NovelToon NovelToon
PERJUANGAN CINTA IRENE

PERJUANGAN CINTA IRENE

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintamanis / Duda / Balas Dendam
Popularitas:79.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ms. Riana

Irene, seorang gadis cantik dan mandiri. Harus kehilangan ayah, satu-satunya harta yang ia miliki.

Mendekati usia dua puluh tiga tahun ia harus kehilangan kesuciannya yang secara tidak sadar direnggut oleh mantan kekasihnya.

Membuatnya harus tertatih berjuang untuk mendapatkan cinta yang tulus.

Hingga suatu ketika ia bertemu Tian, seorang presdir muda yang menduda diusia yang cukup muda.

Ketika cinta mereka mulai bersemi, Tian meragukannya.

Apakah cinta Irene dan Tian bisa bersatu?




Note : Karya pertama yang aku buat berdasarkan imajinasi dan beberapa penggalan pengalaman temen aku yang aku samarkan. Happy Reading.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ms. Riana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PART 10

Matahari sudah digantikan bulan menjalankan tugasnya,

Disebuah apartemen mewah,

Seorang pria sedang berdiri di balkon kamarnya.

Memandang kerlap kerlip lautan lampu ibukota yang menyala. Baik dari gedung-gedung bertingkat, lampu jalanan ataupun lampu kendaraan yang masih berjibaku membelah jalanan ibukota.

Pertanda masih ada kehidupan.

Dengan secangkir kopi ditangannya dan sebuah ponsel ditangannya yang lain.

Pandangannya ia alihkan menatap layar ponselnya.

Memandang beberapa foto candidi Irene yang ia ambil tentunya tanpa sepengetahuan Irene.

Ada pose ia sedang mengerucutkan bibirnya, pose tersenyum memamerkan deretan giginya yang putih dan rapi bahkan ketika gadis itu tertawa lepas.

"Apa aku menghubunginya saja?" batin Tian, ia ingin memastikan. Ya pria itu adalah Tian.

"Tapi bagaimana jika ia mengabaikanku?" gumamnya lirih. Ia terlalu malu dengan penolakan Irene.

Teringat betapa ia menolak mentah-mentah tawaran perjodohan James.

Bagai menjilat ludah sendiri.

Masih gengsi.

Ting!

"Maaf pak mengganggu, hanya ingin mengingatkan besok pagi bapak ada meeting di PT TMI jam 8 pagi" bunyi pesan whatsapp dari Nita yang membuyarkan lamunannya.

...------------...

Malam berganti pagi,

Irene sudah siap dengan kemeja warna maroon, rok hitam selutut dan tidak lupa menutup tubuhnya dengan blazer warna senada yang sedikit kebesaran.

Kini ia sedang berada dihalte dekat hotel tempatnya menginap.

Ia sedang menunggu bus antar jemput karyawan.

Pandangan Irene tertuju pada sebuah mobil mewah berwarna hitam yang tiba-tiba berhenti didepannya.

Ia mengerutkan keningnya.

"Mas Tian?" ujarnya sambil menyipitkan matanya untuk memastikan penglihatannya.

Melihat sosok pria yang baru keluar dari balik kemudi.

Tian jarang menggunakan sopir pribadi. Hanya sesekali jika ia ingin atau ketika pulang larut malam.

"Hai Ren," sapa sang pemilik mobil gugup.

"Mau kemana? Biar aku antar," sambungnya lagi.

Sebenarnya mobil yang dikendarai Tian sudah melewati halte tempat Irene berdiri. Tapi ketika melintas depan halte ia melihat sosok yang ia rindukan.

Hingga akhirnya ia memutuskan untuk putar balik untuk memastikan ia tidak berhalusinasi seperti kemarin.

"Ah tidak perlu mas, aku sedang menunggu bus karyawan," tolak Irene halus.

"Karyawan? Kamu bekerja disini?" cecar Tian penasaran.

"Hanya beberapa hari saja. Setelah itu aku akan kembali ke Surabaya," jelasnya.

"Oh..." terlihat gurat kecewa diwajah Tian dengan kata pendek yang meluncur dari bibirnya.

