yang menggumpal, xavier memutuskan untuk pergi.
Sudah 2 hari ini,ia mengawasi diandra, dan pria tadi sepertinya hanya kenalan diandra saja.
Xavier belum pernah turun menemui diandra, ia masih mengamati dan mempersiapkan diri, apapun jawaban diandra nanti, ia harus sanggup menerimanya.
Sementara mobil xavier meninggalkan kediaman diandra, di ruang tamu elang duduk salah tingkah.
Pria itu duduk dengan gelisah di bawah tatapan mata diandra yang tajam.
"maafin aku, di!"
"mas nggak salah kenapa minta maaf!"
Elang menggeleng, wajahnya masih terlihat tak enak hati.
"ucapan mama tempo hari pasti menyakitimu!"
Diandra menghembuskan nafasnya, mata indahnya sendu menatap elang.
"aku memahami perasaan mamamu, mas. Tapi terus terang aku tidak bisa menolerirnya, lian mendengar semua yang mamamu katakan!"
"arghhh.." terdengar erangan frustasi dari mulut pria itu, matanya penuh permohonan maaf.
"aku tak tahu kalau lian sudah bangun, karena itu aku larang mama masuk kantorku"
"mas..!" panggil diandra pelan, tangannya menyentuh lengan pria itu yang terlihat sangat kalut.
"aku tahu kamu selalu melakukan yang terbaik untukku dan lian, aku juga tahu kamu menyayanginya setulus hatimu, tapi..."
Diandra sengaja menggantung penjelasannya sesaat, ia ingin melihat bagaimana reaksi elang.
Tepat seperti yang dibayangkannya, pria baik itu terpukul dengan wajah memelas.
"aku tak bisa menerima perasaanmu, mas. Mamamu tak bisa menerima kami.."
"di..." panggil elang dengan suara parau.
"aku tak butuh ijin orangtuaku untuk menikah denganmu.."
Diandra menggeleng cepat, "aku ingin diterima oleh seluruh keluarga pria yang menikahiku mas, maaf"
Elang menatap sendu mata diandra, pria itu benar-benar putus asa. Ia sangat mencintai wanita ini, hilangnya diandra setelah mengundurkan diri dari restoran, menyadarkan elang kalau ucapan ibunya sangat kejam.
Elang hampir kehabisan akal, mencari diandra kemanapun. Dia ingin mengatakan pada wanita ini, kalau elang tidak membutuhkan pendapat orangtuanya.
Tapi diandra selalu bersikeras, padahal elang siap untuk tidak diakui anak oleh mamanya, jika ia bersikeras menikahi diandra.
"aku nggak tahu lagi gimana caranya membujuk hatimu, di" ujarnya lirih, wajah tampan elang terlihat sangat putus asa.
"padahal aku udah berulangkali ngomong ke kamu, aku nggak butuh restu mama"
"maafin aku mas.." pinta diandra sendu, kepalanya menggeleng pelan.
"mas elang pria baik, aku harap kamu menemukan istri yang lebih baik dari aku, dan disukai orang tuamu"
Elang tak bergeming, matanya masih menatap diandra lekat.
"di.." panggilnya tiba-tiba.
"aku belum menyerah, aku akan membujuk mama untuk bisa menerimamu"
"mas elang..." suara diandra terdengar lelah. Namun akhirnya ia diam saja, melihat wajah tampan di depannya yang penuh tekad.
"sampai kamu menolakku karena kamu mencintai pria lain, aku tak akan menyerah, di"
Diandra hanya bisa menghembuskan nafasnya, ia kehabisan kata-kata, tak tahu lagi bagaimana caranya membujuk elang agar melupakannya.
<<<<<<<<<<>>>>>>>>>
Xavier melempar kunci kontaknya ke atas meja kerja. Wajahnya yang kelam dengan rahang yang mengeras membuat leo dan della yang berjalan di belakangnya ketar-ketir.
Mereka sangat tahu, kalau mood bos mereka saat ini sedang buruk. Bicara juga harus super hati-hati, padahal leo harus memberi tahu kalau proyek yang dia hadiri terakhir kali kemarin ada sedikit kendala.
Namun leo takut, salah bicara sedikit saja, xavier tak akan segan memecatnya.
"bagaimana proyek kemarin?" tanya xavier, menatap leo yang menghembuskan nafas lega.
"ada sedikit kendala, pak. manager lapangan bilang, pemasok bahan bangunan memasukkan bahan yang bukan kita pesan"
Kening xavier mengernyit, alisnya naik sebelah.
"apakah kamu nggak bisa menangani itu?, haruskah aku yang menanganinya?"
Leo menggeleng cepat, nada suara bosnya mulai terdengar datar.
"saya akan kesana hari ini pak, hanya saja saya perlu mengabarkan kepada anda"
"heumm..." sahut xavier, "kalau begitu aku anggap kamu sudah bisa menyelesaikannya yah!"
Leo mengangguk, "saya ijin pergi pak"
Xavier mengibaskan tangannya, sebelah tangannya membuka kancing jas.
"kamu ada perlu apa della?" kini mata elang itu menatap sekretarisnya yang berdiri membawa sebuah dokumen.
"anu pak, direktur pemasaran membutuhkan tanda tangan bapak"
Xavier melambaikan tangannya, meminta sekretarisnya itu mendekat.
"ada kendala di kantor selama saya jarang masuk?" tanyanya tanpa mengalihkan perhatian dari dokumen yang sedang dibacanya.
"sejauh ini aman saja, pak xavier" suara della sedikit centil.
Xavier mengangkat kepalanya, menyerahkan dokumen itu, senyumnya mengembang tipis.
Ia tahu kalau della selalu berusaha menggodanya, baik dari gesture tubuh, atau dari pakaian yang wanita ini kenakan.
Della berbadan lumayan padat, selalu memakai rok mini di atas lutut, dengan bajunya yang selalu menunjukkan belahan d*adanya.
Namun sayangnya, xavier tak selapar itu hingga harus menerkam sekretarisnya itu.
Dan sejujurnya, xavier sudah 6 tahun ini tidak berselera, entah ini kutukan diandra atau karma yang harus ditanggungnya karena kebejatan yang ia lakukan di masa lalu.
"apa kegiatan saya hari ini?" tanya xavier, saat della hendak beranjak pergi.
Wanita semok itu menggeleng dengan senyum genitnya, "tidak ada yang penting pak"
Xavier mengangguk mantap, "baiklah kalau begitu, kamu boleh pergi"
Xavier menghempaskan punggungnya ke sandaran sofa malas, teringat kembali pada diandra.
Wanita itu semakin cantik saja, 2 minggu dia tak melihatnya, rasa rindu itu ternyata menggelepar indah di sudut hatinya.
Xavier masih bersandar malas, mata birunya menerawang, menatap langit-langit ruangannya yang tinggi.
"siapa pria tadi?" gumamnya pelan,
"ahhh.." serunya tiba-tiba, menegakkan duduknya.
"itu pria yang kuduga suami diandra!, yah benar"
Xavier seketika berdiri, mengancingkan jasnya.
"aku harus cepat ketemu diandra, aku tak mau keduluan pria itu"
Langkah kakinya yang panjang, terasa buru-buru. Xavier ingin segera menemui diandra, hari ini ia harus tahu, mengapa wanita itu pergi begitu saja.
Di koridor langkahnya terhenti, omanya berjalan bersama seorang wanita, geraldine. Keduanya menatap ke arah xavier dengan sorot yang berbeda.
Bersambung...