"Ya sudah aku antar, sebutkan dimana letak kantormu! Aku tidak menerima penolakan," sambung Tian karena Irene terlihat ragu-ragu.

Digenggamnya lembut tangan Irene menuju mobilnya, kemudian membukakan pintu depan samping kemudi.

Setelah itu ia mengayunkan langkahnya menuju pintu sebelahnya.

Irene masih terpaku dengan perlakuan manis pria yang ia rindukan ini.

"Dimana letak kantormu?" tanya Tian ketika sudah berada dibelakang kemudi.

"Sebentar" lanjut Tian kemudian memajukan tubuhnya didepan Irene.

Sontak Irene terdiam, ia begitu gugup karena jarak wajah mereka hanya beberapa centi saja.

Hembusan nafas Tian menerpa wajahnya.

Pandangan mereka bertemu. Kemudian pandangannya turun menatap bibir Tian yang sudah membuatnya panas dingin jika membayangkannya lagi.

Hal yang sama dirasakan Tian. Jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya.

Melihat Irene yang memejamkan mata membuat Tian menyunggingkan senyumnya.

"Aku hanya ingin memasangkan ini," ujarnya sambil menunjuk seatbelt untuk Irene.

Seketika wajah Irene memerah.

"Apa yang sudah aku pikirkan?" rutuknya dalam hati sambil memukul kepalanya pelan.

Menyadarkan dirinya dari pikiran mesumnya sendiri.

Ia memalingkan wajahnya ke jendela disampingnya. Saat ini ia begitu malu. Tak sanggup menatap Tian.

Melihat tingkah malu-malu Irene membuat Tian terkekeh.

Tanpa sadar ia mengusap lembut kepala Irene.

"Sudah tidak perlu malu, dimana letak kantormu?" tanyanya lembut berusaha mencairkan suasana.

Ia tidak ingin Irene menjadi canggung.

Mendapatkan perlakuan lembut dari Tian, lagi-lagi membuat hatinya menghangat.

Setelah Irene menyebutkan alamat kantornya Tian tersenyum, kemudian melajukan mobilnya menuju alamat yang sama yang menjadi tujuannya pagi ini.

Sepanjang perjalanan mereka hanya diam.

Masih canggung untuk memulai pembicaraan.

Ting! Ting! Ting!

Bunyi notif pesan ponsel Tian, tapi ia abaikan setelah melihat pesan dari nomor tidak dikenal.

Pagi tadi juga ada pesan dari nomor yang sama tapi karena tidak dikenal langsung ia hapus.

Ting!

Tapi sang pengirim pesan tidak jera dan mengirimnya beberapa pesan lagi tapi tetap Tian abaikan.

Panggilan telpon pun Tian abaikan. Irene mengerutkan keningnya.

"Kenapa tidak diangkat?" batinnya.

Pertanyaannya belum terjawab mereka sudah sampai di tempat tujuan.

"Terima kasih mas, maaf merepotkanmu," ujar Irene lembut.

"Tunggu" ujar Tian menahan tangan Irene, kemudian keluar dan membuka pintu untuk Irene layaknya tuan putri.

"Sekali lagi terima kasih mas," ucap Irene lagi.

"Kalau perlakuan mas Tian manis seperti ini bagaimana aku tidak jatuh cinta?" batinnya.

"Ren, aku mau ajak kamu makan malam nanti. Mau kan?" harap Tian.

"Iya mas, aku mau," jawab Irene gugup.

Jawaban yang mampu menjadi suntikan penyemangat untuk Tian menjalani harinya.

Setelah Irene berlalu, Tian menyerahkan kunci mobilnya pada petugas parkir yang bertugas.

"Terima kasih" ucap Tian.

"Sama-sama pak," balas petugas parkir sambil membungkukkan badannya.

Tian berjalan menuju lobby menghampiri Robby kakak sepupu sekaligus asistennya yang selama ini mendampinginya memimpin perusahaan setelah kepergian papanya.

Ya, hari ini memang ia ada meeting dikantor pusat Irene.

"Siapa gadis yang bersama Tian?" batin Robby.

Karene setaunya kekasih Tian adalah Desi.

Tapi melihat wajah cerah Tian dan perlakuan manisnya pada gadis itu ia yakin dia gadis spesial bagi Tian.

Tadi tanpa sengaja Robby melihat Irene turun dari mobil Tian.

"Ayo!" ajak Tian ketika Robby hanya terdiam menatapnya yang tersenyum cerah pagi ini.

"Jika ada pertanyaan, tanyakan saja Rob. Jangan dibatin," ucap Tian mengikuti langkah asistennya menuju lift.

"Melihat senyummu sepertinya dia gadis spesial," tebak Robby ketika mereka sudah berada dalam lift.

...---------...

Disebuah ruangan,

"Kamu bisa menempati meja ini, jika ada yang kurang paham kamu bisa menanyakannya padaku," ujar bu Rani yang menjadi atasan sementara Irene selama dikantor pusat.

"Baik bu," jawab Irene sopan.

"Persiapkan dirimu, sebentar lagi ikut saya meeting di ruang raflesia," perintah bu Rani.

"Baik bu," sahut Irene lagi.

Ketika memasuki ruang raflesia pandangan Irene tertuju pada sosok pria yang baru tadi pagi membuatnya malu sekaligus berbunga-bunga.

"O iya, perusahaan Tian kan memang masuk dalam proyek ini," batin Irene baru menyadari kebodohannya.

"Tunggu, didaftar ini ada perusahaan Adit juga. Aku masih malas bertemu denganya," batinnya lagi.

Meeting pun di mulai.

Irene mulai memaparkan materi meeting yang sudah ia siapkan.

Beberapa pertanyaan ia jawab dibantu rekan yang lain dari kantor pusat.

Beberapa kali ia beradu pandang dengan Tian.

Pria itu terus saja melempar senyuman manis padanya.

Hati Irene makin berbunga-bunga.

Robby yang melihat pemandangan bos nya yang saling melempar senyuman dengan gadis yang berada di depan, mengeluarkan ponselnya.

"Sepertinya Tian sudah baik-baik saja tante. Ada seorang gadis memikat hatinya," ketiknya.

Send. Iya mengirimkan pesan tadi.

1
Lilis anggriani Lilis anggriani
sangat bagus dan menarik cerotanya,sambung ceritanya
Lilis anggriani Lilis anggriani
lanjut
Ms Riana
dibayrmar lunas ya kak 🤘
visi Sembiring
senjata makan tuan mau menjebak malah dijebak ingin tau gmn hancurnya dira kena karma tuch pelakor 😈😈😈
visi Sembiring
jgn biarkan rencana dira berhasil thor jgn pisahkan irene dan tian buat dira hancur dg rencananya sendiri walau ada pelakor jgn biarkan pelakor berhasil merusak kebahagiaan tian dan irene 😤😤😤
Ms Riana: siap kak 😁😁❤❤
total 1 replies
Ibuna Ariq
bentar lagi irene di bully psti karena status nya blm.di ketahui di kantor tian
Rintik Ludira
semangat semangat
Rintik Ludira
semangat thor...
Ms Riana
kemaren udah up tapi ditolak. sabar ya kak 🙏
Ningsih Darwin
lnjut thor
Ms Riana: siap kak 🙏🖤
total 1 replies
Rintik Ludira
sip sip sip semangat thor
Pangeran Matahari
lanjut kk..

dukung karya ku juga y cucu manja oma
Neti Jalia
aku mampir kk, yuk saling dukung🤗🙏

*Suamiku ceo ganas

"Sarlince(cinta sepihak)
Ms Riana
tenang kak. tidak akan tergoyahkan kok mas Tiannya 🤗
Ibuna Ariq
bnci klo udh ada bibit pelakor
Rintik Ludira
semangat ya thor semangat
Ibuna Ariq
up yg bnyak,slalu stia nunggu ni😁
Ms Riana: aaww makasih kak. 🖤
total 1 replies
Rintik Ludira
yok lanjuuut stia mendukung
Ms Riana
makasih kak 🖤
Rintik Ludira
semangat setia selalu menunggu up nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!